I Like A Beautiful Life

We Will Never Know, Before We Do So. Remember One Thing, The Work We Do Will Be Worth It.

Sexy Girl in World

When We Are Already One Of The Majors, Does Not Mean We Should Be One Of The Future.

How Much Sexy Girl In World

Never Underestimate Yourself. If You Are Unhappy With Your Life, Fix What's Wrong, And Keep Stepping.

Good Looking

If You Can Not Be Intelligent, Be a Good Person.

Can You Get What You Want

Most Millionaires Get a B or C on Campus. They Build Wealth Not Of IQ Alone, But Creativity and Common Sense.

Jumat, 31 Maret 2017

Pesona Gadis Desa..


Aku tinggal di Cirebon tapi tempat kerjaku di dekat Indramayu yang berjarak sekitar 45 Km dan kutempuh dengan kendaraan kantor (nyupir sendiri) sekitar 1 jam. Bagi yang tahu daerah ini, pasti akan tahu jalan mana yang kutempuh. Setiap pagi kira-kira jam 06.30 aku sudah meninggalkan rumah melewati route jalan yang sama (cuma satu-satunya yang terdekat) untuk berangkat ke kantor. Pagi hari di daerah ini, seperti biasa terlihat pemandangan anak-anak sekolah entah itu anak SD, SMP ataupun SMU, berjajar di beberapa tempat di sepanjang jalan yang kulalui sambil menunggu angkutan umum yang akan mereka naiki untuk ke sekolah mereka masing-masing. Karena angkutan umum sangat terbatas, biasanya mereka melambai-lambaikan tangannya dan mencoba menyetop kendaraan yang lewat untuk mendapatkan tumpangan. Kadang-kadang ada juga kendaraan truk ataupun pick-up yang berhenti dan berbaik hati memberikan tumpangan, sedangkan kendaraan lainnya jarang mau berhenti, karena yang melambai-lambaikan tangannya berkelompok dan berjumlah puluhan.

Suatu hari Senin di bulan Oktober 98, aku keluar dari rumah agak terlambat yaitu jam 06.45 pagi. Kuperhatikan anak-anak sekolah yang biasanya ramai di sepanjang jalan itu mulai agak sepi, mungkin mereka sudah mendapatkan kendaraan ke sekolahnya masing-masing. Saat perjalananku mencapai ujung desa Bedulan (tempat ini pasti dikenal oleh semua orang karena sering terjadi tawuran antar desa sampai saat ini), kulihat ada seorang anak sekolah perempuan yang melambai-lambaikan tangannya.
Setelah kulihat di belakangku tidak ada kendaraan lain, aku mengambil kesimpulan kalau anak sekolah itu berusaha mendapatkan tumpangan dariku dan karena dia seorang diri di sekitar situ maka segera kuhentikan kendaraanku serta kubuka kacanya sambil kutanyakan, “Mau ke mana dik?”. Kulihat anak sekolah itu agak cemas dan segera menjawab pertanyaanku, “Pak boleh saya ikut sampai di SMA——– (edited by Yuri)”, dari tadi kendaraan umum penuh terus dan saya takut terlambat?, dengan wajah yang penuh harap. “Yaa…, OK lah.., naik cepat”, kataku. “Terima kasih paak”, katanya sambil membuka pintu mobilku.

Jarak dari sini sampai di sekolahnya kira-kira 10 Km dan selama perjalanan kuselingi dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, sehingga aku tahu kalau dia itu duduk di kelas 3 SMU di——dan bernama War (edited by Yuri). Tinggi badannya kira-kira 155 cm, warna kulitnya bisa dibilang agak hitam bersih dan tidak cantik tapi manis dan menarik untuk dilihat, entah apanya yang menarik, mungkin karena matanya agak sayu.

Tidak terlalu lama, kendaraanku sudah sampai di daerah——-dan War segera memberikan aba-aba. “Ooom…, sekolah saya ada di depan itu”, katanya sambil jarinya menunjuk satu arah di kanan jalan. Kuhentikan kendaraanku di depan sekolahnya dan sambil menyalamiku War mengucapkan terima kasih. Sambil turun dari mobil, War masih sempat bertanya, “Oom…, besok pagi saya boleh ikut lagi.., nggak Oom, lumayan Oom…, bisa naik mobil bagus ke sekolah dan sekalian menghemat ongkos.., boleh yaa.. Oom?”. Aku tidak segera menjawab pertanyaan itu, tapi kupandangi wajahnya, lalu kujawab, “Boleh boleh saja War ikut Oom, tapi jangan bergerombol ikutnya yaa”.
“Enggak deh Oom, saya cuma sendiri saja kok selama ini”.

Setiap pagi sewaktu aku mencapai desa itu, War sudah ada di pinggir jalan dan melambaikan tangannya untuk menghentikan mobilku. Dalam setiap perjalanan dia makin lama makin banyak bercerita soal keluarganya, kehidupannya di desa, teman-teman sekolahnya dan dia juga sudah punya pacar di sekolahnya. Ketika kutanya apakah pacarnya tidak marah kalau setiap hari naik mobil orang, War bilang tidak apa-apa tapi tanpa ada penjelasan apapun, sepertinya dia enggan menceritakan lebih jauh soal pacarnya. War juga cerita bahwa selama ini dia tidak pernah kemana-mana, kecuali pernah dua kali di ajak pacarnya piknik ke daerah wisata di Kuningan.

