I Like A Beautiful Life

We Will Never Know, Before We Do So. Remember One Thing, The Work We Do Will Be Worth It.

Sexy Girl in World

When We Are Already One Of The Majors, Does Not Mean We Should Be One Of The Future.

How Much Sexy Girl In World

Never Underestimate Yourself. If You Are Unhappy With Your Life, Fix What's Wrong, And Keep Stepping.

Good Looking

If You Can Not Be Intelligent, Be a Good Person.

Can You Get What You Want

Most Millionaires Get a B or C on Campus. They Build Wealth Not Of IQ Alone, But Creativity and Common Sense.

Senin, 24 April 2017

" Bercinta Dengan Pak Kades "


Pengalamanku ini bermula sekitar dua tahun yang lalu saat aku baru bekerja di Balai Desa sebagai pembantu Pak Sumantri, kepala desa kami. Pak Sum orang pandai. Ia bergelar Drs. Sebenarnya ia berasal dari Jakarta, namun sudah menetap di desaku cukup lama. Pak Sum berkulit putih, wajahnya ganteng dan berkumis. Ia sangat baik kepadaku. Aku sangat senang.

Hari pertama aku bekerja, ia memintaku untuk memijitnya di kamarnya di Balai Desa. Begitu sampai di kamarnya, ia memintaku untuk membukakan pakaiannya. Aku merasa aneh sekaligus malu. Namun kulakukan juga. Tubuhnya tegap dan atletis. Namun entah kenapa aku senang melihat dadanya yang berbulu lebat. Ia tersenyum kepadaku. Kemudian ia menyuruhku membukakan celananya sekalian. Aku ragu-ragu untuk melakukannya, namun ia bilang bahwa kakinya pegal dan ingin dipijit juga. Aku berjongkok di hadapannya. Perlahan-lahan kulepaskan ikat pinggangnya. Aku merasa celananya begitu menonjol.

Kemudian kutarik risleting celananya, kulepaskan celananya ke lantai dan.. aku sangat terkejut melihat penisnya yang bukan hanya tampak menonjol melainkan sudah keluar dari celana dalamnya. penisnya sangat besar dan panjang. Aku bahkan dapat melihat kepala kontolnya yang tampak mengkilat karena air mani. Aku berusaha untuk menahan kegugupanku. Kulihat ia tersenyum kepadaku. Kemudian kupersilakan ia untuk tiduran agar bisa kupijit. Kupijit bagian belakangnya. Ia memintaku untuk mengurut pantatnya. Kemudian ia membalikkan badannya memintaku untuk memijit dadanya juga. Perlahan kupijit dadanya yang berbulu lebat.

Ia memintaku untuk terus memijitnya ke bagian bawah. Aku sangat gugup. Aku merasa ia akan memintaku untuk memijit kontolnya. Namun untunglah tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu kamar. Rupanya Pak Marmo, Sekretaris Desa memberitahukan bahwa ada tamu yang menunggu Pak Sum di kantornya. Pak Sum tampak kecewa namun ia kemudian memakai pakaiannya kembali. Saat memakai celananya, ia meminta aku menarik risleting celananya. Tampaknya ia berusaha agar aku memperhatikan kontolnya yang ngaceng. Buru-buru kulakukan itu. Ia tersenyum sambil berkata,

“Enak betul pijitanmu Kas, besok lagi ya”. Aku hanya mengangguk sambil menarik napas lega.

Keesokan malamnya, aku menonton televisi di Balai Desa. Sekitar pukul 10 malam, aku dibangunkan Pak Sum. Rupanya aku ketiduran di depan televisi. Lalu Pak Sum menyuruhku agar pindah tidur di kamarnya. Lantaran sudah mengantuk, aku menurutinya. Sekitar tengah malam, Pak Sum membangunkanku. Aku terkejut melihatnya. Ia sudah telanjang, hanya mengenakan celana dalam. Kemudian ia membuka celana dalamnya dan memperlihatkan kontolnya kepadaku. Aku terkesiap melihat kontolnya yang sangat besar, panjang dan berbulu lebat. Kemudian ia berusaha membuka bajuku. Aku berusaha menolak, namun ia terus memaksa.

Akhirnya aku menyerah, kubiarkan ia membuka bajuku, bahkan kemudian celana panjangku. Ia tampak senang melihat celana dalamku, lalu kemudian mengelus dan meremasnya. Pak Sum kemudian menindih tubuhku. Dadanya yang berbulu lebat menindih dadaku. Ia kemudian mencumbu bibirku. Aku berusaha untuk menghindar namun ia terus melakukannya. Aku menyerah, kubiarkan ia menciumi bibirku. Ciumannya sungguh menggebu-gebu. Mula-mula aku merasa risih, merasakan bibir dan kumisnya dibibirku. Lalu ia menciumi leherku, kemudian dada dan bahkan ketiakku. Aku merasa aneh namun aku diam saja. Ia terus menciumiku, perutku bahkan kemudian.. Celana dalamku.

Aku terkejut ketika ia menciumi celana dalamku dengan penuh nafsu. Ia kemudian berusaha untuk membukanya. Aku berusaha mencegahnya namun ia berkata,

“Ayolah Kas, nggak apa-apa, kamu pasti suka” sambil terus memaksa.

Aku membiarkan ia membukanya. Ia tampak senang melihat kontolku. Ia menggenggam kontolku yang rupanya juga sudah ngaceng. Kemudian ia menciuminya. Astaga, tak bisa kupercaya melihatnya mencium dan menjilati kontolku dengan penuh nafsu. Mula-mula pelirku, kemudian terus naik ke batang kontolku. Akhirnya sampailah ia ke bagian kepala kontolku. Ia melirik ke arahku sambil tersenyum. Aku menahan nafas menanti apa yang akan dilakukannya. Kemudian ia menundukkan kepalanya dan.. Mencumbui kepala kontolku. Aku tak bisa melukiskan betapa nikmat rasanya merasakan lidah dan bibirnya menjilat dan mencumbu kepala kontolku. Aku memejamkan mata, rasanya aku berada di awang-awang. Ia pun tampak sangat menikmatinya.

Kemudian ia memasukkan batang kontolku ke dalam mulutnya. Ia menghisap dan mempermainkan batang kontolku di dalam mulutnya. Tanpa sadar aku mendesah penuh kenikmatan. Ia terus menghisap kontolku. Gerakannya bervariasi. Kadang-kadang lembut, kadang ia bahkan menggigitnya pelan-pelan. Aku sungguh merasa nikmat. Kemudian akupun merasa kenikmatanku memuncak. Akhirnya aku mengeluarkan air maniku. Aku memejamkan mata. Kupikir Pak Sum akan berhenti menghisap kontolku. Namun ternyata ia terus menghisapnya. Bahkan ia terus menjilati kepala kontolku sampai benar-benar bersih dari air maniku. Akhirnya ia berhenti. Kemudian ia membaringkan tubuhnya disampingku. Ia tersenyum sambil mengelus kepalaku dan berkata,

“Bagaimana Kas, enak kan?” Aku hanya mengangguk. Ia kemudian menindih tubuhku sambil berkata,
“Mau lagi?” Aku terdiam, tubuhku agak lemas.

Namun ia terus merangsangku. Ia membimbing tanganku agar mengelus bulu dadanya. Kemudian ke kontolnya yang sangat besar itu. Dia menyuruhku untuk menggenggamnya. Aku merasa kontolku kembali gaceng. Kemudian ia memeluk dan membalikkan posisi kami sehingga kini akulah yang berada di atas tubuhnya. Ia menyuruhku untuk melakukan persis seperti yang dilakukannya kepadaku. Aku agak ragu untuk melakukannya. Perlahan kutundukkan kepalaku, ia langsung mencumbu bibirku. Aku tak lagi menolak bahkan akulah yang kemudian dengan penuh nafsu menciumi bibirnya, lehernya terus ke dadanya yang berbulu lebat. Kuciumi dan kuelus dadanya juga ketiaknya. Tubuhnya sangat harum menggairahkan. Bahkan kujilati dan kuhisap puting susunya.

Ia tampak terkejut sekaligus senang. Akhirnya aku sampai ke kontolnya. Kupegang kontolnya. Oohh.. Kontolnya sangat besar dan panjang. Panjangnya sekitar 25 cm diameternya sekitar 7 cm. Kulihat kepala kontolnya sudah mengkilat karena basah oleh air maninya. Perlahan kudekatkan kepalaku untuk menciuminya, kemudian kucium dan kujilat dengan penuh nafsu. Pantas saja Pak Sum sangat ingin menciumi kontolku karena rasanya sangat nikmat. Kuciumi pelernya lalu naik ke atas, kuciumi bulu jembutnya yang halus kemudian batang kontolnya. Kepala kontolnya yang besar sungguh membuatku terangsang. Kujilati kepala kontolnya itu. Baunya benar-benar membuatku mabuk kepayang. Kulihat Pak Sum memejamkan matanya karena merasakan nikmat.

Kemudian aku menghisap kontolnya. Namun karena begitu besar dan panjang, mulutku hanya bisa menghisap sekitar separuh saja. Itupun mulutku terasa penuh karena ukuran kontolnya luar biasa besar. Kupermainkan kontolnya agar ia mengeluarkan air maninya. Namun ia memang luar biasa. Sesudah hampir satu jam pun ia belum juga mencapai puncak kenikmatan. Aku tak putus asa. Kuhisap terus kontolnya sambil menggenggam dan mempermainkan kontolnya. Kemudian aku melepaskan hisapanku. Kupegang dan kudekatkan kontolku ke kontolnya. Kugesek-gesekkan kepala kontolnya dengan punyaku. Ia mendesah penuh kenikmatan. Lalu aku kembali menghisap kontolnya. Usahaku berhasil, tak lama kemudian ia mengerang lalu aku merasakan mulutku dibanjiri air maninya yang kental. Kuhisap dan kutelan air maninya. Rasanya agak sedikit asin tapi baunya sungguh membuatku mabuk kepayang.

Kemudian kujilati kembali kepala kontolnya yang semakin basah karena air mani sampai bersih. Kemudian kubaringkan tubuhku disisinya. Ia menatapku dan memujiku sambil berkata,

“Kamu luar biasa, Kas”. Aku memejamkan mataku. Kupikir ia sudah lelah.

Namun rupanya ia belum puas. Tangannya kembali mengarahkan tanganku agar memegang kontolnya. Astaga.. Ia memang luar biasa. Kontolnya masih tetap besar dan keras seperti semula. Kuremas kontolnya. Kemudian ia menyuruhku membalikkan badan dan menungging. Mula-mula aku tak mengerti apa yang akan dilakukannya. Kemudian ia memegang pantatku lalu kurasakan ia menggesekkan kontolnya ke pantatku. Kurasakan kontolnya yang besar di pantatku dan aku merasa nikmat. Namun rupanya Pak Sum tidak hanya sekedar ingin menggesek-gesekkan kontolnya ke pantatku karena kemudian kurasakan ia berusaha memasukkannya ke anusku perlahan-lahan. Semula kupikir hal itu tidak mungkin karena kontolnya yang sangat besar. Namun aku salah. Ternyata kontolnya bisa masuk.

Lalu ia memelukku dan mengeluarmasukkan kontolnya persis seperti sedang mengentot. Mula-mula memang terasa sakit dan aneh. Namun kemudian ternyata rasanya nikmat dan aku menikmatinya. Aku sangat terangsang. Apalagi tangannya juga meraba-raba tubuhku dan meremas kontolku. Ia juga menciumi leherku sambil terus mengentotiku. Kurasakan ia mengguncang-guncang tubuhku semakin lama semakin cepat. Akhirnya ia mendesah, rupanya ia telah mencapai puncaknya. Kurasakan kali ini pantatku dibanjiri oleh air maninya. Namun ia tidak langsung berhenti. Ia masih terus mengentotiku selama beberapa menit. Kemudian akhirnya ia mencabut kontolnya lalu berkata..

“Ayo Kas, sekarang giliran kamu”. Aku terkejut, namun aku mengerti apa yang harus kulakukan.

Ia menungging lalu kuarahkan kontolku ke pantatnya. Perlahan kumasukkan kontolku ke dalam anusnya. Mungkin karena kontolku lebih kecil, aku dapat memasukkannya lebih mudah. Kemudian aku mulai mengentotinya. Kupeluk badannya, kuelus dadanya yang berbulu lebat. Kuraba pula kontolnya. Ia sungguh luar biasa. Kontolnya masih tetap keras. Aku rasakan aku semakin terangsang. Kemudian aku merasa bahwa aku akan kembali mengeluarkan air mani. Benar saja. Tak lama kemudian aku mengeluarkannya didalam pantat Pak Sum. Aku tak kuat lagi. Kucabut kontolku. Tubuhku benar-benar lelah. Kubaringkan tubuhku. Ia kemudian berbaring di sisiku. Ia berbisik,

“Sudah capek Kas? Tidurlah. Ini sudah hampir pagi. Besok kita lanjutkan ya”. Aku mengangguk.

Ia kemudian memelukku. Nikmat sekali merasakan dadanya yang berbulu lebat. Akupun tertidur dalam pelukannya. Sejak saat itu, setiap kami bisa berduaan, pasti kami menghabiskan waktu dengan berhubungan seks. Kami melakukannya di mana saja. Selain di kamarnya, kami juga melakukannya di kamar mandi, di mobilnya bahkan pernah di sebuah toko waktu Pak Sum mengajakku ke Jakarta. Ia ingin membelikanku pakaian. Sewaktu aku sedang mencoba celana panjang baru di kamar ganti sebuah toko, ia masuk dan kemudian melihat aku sedang membuka celanaku.

Lalu ia membuka celana dalamku dan menghisap kontolku. Aku terkejut dan sangat gugup namun ia terus melakukannya sampai aku membasahi mulutnya dengan air maniku. Sesudah itu bahkan ia juga menyuruhku menghisap kontolnya. Begitulah kehidupan seksku dengan Pak Sum. Aku benar-benar berbahagia. Tak kusangka berhubungan seks dengan sesama lelaki dapat terasa begitu nikmat. Kami melakukannya tanpa mengenal waktu dan tak pernah merasa bosan. Ia sangat sayang kepadaku. Aku pun sangat mencintainya. Kami berjanji akan terus bersama, selamanya.
Share:

" Suara Desahan Telarang "


Ketika itu aku berumur 31 tahun dan sudah memiliki 2 orang anak yang sudah masuk sekolah dasar. Suamiku, sebut saja namanya Bang Iwan, adalah seorang karyawan di suatu perusahaan yang termasuk terkemuka di Tangerang. Seperti halnya orang-orang yang berkarir, Bang Iwan pun jarang di rumah karena setiap hari berangkat pagi pulang malam dan terkadang ada tugas dinas sampai 3 hari.

