Sabtu, 18 Maret 2017

Klitoris Istriku ...

Sekitar 2 tahun yang lalu aku dan Sherly pergi jalan jalan ke Disney World USA, karena keuangan kami
sedang menipis jadi kita berangkat dengan pesawat kelas ekonomis sepakat untuk memilih Malaysia
Airline sebagai alat transportasi kesana karena saat itu juga ada harga diskon.

Kami berangkat dari jakarta pukul 7 pagi semua segala persiapan sudah kami siapkan jauh jauh hari,
sesuai jadwal kami transit selama satu jam di kuala lumpur setelah itu langsung perjalanan menuju
bandara di New York lupa aku namanya bandaranya.

Tapi tak taunya sebelum sampai disana kita harus transit lagi 1 setengah jam di dubai arab, sempat ada
rasa kesal karena sebelumnya tidak ada pemberitahuannya, aku sempat menanyakan tempat transit mana
saja yang akan kami jalani pada perusahaan travel tempat kami memesan tiket namun mereka mengatakan
bahwa kami hanya transit satu kali di Kuala Lumpur .

Aku sempat mengira kami telah salah naik pesawat karena persinggahan pesawat kami di Dubai itu.
Setelah mengetahui kapal yang kami naiki benar-benar menuju ke New York , kami hanya pasrah saja.

Pemeriksaan yang bertele-tele di bandara Dubai sungguh melelahkan. Kami harus mengantri sekitar 1 jam
untuk melewati pemeriksaan bagasi saja.

Setelah barang-barang bawaan kami melewati alat sensor, seorang petugas menghampiri tas koper istri
saya dan berseru dengan suara agak keras untuk menanyakan siapa pemilik koper tersebut. Istri saya
maju dan mengatakan kepadanya bahwa tas itu miliknya.

Petugas tersebut memandangi Sherly cukup lama. Salah satu hal yang paling kuingat dari wajahnya adalah
kumis yang lebat seperti Pak Raden dalam film si Unyil. Lalu ia membuka koper itu dan mulai mengacak-
acak isinya.

Isi koper itu hanyalah pakaian-pakaian dan peralatan kosmetik Sherly. Tangan pria itu (sebut saja si
Kumis) mengeluarkan satu kantong berisi bubuk hitam dari dalam koper.

What is this? tanyanya dengan logat yang sulit dimengerti.

Sherly menjawab gugup, Coffee.

Alis si Kumis mengkerut. Matanya menatap tajam Sherly. Lalu ia mengatakan beberapa kalimat yang sulit
dipahami. Kemungkinan besar apa yang ingin dikatakan si Kumis (dengan menggunakan bahasa inggris yang
sangat aneh) adalah membawa kopi dilarang.

Aku mendekati petugas itu dan menanyakan lebih jelas permasalahannya. Si Kumis masih saja mengacak-
acak koper itu seakan mencari sesuatu yang hilang. Tanpa merapihkan isi koper itu lagi, ia menutupnya
dan memandang aku dengan wajah curiga.

Who are you? aku menduga ia mengucapkan kata-kata tersebut.

Im her husband. Whats the problem, sir?

Ia terus memandangi kami berdua secara bergantian. Ia memanggil dua orang petugas lain di belakangnya
dengan gerak isyarat. Lalu ia berkata, Follow me!

Dua koper kami diangkat oleh salah satu opsir yang baru dipanggil si Kumis sedang yang satunya lagi
menggiring kami untuk mengikuti si Kumis. Si Kumis berjalan dengan cepat masuk ke dalam ruangan
tertutup di pojok lorong tak jauh dari WC.

Ruangan yang tak lebih dari 3 x 3 meter itu sangat terang dan seluruh temboknya dilapisi cermin
setinggi 2 meter dari lantainya. Koper kami dilemparkan dengan kasar ke atas meja di pinggir. Ketiga
pria itu (termasuk si Kumis) telah masuk ke dalam ruangan. Pria yang memiliki brewok lebat menutup
pintu lalu menguncinya.

Kami berdua berdiri terpaku di hadapan mereka bertiga. Aku merasa cemas akan semua ini. Apa yang akan
terjadi? Apa masalah yang begitu besar sehingga kami harus diperiksa di ruangan terpisah? Pertanyaan-
pertanyaan seperti itulah yang memenuhi pikiranku (mungkin tak beda jauh dengan benak Sherly).