Seminggu kemudian di hari Jum’at, waktu War akan naik di mobilku kulihat wajahnya sedih dan matanya bengkak seperti habis menangis dan War duduk tanpa banyak bicara.
Karena penasaran, kusapa dia, “War, habis nangis yaa…, kenapa..? coba War ceritakan.., siapa tahu Oom bisa membantu”. War tetap membisu dan sedikit gelisah. Lama dia diam saja dan aku juga tidak mau mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan, tetapi kemudian dia berkata, “Oom, saya habis ribut dengan Bapak dan Ibu”, lalu dia diam lagi.
“Kalau War percaya pada Oom, tolong coba ceritakan masalahnya apa, siapa tahu Oom bisa membantu”, kataku tetapi War saja tetap membisu.
Ketika mobilku sudah mendekati sekolahnya, tiba-tiba War berkata, “Oom…, boleh nggak War minta waktu sedikit buat bicara di sini, mumpung masih belum sampai di sekolah”. Mendengar permintaannya itu, segera saja kuhentikan mobilku di pinggir jalan dan kira-kira jaraknya masih 2 Km dari sekolahnya.

“Ada apa War…?”, Kataku. War tetap diam dan sepertinya ada keraguan untuk memulai berbicara.
“Ayoo…, lah War (sebenarnya pengarang penuliskan tiga harus terakhir dari namanya, tapi terpaksa oleh Yuri diganti jadi 3 huruf terdepan), jangan takut atau ragu…, ada apa sebenarnya”, tanyaku lagi.
“Begini…, Oom, kata War”, lalu dia menceritakan bahwa tadi malam dia minta uang kepada orang tuanya untuk membayar uang sekolahnya yang sudah tiga bulan belum dibayar dan hari ini adalah hari terakhir dia harus membayar, karena kalau tidak dia tidak boleh mengikuti ulangan. Orang tuanya ternyata tidak mempunyai uang sama sekali, padahal uang sekolah yang harus dibayar itu sebesar 80 ribu rupiah. Alasan orang tuanya karena panen padi yang diharapkan telah punah karena hujan yang terus menerus. Dan katanya lagi orang tuanya menyuruh dia berhenti sekolah karena tidak mampu lagi untuk membayar uang sekolah dan mau dikimpoikan dengan tetangganya.

Aku tetap diam untuk mendengarkan ceritanya sampai selesai dan karena War juga terus diam, lalu kutanya, “Teruskan ceritamu sampai selesai War”. Dia tidak segera menjawab tapi yang kulihat airmatanya terlihat menggenang dan sambil mengusap air matanya dia berkata, “Oom, sebetulnya masih banyak yang ingin War ceritakan, tapi saya takut nanti Oom terlambat ke kantornya dan War juga harus ke sekolah, serta lanjutnya lagi…, kalau Oom ada waktu dan tidak keberatan, saya ingin pergi dengan Oom supaya saya bisa menceritakan semua masalah pribadi saya”. Setelah diam sejenak, lalu War berkata lagi, “Oom, kalau ada dan tidak keberatan, saya mau pinjam uang Oom 80 ribu untuk membayar uang sekolah dan saya janji akan mengembalikan setelah saya dapat dari orang tua saya”.

Mendengar cerita War walaupun belum seluruhnya, hatiku terasa tersayat dan segera kurogoh dompetku dan kuambilkan uang 200 ribu dan segera kuberikan padanya.
“Lho Oom, kok banyak benar…, saya takut tidak dapat mengembalikannya”, katanya sambil menarik tangannya sebelum uang dari tanganku dipegangnya.
“War.., ambillah…, nggak apa-apa kok, sisanya boleh kamu belikan buku-buku atau apa saja…, saya yakin War membutuhkannya”, dan segera kupegang tangannya sambil meletakkan uang itu ditangannya dan sambil kukatakan, “War.., ini nggak usah kamu beritahukan kepada siapa-siapa, juga jangan kepada orang tuamu…, dan War nggak perlu mengembalikannya”.

Belum selesai kata-kataku, tiba-tiba saja dari tempat duduknya dia maju dan mencium pipi kiriku sambil berkata, “Terima kasih banyak Oom.., Oom.. sudah banyak menolong saya”. Aku jadi sangat terkesiap dan berdebar, bukan karena mendapat ciuman di pipiku, tapi karena tangan kiriku tersentuh buah dadanya yang terasa sangat empuk sehingga tidak terasa penisku menjadi tegang dan sementara War masih mencium pipiku, kugunakan tangan kananku untuk membelai rambutnya dan kucium hidungnya.
“Ayoo…, War…, sudah lama kita di sini, nanti kamu terlambat sekolahnya”.
War tidak menjawab tapi kulihat dikedua matanya masih tergenang air matanya. Ketika sudah sampai di depan sekolahnya sambil membuka pintu mobil, War berkata, “Oom.., terima kasih yaa.. Ooom dan kapan Oom ada waktu untuk mendengar cerita War”.
“Kalau besok gimana..?, kataku.
“Boleh.., oom”, jawabnya cepat.
“Lho…, besok kan masih hari Sabtu dan War kan harus sekolah”, jawabku.
“Sekali-kali mbolos kan nggak apa apa Oom…, hari Sabtu kan pelajarannya tidak begitu padat dan kurang penting”, kata War.
“Oklah…, kalau begitu…, War, kita ketemu besok pagi ditempat biasa kamu menunggu”.

Dalam perjalanan ke kantor setelah War turun, masalah War terasa mengganggu pikiranku sehingga tidak terasa aku sudah sampai di kantor. Sebelum pulang kantor, aku izin untuk tidak masuk besok Sabtu pada Bossku dengan alasan akan mengurus persoalan keluarga di Kuningan. Demikian juga waktu malamnya kukatakan pada istriku kalau aku harus ke Jakarta untuk urusan kantor dan kalau selesainya telat terpaksa harus menginap dan pulang pada hari Minggu.