Sebagai ibu rumah tangga aku mengerjakan pekerjaan rumah dengan tulus, demi pengabdianku pada suami dan wujud kasih sayang pada anak-anakku. Tetapi namanya juga wanita, walau bagaimanapun juga butuh perhatian dan dimanjakan oleh suami. Berhubung suamiku sibuk, kebutuhan itu jarang kudapatkan, bahkan bisa dikatakan langka, walaupun dalam hal urusan ranjang tak ada masalah. Bang Iwan tergolong perkasa di ranjang dan memang dialah lelaki pertama yang menikmati tubuhku sejak pacaran hingga menikah saat ini.

Kami melakukan hubungan suami istri paling tidak 2-3 kali seminggu dan biasanya Bang Iwan tahan sampai 1 jam setiap rondenya. Jika sedang tergesa-gesa paling cepat 30 menit ia bertahan, sementara aku termasuk wanita yang mudah sekali orgasme. Percaya atau tidak, dulu waktu masih pengantin baru Bang Iwan sampai heran kok aku orgasme berulang-ulang kali dan suatu saat dia manghitung orgasme ku ketika kami berdua bersetubuh hingga 1 jam dan hasilnya memang membuat kami terkejut, karena dalam satu jam aku bisa sampai 30-40 kali orgasme.

Hal itu tak pernah kusadari sebelumnya dan sebenarnya aku bukanlah maniak seks, tapi hanya gampang orgasme saja dan tak lebih dari itu. Namun yang kubutuhkan lebih dari pada aktivitas ranjang. Walau sekedar tatapan mesra, aku ingin sekali merasakannya. Atau pujian pada masakan dan penampilanku. Seiring dengan berjalannya waktu, hal itu makin jarang kudapatkan.

Meskipun kadang aku merasa tersiksa dengan keadaan itu, tapi tetap kujalani juga dengan hati ikhlas. Semua pekerjaan rumah biasanya sudah selesai jam 10 pagi dan setelah itu biasanya aku pergi ke tetangga untuk hanya ngerumpi. Kadang-kadang jalan bareng dengan teman- temanku ke mall untuk membeli kebutuhan sehari- hari ataupun untuk beli untuk baju dan kebutuhan pribadiku yang lain. Karena seringnya ditinggal suami dan kebanyakan ngerumpi dengan teman-temanku di mall atau di cafe jadi banyak tahu tentang pengalaman mereka yang juga bernasib sama sepertiku, yaitu kesepian di rumah. Bahkan ada yang lebih parah dari aku.

Dari situlah mereka terkadang berkenalan dengan pria-pria baik yang masih muda dan single maupun yang sudah sama-sama berkeluarga dan mapan. Aku tak begitu tertarik pada awalnya dengan cerita mereka, tapi karena selalu tergoda dengan sensasi selingkuh yang mereka ceritakan, aku jadi seperti penasaran. Iseng-iseng aku minta nomer HP seorang pria yang juga sudah berkeluarga dan mapan yang kata teman- temanku berprofesi sebagai kontraktor. Menurut temanku, sebut saja namanya Rani, yang memberiku nomor HP Indra (nama samaran), si kontraktor itu, Indra orangnya gagah, tinggi besar dan juga agak lebih tampan dari suamiku.

Bagiku masalah ketampanan tak terlalu kuhiraukan. Yang bikin aku penasaran adalah “burungnya” yang kata Rani selalu bikin dia hampir mati lemas. Tanpa kusadari, aku memulai petualanganku dengan Indra. Dari hari ke hari sampai hampir satu bulan lamanya aku dan Indra saling berkirim SMS dan menelepon saat Bang Iwan sedang ngantor atau dinas ke luar kota. Suatu hari Bang Iwan pulang ke rumah dengan membawa kabar kalau dia akan pergi keluar kota selama 3 hari. Aku agak sedikit senang karena aku akan ketemuan dengan Indra untuk pertama kalinya. Memang selama kami saling kontak melalui HP sudah seperti orang pacaran karena begitu mesra. Bahkan kadang-kadang nyerempet ke masalah ranjang.

Dari hubungan melalui HP tersebut aku menyimpulkan kalau Indra seorang yang humoris. Seperti malam-malam biasanya bila suami ingin berangkat ke luar kota akupun sudah memakai baju seksiku di kamar untuk melayani suamiku. Hanya saja, saat Bang Iwan menyetubuhiku aku malah membayangkan sedang disetubuhi oleh Indra. Jam sepuluh pagi ketika pekerjaan rumahku sudah beres aku berangkat ke depan kompleks perumahan dengan becak. Di sana sudah terparkir mobil Indra yang berwarna hitam seperti yang ia sebutkan dalam SMS-nya saat janjian untuk ketemuan denganku. Dengan hati berdebar-debar aku langsung membuka pintu belakang mobil. Di jok belakang kulihat Indra tersenyum menyambutku, sementara sopirnya duduk di belakang kemudi. Aku agak canggung ketika pertama kali bertemu dan tampaknya Indra juga begitu.

Dari pandangan pertama aku nilai Indra lumayan ganteng. Ia pun pandai mencairkan suasana yang canggung jadi seperti sudah kenal lama. Di mobil aku sempat gelagapan saat Indra tanya kenapa aku tak mau dijemput di depan rumahku, karena dia pengen tahu di mana rumahku. Kubilang saja kalau aku tak mau tetangga curiga aku dijemput laki-laki tak dikenal yang datang ke rumah ketika suamiku pergi. Mobil yang kami tumpangi berhenti di sebuah restoran. Memang tujuan kami ketemuan untuk pertama kalinya itu adalah makan siang berdua. Sambil makan kami ngobrol macam- macam. Indra sering melemparkan joke-joke segar dengan gaya jenaka, walaupun kadang bicaranya nyerempet-nyerempet masalah ranjang, sehingga membuat perutku sakit karena tertawa terus.

Hal itu membuatku makin tertarik padanya dan tak kuasa menolak saat Indra mengajakku check in hotel di sekitaran Jakarta Barat. Jangan tanya apa aku gugup atau apa, karena selama selesai dari makan siang hingga masuk kamar jantung berdetak dengan kencang seperti pertama kali aku ingin melakukan hubungan intim dengan suamiku ketika pacaran dulu. Begitu masuk kamar, aku langsung ke toilet untuk buang air kecil. Di situ pikiranku kacau, apakah harus kulanjutkan atau tidak.

Meskipun belum ngapa-ngapain, tapi aku sudah dihantui rasa bersalah pada Bang Iwan. Rupanya rasa bersalah itu kalah oleh rasa kesepianku yang tiba- tiba terobati dengan adanya Indra. Aku bahkan mempersiap diri dengan memanfaatkan sabun khusus kewanitaan untuk mengharumkan sekaligus mengencangkan organ kewanitaan yang ada di wastafel. Ketika keluar dari toilet, Indra ganti yang masuk. Kurebahkan tubuhku di ranjang dengan pikiran yang terus berkecamuk. Aku sedikit terhenyak saat melihatnya keluar dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Pakaian yang tadi dikenakannya ditenteng dan diletakkan di atas sofa hotel yang di atasnya ada jam besar. Kulihat sudah menunjukkan jam 1 siang.

Jantungku berdetak makin kencang saat Indra rebah di sebelahku dan langsung mengecupi leherku dengan lembut, seakan memancingku untuk relaks dan juga menikmati.

“Jangan di cupang yah… Takut nanti suamiku tau”, kataku.
“Iya, sayang…”, jawabnya halus dan agak berbisik mesra.

Tak hanya gampang orgasme, aku juga gampang terangsang. Ketika Indra mencumbuiku, aku membalasnya dengan memagut bibirnya yang agak tebal dan terlihat seksi di mataku. Aku pun kemudian merasakan sensasi berciuman yang beda dengan Bang Iwan. Indra begitu pandai memainkan bibirnya dan lidahnya dalam rongga mulutku yang tak henti-hentinya mendesah akibat terbakar bara birahi. Dengan cekatan tangan Indra membuka satu-persatu kancing blouse yang kupakai hingga terlepas semua sambil terus melumat bibirku. Kubantu dia melepas kait bra-ku hingga aku telanjang dada.

“Susumu bagus banget, lebih gede dari istriku”, dengusnya.
“Jangan gitu, dia kan istrimu..”, kataku sambil menggelinjang dalam kenikmatan.

Indra tidak menjawab. Mulutnya beralih ke payudaraku dan menghisap- hisapnya dengan penuh gairah. Jelas saja hal itu makin membuatku terbuai dalam sebuah sensasi rangsangan yang meletup- letup. Sensasi selingkuh yang sudah sangat kunanti- nanti dan makin merasuk jauh dalam diriku, hingga aku tak sadar sudah telanjang bulat. Tahu-tahu Indra sudah berada di selangkanganku dan lidahnya terasa mencabik- cabik lembut miss V-ku. Dalam waktu singkat aku orgasme dibuatnya, tapi Indra terus saja menjilati miss V-ku, hingga aku orgasme lagi. Apalagi ketika jari-jari Indra mengocoki liang kemaluanku, aku malah lebih cepat orgasme lagi.

“Kok kamu gampang banget dapetnya (orgasme)?”, tanya Indra.
“Aku emang gampang dapet… Gak tau kok aku gampang banget dapetnya”, kujawab dengan nafas terengah-engah.

Sesaat kemudian Indra membuka handuk penutup bagian bawah tubuhnya, lalu telentang di ranjang. Itulah untuk pertama kalinya aku melihat penis yang bukan penis suamiku. Penis indra memang agak lebih panjang dan besar dari suamiku. Persis seperti yang diceritakan Rani padaku. Bahkan Rani bilang kalau dia sampai kelenger merasakannya. Melihat batang yang begitu keras, besar dan panjang membuatku makin mabuk kepayang. Kulumat penis Indra dalam mulutku. Dengan kehalusan liukan lidahku di sepanjang batangnya membuat Indra menggeliat tak tahan.

“Udah-udah…aku bisa keluar nanti”, katanya disertai erangan lirih.

Sebetulnya aku masih ingin lebih lama melakukan oral padanya, seperti yang kulakukan pada Bang Iwan, di mana mulutku sampai pegal sementara ia tenang- tenang saja, tapi dengan Indra malah ia ingin aku menyudahi. Aku pun beringsut duduk di atas selangkangannya dan langsung mengarahkan penisnya untuk kumasukkan ke dalam miss V-ku yang sudah sangat basah. Rasanya memang berasa lebih sesak dan dalam sekali masuknya, tak seperti biasanya dengan penis suamiku. Aku memang menyukai posisi di atas karena dapat mengatur kenikmatan diriku sepuas- puasnya hingga aku kelelahan.

Ketika penisnya sudah masuk semua aku meluruskan pahaku agar vaginaku dapat mencengkram dengan lebih rapat. Bang Iwan sangat menyukai saat aku melakukan itu. Setelah terasa rapat, aku mulai bergoyang. Memang apa yang dikatakan Rani bukanlah bualannya saja, karena penis Indra kurasakan lebih nikmat dan mengasyikkan. Bahkan aku hanya bergerak sebentar saja sudah orgasme. Kugerakkan lagi beberapa genjotan hingga sesaat kemudian aku orgasme lagi. Jangan tanya reaksi Indra karena dia seperti orang kesurupan. Kedua tangannya memegangi dan meremas-remas pantatku, mengikuti setiap goyanganku. Aku terus bergoyang sampai berdesir lagi merasakan orgasme dan goyang lagi sampai dapat lagi. Perut dan paha Indra sampai basah hingga sprei ranjang hotel pun ikut basah. Sensasi nikmat yang luar biasa itu membuatku terus goyang-goyang hingga orgasme entah yang ke berapa kali, sampai tangan Indra menepuki pantatku.

“Yang, udah yang … Ganti posisi yuk?”, ajaknya sambil sedikit menyeringai, entah karena keenakan atau menahan ejakulasi.

Aku yang memang sudah kelelahan beranjak dari atas tubuh Indra yang basah kuyup, lalu berbaring telentang di ranjang. Indra berlutut dan menyusupkan pahanya di selangkanganku. Saat aku mengangkang Indra menghunjamkan lagi penisnya ke miss V-ku dan mulai melakukan gerakan memompa yang membuat payudaraku berguncang- guncang. Seperti halnya yang dilakukan suamiku, Indra langsung menyergap kedua payudaraku dengan mulutnya sambil terus bergoyang. Sesaat kemudian Indra memintaku untuk merapatkan kedua payudaraku hingga kedua putingku saling menempel. Saat itulah Indra kembali melahap kedua putingku sekaligus sambil terus memompa batangnya. Nikmat ganda yang kurasakan membuatku cepat orgasme dan berulang- ulang.

“Say … Aku mau keluar nih … keluarin di mana?”, tanyanya dengan nafas memburu.
“di dalem aja … Gak papa kok”, kataku dengan nafas tak kalah ngos-ngosan Indra semakin menggempur miss V-ku dengan cepat yang tentunya membuatku orgasme lagi dan lagi.

Sesaat kemudian terasa miss V-ku dihujam sangat dalam dengan penisnya yang diikuti dengan denyutan dan semburan cairan hangat yang keras dari penisnya di ujung miss V-ku.

“Kamu nikmat banget, say. Bahkan lebih nikmat dari istriku sendiri. Kamu ganas …” kata Indra.
“Hus… Istri sendiri jangan dijelek-jelekin”, kataku sambil tersenyum.
“Abis … kamu emang enak banget. Mana ganas pula…” katanya.

Ronde pertama berakhir sudah. Kulihat jam dinding menunjukan waktu 1.30, berarti aku dan Indra sudah setengah jam bergumul. Sebenarnya Indra tak setangguh suamiku, tapi karena penisnya yang besar itu ternyata mampu membuatku merasa lebih nikmat walau hanya dengan durasi setengah jam. Indra yang berusia 34 tahun itu tampaknya ketagihan dengan layananku. Setengah jam kemudian ia mengajak bergumul lagi sampai- sampai ranjang basah kuyup oleh cairanku. Setelah Indra ejakulasi lagi, kami bercengkerama sebentar sambil tiduran telanjang. Begitu deru nafas kami reda, kami pun check out.

Tepat jam 4 sore Indra mengantarku sampai di depan kompleks peumahan tempat aku tinggal. Dengan becak aku menuju rumahku. Di rumah kulihat kedua anakku menyambutku dengan keceriaan khas anak- anak. Tiba-tiba saja aku tercenung dan hati ini serasa menanggung beban rasa bersalah, hingga terbersit pertanyaan, “Pantaskan aku jadi ibu yang baik bagi mereka?” Pertanyaan itu mengiang terus dalam hatiku tapi selama 3 hari itu. Anehnya aku tak mampu menolak ajakan Indra untuk mengulangi lagi di hotel yang sama dan ketika kembali ke rumah dihinggap rasa bersalah lagi.

