Senin, 24 April 2017

" Suara Desahan Telarang "


Ketika itu aku berumur 31 tahun dan sudah memiliki 2 orang anak yang sudah masuk sekolah dasar. Suamiku, sebut saja namanya Bang Iwan, adalah seorang karyawan di suatu perusahaan yang termasuk terkemuka di Tangerang. Seperti halnya orang-orang yang berkarir, Bang Iwan pun jarang di rumah karena setiap hari berangkat pagi pulang malam dan terkadang ada tugas dinas sampai 3 hari.

Sebagai ibu rumah tangga aku mengerjakan pekerjaan rumah dengan tulus, demi pengabdianku pada suami dan wujud kasih sayang pada anak-anakku. Tetapi namanya juga wanita, walau bagaimanapun juga butuh perhatian dan dimanjakan oleh suami. Berhubung suamiku sibuk, kebutuhan itu jarang kudapatkan, bahkan bisa dikatakan langka, walaupun dalam hal urusan ranjang tak ada masalah. Bang Iwan tergolong perkasa di ranjang dan memang dialah lelaki pertama yang menikmati tubuhku sejak pacaran hingga menikah saat ini.

Kami melakukan hubungan suami istri paling tidak 2-3 kali seminggu dan biasanya Bang Iwan tahan sampai 1 jam setiap rondenya. Jika sedang tergesa-gesa paling cepat 30 menit ia bertahan, sementara aku termasuk wanita yang mudah sekali orgasme. Percaya atau tidak, dulu waktu masih pengantin baru Bang Iwan sampai heran kok aku orgasme berulang-ulang kali dan suatu saat dia manghitung orgasme ku ketika kami berdua bersetubuh hingga 1 jam dan hasilnya memang membuat kami terkejut, karena dalam satu jam aku bisa sampai 30-40 kali orgasme.

Hal itu tak pernah kusadari sebelumnya dan sebenarnya aku bukanlah maniak seks, tapi hanya gampang orgasme saja dan tak lebih dari itu. Namun yang kubutuhkan lebih dari pada aktivitas ranjang. Walau sekedar tatapan mesra, aku ingin sekali merasakannya. Atau pujian pada masakan dan penampilanku. Seiring dengan berjalannya waktu, hal itu makin jarang kudapatkan.

Meskipun kadang aku merasa tersiksa dengan keadaan itu, tapi tetap kujalani juga dengan hati ikhlas. Semua pekerjaan rumah biasanya sudah selesai jam 10 pagi dan setelah itu biasanya aku pergi ke tetangga untuk hanya ngerumpi. Kadang-kadang jalan bareng dengan teman- temanku ke mall untuk membeli kebutuhan sehari- hari ataupun untuk beli untuk baju dan kebutuhan pribadiku yang lain. Karena seringnya ditinggal suami dan kebanyakan ngerumpi dengan teman-temanku di mall atau di cafe jadi banyak tahu tentang pengalaman mereka yang juga bernasib sama sepertiku, yaitu kesepian di rumah. Bahkan ada yang lebih parah dari aku.

Dari situlah mereka terkadang berkenalan dengan pria-pria baik yang masih muda dan single maupun yang sudah sama-sama berkeluarga dan mapan. Aku tak begitu tertarik pada awalnya dengan cerita mereka, tapi karena selalu tergoda dengan sensasi selingkuh yang mereka ceritakan, aku jadi seperti penasaran. Iseng-iseng aku minta nomer HP seorang pria yang juga sudah berkeluarga dan mapan yang kata teman- temanku berprofesi sebagai kontraktor. Menurut temanku, sebut saja namanya Rani, yang memberiku nomor HP Indra (nama samaran), si kontraktor itu, Indra orangnya gagah, tinggi besar dan juga agak lebih tampan dari suamiku.

Bagiku masalah ketampanan tak terlalu kuhiraukan. Yang bikin aku penasaran adalah “burungnya” yang kata Rani selalu bikin dia hampir mati lemas. Tanpa kusadari, aku memulai petualanganku dengan Indra. Dari hari ke hari sampai hampir satu bulan lamanya aku dan Indra saling berkirim SMS dan menelepon saat Bang Iwan sedang ngantor atau dinas ke luar kota. Suatu hari Bang Iwan pulang ke rumah dengan membawa kabar kalau dia akan pergi keluar kota selama 3 hari. Aku agak sedikit senang karena aku akan ketemuan dengan Indra untuk pertama kalinya. Memang selama kami saling kontak melalui HP sudah seperti orang pacaran karena begitu mesra. Bahkan kadang-kadang nyerempet ke masalah ranjang.