Besok paginya dengan berbekal 1 stel pakaian yang telah disiapkan oleh Istriku, aku berangkat dan sampai di tempat yang biasa, kulihat War tetap memakai baju seragam sekolahnya. Setelah dia naik ke mobil, kembali kulihat matanya tetap seperti habis menangis.
Lalu kutanya, “War…, habis perang lagi yaa?, soal apa lagi?”.
“Oom, ceritanya nanti saja deh”, katanya agak malas.
“Kita mau kemana Oom?”, Tanyanya.
“Lho…, terserah War saja.., Oom sih ikut saja”.
“Oom…, saya kepingin ke tempat yang agak sepi dan nggak ada orang lain…, jadi kalau-kalau War nangis, nggak ada yang melihatnya kecuali Oom”.
Sambil memutar mobilku kembali ke arah Cirebon, aku berpikir sejenak mau ke tempat mana yang sesuai dengan permintaan War, dan segera teringat kalau di pinggiran kota Cirebon yang ke arah Kuningan ada sebuah lapangan Golf dan Cottage CPN.
Segera saja kukatakan padanya, “War… Tempat yang sesuai dengan keinginanmu itu kayaknya agak susah, tapi…, bagaimana kalau kita ke CPN saja..?”.
“Dimana itu Oom dan tempat apaan?”,tanya War.
Aku jadi agak susah menjelaskannya, tapi kujawab saja, “Tempatnya sih nggak jauh yaitu sedikit di luar Cirebon dan…, begini saja deh.., War.., kita ke sana dulu dan kalau War kurang setuju dengan tempatnya, kita cari tempat lain lagi”.

Setelah sampai di tempat dan mendaftar di receptionist serta memesan minuman ringan serta mengambil kunci kamarnya, segera aku kembali ke mobil dan kutanyakan pada War–“gimana War.., kamu mau disini..?, lihat saja tempatnya sepi (maklum saja masih pagi-pagi. Receptionistnya saja seperti terheran-heran, sepertinya berfikir kok ada tamu pagi-pagi sekali dan nomor mobilnya bukan dari luar kota).

Setelah mobil kuparkir di depan kamar, sebelum turun kutanya dia kembali, “War…, gimana.., mau di sini? atau mau cari tempat lain?”. War tidak segera menjawab pertanyaanku, tapi dia ikut turun dari mobil dan mengikutiku ke arah pintu kamar motel. Segera setelah sampai di dalam, dia langsung duduk di tempat tidur sambil memperhatikan seluruh ruangan. Karena kulihat dia tetap diam saja, aku jadi merasa tidak enak dan segera kudekati dia yang masih tetap duduk di pinggiran tempat tidur dan sambil agak berlutut, kucium keningnya beberapa saat dan tiba-tiba saja War memelukku dan terdengar tangisan lirih sambil terisak-isak. Sambil masih memelukku, kuangkat berdiri dari duduknya dan kuelus-elus rambutnya, sambil kucium pipinya serta kukatakan, “War coba tenangkan dirimu dan ceritakan semua masalah mu pada Oom…, siapa tahu Oom bisa membantumu dalam memecahkan masalahmu itu”. War masih saja memelukku tapi senggukan tangisnya mulai mereda. Beberapa saat kemudian kubimbing dia ke arah tempat tidur dan perlahan kutelentangkan War di tempat tidur dan kurangkulkan tangan kiriku di bahunya dan kupandangi wajahnya, sambil kukatakan, “War cobalah ceritakan masalahmu itu dan biar Oom bisa mengetahui permasalahanmu itu”.

War tetap diam saja dan memejamkan matanya, tapi tak lama kemudian, sambil menyeka air matanya dia membuka matanya dan memandang ke arahku yang jaraknya antara wajahnya dan wajahku sangat dekat sekali.
“Oom…”, katanya seperti akan memulai bercerita, tapi lalu dia diam lagi. “War…”, kataku sambil kucium pipinya dan kuusap-usapkan jari tangan kananku di rambutnya, “cerita lah”.

Lalu War mulai bercerita dan dia menceritakan secara panjang lebar soal kehidupan keluarganya yang miskin, dia anak pertama dari 3 bersaudara, tentang pacarnya di sekolah tapi lain kelas yang sudah 2 tahun pacaran dan sekarang sudah meninggalkan dia karena mendapatkan pacar baru di kelasnya dan dia juga menceritakan kalau orang tuanya sudah menjodohkan dengan tetangganya yang sudah punya istri dan anak, tapi kaya dan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah War dan dia harus segera berhenti dari sekolahnya karena akan dikimpoikan pada bulan Maret akan datang. War katanya kepingin sekolah dulu dan belum pingin kimpoi, apalagi kimpoi dengan orang yang sudah punya Istri dan anak. War punya keinginan mau lari dari rumahnya, tapi tidak tahu mau ke mana. War juga menceritakan bahwa sebetulnya dia masih cinta kepada kawan sekolahnya itu, apalagi dia sudah telanjur pernah tidur bersama sewaktu piknik ke Kuningan dulu, walaupun katanya dia tidak yakin kalau punya pacarnya itu sudah masuk ke vaginanya apa belum, karena belum apa-apa sudah keluar katanya.