Apakah aku sudah terkena virus ketagihan selingkuh? Tak dapat kusangkal kalau rayuan dan keroyalan Indra selalu meluluhkan hatiku untuk dapat berdua dengannya di hotel. Kadang dia membelikan baju seksi ketika dia mengajakku berbelanja di hotel. Suamiku tak curiga karena pikirnya itu dari gajinya yang memang lebih dari cukup unuk itu. Hubunganku dengan Indra sempat putus dan tak berselang lama aku memutuskan untuk mangakhirinya, karena ketika masa lost contact dengan Indra aku menemukan pria lain yang sedikit lebih gagah darinya.

Meski begitu, cinta ini masih ada untuk bang Iwan, suamiku, dan tak pernah tergantikan oleh siapapun. Hanya saja nikmatnya pergumulan di ranjang dan sensasi selingkuh itulah yang membuatku tergoda untuk mengulanginya lagi dan lagi. Nikmatnya perselingkuhan dan rasa bersalah seolah seperti iblis dan malaikat yang terus bertarung dalam batinku. Dan entah kenapa, pada akhirnya malaikatlah yang menjadi pemenang, karena beban rasa bersalah yang kutanggung terasa makin berat dan menyesakkan dada. Aku bertekad untuk berhenti dari petualanganku mencari sensasi kenikmatan berselingkuh.

Suatu malam, ketika aku dan Bang Iwan sedang menikmati persetubuhan kami, kuberanikan diri untuk menceritakan perselingkuhanku dengan Indra sedetil yang kumampu. Berat rasanya menanggung beban itu dalam hatiku dan lebih berat lagi aku ketika menceritakannya pada Bang Iwan. Aku bisa mengerti perasaannya ketika ia terlihat marah yang ketika itu sedang di bawah dan sedang kugoyang penisnya dengan vaginaku. Tak heran jika ketika selesai bercinta dia tak memelukku seperti biasanya dan mendiamkan aku hingga 3 hari. Aku bersimpuh di depan kakinya untuk meminta maaf. Bang Iwan dengan berat hati dan pertimbangan kedua anak kami, memaafkanku.
Share:

Jumat, 21 April 2017

" Awal Mula Dari Chatting "


Pada mulanya aku tidak begitu tertarik dengan namanya chatting. Tetapi lama kelamaan aku jadi ketagihan dan setiap hari aku selalu meluangkan waktu Untuk beberapa saat lamanya sembari mengerjakan tugas harian di kantor. Baik itu melalui MIRC ataupun di YM. Dan mulai dari sinilah aku mulai mengenal apa itu dunia cyber. Suatu hari aku chatting dengan menggunakan nickname Jingga yang kebetulan aku suka banget dengan warna purple.

Hingga sampailah aku di pertemukan dengan cewek yang berumur 17 tahun yang mempunyai nama asli Adinda. Adinda yang masih berstatus pelajar di salah satu SMU negeri di Jakarta dan tinggal di sekitar Jakarta Barat. Dengan paras yang cantik serta bentuk tubuh yang sexy di dukung penampilannya yang selalu mengenakan rok abu-abunya di atas lutut. Menjadikan dirinya patut untuk di kagumi oleh setiap lelaki. Apalagi dengan hem putihnya yang sedikit transparan setiap Adinda berangkat ke sekolah. Begitu menerawang terbentuk segaris Bra 36 warna hitam kesukaannya menjadikan setiap mata yang memandangnya tak akan berkedip sedetikpun.
Adinda adalah anak tunggal dari keluarga yang cukup terpandang di Jakarta. Kesibukan papanya sebagai seorang pengusaha, menjadikan Adinda selalu merasa kesepian. Demikian juga dengan Mamanya yang selalu sibuk dengan urusan arisan, shopping, senam, salon dan banyak lagi kesibukan yang datang tak pernah habisnya. Karena merasa kesepian setiap pulang dari sekolah ataupun saat libur sekolah, menjadikan Adinda tumbuh tanpa seorang figur dari keluarganya. Kalau melihat kepribadiannya Adinda sebenarnya mempunyai kepribadian yang periang dan ramah.Semua itu bisa di lihat dengan kesehariannya yang selalu tersenyum kepada semua orang yang di jumpainya.
Demikian juga saat bertemu denganku lewat Chatting. Setiap perjumpaan selalu diakhiri dengan kesan yang baik, bagaimanapun juga aku sangat menghargai. Kejujurannya yang menceritakan masalah keluarganya yang super sibuk dan mantan cowoknya yang berpaling darinya, karena tidak bisa bersabar menghadapi Adinda yang belakangan menjadi pemurung. Sifatnya yang pemurung itu disebabkan oleh suasana keluarganya yang mulai tidak harmonis lagi dan menjadikan sosok Adinda menjadi minder di sekolahnya.
Hingga pada satu kesempatan dia memutuskan ingin bertemu secara langsung denganku. Hari itu setelah kita chatting beberapa saat, tiba-tiba dia menangis dan butuh teman untuk curhat secara langsung dan alasannya, karena dia sudah akrab dan percaya kepadaku.
Setelah menentukan tempat yang cukup aman, sejuk udaranya dan tidak bising akhirnya aku sepakat menemuinya. Dengan perasaan deg-degan, sepanjang perjalanan aku berpikir ada masalah apa dengan Adinda. Dan pikiranku terasa semakin amburadul ketika aku benar-benar ketemu dengannya.
Sesaat Aku terkagum-kagum melihat penampilannya hari itu. Berbeda dengan kesehariannya yang selalu mengenakan seragam sekolah. Hari itu Adinda mengenakan stelan celana jeans agak belel warna biru di padu dengan kaos putih ketat yang menonjol di bagian dadanya. Rambut panjangnya di biarkannya tergerai menyentuh bahunya melewati leher jenjangnya yang putih bersih.
Dari penampilannya yang mengagumkan aku sempat menelan ludah sesaat. Adinda adalah sosok cewek idolaku. Mulai dari wajahnya, dadanya, pinggulnya dan lekukan Pantatnya yang sexy tecetak jelas di celananya yang ketat juga. Membuat aku menelan terdiam sesaat, sambil membayangkan bagaimana jika aku bisa bercinta dengan dia.
Di sebuah cafe yang suasananya pada siang itu tidak begitu ramai, dengan hanya beberapa pengunjung, menjadikan pertemuanku dengan nya akan sangat berkesan tentunya. Selama pembicaraan di cafe, jantungku berdetak kencang setiap melirik paras Adinda yang cantik dan manis sekali dan aku membayangkan jika aku dapat menikmati bibirnya yang merekah. Untuk menghilangkan rasa cemasku, aku berusaha membuka pembicaraan dengan menanyakan bagaimana kesannya setelah bertemu dan ada masalah apa sampai dia memintaku datang menemuinya.
Pertemuan itu sebenarnya hanya sekedar alasannya aja agar bisa ngobrol denganku dan mengenal lebih dekat siapa diriku sebenarnya. Hal itu aku ketahui setelah kami terlibat perbincangan serius di cafe dan dia berterima kasih, kalau selama ini aku bisa dengan penuh kesabaran mendengarkan semua masalah yang di hadapinya.
“Diet.. Boleh aku mengatakan sesuatu?” tanya Adinda tiba-tiba.
“Boleh.. Ada apa emangnya?” tanyaku balik.
“Aku mulai merasakan semua kasih sayang kamu selama ini,” jawabnya.
“Dan aku juga ingin memberikan hal yang sama buat kamu,” lanjutnya.
Aku hanya bisa terdiam mendengar semua penjelasannya, dengan lembut aku memeluk tubuhnya untuk meyakinkan bahwa semua yang kulakukan tulus adanya. Dan dengan pelan aku genggam jemari tangannya yang halus serta aku pegang dagunya dengan lembut bibirku menyentuh bibirnya yang terbuka sedikit. Yang tak lama aku telah menciumi leher Adinda yang terlihat sangat bersih dan putih.
“Adinda aku sayang kamu..,” bisikku di telinganya lirih.

Adinda semakin erat memelukku sebagai ungkapan kebahagiaannya atas sikapku. Setelah perbincangan di cafe selesai, Adinda mengajakku untuk bersantai sejenak sambil beristirahat dengan memesan sebuah kamar di sebuah hotel yang tak jauh letaknya dari cafe tersebut.
“Diet.. Ohh..,” desah Adinda ketika aku mencumbu lehernya setelah kita sampai di kamar. Lidahku semakin nakal menjelajahi leher Adinda yang jenjang.
“Akhh Diet..” tanpa terasa tanganku mulai nakal untuk menggerayangi payudara Adinda yang aku rasakan mulai mengencang mengikuti jilatan lidahku dibalik telinganya.
“Ooohh.. Diet..” desahnya lirih.
Adinda mulai terangang ketika ujung lidahku menjilati bukit payudaranya yang berukuran 36 itu. Aku semakin berani untuk melakukan yang Iebih jauh.. Dengan meremas payudara yang satunya.
“Adinda.. Sayang, aku buka baju kamu yah..”? bisiku di telinganya.
Adinda hanya mengikuti pergerakan tanganku untuk melepaskan pakaiannya, sampai akhirnya dia hanya mengenakan Bra warna hitam. Dadaku semakin naik turun, ketika pundaknya yang putih nampak dengan jelas di depanku.
Setelah terbuka, kembali aku mengulum bibirnya yang merekah. Lidahku menjelajahi rongga di langit-langit mulutnya dan sesekali menghisap lidah Adinda yang mulai terangsang dengan ciumanku. Tanganku yang nakal mulai melepas Bra warna hitam miliknya. Dan.. Wow.. Tersembullah puting yang kencang.. Tanpa pikir panjang aku melepas lumatan di bibir Adinda untuk kemudian mulai menjilati puting Adinda yang berwarna kecoklatan. Satu dua kali hisapan membuat putingnya berdiri dengan kencang.. Sedangkan tangan kananku memilin puting yang lainnya.
“Ooohh Diet.. Enak sekali sayang..,” rintih Adinda.
Dan saat aku mulai menegang.. Adinda berusaha bangkit dari tempat tidur, tapi aku tidak memberikan kesempatan Adinda untuk bangkit dari pinggir ranjang. Parfum Adinda yang harum menambah gairah aku untuk semakin berani menjelajahi seluruh tubuhnya.
Aku beranikan diri untuk mulai membuka celana jeans serta CD hitam berenda yang dipakainya. Dan darahku mendesir saat melihat gundukan yang ditumbuhi dengan rambut yang hitam lebat. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menjilati, menghisap dan sesekali memasukkan lidahku ke dalam lubang vagina Adinda.
“Oohh.. Diet.. Nikmat.. Sayang,” Adinda merintih kenikmatan setiap lidahku menghujam lubang kewanitaannya.
“Akhh.. Kamu pintar sekali sayaang..” Desah Adinda disaat jilatanku semakin cepat, Adinda sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda mau orgasme dan sesaat kemudian..
“Mass Adiet.. Sayang.. Aku nggak tahan.. Oohh.. Mass aku mau..” Adinda menggelinjang hebat sambil menjepit kedua pahanya sehingga kepalaku terasa semakin terbenam di selangkangannya.
“Maass.. Ookkhh.. Aakuu keluaarr..” Jeritnya lirih.

Adinda merintih panjang saat mencapai orgasmenya yang pertama, dia tersenyum puas. Aku biarkan dia terlentang menikmati orgasmenya, sambil membuka semua pakaian yang aku kenakan. Aku memperhatikan Adinda begitu puas dengan pemanasan tadi, itu terlihat dari raut wajahnya yang begitu berbinar-binar.
Tanpa memberi waktu panjang, aku segera menghampiri tubuhnya yang masih lemas dan menarik pinggulnya dipinggir ranjang, dan tanpa pikir panjang penisku yang berukuran lumayan besar, langsung menghujam celah kenikmatan Adinda sembari bibirku mengulum payudaranya.
“Aaakhh.. Diet..,” desah Adinda, saat penisku melesak ke dalam lubang vaginanya.
“Diet.. Penis kamu ohh..” desahnya kemudian.
Aku merasakan setiap jepitan bibir vaginanya yang begitu ketat, sampai terasa begitu nikmat lubang senggama Adinda. Aku berpacu dengan nafsu, keringatku bercucuran seperti mandi dan menetes diwajah Adinda yang pertama kalinya merasakan nikmatnya bercinta. Setiap gerakan maju mundur penisku, selalu membuat tubuh Adinda menggelinjang hebat karena dia mulai bisa merasakan dan menikmati permainan ini.
“Diet.. Sudah.. Sayang.. Akhh..” sembari berteriak panjang aku rasakan denyutan bibir vagina Adinda menjepit batang penisku.
Dan aku rasakan cairan hangat mulai meleleh dari vagina Adinda. Aku tidak mempedulikan desahan Adinda yang semakin menjadi, aku hanya berusaha memasukkan penisku lebih dalam lagi. Tiba-tiba Adinda mendekap tubuhku erat dan aku tahu itu tanda dia mencapai orgasme yang kedua kalinya.
Penisku bergerak keluar masuk dengan cepat dan.. Sesaat kemudian.
“Diet.. Aku.. Mau.. Keluarr lagi.. Aaakk.. Sayang, aku.. Nggak tahan..”
Seiring jeritan itu, aku merasakan cairan hangat kembali meleleh disepanjang batang penisku.
“Aaakhh.. Sayang.. Enak sekali.. Ooohh..,” rintih Adinda lirih.
Bagaikan orang mandi, keringatku kembali berkucuran, diatas tubuh Adinda. Disaat aku mulai mencapai klimaks, aku meminta Adinda berganti posisi diatas.
“Adinda.. Sayang kamu diatas yah..”Pintaku
Aku melepas penisku dan langsung terlentang. Adinda bangkit dan langsung menancapkan penisku dalam-dalam di lubang kewanitaannya.
“Akhh gila, penis kamu enak banget Maas.. Ooohh..” Adinda merintih sambil terus menggoyangkan pinggulnya.
“Aduhh enak Diet..” desahnya lagi.
Goyangan pinggul Adinda membuat gelitikan halus di penisku..
“Adinda.. Sayang.. Akh..,” aku mengerang kenikmatan saat Adinda menggoyang pinggulnya.
“Diet.. Aku mau keluar nih..,” sambil merintih panjang, Adinda menekankan dalam-dalam
Tubuhnya hingga penisku amblas ditelan vaginanya dan bersamaan dengan itu aku sudah mulai merasakan tanda-tanda akan mencapai orgasme.
“Aaahh.. Ahh.. Ohh,” teriakku
“Crott..” bersamaan dengan menyemburnya spermaku. Aku biarkan spermaku menyembur di dalam vaginanya. Sebagian dari spermaku langsung meleleh di sekujur pahanya yang mulus.
Setelah itu Adinda berjalan menuju ke kamar mandi untuk segera mencuci spermaku yang baru keluar dari vaginanya. Permainan itu berakhir dengan penuh kenikmatan dalam diri kami berdua, karena baru pertama kalinya Adinda bercinta denganku, dia mengalami multi orgasme yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.
“Diet.. Kapan kamu ada waktu lagi untuk melakukan semua ini sayang,” tanya Adinda.
Aku menjawab lirih, “Terserah Kamu deh, aku akan selalu sediakan waktu untuk kamu.”
“Makasih sayang.. Kamu telah memberikan apa yang selama ini belum aku rasakan,” kata Adinda.
Kemudian aku mengecup kembali Bibirnya yang merekah sebagai tanda kasih sayangku kepada Adinda yang tulus.
Share:

Rabu, 19 April 2017

" Ibu Berkonde Licin "


Aku memang termasuk pria yang aneh. Napsuku hanya pada wanita-wanita STW yang suka mengenakan kebaya dan berkonde. Kadang-kadang waktuku habis ke pesta-pesta pernikahan hanya untuk melihat wanita-wanita yang mengenakan pakaian tersebut. Kalaupun tidak ada pesta penikahan aku pergi ke tempat-tempat hiburan tradisional (ronggeng) dimana para penari dan penyayinya mengenakan kebaya dan berkonde.
Pernah pada suatu hari aku pergi ke daerah Karawang untuk mencari hiburan ronggeng dan aku sangat menikamati sekali meskipun harus melihat dandanan yang menor. Kehidupan seperti ini membuatku kadang-kadang tersiksa, tapi itulah kenyataan hidup yang harus aku jalani dan aku nikmati. Seperti kata orang keinginan seperti yang aku alami itu merupakan hal wajar dan sulit untuk diperdebatkan apalagi menyangkut selera. Sebagai manusia normal dan sampai dengan usiaku memasuki kepala 4 aku tetap berusaha untuk mendapatkan seorang wanita yang siap menemaniku dan berpakaian serta berdandan sesuai keinginanku.
Aku pernah mencoba untuk memasang iklan melalui iklan baris melalui internet, setelah hampir setahun aku menerima pesan email pertama dari seorang wanita berusia 41 tahun yang menyatakan bahwa dia sangat terharu setelah membaca iklanku dan bersedia untuk menjadi teman saya sekalipun harus mengenakan pakaian dan berdandan sesuai keinginanku, dia juga meninggalkan nomor telepon dan kami berjanji untuk bertemu seminggu kemudian. Berhubung saya sudah beristri dan Ibu Ria (nama samaran) pun telah bersuami saya janji akan menjemputnya di salon di daerah kebayoran baru.
Cerita Sex | Hari itu adalah hari Sabtu jam 11 siang saya sudah ada di depan salon sesuai janji di telpon dan menunggu bidadariku keluar dari salon. Tepat jam 11.45 Ibu Ria keluar dari salon dan telah berdandan rapih kondenya gede dan licin (konde jawa) dan berkebaya, terlihat sangat anggun dan femimin. Saya mengajak Ibu Ria untuk pergi ke suatu motel daerah Jakarta Selatan agar lebih privacy ngobrolnya dan juga saya bisa sepuasnya memandang sang bidadari.
Sesampai di motel kami mengobrol panjang lebar mengenai kehidupan keluarga masing-masing dan juga kehidupan pribadi kami. Saya menceritakan ke Ibu Ria mengenai keinginan saya dan berterimakasih kepadanya atas kesediaannya untuk menemani saya. Sesudah ngobrol panjang lebar saya meminta Ibu Ria agar saya diperbolehkan untuk mencium keningnya.
Saat saya mencium kenig ternyata tangan saya ditarik untuk memegang susunya yang ternyata mulai mengeras, namun belum sempat membuka kebaya. Saya katakan kepada Ibu Ria bahwa saya sebenarnya hanya mengagumi wanita yang berdandan seperti ini, dan sebatas memandang dan mencium tanda sayang, namun Ibu Ria katakan bahwa justru dia lebih suka dengan pria yang jujur dan tidak grasa grusu dalam masalah sex serta memperlakukan dia dengan lembut.
Suatu hal lagi yang dia sukai juga dari saya adalah badanku yang tinggi 178, berat 74 proporsional dan berambut pendek dan berkulit sawomatang, sementara Ibu Ria dengan tinggi badan kira-kira 165 berat 53 bra 36 c pantatnya gede dan kulit putih. Ibu Ria merasa terlindungi disamping itu karena kami berdua sudah berkeluarga jadi risikonya cukup kecil karena ada suatu komitment antara kami bahwa urusan keluarga masing masing yang harus didahulukan apabila ada keinginan dari salah satu pihak untuk bertemu. Ibu Ria merasa terlindungi ketika dalam perjalanan dari salon menuju motel.
Ibu Ria kemudian bertanya apakah saya bisa memijitnya, saya katakan bisa, tapi nggak bisa keras. Kebetulan Ibu ada body lotion yang lembut tolong kamu pijitin Ibu. Kemudian Ibu Ria mengangkat kebayanya hingga lutut selonjor ditempat tidur sambil saya pijitin kakinya, makin lama makin ke atas pahanya, sambil sekali-kali mencium keningnya. Kata Ibu Ria bisa nggak Ibu buka aja kebaya dan kainnya agar lebih mudah memijitnya, saya katakan silahkan aja, kalau menurut Ibu itu lebih mudah.
Kemudian Ibu Ria sudah hanya mengenakan CD dan bra transparan namun rambutnya masih rapih dengan konde, saya sampai merasa seperti mimpi melihat keindahan tubuh wanita yang meskipun gemuk (padat berisi) namun karena masih mengenakan konde jadi masih terpancar aura kewanitaannya, dan membuat saya begitu horny.
Ibu Ria menawarkan saya kalau mau buka aja celana panjang dan bajumu biar nggak kusut, dan saya turuti permintaannya. Sayapun mulai memijat lagi dari paha kemudian perlahan lahan mulai ke pangkal paha, Ibu Ria mulai menggelinjang kegelian, namun saya masih bisa menguasai diri untuk berkonsentrasi pada mijit.
Namun mungkin karena terus dibuat geli Ibu Ria kemudian menarik tangan kiriku untuk mulai menyentuh susunya yang berukuran kira-kira 36 c, proporsional dengan tinggi dan beratnya. Setelah 30 menit mijit Ibu Ria minta untuk ke kamar mandi (pipis) sementara saya berusaha menetralisir pikiran saya dengan menonton acara film komedi di TV. Menghadapi wanita semacam Ibu Ria saya harus mampu mengendalikan diri dan membuat dia penasaran, karena seorang wanita apalagi STW memang membutuhkan foreplay yang panjang dan harus berkesan.
Setelah selesai dari kamar mandi Ibu Ria minta untuk diteruskan pijitnya yaitu belakangnya. Sambil memijit belakangnya saya mulai mencium leher dan kadang menjilat kupingnya yang ternyata membuat dia begitu geli dan napasnyapun mulai tidak keruan, dia meminta saya untuk membuka kaitan BH nya dan sekarang hanya mengenakan celana dalam. Bau wangi tubuh dan bau kewanitaan begitu membangkitkan gairahku namun aku masih tetap mengontrol diriku agar dalam permainan sex nanti Ibu Ria benar-benar memperoleh servis yang memuaskan, ini penting untuk hubungan jangka panjang.
Tangan kanan saya tetap memijit pundak, sambil sekali-kali menjilat leher, sementara tangan kiri saya mulai mengelus putingnya yang sebesar kelereng, dan membuat Ibu Ria makin meronta karena geli, kemudian dia bisikan ke saya bahwa baru sekali ini dia merasakan nikmatnya permainan awal (foreplay) yang luar biasa. Kadang-kadang Ibu Ria menggigit kecil bibirku dan kedang mengulumnya dengan napsu, sambil tangan kanannya mengelus-ngelus batangku yang juga sudah mulai tegang.
Karena sudah nggak tahan dia minta saya pindah duduk berhadapan dengannya dan sambil mencium bibir dan mengelus puting jari kanan saya mulai mengelus vegynya yang ternyata mulai mengeluarkan lendir. Setelah itu Ibu Ria pindah ke pinggiran tempat tidur dan membuka pahanya lebar lebar, saya sambil jongkok dan mulai menjilat vegynya dimulai dari klitorisnya yang sebesar biji kacang tanah, dan membuat Ibu Ria duduk tapi terus menggerakkan pantatnya karena geli dan napsu. Sambil menjilat klitoris tangan saya memainkan puting susunya yang keras sambil sekali-kali meremasnya. Gerakan tubuh Ibu Ria sudah mulai tak beraturan karena disamping menahan geli juga napsu sex yang mulai meningkat.
Agar tidak merusak dandanan rambutnya saya minta Ibu Ria mengganti posisi yaitu nungging diatas tempat tidur dan saya telentang agar bisa menjilat klitorisnya yang sudah mulai basah. Pantatnya mulai digoyangkan kekanan kekiri dan jari kanan saya dengan sedikit lotion mengelus celah pantatnya dan menurut Ibu Ria sangat nikmat rasanya. Celoteh Ibu Ria mulai nggak keruan..
“Mas.. Papa.. Teruss.. Achh nikmatnya..”
Mulut sayapun terus menjilat klitorisnya dan jari saya terus mengelus diantara bongkahan pantatnya dan lebih masuk lagi.
“Achh.. Mmmhh.. Teruss.. Mas.. Aduh sudah nggak tahan nih..”
Akhirnya saya tetap telentang dan Ibu Ria minta agar masukan sikecil saya ke dalam vegynya.. Saya katakana bahwa silahkan aja kalau Ibu sudah nggak tahan dan saya minta agar Ibu masukin tapi membelakangi saya itu terasa lebih nikmat.. Dan.. Ternyata setelah masuk bless.. Bu Ria mulai.. Merintih sambil bergerak maju mundur..
“Mmmhh.. Ohh.. Enakk.. Mass.. Bareng aja keluarnya..”
Saya katakan bahwa pelan-pelan aja bu.. Biar nikmat.. Sambil saya menjilat belakang nya.. Dan tangan ku meremas dan sekali memilin puting susunya..
“Aohh.. Nikmatt.. Mmmhh terus.. Tahan.. Biar keluar bareng.”
Karena posisi Ibu Ria diatas.. membuat dia cepat nyampenya.. Dan ketika dia sudah nyampe cepat-cepat dibalikkan badannya jadi posisi sekarang berhadapan dimana saya masih telentang.. Dan ini membuat saya lebih mudah menjilat susu dan sekali-kali menggigit kecil putingnya..
Kemudian kami berdua tidur karena capek sambil berpelukan. Dalam kepenatan tersebut saya masih sempat mencium keningnya, bibirnya dan kadang-kadang puting susunya saya jilatin karena sex bagi seorang wanita stw bukan hanya pada saat puncak namun juga sesudah menikmati orgasme, karena disitulah letak kepuasan seorang wanita.
Ibu Ria kemudian menawarkan kepada saya untuk pertemuan berikutnya dia akan membawa baju tidur transparan untuk membuatku lebih bernapsu lagi, karena menurut Ibu Ria laki-laki biasanya suka dengan hal hal yang membuat dia penasaran dan saya katakan bahwa Ibu sangat baik terhadap saya. Dan siang itu Ibu Ria mengalami orgasme hingga 3 kali. 2 kali di tempat tidur dan sekali di kamar mandi sambil berendam.
Di kamar mandi kami lakukan foreplay dengan posisi duduk di dalam bathtub sambil berpagutan, saling mengelus menjilat dan kadang-kadang saling meremas, setelah foreplay permainan sex dilakukan dengan posisi duduk dan kadang berdiri dimana sebelah kaki Ibu Ria diangkat. Posisi berdiri ini ternyata membuat Ibu Ria sangat senang karena mulut saya lebih leluasa menjilat dari kening hingga ke puting susunya dan membuat Ibu Riapun melakukan hal yang sama terhadapku.
Setelah puas dengan permainan sex yang nikmat karena dimulai dengan foreplay yang asyik.. akhirnya Ibu Ria minta untuk membuka konde dan kebaya kemudian mengganti dengan baju biasa yang sudah disiapkan dari rumah, sayapun mengantar Ibu Ria ke Blok M untuk kembali ke rumahnya dengan taxi.. Saya benar-benar puas karena keinginan saya yang selama ini hanya memandang wanita-wanita berkebaya dan berkonde, namun kali ini bukan hanya memandang namun sampai ke permainan sex yang memuaskan kedua belah pihak.
Memperlakukan seorang wanita yang anggun dengan lembut dan pelan tapi pasti akan membuat kenangan indah baginya, dan ini terbukti setelah 2 minggu berlalu Ibu Ria menelponku untuk kembali bertemu dan sesuai janjinya dia juga akan membawa baju tidur transparan agar bisa lebih memuaskan aku. Terimakasih Ibu Ria atas kebaikanmu.
Share:

" Cewek Manis Seorang SPG Rokok "