Dari hubungan melalui HP tersebut aku menyimpulkan kalau Indra seorang yang humoris. Seperti malam-malam biasanya bila suami ingin berangkat ke luar kota akupun sudah memakai baju seksiku di kamar untuk melayani suamiku. Hanya saja, saat Bang Iwan menyetubuhiku aku malah membayangkan sedang disetubuhi oleh Indra. Jam sepuluh pagi ketika pekerjaan rumahku sudah beres aku berangkat ke depan kompleks perumahan dengan becak. Di sana sudah terparkir mobil Indra yang berwarna hitam seperti yang ia sebutkan dalam SMS-nya saat janjian untuk ketemuan denganku. Dengan hati berdebar-debar aku langsung membuka pintu belakang mobil. Di jok belakang kulihat Indra tersenyum menyambutku, sementara sopirnya duduk di belakang kemudi. Aku agak canggung ketika pertama kali bertemu dan tampaknya Indra juga begitu.

Dari pandangan pertama aku nilai Indra lumayan ganteng. Ia pun pandai mencairkan suasana yang canggung jadi seperti sudah kenal lama. Di mobil aku sempat gelagapan saat Indra tanya kenapa aku tak mau dijemput di depan rumahku, karena dia pengen tahu di mana rumahku. Kubilang saja kalau aku tak mau tetangga curiga aku dijemput laki-laki tak dikenal yang datang ke rumah ketika suamiku pergi. Mobil yang kami tumpangi berhenti di sebuah restoran. Memang tujuan kami ketemuan untuk pertama kalinya itu adalah makan siang berdua. Sambil makan kami ngobrol macam- macam. Indra sering melemparkan joke-joke segar dengan gaya jenaka, walaupun kadang bicaranya nyerempet-nyerempet masalah ranjang, sehingga membuat perutku sakit karena tertawa terus.

Hal itu membuatku makin tertarik padanya dan tak kuasa menolak saat Indra mengajakku check in hotel di sekitaran Jakarta Barat. Jangan tanya apa aku gugup atau apa, karena selama selesai dari makan siang hingga masuk kamar jantung berdetak dengan kencang seperti pertama kali aku ingin melakukan hubungan intim dengan suamiku ketika pacaran dulu. Begitu masuk kamar, aku langsung ke toilet untuk buang air kecil. Di situ pikiranku kacau, apakah harus kulanjutkan atau tidak.

Meskipun belum ngapa-ngapain, tapi aku sudah dihantui rasa bersalah pada Bang Iwan. Rupanya rasa bersalah itu kalah oleh rasa kesepianku yang tiba- tiba terobati dengan adanya Indra. Aku bahkan mempersiap diri dengan memanfaatkan sabun khusus kewanitaan untuk mengharumkan sekaligus mengencangkan organ kewanitaan yang ada di wastafel. Ketika keluar dari toilet, Indra ganti yang masuk. Kurebahkan tubuhku di ranjang dengan pikiran yang terus berkecamuk. Aku sedikit terhenyak saat melihatnya keluar dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Pakaian yang tadi dikenakannya ditenteng dan diletakkan di atas sofa hotel yang di atasnya ada jam besar. Kulihat sudah menunjukkan jam 1 siang.

Jantungku berdetak makin kencang saat Indra rebah di sebelahku dan langsung mengecupi leherku dengan lembut, seakan memancingku untuk relaks dan juga menikmati.

“Jangan di cupang yah… Takut nanti suamiku tau”, kataku.
“Iya, sayang…”, jawabnya halus dan agak berbisik mesra.

Tak hanya gampang orgasme, aku juga gampang terangsang. Ketika Indra mencumbuiku, aku membalasnya dengan memagut bibirnya yang agak tebal dan terlihat seksi di mataku. Aku pun kemudian merasakan sensasi berciuman yang beda dengan Bang Iwan. Indra begitu pandai memainkan bibirnya dan lidahnya dalam rongga mulutku yang tak henti-hentinya mendesah akibat terbakar bara birahi. Dengan cekatan tangan Indra membuka satu-persatu kancing blouse yang kupakai hingga terlepas semua sambil terus melumat bibirku. Kubantu dia melepas kait bra-ku hingga aku telanjang dada.

“Susumu bagus banget, lebih gede dari istriku”, dengusnya.
“Jangan gitu, dia kan istrimu..”, kataku sambil menggelinjang dalam kenikmatan.