“Jadi…, gimana.., Oom.., apa yang harus saya perbuat dengan masalah ini, katanya setelah menyelesaikan ceritanya.
“War”, kataku sambil kembali kuelus-elus rambutnya dan kucium pipinya di dekat bibirnya.
“War…, masalahmu kok begitu rumit, terutama persoalan lamaran tetanggamu itu. Begini saja War…, sebaiknya kamu minta kepada orangtuamu untuk menunda perkimpoian itu sampai kamu selesai sekolah. Bilang saja…, kalau ujian SMA-mu hanya tinggal beberapa bulan lagi”.
“Katakan lagi…, sayang kalau biaya yang telah dikeluarkan selama hampir tiga tahun di SMA harus hilang percuma tanpa mendapatkan Ijasah. War…, sewaktu kamu mengatakan ini semua, jangan pakai emosi, katakan dengan lemah lembut, mudah-mudahan saja orang tuamu mau mengerti dan mengundurkan perjodohanmu dengan tetanggamu itu”.
“Kalau orang tuamu setuju, jadi kamu bisa konsentrasi untuk menyelesaikan sekolahmu dan yang lainnya bisa dipikirkan kemudian”.
Setelah selesai memberikan saran ini, lalu kembali kucium pipinya seraya kutanya…, “War…, bagaimana pendapatmu dengan saran Oom ini?”.
Seraya saja War bangkit dari tidurnya dan memelukku erat-erat sambil menciumi pipiku dan berkata, “Ooom…, terima kasih.., atas saran Oom ini…, belum terpikir oleh saya sebelumnya hal ini…, Oom sangat baik terhadap War entah bagaimana caranya saya membalas kebaikan Oom”, dan terasa air matanya menetes di pipiku.

Setelah diam sesaat, kembali kurebahkan badan War telentang dan kulihat dari matanya yang tertutup itu sisa air matanya dan segera kucium kedua matanya dan sedikit demi sedikit cimmanku kuturunkan ke hidungnya dan terus turun ke pipi kirinya, setelah itu kugeser ciumanku mendekati bibirnya. Karena War masih tetap diam dan tidak menolak, keberanianku semakin bertambah dan secara perlahan-lahan kugeser ciumanku ke arah bibirnya, dan tiba-tiba saja War menerkam dan memelukku serta mencari bibirku dengan matanya yang masih tertutup. Aku berciuman cukup lama dan sesekali lidahku kujulurkan ke dalam mulutnya dan War mengisapnya. Sambil tetap berciuman, kurebahkan badannya lagi dan tangan kananku segera kuletakkan tepat di atas buah dadanya yang terasa sangat kenyal dan sedikit kuremas. Karena tidak ada reaksi yang berlebihan serta War bukan saja mencium bibirku tapi seluruh wajahku, maka satu persatu kancing baju SMU-nya berhasil kulepas dan ketika kusingkap bajunya, tersembul dua bukit yang halus tertutup BH putih tipis dan ukurannya tidak terlalu besar.

Ketika kucoba membuka baju sekolahnya dari tangan kanannya, War kelihatannya tetap diam dan malah membantu dengan membengkokkan tangannya. Setelah berhasil melepas baju dari tangan kanannya, segera kucari kaitan BH-nya di belakang dan dengan mudah kutemukan serta kulepaskan kaitannya, sementara itu kami masih tetap berciuman, kadang dibibir dan sesekali di seluruh wajah bergantian. BH-nya pun dengan mudah kulepas dari tangan kanannya dan ketika kusingkap BH-nya, tersembul buah dada War yang ukurannya tidak terlalu besar tapi menantang dan dengan puting susunya berwarna kecoklatan.

Dan dengan tidak sabar dan sambil meremas pelan payudara kanannya, kuturunkan wajahku menyelusuri leher dan terus ke bawah dan sesampainya di payudaranya, kujilati payudara War yang menantang itu dan sesekali kuhisap puting susunya, sementara War meremas-remas rambutku seraya terdengar suara lirih, “aahh…, aahh…, ooomm…, ssshh…, aahh”. Aku paling tidak tahan kalau mendengar suara lirih seperti ini, serta merta penisku semakin tegang dan kugunakan kesempatan ini sambil tetap menjilati dan menghisap payudara War, kugunakan tangan kananku untuk menelusuri bagian bawah badan War

Ketika sampai di celana dalamnya serta kuelus-elus vaginanya, terasa sekali ada bagian CD yang basah. Sambil masih tetap menjilati payudara War, kugunakan jari tanganku menyusup masuk dari samping CD-nya untuk mencari bibir vaginanya dan ketika dapat dan kuelus, badan War terasa menggelinjang dan membukakan kakinya serta kembali terdengar, “aahh…, ssshh…, ssshh…, aahh”. Aku jadi semakin penasaran saja mendengar suara War mengerang lirih seperti itu. Segera kulepas tanganku yang ada di vaginanya dan sekarang kugunakan untuk mencari kancing atau apapun yang ada di Rok sekolahnya untuk segera kulepas. Untung saja rok sekolah yang dipakai adalah rok standard yaitu ada kaitan sekaligus ritsluiting, sehingga dengan mudah kutemukan dan kubuka kaitan dan ritsluitingnya, sehingga roknya menjadi longgar di badan War.

Lalu perlahan-lahan kuturunkan badanku serta ciumanku menelusuri perut War seraya tanganku berusaha menurunkan roknya. Roknya yang sudah longgar itu dengan mudah kuturunkan ke arah kakinya dan kuperhatikan War mengenakan CD warna merah muda dan kulihat juga vaginanya yang menggunung di dalam CD-nya.