Saya akan menceritakan pengalamanku ini kepada kalian yang memang suka dengan cerita ngentot bagemana ceritanya. aku kerja disatu perusahaan farmasi, selama ini aku kerja sebagai meical detailer yang bertugas mempromosikan obat2 etikal (yang katanya kudu dibeli pake resep dokter) ke dokter2 dirumahsakit, klinik dan lembaga kesehatan laennya. Aku punya banyak kenalan dokter karen aku seneng becandain mereka kalo lagi detailing (mempromosikan obat).
Kalo yang laennya, suka minta tolong susternya minta tanda tangan dokternya di kartu detailer tanpa ketemu dokter, ngerti sih nungguin dokter suka lama banget, aku lebi seneng ketemu langaung dokternya, makanya aku selalu tanya dokter biasanya praktek sampe jam brapa. Kalo belon terlalu malem ya aq dateng sekitar selesai praktek supaya bisa ngobrol ngalor ngidul. Kadang dokternya karena tau aku seneng ngajakin ngobrol, ngajak aku ngobrol di cafe yang ada di rumah sakit atau deket rumah sakitnya supaya susternya bisa pulang tanpa harus nungguin dokternya pulang.
Makanya suster suster seneng kalau aku datengnya menjelang selesai prakteknya si dokter karena artinya mereka cepet bisa pulang. selama ini si cuman ngobrol ja, gak da kelanjutannya apa2, padahal kalo dokternya keren, aku ngarep juga diajak kemana gitu, gak cuman ngobrol ke cafe. Minta duluan gak enak, takutnya kedengaran kantor bisa dipecat aku, detailing sembari nawarin diri he he.
Satu waktu aku dipindah untuk membantu promosi vitamin tulang baru, karena targetnya bukan lagi dokter ya aku gak detailing ke dokter tapi lebi sebagai spg nerangin langsung ke konsumen di mal2. Aku juga merintis kerja sama dengan apotik supaya mereka mau nyetok produk ini, kantor mensponsori pemeriksaan orsetoporosis di situ, dimana kalo ada gejala osteoporosis aku bisalangsung menawarkan ke prospek. Proyekku berjalan lancar, banyak apotik sudah mau menjadi stokist vitamin ini.
Kebetulan disatu apotik bekerja sama dengan satu laboratorium mengadakan paket murah pemeriksaan laboratorium untuk hal2 yang rutin seperti kolesterol dan sejenisnya. Aku ditawari untuk menyelenggarakan pemeriksaan osteoporosis juga untuk membantu penjualan vitamin tulang di apotik itu. Banyak juga yang dateng untuk pemeriksaan osteoporosis, maklumlah apotiknya terletak disatu komplex perumahan menengah ke atas sehingga warganya sudah sadar untuk memeriksakan kesehatan secara rutin.
Buat warga yang terindikasi mulai terkena ostoporosis kubujuk untuk membeli vitamin tulang, kebetulan ada promosi dari kantor setiap membeli 3 botol mendapat gratuis 1 botol. Botol vitamin untuk promosi aku bawa dari kantor sedangkan pembelian yang 3 botol dari stok apotik. Laris manis juga jualanku, sampe stok apotiknya abis, mereka langsung memesan lagi untuk mengisi stoknya. Aku call ke kantor supaya diurus pembelian apotik tersebut dan segera mengirimkannya. Banyak warga yang inden vitamin itu karena mereka gak kebagian jatah.
Salah satunya ada warga yang aku kenal baik, dia dokter di rumah sakit yang sering aku lakukan detailaing. “Dokter tinggal disini?” sapaku. “Iya, kalo gak di rumah sakit jangan panggil dokterlah”. “Iya deh panggil om ya, biar akrab”. “Bisa aja kamu Nes”. “Om dah kena tu osteoporosis, tapi bisa mendokteri diri sendiri kan?” “Ya gak lah, vitamin kamu bagus gak, apa bedanya sama merek yang biasa aku pake (dia menyebutkan nama merknya)”. Kebetulan mereka yang disebut si om tu merk pesaing terbesarku, dengan sigap aku menerangkan kelebihan vitaminku dibandingkan dengan vitamin merek yang disebut si om. Banyak warga yang gak kebagian vitamin ikut mendengarkan penjelasanku. “Bener nih”, kata si om setelah selesai aku terangkan. “Mangnya Ines pernah dbohong ma om kalo di rumah sakit”. “ya enggak sih”. “Makanya om, borong dong vitaminnya, mumpung beli 3 dapet 1.
Beli aja 2 set buat ibu sekalian, kalo belon osteoporosis bisa untuk pencegahan kak, cuma dosisnya separuh yang dah kena”. “Ok deh, kamu kirim ke rumah ya”. Karena si om pesen vitamin itu, warga laen yang belon kebagian dan tau kalo si om tu dokter pada rame2 ikut inden ke apotiknya. Si empunya apotik tersenyum lebar karena omzetnya dari vitaminku saja melonjak drastis. “Alamat rumah om dimana, nanti Ines ambil di kantor dulu ya, stok apotik abis. Om ada dirumah kan?” “Aku mo kluar, kan kamu mesti ambil ke kantor dulu kan”. “Trus om ada dirumah jam brapa, ibu ada dirumah gak?” “Gak ada orang di rumah, ibu lagi kluar kota sama anak2. Ya udah jam 3an deh ya”. “Siap om”. “Kaya satpam aja pake siap segala, makasi ya”.
Selesai acara di apotik, aku membereskan peralatanku, aku mencatat pesanan tambahan dari apotik, selain yang sudah aku orderkan ke kantor. Lumayan besar orderanku hari ini, belon bisa “ngapelin” si om lagi he he. Aku santai ja kembali ke kantor dengan sepeda motorku. aku menterahkan laporan order kekantor, atasanku seneng banget liat jumlahnya, “wah sukses besar ni promosinya ya Nes”. “lumayan deh mas”. aku manggil atasaku mas karena seumuran denganku tapi dia duluan kerja disitu. “Ini ada pesanan dokter, tadi ketemu di acara promosi.
Dia pesan 6 botol”. “Dah kamu kasi ekstra 1 lagi ja bonusnya”. “Jadi dapet 3 ya mas”. Atasanku membubuhkan persetujuannya pada form pesanan si om tadi. Aku langsung mengambilnya ke gudang dan keuangan membuatkan faktur penjualannya, maklum deh kalo promosi kaya gini slalu minta bayarannya cash. “Kamu anterin ke rumahnya ya Nes”, kata atasanku lagi. “Iya mas”. “Rumahnya dimana si”. “deket tempat promosi tadi”. “wah sekalian ja kamu anterin pesanan apotik tadi biar cepet bisa dikasi ke warga yang mesen, kan kamu skalian kesana kan”. “Bole ja, skalian jalan kok”.
Segera pesanan apotik disiapkan, satu box besar, tapi masih terbawa dengan sepeda motor. aku kembali mengantarkan pesanan apotik, yang punya apotik heran liat aku anterin pesanannya. “Kok nganter ndiri Nes”. Dia manggil aku nama karena dah kenal baik selama ini. “Iya pak, skalian mo anterin pesanan dokter tadi”. “Makasi ya”, katanya sambil menandatangani bukti pengiriman barang. Aku menanyakan alamat si om tadi, dia menerangkan arahnya. Karena dah deket jam 3 sore, aku segera menuju kesana mengikuti petunjuk arahan si empunya apotik. Rumahnya besar tapi sepi, aku mijit bel, cukup lama baru si om keluar, Dia cuma pake celana pendek.
“sori ya, cuma celana pendekan aja, abis sumuk si”.
“Gak apa kok om”. Dia membukakan pintu pager dan aku memasukan sepeda motorku kedalem, parkir disebelah mobilnya. “Masuk yuk”. Dia menyilakan aku masuk, langsung keruang keluarga. Rumahnya besar, nyaman buat aku. Heran juga kok dia ngerasa sumuk, padahal ada ac yang nyala diruang keluarga.
“Kok sepi rumahnya om”. “Kan aku dah bilang tadi, keluarga lagi kluar kota semuanya”.
“Dah lama ya om”.
“Udah juga si, nengok mertua sakit, katanya si dah parah”.
“Kok om gak nengok”.
“aku kan kudu kerja, aku nuggu kabar aja, kalo ada yang kritis baru aku brangkat”. “Wah sepi dong om ditinggal lama gitu, pa gak gatel tuh”.
“Kok gatel, apanya?” dia tersenyum, aku sengaja mulai nyerempet2 ngomongnya.
“Kalo lama gak dikluarin katanya bikin gatel2?.
“apanya yang gak dikluarin”.
“O ngerti Ines sekarang napa om ngerasa sumuk dan cuma pake celana pendek, dalam rangka mo ngeluarin ya. Tu tv nya stand by, lagi nonton ya om”.
“Tau aja si kamu”. aku mengambil remote dan memijit pausenya, di tv langusng muncul tayangan seornag lelaki negro yang kontolnya gede panjang sedang diemut oleh abg amoy.
“asik nih”. aku terpaku melihat tayangan itu, apalagi ketika si negro mulai mendogi si amoy, suara ah uh bergema.
Dia kaget saat tiba-tiba aku duduk merapat dan mulai mengelus selangkangannya.
“keras banget om, dah lama ya gak dikluarin”. Tanganku menyusup kedalam celana pendeknya dan cdnya, menyerobot kontolnya dan mengeluarkannya.
“Om gede banget, panjang lagi”.
“Mangnya kamu belon pernah liat yang sebesar ini, tu si negro punya juga gede banget kan”.
“Itu kan di film om, punya cowok Ines gak segede om punya”. tangan kananku terus meremas halus kontolnya. kepalaku menuju ke arah kontolnya. Pelan-pelan aku mengecup, melumat dan menyedot kontolnya, pantatnya bergerak seirama sedotan mulutku, tangan kirinya berpindah-pindah antara toket kiri dan kananku yang lembut namun kenyal.
“Kamu imut orangnya tapi toket kamu montok juga ya Nes”.
“Om suka kan”.
“Suka banget Nes, palagi emutan kamu nikmat banget deh, dah ahli rupanya”. makin lama sedotanku semakin liar, aku terus melumat, menjilat dan menyedot kontolnya yang kian mengeras. Aku terus menyedot kontolnya, pinggangnya pun bergerak turun naik, mengikuti sedotanku. dia sepertinya merasakan desakan hebat dikontolnya, segera ditariknya kepalaku, dilumatnya bibirku. Jemariku kini mengambil alih tugas mulutku, mengocok kontolnya yang telah licin.
“Nes, kekamar yuk”.
“Om dah gak tahan ya”.
“Iya nih, abis kamu nakal banget sih. Dah sering nyepongin kont0l ya Nes, nikmat banget deh sepongan kamu”.
“Mau kan Nes”. “Siapa takut”, jawabku. gak lama kemudian kami dah berada dikamarnya. “sayang”, panggilnya. Aku hanya tersenyum. Sementara dia melepaskan celana pendeknya dan berbaring di ranjang hanya mengenakan CD.
“Nes, kesini dong”. kontolnya yang besar dan panjang masih ngaceng dengan kerasnya.
Aku tersenyum melihat posenya yang menantang di ranjang. Aku duduk disebelahnya dan dia langsung mencium bibirku dengan penuh napsu. Aku membalas lumatannya juga. “Nes, aku dah napsu banget nih”, katanya sambil menciumi leherku. “Sama, Ines juga napsu om”. Dia mengusap2 punggungku dan mulai meremas2 toketku dari bajuku. Gak lama kemudian dia melepaskan baju dan celanaku.
sepertinya dia gak mau menyia2kan waktu sedikitpun. Aku sih ok saja karena sejak tadi CDku dah basah membayangkan nikmatnya dientot si om. Braku gak lama kemudian juga terlepas. Ciumannya menjalar menyusuri leher dan belakang kupingku. Aku menggelinjang kegelian, “Geli om “. Aku makin menggeliat ketika lidahnya menyelusuri toketku dan turun di belahannya. Dia terus memainkan lidahnya di toketku tapi tidak sampai kepentilku.
“om diisep pentilku dong”, aku mendesah2. Dia terus saja menjilati daerah sekitar pentilku, tapi pentilku tidak disentuh. Kemudian ciumannya turun ke arah perutku sambil tangannya mengusap2 daerah nonokku, CDku sudah basah karena napsuku sudah berkobar2.
“Nes, kamu udah napsu banget ya, sampe CD kamu basah begini”, katanya sambil meneruskan usapan. Aku gak tahan lagi, kepalanya kutarik dan kudekatkan ke pentilku.
“Diisep dong om “, rengekku. Dia segera mengisap pentilku sambil meremas toketku.
“Terus om , diisep yang keras om, enak om akh”, erangku. Dia mengemut pentilku bergantian, demikian pula toketku diremas bergantian. Sesekali dielus2nya itilku dari luar CDku. Dia bangkit, melepas CDnya. kontolnya yang besar dan panjang sudah ngaceng dengan kerasnya.
“Kont0l om besar dan panjang ya om , keras banget lagi”, kataku sambil menciumi kontolnya dan mengenyot kepalanya. Kepalanya kemudian kujilati dan jilatanku turun ke arah bijinya. Seluruh kontolnya kujilati.
“Enak Nes terusin dong emutannya”, katanya. Kemudian dia memutar tubuhnya sehingga posisinya menjadi 69.
CDku langsung dilepas, “Ni jembut lebat banget”, katanya sambil mengelus2 jembutku yang sudahbasah karena lendir nonokku. Dia mulai menjilati nonokku. “Enak om, terus”, aku mengerang keenakan, dan makin menggelinjang ketika lidahku menyentuh itilku. kontolnya kuemut dengan keras, kepalaku mengangguk2 mengeluar masukkan kontolnya dimulutku. Akhirnya aku gak bisa bertahan lebih lama lagi, aku nyampe kerana itilku dikenyot2, “om , Ines nyampe om , aakh”. kontolnya terus kukocok dengan cepat dan keras.
“Din, aku mau ngecret juga Din”, katanya terengah. Segera kepala kontolnya kuemut lagi dan kukenyot dengan keras, aku terusmengocok kontolnya sampai akhirnya dia ngecret dimulutku. Banyak banget pejunya nyembur sampe meleleh keluar dari bibirku. kontolnya terus kukenyot sampe denyutan ngecretnya hilang baru kulepas. Pejunya kutelannya tanpa rasa jijik,
“Nes nikmat banget ya emutanmu, pastinya emutan nonokmu lebih nikmat lagi ya”, katanya terengah.
“Peju om banyak banget si ngecretnya, stok brapa lama neh. Untung gak jadi odol om”. Dia hanya tertawa sambil berbaring disebelahku, dipeluknya badanku. Belum dientot saja dia sudah ngasih aku ke kenikmatan.
Setelah itu kami membersihkan diri di kamar mandi. Didalam kamar mandi pun kami saling membersihkan badan. kontolnya mengeras lagi ketika kukocok2 pelan2, aku jongkok didepannya dan mengemut kontolnya lagi, langsung saja kontolnya ngaceng dengan kerasnya. Kepalaku bergerak maju mundur memasuk keluarkan kontolnya dimulutku. Dia gak bisa menahan diri lagi, langsung dia duduk di toilet, aku dipangku berhadapan, sambil mengarahkan kontolnya ke nonokku. Segera kontolnya nancep dinonokku, terasa sekali nonokku melebar untuk menampung kontolnya yang dienjotkan pelan2 sehingga makin nancep di nonokku, “Enak om, ssh”. Cerita Mesum
Aku mengenjotkan badanku maju mundur supaya kontolnya bisa nancep dalem di nonokku, diapun mengenjotkan kontolnya juga sehingga terasalah gesekan kontolnya dinonokku. Nikmat banget rasanya. Sedang nikmat2nya, dia berhenti mengenjotkan kontolnya. Aku disuruhnya memutar badanku tanpa mencabut kontolnya dari nonokku. Aku disuruh nungging sambil berpegangan di wastafel. Mulailah dia mengenjotkan kontolnya dari belakang. Sambil mengenjot, toketku yang mengayun2 seirama enjotannya kuiremas2. “Akh om , nikmat banget om .
kont0l om nancepnya dalem banget om, Sesek non0k Ines rasanya, gesekan kont0l om kerasa banget, enjot terus yang cepet om , Ines udah mau nyampe lagi”, erangku. “Cepet banget Din”, katanya. “Abis nikmat banget sih kont0l om, jadi Ines gak bisa nahan lagi”, erangku. Dia makin cepat mengenjotkan kontolnya keluar masuk sampe akhirnya aku menggelinjang dengan hebat, “Akh om, Ines nyampe lagi, Ines lemes om “, erangku terengah2.
Bibirku langsung diciumnya dengan penuh napsu, lidahnya yang dijulurkan ke mulutku kuisep kuat2 juga. Dia melingkarkan tangannya di leherku dan langsung meremas2 toketku. Terasa kontolnya yang masih ngaceng menekan ke perutku. Dia terus saja meremas2 toketku, pentilku yang sudah mengeras langsung dijilati. Aku jadi menggelinjang kegelian. Jilatannya turun terus ke bawah, ke puserku dan terus menciumi daerah nonokku yang sudah basah. “Nes kamu sudah siap dientot lagi ya, udah basah begini”, katanya.