Indra tidak menjawab. Mulutnya beralih ke payudaraku dan menghisap- hisapnya dengan penuh gairah. Jelas saja hal itu makin membuatku terbuai dalam sebuah sensasi rangsangan yang meletup- letup. Sensasi selingkuh yang sudah sangat kunanti- nanti dan makin merasuk jauh dalam diriku, hingga aku tak sadar sudah telanjang bulat. Tahu-tahu Indra sudah berada di selangkanganku dan lidahnya terasa mencabik- cabik lembut miss V-ku. Dalam waktu singkat aku orgasme dibuatnya, tapi Indra terus saja menjilati miss V-ku, hingga aku orgasme lagi. Apalagi ketika jari-jari Indra mengocoki liang kemaluanku, aku malah lebih cepat orgasme lagi.

“Kok kamu gampang banget dapetnya (orgasme)?”, tanya Indra.
“Aku emang gampang dapet… Gak tau kok aku gampang banget dapetnya”, kujawab dengan nafas terengah-engah.

Sesaat kemudian Indra membuka handuk penutup bagian bawah tubuhnya, lalu telentang di ranjang. Itulah untuk pertama kalinya aku melihat penis yang bukan penis suamiku. Penis indra memang agak lebih panjang dan besar dari suamiku. Persis seperti yang diceritakan Rani padaku. Bahkan Rani bilang kalau dia sampai kelenger merasakannya. Melihat batang yang begitu keras, besar dan panjang membuatku makin mabuk kepayang. Kulumat penis Indra dalam mulutku. Dengan kehalusan liukan lidahku di sepanjang batangnya membuat Indra menggeliat tak tahan.

“Udah-udah…aku bisa keluar nanti”, katanya disertai erangan lirih.

Sebetulnya aku masih ingin lebih lama melakukan oral padanya, seperti yang kulakukan pada Bang Iwan, di mana mulutku sampai pegal sementara ia tenang- tenang saja, tapi dengan Indra malah ia ingin aku menyudahi. Aku pun beringsut duduk di atas selangkangannya dan langsung mengarahkan penisnya untuk kumasukkan ke dalam miss V-ku yang sudah sangat basah. Rasanya memang berasa lebih sesak dan dalam sekali masuknya, tak seperti biasanya dengan penis suamiku. Aku memang menyukai posisi di atas karena dapat mengatur kenikmatan diriku sepuas- puasnya hingga aku kelelahan.

Ketika penisnya sudah masuk semua aku meluruskan pahaku agar vaginaku dapat mencengkram dengan lebih rapat. Bang Iwan sangat menyukai saat aku melakukan itu. Setelah terasa rapat, aku mulai bergoyang. Memang apa yang dikatakan Rani bukanlah bualannya saja, karena penis Indra kurasakan lebih nikmat dan mengasyikkan. Bahkan aku hanya bergerak sebentar saja sudah orgasme. Kugerakkan lagi beberapa genjotan hingga sesaat kemudian aku orgasme lagi. Jangan tanya reaksi Indra karena dia seperti orang kesurupan. Kedua tangannya memegangi dan meremas-remas pantatku, mengikuti setiap goyanganku. Aku terus bergoyang sampai berdesir lagi merasakan orgasme dan goyang lagi sampai dapat lagi. Perut dan paha Indra sampai basah hingga sprei ranjang hotel pun ikut basah. Sensasi nikmat yang luar biasa itu membuatku terus goyang-goyang hingga orgasme entah yang ke berapa kali, sampai tangan Indra menepuki pantatku.

“Yang, udah yang … Ganti posisi yuk?”, ajaknya sambil sedikit menyeringai, entah karena keenakan atau menahan ejakulasi.

Aku yang memang sudah kelelahan beranjak dari atas tubuh Indra yang basah kuyup, lalu berbaring telentang di ranjang. Indra berlutut dan menyusupkan pahanya di selangkanganku. Saat aku mengangkang Indra menghunjamkan lagi penisnya ke miss V-ku dan mulai melakukan gerakan memompa yang membuat payudaraku berguncang- guncang. Seperti halnya yang dilakukan suamiku, Indra langsung menyergap kedua payudaraku dengan mulutnya sambil terus bergoyang. Sesaat kemudian Indra memintaku untuk merapatkan kedua payudaraku hingga kedua putingku saling menempel. Saat itulah Indra kembali melahap kedua putingku sekaligus sambil terus memompa batangnya. Nikmat ganda yang kurasakan membuatku cepat orgasme dan berulang- ulang.