Badan War menggelinjang saat ciumanku menelusuri perut dan pada saat ciumanku mencapai CD di atas gunungan vaginanya, gelinjang badan War semakin keras dan pantatnya seakan diangkat serta tetap kudengar suaranya yang lirih sambil meremas-remas rambutku agak keras serta sesekali memanggil, “ssshh…, aahh…, ssshht…, ooom…, aahh”. Sambil kujilati lipatan pahanya, kuturunkan CD-nya perlahan-lahan dan setelah setengahnya terbuka, kuperhatikan vagina War masih belum banyak ditumbuhi bulu sehingga terlihat jelas belahan vaginanya dan basah.

Setelah berhasil melepas CD-nya dari kedua kaki War yang masih menjulur di lantai, kuposisikan badanku diantara kedua paha War sambil merenggangkan kedua pahanya. Dengan pelan-pelan kujulurkan lidahku dan kujilati belahan vaginanya yang agak terbuka akibat pahanya kubuka agak lebar. Bersamaan dengan jilatanku itu, tiba-tiba War bangun dari tidurnya dan berkata, “Jaa…, ngaan…, Ooom”, sambil mencoba mengangkat kepalaku dengan kedua tangannya.

Karena takut War akan marah, maka dengan terpaksa aku bangkit dan kupeluk War serta berusaha menidurkannya lagi sambil kucium bibirnya untuk menenangkan dirinya. War tidak memberikan komentar apa-apa, tapi kami kembali berciuman dan War sepertinya lebih bernafsu dari sebelumnya dan lebih agresif menciumi seluruh wajahku. Sementara itu tanganku kugunakan untuk melepas baju dan BH War yang sebelah dan yang tadi belum sempat kulepas, War sepertinya mendiamkan saja, malah sepertinya membantuku dengan memiringkan badannya agar bajunya mudah kulepas. Sambil tetap berciuman, sekarang aku berusaha untuk melepas baju dan celanaku sendiri.

Setelah aku berhasil melepas semua pakaianku termasuk CD-ku, lalu dengan harap-harap cemas karena aku takut War akan menolaknya, aku menempatkan diriku yang tadinya selalu di samping kiri atau kanan badan War, sekarang aku naik di atas badan War. Perkiraanku ternyata salah, setelah aku ada di atas badan War, ternyata dia malah memelukkan kedua tangannya di punggungku sambil sesekali menekan-nekan. Dalam posisi begini, terasa penisku agak sakit karena tertindih di antara badanku dan paha War. Karena tidak tahan, segera kuangkat kaki kananku untuk mencari posisi yang nikmat, tapi bersamaan dengan kakiku terangkat, kurasakan War malah merenggangkan kedua kakinya agak lebar, tentu saja kesempatan ini tidak kusia-siakan, segera saja kutaruh kedua kakiku di bagian tengah kedua kakinya yang dilebarkan itu dan sekarang terasa penisku berada di atas vagina War. War masih memelukkan kedua tangannya di punggungku dan meciumi seluruh wajahku.

Sambil masih tetap kujilat dan ciumi seluruh wajahnya, kuturunkan tanganku ke bawah dan sedikit kumiringkan badanku, perlahan-lahan kuelus vagina War yang menggembung dan setelah beberapa saat lalu kupegang bibir vaginanya dengan jariku dan kurasakan kedua tangan War serasa mencekeram di punggungku dan ketika jari tengahku kugunakan untuk mengelus bagian dalam vaginanya, terasa vagina War sangat basah dan kurasakan badan bawah War bergerak perlahan-lahan sepertinya mengikuti gerakan jari tanganku yang sedang mengelus dan meraba bagian dalam vaginanya dan sesekali kupermainkan clitorisnya dengan jari-jariku sehingga War sering berdesis, “Ssshh…, ssshh…, aahh…, ssshh”, sambil kurasakan jari kedua tangannya menusuk punggungku.

Setelah sekian lama kupernainkan vaginanya dengan jariku, kemudian kulepaskan jariku dari vagina War dan kugunakan tangan kananku untuk memegang penisku serta segera saja penisku kuarahkan ke vagina War sambil kugosok-gosokan ke atas dan ke bawah sepanjang bagian dalam vagina War, serta kembali kudengar desis suaranya, “ssshh…, ssshh…, ooom…, aahh…, ssshh”, dan pantatnya diangkat naik turun pelan-pelan. Karena kulihat War sudah sangat terangsang nafsunya, segera saja kuhentikan gerakan tanganku dan kutujukan penisku ke arah bawah bagian vaginanya dan setelah kurasa pas, segera kulepaskan tanganku dan kutekan pelan-pelan penisku k edalam vagina War.

Kuperhatikan wajah War agak mengerenyit seperti menahan rasa sakit serta menghentikan gerakan pantatnya serta bersuara pelan tepat di dekat telingaku, “Aduuuhh…, ooomm…, Jangaannn…, sakiiittt…, Asiihh.., takuuut., Oom”. Mendengar suaranya yang sedikit menghiba itu, segera kuhentikan tusukan penisku dan kuelus-elus dahinya sambil kucium telinganya serta kubisikan, “Tidak…, apa-apa…, sayaang…, Oom…, pelan-pelan saja…, kok”, untuk menenangkan ketakutan War. War tidak segera menanggapi kata-kataku dan tetap diam saja dengan tetap masih memelukkan kedua tangannya di punggungku.

Karena dia diam saja dan memejamkan kedua matanya, segera secara perlahan-lahan, kutusukan kembali penisku ke dalam vaginanya dan terdengar lagi War berkata lirih di dekat telingaku, “Aduuuhh…, sakiiittt…, ooom…, Asihh.., takuuut”, padahal kurasakan kalau War mulai lagi menggerakkan pantatnya perlahan-lahan.