Dia membopongku sambil terus menciumi bibirku. Aku dibaringkan di ranjang, sambil terus menciumi seluruh tubuhku, napsunya makin berkobar2, berkali2 aku menggelinjang. Sambil mengulum bibirku, dia mengelus2 pinggulku, kemudian jarinya mulai mengilik nonokku dan akhirnya itilku yang menjadi sasaran. Aku mengangkangkan pahaku supaya dia mudah mengakses nonok dan itilku. Aku menggeliat2 saking napsunya. Jarinya makin cepet menggesek itilku, aku mengangkat2 pantatku karena sudah pengen banget dienjot, “Ayo dong om , Ines dientot, udah pengen banget kemasukan kont0l om lagi”, rengekku.
Dia kemudian menelungkup diatasku, kontolnya diarahkan ke nonokku dan kepalanya mulai nancep di nonokku, “Akh, enak om , masukin semuanya om “, lenguhku. Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk, makin lama makin cepat dan akhirnya dengan satu enjotan keras seluruh kontolnya nancep semuanya di nonokku, “Akh, enak om , masuk semuanya ya om, non0k Ines sampe sesek banget rasanya kesumpel kont0l om “. Dia terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk makin cepat dan keras. “Enak om, terus om, enjot yang cepet dong”, rengekku terus.
Setengah permainan dia mencabut kontolnya dari nonokku, “Kenapa dicabut om, belum nyampe”, protesku. “Variasi dong”, jawabnya sambil menjepitkan kontolnya yang keras banget di toketku. Aku menjepit kontolnya dengan toketku, dia bergerak maju mundur, menggesekkan kontolnya di toketku. Ketika dia memajukan kontolnya, kepalanya kuemut sebentar dan kemudian terlepas karena dia memundurkan lagi, terus seperti itu. “Enak Nes”, erangnya.
Setelah puas menggesek kontolnya ditoketku, dia berubah posisi lagi. “Kamu sekarang diatas ya Nes”, katanya sambil berbaring. Segera aku menaiki badannya dan menempatkan kontolnya yang ngaceng tegak di nonokku. Aku menurunkan nonokku pelan2 dan bles, kontolnya mulai ambles di nonokku, “Akh, enak banget om “, lenguhku. Aku menaik turunkan pantatnya dengan cepat sehingga kontolnyapun makin cepat terkocok2 didalem nonokku, nikmat banget rasanya. Dia pun melenguh, “Enak Nes, terus yang cepet”.
Aku merunduk dan mencium bibirnya, dia memeluk punggungku sambil gantian mengulum bibirku sambil meremes2 toketku yang berguncang2 seiring dengan naik turunnya badanku mengocok kontolnya. Pentilku diplintir2. Aku makin bernapsu mengocok kontolnya dengan nonokku. Dia memegang pinggulku sementara aku terus mengocok kontolnya. Kocokanku makin kencang, “om, Ines sudah mau nyampe nih”, kataku terengah. Dia meraba itilku dan dikilik2, ini mempercepat proses aku nyampe, “Akh, om , Ines nyampe, akh nikmatnya”, lenguhku dan aku ambruk menelungkup dibadannya.
Dia mengeluarkan kontolnya dari nonokku, masih perkasa kontolnya. Kemudian kontolnya kuciumi dan kepalanya kuemut, kepalaku mengangguk2 mengeluar masukkan kontolnya dalam mulutku. kontolnya terus kuemut sambil dikeluar masukkan di mulutku, batangnya kukocok2 dengan cepat. “Akh enak banget Nes”, erangnya. Cukup lama aku mengemut kontolnya, rupanya karena sudah ngecret 2 kali, dia bisa bertahan lama sekali. kont0l kukeluarkan dari mulutku dan aku disuruh nungging dipinggir ranjang.
Dari belakang sambil berdiri dia mencolokkan kontolnya lagi kedalam nonokku, sekali enjot kontolnya sudah amblas semua ke nonokku, “Akh, enak banget om”, erangku. Dia mengenjotkan kontolnya keluar masuk nonokku, karena berdiri enjotannya menjadi lebih keras dan lebih cepat, nikmatnya gak terlukiskan dengan kata2. Dia meraba2 lubang pantatku, kemudian jarinya ditusuk2kan kepantatku. “om sakit”, protesku. Dia berhenti menusuk2 pantatku, pinggulku dipegangi sambil mengenjotkan terus kontolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Dia membungkuk dipunggungku supaya bisa meremes2 toketku yang berguncang2 seirama dengan sodokannya. Pentilku kembali diplintir2. “Enak om , terus enjotannya, Ines udah mau nyampe lagi om “, erangnya. “Cepet kok Nes, aku belum ngerasa apa2?, katanya sambil terus mengenjot nonokku. Akhirnya aku tak bisa nahan lebih lama lagi, “om , Ines nyampe om , akh”, aku tersungkur diranjang karena lemes, kontolnya tercabut dari nonokku, masih keras dan berlumuran lendirku.
Dia tidak memberi kesempatan aku istirahat, aku ditelentangkan dan kont0l dimasukkan lagi ke nonokku, terus mulai dienjot lagi keluar masuk dengan cepat dan keras. “om , kuat amat sih kontolnya, Ines udah lemes om , abis udah 2 kali nyampe”, lenguhku. Dia tidak memperdulikan lenguhanku, terus saja kont0l dienjotkan keluar masuk. Makin lama enjotannya makin cepet dan keras, aku sudah pasrah saja telentang keenakan. Toketku diremes2 sambil memlintir2 pentilku, akhirnya “Nes aku ngecret”, dan pejunya menyembur dinonokku. Aku memeluk dan mengelus2 punggungnya. “om, nikmat banget ngent0t dengan om , istirahat dulu ya om , Ines udah lemes banget”, dia mencabut kontolnya dan rebah disebelahku. Tak lama kemudian kami tertidur kelelahan.
Ketika terbangun, dah lewat magrib. Terasa lapar juga karena kerja keras kali ya. Om Roy ngajakin aku keluar cari makan. SEgera aku mandi dan mengenakan pakeanku lagi. “wah jadi gak ganti baju nih ya”. “abis gak tau si kalo om mo ngajakin berebagi kenikmatan, kalo tau Ines bawa baju ganti. Lagian abis makan Ines kan mo pulang, om, besok kan kerja”. “Kamu mau gak nemein aku semaleman Nes, nanti kita beli baju deh bguat kamu pake kerja besok. Kamu ngekos kan, jadi gak da yang nyariin kan?”. “Om belon puas ya”. “Masi au lagi Nes, non0k kamu nikmat banget empotannya, kamu blajar diaman si”. “Ines ikutan senam bl om”. “Gak heran empotan kamu brasa banget.
Mau ya nemeni aku semaleman”. Aku emnggangguk, dia mengajak aku ke mall untuk belanja pakean untuk aku kerja besok, baeknya ukuran badanku standard sehingga bisa mendapatkan pakean yang pas buat aku. Dia membayari semua belian pakeanku, luar dalem. Setelah itu baru kita cari makan. Dia pesen sate kambing dan beberapa makanan laen di food court mal itu. “wah mo all nite long nih”. “Iya lah, mumpung ditemeni kamu”. “ines mau kok om kapan2 nemeni om lagi, gak bisa dirumah kan bisa cek in hotel om”. “iya ya, nanti deh kita cari kesempatannya. Kamu mo nasi pa lontong”. “Kan dah ada lontong om, gede panjang dan keras banget lagi”. Dia tertawa mendengar guyonan mesumku. Selesai makan dengan santai, kita kembali ke rumahnya.
Dia mengambilkan can soft drink dingin, dibukakan untukku. Aku meminumnya.
Dia memelukku. Aku diciumnya sambil segera meremas2 toketku kembali. Segera aku kutelanjangi, toketku diciumi dan pentilku diemut2, segera saja pentilku mengeras. Dia segera saja mengiliki2 itilku.”om , kok napsu banget sih sama Ines”, tanyanku. “Abis ngent0t sama kamu nikmat banget sih”, jawabnya. “Ines kan juga dapet nikmatnya dipatil lagi sama kont0l om “, kataku. Kemudian dia melepas semua pakeannya. kontolnya sudah ngaceng dengan keras. Dia duduk di ubin di depanku, kakiku dikangkangkan. Badanku diseret sehingga aku setengah rebah di dipinggir sofa. Lidahnya mulai menggesek nonokku dari atas ke bawah.
Itilku menjadi sasaran berikutnya, dijilat, dihisap, kadang digigit pelan, dijilati lagi, “om , enak banget om , terus om “, erangku. Dia terus menjilati itilku sampe aku nyampe. “Akh om , belum dientot Ines sudah nyampe, om lihai banget deh makan nonok Ines”, kataku. Dia berdiri, aku ditarik supaya duduk. kontolnya tepat ada dimukaku, segera saja kugenggam dan kuemut kepalanya. Aku mulai mengeluar masukkan kontolnya sambil batangnya kukocok2 dengan cepat dan keras. Dia mengejotkan kontolnya pelan dimulutku seperti sedang mengentoti mulutku.
Beberapa saat kemudian, dia berbaring disofa, aku segera menaiki badannya dan menancapkan kontolnya di nonokku, kusentakkan badanku kebawah dengan keras sehingga sebentar saja kontolnya udah nancep semua di nonokku. Aku menaik turunkan pantatku dengan cepat sehingga kontolnya terkocok oleh nonokku dengan cepat juga, “Akh nikmat banget Nes”, erangnya. Dia menahan badanku sehingga aku berhenti mengenjot. kont0l dikeluarkan dari nonokku, aku disuruh telungkup menungging di sofa dan kembali kont0l ditancapkan ke nonokku dari belakang. Bles, kontolnya langsung saja nancep semuanya ke nonokku, “Akh, nikmatnya,”, kali ini aku yang menggerang.
Dia langsung mengenjot nonokku dengan cepat dan keras. Terasa sekali kontolnya menggesek nonokku, kalo dienjotkan dengan keras terasa kontolnya nancep dalem sekali di nonokku. Makin cepat dienjot makin nikmat rasanya. Tiba2, “akh om , Ines nyampe, om ” , aku meledak juga akhirnya. Dia terus saja mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat sampe akhirnya kembali dia ngecret, “Nes, aku ngecret, nikmat banget rasanya Nes”, terasa kembali pejunya membanjiri nonokku. “om, Ines lemes banget om , baru sampe rumah udah dientot lagi. om gak ada matinya ya”, kataku sambil tersenyum. “Ya udah kita mandi dan terus tidur”, jawabnya sambil masuk ke kamar mandi. Aku berbaring saja di sofa sambil istirahat. Selesai mandi, dia keluar masih bertelanjang bulat. Giliranku mandi. Selesai mandi, dia sudah berbaring diranjang dikamarnya, aku berbaring disebelahnya. tak lama kemudian aku tertidur.
Ketika terbangun, dia gak ada diranjang. Aku bangun ke kamar mandi, pipis.muka kubasuh dengan air dingin. Seger sekali rasanya. Rupanya dia ada di pantri dilantai bawah sedang menyeduh kopi dan menghangatkan makanan di microwave. Aku duduk di meja makan. “Nes, kalo laper lagi, masih ada nasi goreng yang semalem aku beli sekalian. Dah aku angetin nih, kan mo kerja keras lagi. kita masih mau satu ronde lagi kan”. Aku hanya tersenyum mendengar kata2nya, aku mengunyah nasi goreng yang dibelinya dengan tenang. Sehabis mengisi perut, dia langsung menarik tanganku kembali ke ranjang di kamar.
Aku dipeluk, segera saja dia meremas2 toketku sambil mencium bibirku dengan gemasnya. Pentilku diplintir2nya pelan, napsuku segera saja berkobar, pentilku segera mengeras. Aku tidak tinggal diam, kontolnya yang sudah ngaceng keras sekali kukocok2. “Ines isep ya om “, kataku sambil mengubah posisi mendekati kontolnya. Kepala kontolnya kujilati kemudian pelan2 kumasukkan ke mulutku. kontolnya kukulum2, kukeluar masukkan di mulutku. “Enak Nes”, erangnya. Kemudian dia menarik aku kembali kepelukannya. Bibirku kembali dilumat, aku membalas lumatannya, sementara dia terus saja meremas2 toketku.
Tangannya kemudian mengarah kebawah, itilku menjadi sasaran berikutnya. “Akh om, enak”, erangku. Dia menciumi leherku, terus kebawah mengemut pentilku bergantian, aku terus mengerang keenakan. Ciumannya terus mengarah kebawah, berhenti di puserku sehingga aku menggelinjang kegelian, “Geli om”, kataku manja. Akhirnya sampailah ciumannya pada sasaran sesungguhnya, non0k dan itilku. Jilatannya segera menyerbu itilku. Aku sudah mengangkang selebar2nya supaya dia mudah menjilati itilku. Dia meletakkan bantal dibawah pinggulku. “Buat apa om, kan kont0l om panjang. Gak usah diganjel masuknya juga dalem banget”, tanyaku. Dia tidak menjawab, terus saja menjilati itilku yang makin terexpose karena ganjelan bantal itu. Aku jadi tau kenapa dia mengganjal pantatku dengan bantal, supaya dia mudah menjilati itilku. Jilatannya berubah menjadi emutan, itilku diemut2nya pelan. Aku menjadi makin blingsatan. “Akh om , Ines udah pengen dientot, om .Masukin dong kont0l om “, erangku.
Dia menghentikan emutannya, aku dinaikinya dan mengarahkan kontolnya ke nonokku. Dia menggosok2kan kepala kontolnya di nonokku yang sudah basah banget, “Ayo dong om , tancepin aja semuanya”, erangku gak sabar. Aku makin menggelinjang karena gosokan kontolnya itu. Pelan2 dimasukkannya kontolnya ke nonokku. Dia menekan kontolnya masuk sedikit2 demi sedikit. Karena ganjalan bantal, kontolnya jadi lebih mudah nancep. “Akh, ssh, enak banget om , tancepin aja semuanya sekaligus sampe mentok”, kataku. Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk pelan sehingga sedikit demi sedikit kontolnya nancep makin dalem aja.
Enjotannya makin cepat dan dengan sekali hentak kontolnya ditancepkan semuanya ke nonokku, “Akh enak banget om”, erangku. Dia terus saja mengenjotkan kontolnya dengan keras dan cepat, “Enak om, terus om, yang cepet, Ines udah mau nyampe om “, erangku terengah2. Tau aku udah mau nyampe, dia mempercepat enjotan kontolnya, setiap enjotan langsung menancapkan kontolnya dalam2 dinonokku. Pantatku menggeliat2 tidak teratur saking nikmatnya. Cerita Sex
Akhirnya aku sampe juga. Kakiku segera membelit kakinya, aku memeluk punggungnya, “om, Ines nyampe, akh, ssh, enak banget om “, jeritku keenakan. Dia terus saja mengenjotkan kontolnya keluar masuk setelah aku meletakkan kakiku diatas ranjang lagi, rasa nikmat membuatku terkapar, napasku tersengal2. Dia tidak peduli dengan kondisiku, tetap saja kontolnya dienjotkan dengan cepat dan keras. Sebentar kemudian napsuku sudah bangkit lagi, aku mulai menggeliat2kan pantatku.
“Nes ganti posisi yuk”, katanya sambil mencabut kontolnya dari nonokku. Aku disuruhnya menungging dipinggir ranjang. Dia berdiri dibelakangku dan menancapkan kontolnya dinonokku. Sekali sodok, kontolnya sudah nancep sampe pangkalnya. Sambil berdiri dia mengenjot nonokku. kontolnya bergerak keluar masuk nonokku dengan cepat dan keras. Enjotannya lebih terasa keras karena dia berdiri sehingga tenaga enjotannya menjadi lebih besar. “Akh om , enak banget, enjotan kon tol om terasa banget keluar masuk non0k Ines, terus om , ssh”, erangku.
Dia mempercepat enjotan kontolnya, “Nes, aku udah mau ngecret Nes”, katanya. “Iya om , Ines udah mau nyampe lagi, barengan ya om “, jawabku. Dia mengenjotkan kontolnya dalem2 dengan keras, “Nes, aku ngecret, akh, ssh”, erangnya. Terasa semburan pejunya di nonokku sehingga akupun nyampe lagi untuk kesekian kalinya. “om, Ines juga nyampe om, akh nikmat banget om ,” jeritku. Dia menelungkup diatas punggungku sehingga aku rebah keranjang. kontolnya tercabut dari nonokku. Dia berguling dan berbaring disebelahku yang masih nelungkup. “om , nikmat banget deh enjotannya kalo om ngenjotnya sambil berdiri”, kataku. Dia hanya tersenyum.
Dia bangun ke kamar mandi, pipis. Kembali ke ruangan dia mengambil air dingin di lemari es, diminum habis segelas, dia mengisinya lagi dan diberikan kepadaku yang masih terkapar kelelahan. “Hebat om ya, kuat banget ngent0tnya”, kataku. “Kamu juga hebat Nes, napsu kamu cepet sekali berkobar, kayanya kamu gak puas2 ya makan kontolku”. “Mana bisa puas om , kan gak tiap hari non0k Ines keiisi kont0l om , mumpung ada kesempatan ya dituntasin aja”. “Enak Nes, empotan non0k kamu kerasa banget, lihai kamu ya Nes”. Berakhirlah sudah malam penuh kenikmatan dengan si om. “om , kapan Ines dientot lagi”. “Nanti kalo ada kesempatan lagi ya sayang”. Aku segera bebersih, mengenakan pakean yang dia belikan semalem, “Makasi buat segalanya ya om”. Dia menandatangani faktur pembelian, dan menyerahkan uang cash untuk pembayaran vitamin tulang. dia mengecup bibirku dengan mesra sebelum aku meninggalkan rumahnya.
Share:

Selasa, 18 April 2017

" Ternyata Dia Masih Perawan "


Waktu itu saya masuk sebuah sekolah akademik diploma 1 tahun di Bandung, dan ternyata semua mahasiswi-mahasiswinya di sini lumayan cakep-cakep juga. Setelah 2 minggu lewat saya mulai akrab dengan semua mahasiswa-mahasiwa sekampus, dan terus terang di jurusan saya (Manajemen Informatika), perempuannya hanya sedikit sekali, dan kampus ini juga baru berdiri jadi belum begitu terkenal.

Setelah tiga minggu belajar di kampus ini, ternyata ada mahasiswi baru yang cantik, putih dan bercahaya, pakaiannya juga biasa-biasa saja tetapi semua laki-laki di kelasku, melongok melihat dia. Yaa ampun, cantik benar nih. Jam mata kuliah pertama selesai dan anak-anak laki-laki di kelasku banyak yang kenalan tapi terus terang hanya saya dan temanku berdua bisa dibilang cool, kami hanya keluar dan makan di kantin. Saya benar-benar belum punya nyali untuk dekat dengan wanita-wanita di kampus waktu itu. Dan dengan si mahasiswi baru itu pun kenalnya sangat lama sekali. Sebut saja nama panggilannya Ani. Saya yang baru memasuki dunia baru di perkuliahan, dan melihat cewek-cewek di kampus pun begitu menggebu-gebu nafsu birahiku. Tapi saya hanya punya pikiran dan perasaan sama si Ani ini, mungkin banyak cowok lainnya berpikiran dan berperasaan begitu juga, tapi saya tidak PD, dan saya itu bisa dibilang pendiam dan rata-rata menurut teman-teman, saya ini punya wajah lumayan ganteng. Yaa.. itu sih menurut teman-temanku.

Waktu perkuliahan pun terus berjalan, dan setelah 3 bulan lebih saya mulai akrab dengan Ani ini dan mulai sering ngobrol (sebelumnya hanya kenal senyum saja, ataupun hanya menanyakan tugas mata kuliah). Dan ternyata Dia ini lagi cuti kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta hukum terkenal di Bandung, tapi saya lupa waktu itu dia semester berapa, yang saya ingat waktu itu saya berumur 19 tahun dan dia berumur 22 tahun. Dan ternyata dia sudah punya pacar. Waduh hatiku lemas, walaupun sudah jarang ketemu tetapi statusnya masih resmi pacaran.

Saat kami berdua ngobrol, dia suka curhat tetapi saya suka mencuri pandangan ke arah buah dadanya yang indah menawan itu. Waduh pokoknya bulat tegap dan sedikit runcing, begitu juga kulitnya tidak satupun bekas goresan luka, hanya putih mulus dan pantatnya bulat menantang. Kalau dilihat dari belakang, waduh.. membuat kemaluan saya berdiri tegap dan ingin kuremas-remas dan ditancap dari belakang. Bayangkan kalau berjalan dia berlenggang-lenggok. Dia memiliki rambut yang indah, hitam dan panjang, berhidung mancung, berbibir tipis, alis dan bulu mata yang lentik (tapi seperti cewek bule). Dan memang cewek ini anak seorang yang kaya raya. Dan kami pun menjadi dekat dan akrab, tapi tidak tahu dia itu sukanya bareng dan jalan sama saya saja. Padahal kan banyak teman cewek di kampus itu ataupun cowok yang lain. Yaa.. tapi saya pun sangat senang sekali bisa jalan bareng sama Ani, Dia pun sering mengajak saya main ke rumahnya. Namun itu tidak pernah terjadi, mungkin saya tidak biasa main ke rumah cewek. Dan akhirnya dia ingin main ke rumah saya, waduh saya juga bingung karena saya juga belum pernah kedatangan teman cewek apalagi seperti dia, tapi dia terus memaksa saya.

Suatu hari di kampus, mata kuliah satu sudah selesai dan harus masuk lagi untuk mata kuliah yang kedua, tapi waktunya sore hari, dan ketika sudah selesai mata kuliah satu, kami pun merasa BT kalau di kampus saja, dan Ani memaksa saya untuk main ke rumah saya, katanya ingin tahu tempat tinggal saya dan sekaligus ingin curhat. Ya untungnya rumah saya itu hanya ada saudara saya (karena saya tidak tinggal bersama orang tua) dan rumah itu milik nenek saya. Oleh karena itu kehidupan saya bebas dan saling cuek sama anggota keluarga lainnya di rumah itu. Tidak ada saling curiga atau hal apapun, yang penting tidak saling merugikan satu sama lain.

Kami pun berdua pergi ke rumah saya. Siang bolong, ketika sudah sampai di rumah, Ani saya persilakan masuk ke kamar saya dan ternyata saya tidak grogi atas kedatangan cewek cantik ini. Dan ketika baru mengobrol sebentar lalu dia bicara, Ted panas yaah hawa di Bandung sekarang ini.
Iya nih! sambil kubawakan minuman dingin yang sangat sejuk sekali.
Ted.. boleh nggak saya buka baju, kamu jangan malu Ted, saya masih pake pakaian dalam kok, habis panass siihh..
Waduh memang saya merasa malu waktu itu dan sedikit deg-degan jantungku.
Aduuh gimana kamu ini, emang kamu nggak malu sama aku? bantahku.

Tapi kan dia sudah ngomong kalau dia masih memakai pakaian dalam. Kemudian saya keluar kamar sebentar untuk mengambil makanan ringan di lemari es, dan ketika saya memasuki kamar lagi, ya ampun.. pakaian dalam sih pakaian dalam tapi kalau ternyata kalau itu BH yang super tipis dan kelihatan puting susunya. Waduh, saya sangat grogi waktu itu dan saya pun sering memalingkan wajah, tapi tidak dapat dipungkiri, kemaluan saya pun berereksi dan aliran darah saya pun mengalir tidak karuan, apalagi hawa sedang panas-panasnya.
Ayo sekarang kamu mau curhat lagi? kataku.
Nggak sih Ted, saya udah minta putus sama dia (pacarnya-red) dan dia setuju untuk resmi putus.
Ya udah.. abis gimana lagi, katanya.

Dalam hatiku, asyik dia sudah putus, dan saya pun berpura-pura bersedih, karena memang kasihan melihat wajahnya sedikit pucat dan sedikit menangis. Dia memelukku sambil sedikit bicara kepadaku, tapi itu lho anuku tidak bisa diam dan semakin panas saja suhu tubuhku. Ketika kuelus rambut dan punggungnya, eh dia menciumku dan kubalas ciumannya dan dia membalas lagi, semakin lama kami berciuman dan dia memasukkan lidahnya ke mulutku. Waduh, ini benar-benar mengasyikan dan terus terang ini adalah pertama kali bagiku. Dan dia pun mengeluarkan suara desahan yang sangat lembut dan sensual, dan dituntunnya tanganku ke buah dadanya, langsung saja kuremas-remas dan BH-nya pun kubuka. Wow, buah dada yang sangat indah, putih, bulat berisi dan mancung serta puting yang bagus, sedikit warna merah di seputar putingnya dan berwarna coklat di puncaknya, sekali-kali kupelentir putingnya dan dia pun mendesah kuat, Ssstthh ha.. hah.. aahh.. okhs Ted, bagus Ted, eenakk, suaranya yang kecil dan merdu. Dia membuka bajuku dan aku kini dibuatnya telanjang, tapi aku hanya pasrah saja, tidak ada rasa malu lagi.

Apa kamu sering melakukan ini sama pacar kamu? kataku.
Iya Ted, tapi nggak sering.. aaksshh.. kata dia sambil mendesah, tanganku diarahkannya ke liang kemaluannya, dan langsung kuelus-elus sambil lidahku menjilat putingnya yang indah itu. Sedikit-sedikit kuselingi dengan gigitan ringan tepat di puncaknya, dan dia menggeliat keenakan. Dan kemaluannya pun basah. Kubuka celananya dan celana dalamnya secara perlahan.

Oh iya, kami melakukannya di sofa kamarku tepat di depan TV dan stereo-set. Dan kami lagi sedang mendengarkan lagu-lagu rock barat tahun 70-an, ketika kubuka CD-nya, yes.. dia memiliki kemaluan yang bagus, bulu sedikit, dan memang dia masih perawan, dengan pacarnya juga hanya melakukan oral sex. Tetapi saya belum berani untuk menjilat kemaluannya, saya hanya mengesekkan tangan saya ke bibir kemaluannya. Eh ternyata dia turun dari sofa dan menghisap batang kemaluanku, Aaakshh.. hsstt oks! dia menjilati biji pelerku dan dia mengisap kemaluanku lagi sambil dipegang dan dikocoknya. Waduuhh.. enak sekalii akkhhss.. aliran-aliran darahku mengalir dengan serentak dan ingin kumasukkan kemaluanku ke liang kemaluannya, tapi apa dia mau? Beberapa menit kemudian.. Ted, kamu punya barang gede enggak, kecil enggak, panjang enggak and pendek enggak, tapi bener Ted, saya sangat suka kamu punya barang, katanya sambil berdiri dan lubang kemaluannya dihadapkannya ke wajahku aku semakin tidak kuat saja.

Langsung saja kujilat liang kemaluannya. Wah agak bau juga nih, tapi bau yang enak. Semakin lama semakin asyik dan sangat enak, dan dia pun merintih-rintih kecil, Uwuuhh oo.. sstt akhs.. akhs.. akhs.. oohh aahh.. sstth, sambil tubuhnya agak bergerak nggak karuan, mungkin jilatanku belum pintar tapi kulihat dia sedang keasyikan menikmati jilatanku. Lalu dia berdiri dan menarik tubuhku ke lantai. Di situ kami berciuman lagi, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang hangat di sekitar liang kemaluannya, kuingin batang kemaluanku dimasukkannya ke lubang kemaluannya. Soalnya aku masih ragu. Tapi saya memberanikan untuk bicara.

An, kamu masih perawan nggak?
Iya.. aksshh.. sstt.. sstt aakhs, katanya. Ternyata dugaanku benar.
Tapi sama pacar kamu itu?
Iya tapi kalau aku sama dia hanya oral aja, kata Ani.
Tapi Ted, gimana kalau kita ini sekarang.. dia tidak melanjutkan pembicaraannya.

Okh.. ookh.. okh.. sstt.. dia mencoba untuk memasukan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya dengan bantuan tangannya. Dengan begitu, aku pun berusaha untuk memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya, dan secara perlahan kugesekkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya dan sedikit demi sedikit kumasukkan kemaluanku, tapi ini hanya sampai kepala aja, dan.. Ooohh aakksshh.. ahh.. ah.. aahh.. oohh.. sset, dia merintih- rintih. Aku terus menggenjot dia.
Ted, ternyata pedih juga, aahh! katanya.
Tapi teruskan saja Ted...
Kulihat wajahnya memang mengkhawatirkan juga, tapi yang kurasakan adalah kenikmatan, meskipun itu masih tersendat-sendat dan sedikit kehangatan, Ookkhhss.. sstt, aduh nikmatnya, kataku. Dan memang ada sedikit darah di batang kemaluanku dan yes.. semua batang kemaluanku masuk, dan benar-benar nikmat tiada tara, dan hilanglah perawannya dan perjakaku.