“Say … Aku mau keluar nih … keluarin di mana?”, tanyanya dengan nafas memburu.
“di dalem aja … Gak papa kok”, kataku dengan nafas tak kalah ngos-ngosan Indra semakin menggempur miss V-ku dengan cepat yang tentunya membuatku orgasme lagi dan lagi.

Sesaat kemudian terasa miss V-ku dihujam sangat dalam dengan penisnya yang diikuti dengan denyutan dan semburan cairan hangat yang keras dari penisnya di ujung miss V-ku.

“Kamu nikmat banget, say. Bahkan lebih nikmat dari istriku sendiri. Kamu ganas …” kata Indra.
“Hus… Istri sendiri jangan dijelek-jelekin”, kataku sambil tersenyum.
“Abis … kamu emang enak banget. Mana ganas pula…” katanya.

Ronde pertama berakhir sudah. Kulihat jam dinding menunjukan waktu 1.30, berarti aku dan Indra sudah setengah jam bergumul. Sebenarnya Indra tak setangguh suamiku, tapi karena penisnya yang besar itu ternyata mampu membuatku merasa lebih nikmat walau hanya dengan durasi setengah jam. Indra yang berusia 34 tahun itu tampaknya ketagihan dengan layananku. Setengah jam kemudian ia mengajak bergumul lagi sampai- sampai ranjang basah kuyup oleh cairanku. Setelah Indra ejakulasi lagi, kami bercengkerama sebentar sambil tiduran telanjang. Begitu deru nafas kami reda, kami pun check out.

Tepat jam 4 sore Indra mengantarku sampai di depan kompleks peumahan tempat aku tinggal. Dengan becak aku menuju rumahku. Di rumah kulihat kedua anakku menyambutku dengan keceriaan khas anak- anak. Tiba-tiba saja aku tercenung dan hati ini serasa menanggung beban rasa bersalah, hingga terbersit pertanyaan, “Pantaskan aku jadi ibu yang baik bagi mereka?” Pertanyaan itu mengiang terus dalam hatiku tapi selama 3 hari itu. Anehnya aku tak mampu menolak ajakan Indra untuk mengulangi lagi di hotel yang sama dan ketika kembali ke rumah dihinggap rasa bersalah lagi.

Apakah aku sudah terkena virus ketagihan selingkuh? Tak dapat kusangkal kalau rayuan dan keroyalan Indra selalu meluluhkan hatiku untuk dapat berdua dengannya di hotel. Kadang dia membelikan baju seksi ketika dia mengajakku berbelanja di hotel. Suamiku tak curiga karena pikirnya itu dari gajinya yang memang lebih dari cukup unuk itu. Hubunganku dengan Indra sempat putus dan tak berselang lama aku memutuskan untuk mangakhirinya, karena ketika masa lost contact dengan Indra aku menemukan pria lain yang sedikit lebih gagah darinya.

Meski begitu, cinta ini masih ada untuk bang Iwan, suamiku, dan tak pernah tergantikan oleh siapapun. Hanya saja nikmatnya pergumulan di ranjang dan sensasi selingkuh itulah yang membuatku tergoda untuk mengulanginya lagi dan lagi. Nikmatnya perselingkuhan dan rasa bersalah seolah seperti iblis dan malaikat yang terus bertarung dalam batinku. Dan entah kenapa, pada akhirnya malaikatlah yang menjadi pemenang, karena beban rasa bersalah yang kutanggung terasa makin berat dan menyesakkan dada. Aku bertekad untuk berhenti dari petualanganku mencari sensasi kenikmatan berselingkuh.

Suatu malam, ketika aku dan Bang Iwan sedang menikmati persetubuhan kami, kuberanikan diri untuk menceritakan perselingkuhanku dengan Indra sedetil yang kumampu. Berat rasanya menanggung beban itu dalam hatiku dan lebih berat lagi aku ketika menceritakannya pada Bang Iwan. Aku bisa mengerti perasaannya ketika ia terlihat marah yang ketika itu sedang di bawah dan sedang kugoyang penisnya dengan vaginaku. Tak heran jika ketika selesai bercinta dia tak memelukku seperti biasanya dan mendiamkan aku hingga 3 hari. Aku bersimpuh di depan kakinya untuk meminta maaf. Bang Iwan dengan berat hati dan pertimbangan kedua anak kami, memaafkanku.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

WELLCOME TO OSEX39.BLOGSPOT.CO.ID

NEW AHLICASINO 2017


Entri Populer

Blog Archive

About Me

Total Tayangan Laman

BEST POKER


HOT POKER