Mendengar kata-katanya yang lirih ini, kembali kuhentikan tusukan penisku tapi masih tetap ditempatnya yaitu di lubang vaginanya, dan kembali kuciumi bibir dan wajahnya serta kuelus-elus rambutnya sambil kubisiki, “Takut apa sayang..”. War tidak segera menjawab pertanyaanku itu. Sambil menunggu jawabannya, kuteruskan ciumanku di bibirnya dan War mulai lagi melayani ciumanku itu dengan memainkan lidahku yang kujulurkan ke dalam mulutnya dan kurasakan War mulai memindahkan kedua tangannya dari punggung ke atas pantatku. Aku tetap bersabar menunggu dan tidak terburu-buru untuk menusukkan penisku lagi. Tetap dengan masih menghisap lidahku, kurasakan kedua tangan War sedikit menekan pantatku, entah perintah supaya aku menusukkan penisku ke vaginanya atau hanya perasaanku saja.

Sementara aku diamkan saja dan dengan masih berciuman, kutunggu reaksi War selanjutnya. Ketika ciumanku kualihkan ke daerah dekat telinganya, kulihat War berusaha mengelak mungkin karena kegelian dan kembali kurasakan kedua tangannya seperti menekan pantatku. Lalu kembali kulumat bibirnya dan perlahan tapi pasti, kembali kutekan penisku ke dalam liang kewanitaannya, tapi War tidak kuberi kesempatan untuk berkata-kata karena mulutnya kusumpal dengan mulutku dan penisku makin kutekankan ke dalam vaginanya serta kulihat mata War menutup rapat-rapat seperti menahan sakit.

Karena penisku belum juga menembus vaginanya, lalu sedikit kuangkat pantatku dan kembali kutusukkan ke dalam vagina War dan, “Bleeesss”, terasa penisku sepertinya sudah menembus vagina War dan, “aahh…, sakiiit…, ooom

Ketika sampai di celana dalamnya serta kuelus-elus vaginanya, terasa sekali ada bagian CD yang basah. Sambil masih tetap menjilati payudara War, kugunakan jari tanganku menyusup masuk dari samping CD-nya untuk mencari bibir vaginanya dan ketika dapat dan kuelus, badan War terasa menggelinjang dan membukakan kakinya serta kembali terdengar, “aahh…, ssshh…, ssshh…, aahh”. Aku jadi semakin penasaran saja mendengar suara War mengerang lirih seperti itu. Segera kulepas tanganku yang ada di vaginanya dan sekarang kugunakan untuk mencari kancing atau apapun yang ada di Rok sekolahnya untuk segera kulepas. Untung saja rok sekolah yang dipakai adalah rok standard yaitu ada kaitan sekaligus ritsluiting, sehingga dengan mudah kutemukan dan kubuka kaitan dan ritsluitingnya, sehingga roknya menjadi longgar di badan War.

Lalu perlahan-lahan kuturunkan badanku serta ciumanku menelusuri perut War seraya tanganku berusaha menurunkan roknya. Roknya yang sudah longgar itu dengan mudah kuturunkan ke arah kakinya dan kuperhatikan War mengenakan CD warna merah muda dan kulihat juga vaginanya yang menggunung di dalam CD-nya.

Badan War menggelinjang saat ciumanku menelusuri perut dan pada saat ciumanku mencapai CD di atas gunungan vaginanya, gelinjang badan War semakin keras dan pantatnya seakan diangkat serta tetap kudengar suaranya yang lirih sambil meremas-remas rambutku agak keras serta sesekali memanggil, “ssshh…, aahh…, ssshht…, ooom…, aahh”. Sambil kujilati lipatan pahanya, kuturunkan CD-nya perlahan-lahan dan setelah setengahnya terbuka, kuperhatikan vagina War masih belum banyak ditumbuhi bulu sehingga terlihat jelas belahan vaginanya dan basah.

Setelah berhasil melepas CD-nya dari kedua kaki War yang masih menjulur di lantai, kuposisikan badanku diantara kedua paha War sambil merenggangkan kedua pahanya. Dengan pelan-pelan kujulurkan lidahku dan kujilati belahan vaginanya yang agak terbuka akibat pahanya kubuka agak lebar. Bersamaan dengan jilatanku itu, tiba-tiba War bangun dari tidurnya dan berkata, “Jaa…, ngaan…, Ooom”, sambil mencoba mengangkat kepalaku dengan kedua tangannya.

Karena takut War akan marah, maka dengan terpaksa aku bangkit dan kupeluk War serta berusaha menidurkannya lagi sambil kucium bibirnya untuk menenangkan dirinya. War tidak memberikan komentar apa-apa, tapi kami kembali berciuman dan War sepertinya lebih bernafsu dari sebelumnya dan lebih agresif menciumi seluruh wajahku. Sementara itu tanganku kugunakan untuk melepas baju dan BH War yang sebelah dan yang tadi belum sempat kulepas, War sepertinya mendiamkan saja, malah sepertinya membantuku dengan memiringkan badannya agar bajunya mudah kulepas. Sambil tetap berciuman, sekarang aku berusaha untuk melepas baju dan celanaku sendiri.