Ssstt.. sstt.. desahannya yang merdu dan menggairahkan apalagi didukung oleh kecantikannya dan mulus kulitnya. Dan kami masih melakukan gaya konvensional dan terus kugenjot naik turun, naik turun dan tumben, aku masih kuat dan menahan kenikmatan ini, karena kalau aku sedang onani, tidak selama ini. Di lantai itu kami melakukannya serasa di surga. Assh.. asshh.. aakss.. oohh.. aksh.. sstt, dia menjerit-jerit tapi biarlah kedengaran oleh saudaraku, yang lagi nonton TV di ruang keluarga. Karena pasti suara jeritan Ani ini kedengaran. Terus Ted, aduhh Ted kok enak sih.. aakss ssttss.. katanya sambil merem melek matanya dan bibirnya yang aduhai melongo ke langit dan langsung kujilat lidahnya. Duuhh aahss sstt duh An, aku mau keluar nih! kataku. Uuhhss sstt jangan dulu dong Ted.. bentar lagi aja, katanya. Tapi memang saya waktu itu sudah nggak kuat, ehh ternyata.. Sss oohh akkhhss.. oohh, duh Ted boleh deh sekarang, kamu dikeluarinnya di sini aja, sambil ditunjukanya ke arah payudaranya. Dan.. Creett.. cret.. cret.. crret dan air maniku yang banyak itu menyemprot ke payudaranya dan sekitar lehernya. Selesailah main-main sama Ani, dan waktu pun menunjukan arah jam 5 lebih dan memang kami sudah telat untuk pergi lagi ke kampus memasuki pelajaran Mata Kuliah kedua.

Kami berdua terkulai dan ketiduran di lantai itu dalam keadaan masih telanjang, dan lagu di stereo tape-ku pun sudah lama habis. Bangun-bangun sudah hampir jam 19.00, kami pun bergegas berpakaian dan aku pergi ke kamar mandi untuk mandi, sesudah saya selesai mandi dia juga mandi, dan akhirnya kami pergi jalan-jalan sekalian mencari makan. Kami pergi ke daerah Merdeka dan makan. Sesudah itu kami nonton di Bioskop. Di Bandung Indah Plaza (BIP), lupa lagi waktu itu kami nonton apa. Sesudah selesai nonton Ani tidak mau pulang dia ingin menginap di rumah saya. Waduh celaka juga nih anak, ketagihan atau dia lagi ada masalah dengan keluarga di rumahnya. Setelah kami berbincang-bincang, ternyata dia tinggal tidak bersama orang tuanya, sama seperti saya. Dia tinggal bersama bibinya, dan memang tidak ada perhatian bibinya kepada Ani. Dan kami berdua pulang ke rumah saya dengan membawa makanan ringan, minuman (beer dan Fanta). Sesampainya di rumahku, kami berdua mengobrol lagi sambil menonton TV, dan kusuruh dia tidur duluan, kamipun tidur sambil berpelukan terbuai terbawa oleh mimpi indah kami berdua.

sejak saat itulah kami resmi berpacaran, dengan begitu makin sering juga kami melakukan perbuatan nikmat seperti yang telah kami lakukan sebelumnya.
Share:

" Aku Ini GIGOLO "


Kalo mau dibilang edan, ya edan kali. Bodo ah! Soalnya, kamu yang pada baca tulisan ini juga pada edan. Iya kan? Kenapa aku bilang edan? Sebab aku merupakan salah seorang guru di sebuah sekolah swasta di bilangan Jakarta, dan aku mengajar salah satu pelajaran eksak di tingkat SLTP. Itulah perkenalanku, dan kisah yang akan aku ceritakan ini adalah kisah nyata. Begini ceritanya.

Kata murid-muridku aku mengajar enak sekali, sehingga apa yang ku sampaikan mereka memahaminya, oleh karena itu banyak murid-muridku yang ngefan terhadapku. Salah seorang yang ngefan banget padaku namanya Merry, luar biasa anak ini. Inginnya selalu saja ingin dekat denganku, ada saja alasannya untuk bisa berkomunikasi denganku. Sebagai seorang guru aku selalu berusaha menghindar darinya.

Suatu saat, akau tak dapat lagi menghindar dari Merry, karena waktu itu aku mendapat tugas dari sekolah untuk mengajar bimbel bagi siswa/i kelas tiga. Aku selalu mengoreksi hasil post tes pada hari itu juga sebab jika aku mengoreksi di rumah pasti saja terganggu oleh anak-anakku. Ketika aku sedang asyik mengoreksi seorang diri di ruang guru, aku dikejutkan oleh kedatangan seorang murid wanitaku, Kiki namanya.
"Belum selesai Pak ngoreksinya?"
"Eh Kiki, kamu koq belum pulang?" kataku.
"Mendung Pak saya takut kehujanan di jalan, dan juga nemenin Merry, katanya ada perlu sama Bapak".
"O, ya! Mana Merrynya?".
"Itu Pak, sahut Kiki"

Kemudian aku persilakan masuk mereka berdua keruang guru yang sepi itu, karena hujanpun turun dengan lebatnya. Kami ngobrol-ngobrol bertiga, posisi duduk Merry disebelah kananku sedang Kiki didepanku.
Setelah cukup lama kami berbincang-bincang, Merry mengatakan, "Pak boleh engga saya lihat nilai saya?" seraya mendekat padaku dengan cepat.
Aku katakan, "Ee jangan", sambil aku ambil buku nilai di depanku dan ku angkat ke atas, tak disangka tak diduga Merry berusaha mengambil buku nilai itu sebisanya hingga badannya menempel ke badanku oh.. oh, aku merasakan harum tubuhnya dan kenyalnya payudara Merry yang baru tumbuh itu, wow dalam sekejap si iblis melupakanku bahwa aku seorang guru, aku mulai cari akal agar dapat dengan bebas melayani nafsu si Merry. Bagai pucuk dicinta ulam tiba. Tiba-tiba Kiki pamit keluar ruangan, karena mungkin sudah berhasil tugasnya mengantarkan Merry bertemu denganku.

Tinggallah kami berdua dalam ruang guru, Merry yang sedari tadi dekat denganku itu makin mendekat, tanpa kusadari penisku tegak tak terkendali. Di satu kesempatan kupeluklah Merry, dari belakang dan kukecup lehernya serta kuremas payudaranya yang baru tumbuh itu, dia menggelinjang kenikmatan, tak lama setelah itu terdengar langkah sepatu Kiki mendekat, kami pun saling melepas peluk dan menjauh, sambil kukatakan "Nanti aku telepon kamu". Merry hanya mengangguk.

Malam harinya sekitar pukul 20.00 aku telepon Merry, kami berbincang-bincang, yang berakhir dengan ku tembaknya Merry, dan ternyata itulah yang diharapkannya. Giillaa, Merry mendambakanku sebagai kekasihnya. Aku coba mengajaknya jalan pada hari minggu, karena kebetulan hari minggu itu aku mendapat tugas mencari villa disekitar puncak untuk acara organisasi sekolahku, dia pun menyetujuinya.

Sesuai janji minggu pagi-pagi sekali aku sudah berangkat, untuk bertemu Merry disetasiun yang telah ditentukan. Kami berangkat menggunakan KA Jabotabek, ternyata Merry begitu romantis sekali sepanjang perjalanan aku dipegangi, dan jika ada kesempatan ia memelukku, aduh! aku benar-benar tidak membayangkan sebelumnya punya pacar gelap seorang ABG cantik nan sensual (Seperti Nafa Urbach). Akhirnya sampailah kami ketempat yang dituju, setelah aku membooking villa yang kumaksud maka kami pun berniat pulang.
Namun kata Merry, "Pak aku capek nih, istirahat dulu dong."
"Wah dimana Mer?"
"Itu ada hotel" seraya menunjukan tangannya ke seberang jalan tempat kami berada.
Aku menjawab secepatnya, "OK, deh."

Di dalam kamar hotel, aku sangat kikuk, tapi aku pikir ah masa kalah sama anak yang bedanya 20 tahun lebih muda dariku, aku berusah menenangkan diri, kemudian bersih-bersih badan. Merry pun begitu. Setelah itu kami ngobrol diatas tempat tidur sambil menonton televisi, seraya mulai tatap menatap, yang kemudian saling mendekat, saling membelai dan akhirnya ku kecup kening mary, selanjutnya kulumat bibirnya yang sensual itu dia pun membalasnya, ketika kurujak bibirnya tanganku bergrilya masuk kedalam kaosnya kucari puting susunya yang kecil itu kupilin perlahan-lahan teranya olehku badannya merinding sambil melenguh-lenguh suaranya.

Akhirnya kubuka kaosnya serta branya yang baru bernomor 34, begitu kubuka wow, pemandangan yang sangat indah, payudara kecil nan menantang dipuncaknya berwarna coklat muda dengan puting yang kecil, segera saja aku kulum puting kecil itu, rasanya akan kutelan saja payudaranya, dia menggelinjang-gelinjang kenikmatan, sejurus kemudian kubuka juga rok nya, mulai aku bergrilya kedaerah yang jauh dibawah sana, kuterobos celana dalamnya kuusap-usap bukit venusnya dengan rambut-rambut halus yang menambah betah tanganku disana. beberapa saat kemudian kucoba menguak labium mayoranya, ternyata sudah basah, kucari clitorisnya setelah ketemu kusap-usap perlahan sekali. Erangan-erangan yang tadinya halus mulai terdengar liar menambah semangat jari-jariku menari disela-sela lembah kenikmatan.
"Bapak curang, buka juga dong bajunya." katanya memecah konsentrasi.
"OK, OK ." Kataku dengan semangat sambil membuka kaos dan celana panjangku.
Kami berpelukan erat sekali, berciuman, berguling kekanan dan kekiri luar biasa. Akhirnya aku tidak tahan lagi, kutawarkanlah padanya untuk coitus.
"Mer, kita senggama ya!"
"Jangan Pak!" katanya.
"Kamu engga mau? Enak lho Mer", rayuku sambil meraba-raba kemaluannya.

Cumbu rayu, isap menghisap, raba-meraba terus kami lakukan, yang jelas sebenarnya aku sudah nggak tahan tapi aku menahan diri. Sampailah akhirnya pada puncak cumbu rayu, ku arahkan kepalaku ke kemaluannya. Kubuka celana dalamku dan kubuka juga celana dalamnya ternyata Merry diam saja setelah itu kuisap-isap clitorisnya entah berapa kali dia orgasme, yang jelas perawan itu kenikmatan beberapa saat kemudian kuarahkan batang penisku pada liang vaginanya, ketika sudah pada sasarana yang tepat kutekan perlahan sekali, kemudian kudiamkan, vagina yang sudah basah itu seperti menarik batang kenikmatanku perlahan-lahan. Woow batangku masuk perlahan. Panas, licin dan terasa ada cengkraman yang kuat sekali didalam sana, aku terpejam nikmat, setelah Merry beradaptasi dengan batangku yang berada didalam baru kugerakan penisku perlahan-lahan, lagi-lagi ia mengerang hebat seraya memelukku erat sekali.
"Terus Pak, terus, teruus. eehh, eehh.. oo.. hh."
Rupanya ia orgasme kembali. Kuakui nikmat sekali bersenggama dengan Merry, akhirnya akupun ingin keluar hingga kucabut batangku dari liang surga kumuntahkan spermaku diluar agar tidak hamil. Setelah puas kami pulang ke Jakarta dengan keadaan yang berbeda. Aku merasa lebih memiliki Merry dan Merry pun demikian.

Sejak kejadian itu kami jadi kecanduan melakukannya, pernah suatu saat rupanya Merry ingin melepas "hajat"-nya, maka janjianlah kita untuk jalan setelah Merry pulang sekolah (saat itu ia telah SMU) akhirnya kami nonton di bioskop kelas kambing dengan film mesum pada jam pertunjukan siang, agar jarang yang nonton karena memang niatnya adalah senggama, kami pilih tempat duduk di belakang, begitu pertunjukan mulai mulai juga kami lakukan Foreplay kira-kira tiga puluh menit kemudian aku gelar jaketku dibawah kursi Merry, aku pindah duduk dibawah persis menghadap kemaluan Merry, kuisap klitorisnya sampai ia puas, setelah itu aku melakukan coitus dalam keadaan Merry duduk dan aku berdiri, nikmatnya luar biasa.

Disaat lain aku lakukan dirumah orangtuaku kebetulan kedua orang tua ku pulang kampung dan aku disuruh menunggui rumah orangtuaku itu. sebelumnya kusiapkan VCD porno sebanyak 4 CD. Rumah orangtaku yang luas itu hanya kami berdua yang menghuninya. Aku lakukan hubungan badan sepuas-puasnya, dengan Merry sayangku.

Pernah juga aku melakukan hubungan intim di berbagai hotel melati di Jakarta dan Bogor, semuanya kami lakukan dengan suka sama suka selama tiga tahun total hubungan yang kami lakukan krang lebih enam puluh kali. Akhirnya kami menyadari bahwa hal ini harus berakhir, karena saya sudah punya istri dengan empat orang anak, sedangkan Merry harus meniti karir sebagai seorang sarjana teknik, sampai saat ini hubungan kami tidak ada yang mengetahui dan kabarnya Merry sudah mempunyai calon suami.

Aku sendiri saat ini sudah tidak menjadi guru, saat ini aku berwiraswasta. Pengalamanku bersama Merry membuat aku menjadi pecandu coitus, jika aku hubungan badan kadang-kadang aku heran sendiri karena "penisku kaga ade matinye" karena sekarang aku jadi pecandu, sedangkan aku ngga ingin ngeluarin uang maka aku kini nyambi sebagai cowok panggilan, aku jadi cowok panggilan karena yang panggil aku biasanya yang buas-buas alias hiper sex, nah aku suka itu.

Pernah aku dipanggil oleh seorang ibu muda beranak satu, setelah dia bertemu denganku rupanya dia meragukan kemampuanku karena usiaku yang sudah tigapuluh sembilan tahun, akhirnya aku kasih dia garansi jika aku keluar duluan aku yang menservice dia tapi nyatanya ibu muda itu ketagihan terhadapku. Aku dalam hubungan tidak mencari uang tapi yang ku cari happy aja, happy yang gratis, begitulah kira-kira.

Minggu depan aku sudah diwanti-wanti untuk siap-siap menservice seorang wanita setengah baya (46 tahun) istri seorang pejabat di Kalimantan yang akan ke Jakarta, Ibu ini walau umurnya sudah cukup tapi masih sangat enerjik, badannya sintal, payudaranya padat, tatapannya penuh dengan kemesuman. Beberapa hari yang lalu HP ku bunyi.
Ternyata Tante S yang telepon, katanya, "Anton, minggu depan Tante mau ke Jakarta kamu harus puasin Tante, seperti yang lalu ya".
Aku jawab saja, "OK, Tante!"
Share:
WELLCOME TO OSEX39.BLOGSPOT.CO.ID

NEW AHLICASINO 2017


Entri Populer

Blog Archive

About Me

Total Tayangan Laman

HOT VIDEO