Baru saja aku ingin membuka mulut untuk menanyakan permasalahannya, si Kumis mengatakan sesuatu yang
tak jelas. Kata-kata yang dapat tertangkap oleh telingaku hanyalah stand, wall (dan against setelah
berpikir beberapa detik untuk mencernanya). Menurut perkiraanku mereka ingin kami berdiri menghadap
tembok. Informasi ini kuteruskan ke Sherly yang tidak mengerti sama sekali perkataan si Kumis.

Dengan enggan kami membalik badan kami menghadap tembok. Dari pantulan cermin di depan kami, aku
melihat si Brewok dan pria yang satunya lagi yang berbadan lebih tegap (sebut saja si Tegap)
menghampiri kami. Telapak tangan kami ditempelkan di tembok (cermin) di depan kami dan kaki kami
direnggangkan dengan menendang telapak kaki kami agar bergeser menjauh.

Si Brewok mulai memeriksa seluruh tubuhku. Dimulai dari atas dan bergerak ke bawah. Pemeriksaan
berlangsung cepat. Beberapa benda di kantong baju dan celanaku dikeluarkan dan diletakkannya di meja
terpisah.

Sama halnya seperti yang terjadi pada diriku, si Tegap memeriksa Sherly dari atas ke bawah. Sekilas
aku melihat dari cermin, si Tegap menggerayangi payudara Sherly walau hanya sebentar.
Tak ada ekspresi yang berubah dari wajah Sherly.

Sejak tadi ekspresi yang terlihat hanyalah ekspresi kecemasan. Aku menepis pemikiran bahwa si Tegap
mencari kesempatan dalam kesempitan pada tubuh istriku. Mungkin saja memang ia harus memeriksa bagian
dada Sherly, toh dadaku juga diperiksa oleh si Brewok, pikirku.

Benda-benda juga dikeluarkan dari kantong jaket, baju dan celana Sherly. Meja itu dipenuhi oleh uang
receh, permen, sapu tangan dan kertas-kertas tak berguna dari isi kantong kami berdua.

Kemudian setelah harus mencerna hampir lima kali kata-kata yang tak jelas dari si Kumis (yang ternyata
adalah atasan si Brewok dan si Tegap), aku menyadari bahwa ia menyuruh kami untuk membuka pakaian
kami. Jantungku seperti berhenti berdetak. Sherly masih belum dapat mengira-ngira perkataan si Kumis
itu.

Tanpa memberitahu istriku, aku mencoba untuk memprotes kepada si Kumis. Namun si Kumis membentak, yang
kuduga isinya (jika diterjemahkan):

Jangan macam-macam! Cepat laksanakan! Beberapa kata yang dapat tertangkap jelas oleh telingaku adalah
Donaplay dan Quick.

Aku membisikkan kepada istriku keinginan si Kumis. Mata Sherly membesar dan mulutnya terbuka sedikit
karena kaget.

Si Tegap dan si Brewok sudah berdiri di samping kami dan mengawasi kami dengan pandangan tajam. Aku
melirik ke pinggang si Brewok. Pandanganku tertumpu pada pistol yang menggantung di pinggang tersebut.

Perasaan takut sudah menguasai diriku. Aku mulai melepaskan pakaianku dari sweater, kemeja, kaos dan
celana panjang. Pada saat aku melepaskan kemejaku, Sherly masih belum beranjak untuk melepaskan
pakaiannya. Karena takut istriku dilukai, aku memberi pandangan isyarat kepadanya agar ia segera
melepaskan pakaiannya.

Akhirnya dengan berat hati ia melepaskannya satu per satu. Jaket, kemeja, kaos dalam dan terakhir
celana jeansnya. Kami berdua berdiri hanya dengan pakaian dalam kami.

Si Kumis berkata sesuatu yang sama sekali tidak dapat kumengerti. Detik berikutnya si Tegap menarik
tangan Sherly dan membawanya ke sisi tembok yang bersebelahan dengan tembok di hadapan kami. Tangan si
Brewok menahanku ketika aku hendak mengikuti Sherly. Dona move! katanya kepadaku dengan sangat jelas.

Aku masih dapat melihat Sherly (dari bayangan di tembok cermin) berdiri tak jauh di sebelah kananku.
Ia menghadap tembok namun pada sisi yang berbeda dengan tembokku.