Setelah aku berhasil melepas semua pakaianku termasuk CD-ku, lalu dengan harap-harap cemas karena aku takut War akan menolaknya, aku menempatkan diriku yang tadinya selalu di samping kiri atau kanan badan War, sekarang aku naik di atas badan War. Perkiraanku ternyata salah, setelah aku ada di atas badan War, ternyata dia malah memelukkan kedua tangannya di punggungku sambil sesekali menekan-nekan. Dalam posisi begini, terasa penisku agak sakit karena tertindih di antara badanku dan paha War. Karena tidak tahan, segera kuangkat kaki kananku untuk mencari posisi yang nikmat, tapi bersamaan dengan kakiku terangkat, kurasakan War malah merenggangkan kedua kakinya agak lebar, tentu saja kesempatan ini tidak kusia-siakan, segera saja kutaruh kedua kakiku di bagian tengah kedua kakinya yang dilebarkan itu dan sekarang terasa penisku berada di atas vagina War. War masih memelukkan kedua tangannya di punggungku dan meciumi seluruh wajahku.

Sambil masih tetap kujilat dan ciumi seluruh wajahnya, kuturunkan tanganku ke bawah dan sedikit kumiringkan badanku, perlahan-lahan kuelus vagina War yang menggembung dan setelah beberapa saat lalu kupegang bibir vaginanya dengan jariku dan kurasakan kedua tangan War serasa mencekeram di punggungku dan ketika jari tengahku kugunakan untuk mengelus bagian dalam vaginanya, terasa vagina War sangat basah dan kurasakan badan bawah War bergerak perlahan-lahan sepertinya mengikuti gerakan jari tanganku yang sedang mengelus dan meraba bagian dalam vaginanya dan sesekali kupermainkan clitorisnya dengan jari-jariku sehingga War sering berdesis, “Ssshh…, ssshh…, aahh…, ssshh”, sambil kurasakan jari kedua tangannya menusuk punggungku.

Setelah sekian lama kupernainkan vaginanya dengan jariku, kemudian kulepaskan jariku dari vagina War dan kugunakan tangan kananku untuk memegang penisku serta segera saja penisku kuarahkan ke vagina War sambil kugosok-gosokan ke atas dan ke bawah sepanjang bagian dalam vagina War, serta kembali kudengar desis suaranya, “ssshh…, ssshh…, ooom…, aahh…, ssshh”, dan pantatnya diangkat naik turun pelan-pelan. Karena kulihat War sudah sangat terangsang nafsunya, segera saja kuhentikan gerakan tanganku dan kutujukan penisku ke arah bawah bagian vaginanya dan setelah kurasa pas, segera kulepaskan tanganku dan kutekan pelan-pelan penisku k edalam vagina War.

Kuperhatikan wajah War agak mengerenyit seperti menahan rasa sakit serta menghentikan gerakan pantatnya serta bersuara pelan tepat di dekat telingaku, “Aduuuhh…, ooomm…, Jangaannn…, sakiiittt…, Asiihh.., takuuut., Oom”. Mendengar suaranya yang sedikit menghiba itu, segera kuhentikan tusukan penisku dan kuelus-elus dahinya sambil kucium telinganya serta kubisikan, “Tidak…, apa-apa…, sayaang…, Oom…, pelan-pelan saja…, kok”, untuk menenangkan ketakutan War. War tidak segera menanggapi kata-kataku dan tetap diam saja dengan tetap masih memelukkan kedua tangannya di punggungku.

Karena dia diam saja dan memejamkan kedua matanya, segera secara perlahan-lahan, kutusukan kembali penisku ke dalam vaginanya dan terdengar lagi War berkata lirih di dekat telingaku, “Aduuuhh…, sakiiittt…, ooom…, Asihh.., takuuut”, padahal kurasakan kalau War mulai lagi menggerakkan pantatnya perlahan-lahan.

Mendengar kata-katanya yang lirih ini, kembali kuhentikan tusukan penisku tapi masih tetap ditempatnya yaitu di lubang vaginanya, dan kembali kuciumi bibir dan wajahnya serta kuelus-elus rambutnya sambil kubisiki, “Takut apa sayang..”. War tidak segera menjawab pertanyaanku itu. Sambil menunggu jawabannya, kuteruskan ciumanku di bibirnya dan War mulai lagi melayani ciumanku itu dengan memainkan lidahku yang kujulurkan ke dalam mulutnya dan kurasakan War mulai memindahkan kedua tangannya dari punggung ke atas pantatku. Aku tetap bersabar menunggu dan tidak terburu-buru untuk menusukkan penisku lagi. Tetap dengan masih menghisap lidahku, kurasakan kedua tangan War sedikit menekan pantatku, entah perintah supaya aku menusukkan penisku ke vaginanya atau hanya perasaanku saja.

Sementara aku diamkan saja dan dengan masih berciuman, kutunggu reaksi War selanjutnya. Ketika ciumanku kualihkan ke daerah dekat telinganya, kulihat War berusaha mengelak mungkin karena kegelian dan kembali kurasakan kedua tangannya seperti menekan pantatku. Lalu kembali kulumat bibirnya dan perlahan tapi pasti, kembali kutekan penisku ke dalam liang kewanitaannya, tapi War tidak kuberi kesempatan untuk berkata-kata karena mulutnya kusumpal dengan mulutku dan penisku makin kutekankan ke dalam vaginanya serta kulihat mata War menutup rapat-rapat seperti menahan sakit.