Lalu si Brewok menarik tanganku agar kedua telapak tanganku menempel di tembok cermin dan
merenggangkan kakiku. Si Tegap melakukan hal yang sama pula terhadap Sherly.

Si Brewok yang berdiri di belakangku, meraba-raba bagian tubuhku yang ditutupi oleh celana dalamku,
mencari-cari sesuatu untuk ditemukan. Setelah itu sambil menggelengkan kepalanya, ia mengatakan
sesuatu kepada si Kumis.

Pada saat itulah aku melihat tangan si Tegap menggerayangi tubuh Sherly. Dengan jelas aku melihat
tangannya meremas payudara Sherly selama beberapa detik.

Tangannya bergerak ke bagian bawah tubuh Sherly. Kemudian si Tegap berjongkok di belakang Sherly dan
aku tak dapat lagi melihat apa yang dikerjakannya setelah itu. Sherly memejamkan matanya. Alisnya
sedikit mengkerut.

Selama sekitar 20 detik, aku tak berani memalingkan wajahku untuk melihat apa yang dikerjakan si Tegap
pada istriku. Lalu ia berdiri dan berkata pelan kepada si Kumis (lagi-lagi aku tak dapat menangkap
kata-kata yang diucapkan mereka).

Si Kumis berkata-kata lagi diikuti dengan ditariknya celana dalamku ke bawah oleh si Brewok. Belum
sempat kaget, aku mendengar Sherly menjerit kecil. Rupanya celana dalamnya sudah ditarik ke bawah
sampai ke lututnya, sama seperti yang dilakukan si Brewok terhadap celana dalamku.

Setelah itu si Tegap meraih kaitan di belakang BH Sherly dan melepaskannya dengan cepat. Si Tegap
meraih BH itu dan menariknya satu kali dengan keras sehingga lepas dari tubuh Sherly.

Secepat kilat Sherly menutupi kedua dadanya. Aku pun menutupi kemaluanku. Kami berdua berdiri tegang.
Si Kumis berjalan perlahan menghampiriku lalu bergerak ke arah Sherly. Untuk beberapa saat ia hanya
berdiri dan memperhatikan tubuh istriku.

Aku rasa, Sherly mulai akan menangis. Si Kumis memberi isyarat kepada si Tegap. Lalu si Tegap
menghampiriku dan berdiri menantang di sampingku. Aku hanya melirik sekali dan mendapati wajahnya
berubah menjadi lebih kejam tiga kali lipat.

Sambil mengatakan sesuatu, si Kumis mendorong pentungan hitam (yang biasa dibawa oleh polisi) yang
dipegangnya ke arah tangan Sherly yang menutupi buah dadanya. Aku dapat melihat istriku menjatuhkan
kedua tangannya ke sisi tubuhnya. Si Kumis kembali memandangi Sherly dan kali ini pandangannya
terkonsentrasi ke arah payudara istriku.

Hampir semenit penuh ia memandangi tubuh Sherly. Sherly hanya memejamkan matanya, mungkin karena takut
(atau malu?).

Dengan menggunakan pentungan hitamnya itu, si Kumis menurunkan celana dalam Sherly dari lutut sampai
ke mata kakinya. Lalu ia memaksa Sherly untuk merenggangkan kakinya sehingga mau tak mau ia melangkah
keluar dari celana dalamnya.

Pada saat si Kumis mulai menggerayangi payudara istriku, aku beringsut dari tempatku untuk
mencegahnya. Namun bukan aku yang mencegah perbuatan si Kumis, si Tegap dibantu oleh si Brewok menahan
tubuhku untuk tetap berdiri di tempat.

Aku meneriaki si Kumis untuk menghentikan perbuatannya. Teriakanku disambut dengan tamparan keras pada
pipi kananku. Aku merasakan rasa asin yang kutahu berasal dari darah yang mengalir dalam mulutku.
Akhirnya aku hanya berdiri dan berdiam diri.

Tak beberapa lama setelah itu, si Kumis berjongkok di depan Sherly sehingga aku tak dapat melihat apa
yang dilakukannya. Dari sudut pandangku, aku hanya dapat melihat dari bayangan di cermin bagian
belakang tubuh si Kumis yang sedang berjongkok di antara kedua paha Sherly.

Tidak terdengar suara apa pun selain suara detak jantungku yang semakin keras dan cepat. Sherly tetap
memejamkan matanya dengan alis sedikit mengkerut, sama seperti tadi.

Sherly tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi masuk ke dalam ruangan itu. Istriku memang agak
penakut dan kurang berani mengungkapkan pendapatnya pada orang lain. Walaupun demikian, aku agak heran
dengan sikap istriku saat itu yang tidak memprotes sedikit pun atas perbuatan si Kumis terhadap
dirinya.

Atau mungkin saja si Kumis tidak melakukan apa-apa saat itu, batinku. Setelah lima menit berlalu dalam
keheningan, tiba-tiba istriku mengeluh (lebih menyerupai mendesah), Aku melirik ke arahnya dan
mendapati ia tidak lagi menutup matanya. Matanya agak membelalak dan mulutnya terbuka sedikit.

Setelah itu, si Kumis berdiri dan menghampiri si Tegap. Ia memberi isyarat dengan tangannya kepada si
Tegap dan si Brewok untuk meninggalkan ruangan itu.

Aku yakin (sangat yakin, untuk lebih tepatnya) bahwa aku melihat beberapa jari si Kumis mengkilap
karena basah. Hanya dengan melihat hal itu, cukup bagiku untuk menduga apa yang telah dilakukan si
Kumis terhadap istriku.

Si Kumis berkata-kata kepada kami. Kali ini aku yakin ia mengatakannya dalam bahasa inggris. Walau aku
hanya dapat menangkap sepenggal kalimat (may pass), namun aku yakin bahwa ia menyuruh kami mengenakan
kembali pakaian kami dan memperbolehkan kami untuk melanjutkan perjalanan kami.

Awalnya aku tak mempercayai pendengaranku (dan tafsiranku terhadap kata-katanya). Namun setelah mereka
keluar dari ruangan itu dan meninggalkan kami berdua saja, aku semakin yakin.
Aku menyuruh Sherly untuk mengenakan pakaiannya secepat mungkin. Dan ia mulai menangis terisak-isak
sambil mengenakan pakaiannya.

Setelah selesai mengenakan seluruh pakaian kami, aku memeluk istriku yang masih menangis. Dalam
pelukanku tangisannya semakin menjadi. Aku hanya mengelus-elus rambutnya dan menenangkan hatinya
dengan mengatakan bahwa semua itu sudah berakhir.

Sesampai kami di hotel (di Orlando), Sherly akhirnya menceritakan apa yang diperbuat si Kumis terhadap
dirinya. Ia bercerita bahwa sambil menjilati klitorisnya, si Kumis menggesek-gesekkan jarinya ke
kemaluan istriku. Pada akhirnya si Kumis memasukkan satu dua jarinya ke dalam liang kewanitaannya lalu
mengocoknya beberapa kali.

Sherly mengatakan bahwa dirinya merasa jijik atas perbuatan si Kumis. Setelah beberapa saat, aku
menanyakan padanya apakah ia terangsang saat itu.

Mendengar pertanyaan itu, Sherly langsung mencak-mencak dan mengambek. Dalam rajukannya, ia menanyakan
kenapa aku berpikiran seperti itu.

Aku mengungkapkan bahwa aku melihat jari-jari si Kumis basah pada saat ia menghampiriku sebelum keluar
dari ruangan itu. Sherly menjawab bahwa jari-jari itu basah karena terkena ludah dari lidah yang
menjilati klitorisnya. Karena tak mau melihat dirinya merajuk lagi, akhirnya aku menerima
penjelasannya dan meminta maaf karena telah berpikiran seperti itu.

Sebenarnya di dalam otak, logikaku terus berputar. Bagaimana mungkin ludah si Kumis dapat membasahi
sepanjang jari-jarinya itu, pikirku. Dalam hatiku yang terdalam sebenarnya aku tahu bahwa jari-jari si
Kumis bukan basah oleh ludah melainkan oleh cairan yang meleleh dari kemaluan istriku.

Namun aku menepis pendapatku itu dan tidak berniat membahasnya lagi dengan Sherly agar kami dapat
menikmati sisa waktu kami di Amerika itu.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

WELLCOME TO OSEX39.BLOGSPOT.CO.ID

TOP AHLICASINO 2017


Entri Populer

Blog Archive

About Me

Total Tayangan Halaman

BEST POKER


HOT POKER