Karena penisku belum juga menembus vaginanya, lalu sedikit kuangkat pantatku dan kembali kutusukkan ke dalam vagina War dan, “Bleeesss”, terasa penisku sepertinya sudah menembus vagina War dan, “aahh…, sakiiit…, ooom….”, kudengar suara War sambil seperti menahan rasa sakit dan berusaha menarik pantatku. Untuk sementara tidak kugerakkan pantatku dan setelah kulihat War mulai tenang dan kembali mau menciumi wajahku, lalu perlahan-lahan kutekan penisku yang sudah menembus vaginanya supaya masuk lebih dalam lagi

“aahh…, oom…, pelan…, pelaan..”, kudengar War berkata lirih.
“Iyaa…, sayaang…, ooom pelah-pelan”, jawabku serta kubelai rambutnya. Setelah kudiamkan sebentar, lalu kugerakkan pantatku naik turun sangat pelan agar War tidak merasa kesakitan, dan ternyata berhasil, wajah War keperhatikan tidak tegang lagi sehingga pergerakan penisku keluar masuk vagina War sedikit kupercepat dan belum berapa lama terdengar suara War, “ooom…, ooom…, aaduuuhh…, ooomm…, aahh”, sambil kedua tangannya mencengkeram punggungku dengan kuat dan menciumi keseluruhan wajahku dengan sangat bernafsu dan badannya berkeringat, lalu War berteriak agak keras, “aahh…, ooomm…, aduuuhh..”, lalu War terkapar dan terdiam lemas dengan nafas terengah-engah. Rupanya Aku yakin kalau War sudah mencapai orgasmenya padahal nafsuku baru saja akan naik. Karena kulihat War sepertinya sedang kelelahan dengan kedua matanya tertutup rapat, jadi timbul rasa kasihanku, lalu sambil kuseka keringat wajahnya kuciumi pipi dan bibirnya dengan lembut, tapi War tidak bereaksi dan tanpa kuduga di gigitnya bibirku yang sedang menciumnya seraya berkata lirih, “ooom…, nakal…, yaa, War baru sekali ini merasakan hal seperti tadi”, sambil mencubit punggungku. Aku tidak menjawab komentarnya tapi yang kuperhatikan adalah nafasnya sudah mulai teratur dan secara perlahan-lahan aku mulai menggerakkan penisku lagi keluar masuk vagina War.

Kuperhatikan War mulai terangsang lagi, War mulai menghisap bibirku dan mulai mencoba menggerakkan pantatnya pelan-pelan dan gerakannya ini membuat penisku seperti di pelintir keenakan. Gerakan penisku keluar masuk semakin kupercepat dan demikian juga War mulai makin berani mempercepat gerakan putaran pantatnya, sambil sesekali kedua tangannya yang dipelukkan dipinggangku berusaha menekan sepertinya menyuruhku untuk memasukkan penisku ke dalam vaginanya lebih dalam lagi dan kudengar War mulai bersuara lagi…, “aahh…, aahh…, ooohh…, oomm…, aah”, dan tidak terasa akupun mulai berkicau, “aacchh…, aahh…, Siiihh…, enaakk…, teruuus…, Siiih”. Ketika nafsuku sudah mulai memuncak dan kudengar juga nafas War semakin cepat, dengan perlahan-lahan kupeluk badan War dan segera kubalik badannya sehingga sekarang War sudah berada di atasku dan kupelukkan kedua tanganku di pantatnya, sedangkan wajah War ditempelkan di wajahku. Dengan sedikit makan tenaga, kucoba menggerakkan pantatku naik turun dan setiap kali pantatku naik, kugunakan kedua tanganku menekan pantat War ke bawah dan bisa kurasakan kalau penisku masuk lebih dalam di vagina War, sehingga setiap kali kudengar suaranya sedikit keras, “aahh…, oooh”. Dan mungkin karena keenakan, sekarang gerakan War malah lebih berani dengan menggerakkan pantatnya naik turun sehingga kedua tanganku tidak perlu menekannya lagi dan setiap kali pantatnya menekan ke bawah sehingga penisku serasa masuk semuanya di vagina War, kudengar dia bersuara keenakan, “Aahh…, aah disertai nafasnya yang semakin cepat, demikian juga aku sambil berusaha menahan agar maniku tidak segera keluar.

Gerakan War semakin cepat saja dan kurasakan wajahnya semakin ditekankan ke wajahku sehingga kudengar nafasnya yang sangat cepat itu di dekat telingaku dan, “Aduuuh…, aahh…, aahh…, ooomm.., War…, mauuu.., keluaar…, aah”.
“Tungguuu…, Waarrr.., kitaa…, samaa…, samaa., ooom.., Jugaa.., mauuu…, keluarr”.
“aahh…, aahh…, ooomm”, teriak War sambil mengerakkan pantatnya menggila dan akupun karena sudah tidak tahan menahan maniku dari tadi segera kegerakkan pantatku lebih cepat dan, “Crreeettt…, ccrreeett…, ccccrrreeett…, dan “aahh…, siiihh…, ooom keluaar”, sambil kutekan pantat War kuat-kuat.

Setelah beristirahat sebentar, kuajak War ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan War kembali menjatuhkan badannya di tempat tidur, mungkin masih merasakan kelelahan. Tak terasa jam sudah menunjukkan hampir jam 12 siang dan segera saja kupesan makan siang.
Share:

Kamis, 30 Maret 2017

Cucu Ibu Kost


Aqu akrab dengan Cecyl karena ia adalah cucu dari ibu kostku. Cecyl lebih tua 2 taun dan dia anak Surabaya, sedang study di Bandung cuma beda universitas denganku. Yg aqu tau, kedua orangtuanya sudah pisah ranjang selama dua taun (tapi tak bercerai) dan Cecyl turut tinggal bersama Eyangnya (ibu kostku) ketika ia masuk study.Mungkin terlalu panjang kalau kuceritakan bagaimana prosesnya sampai kita berpacaran.

Aqu beruntung punya perempuan seperti dia yg wajahnya sangat menawan (pernah dia ditawarin untuk menjadi model), segala yg diidamkan lelaki melekat pada dia. Kulitnya yg putih, hidung mancung, matanya yg indah dan bening, rambut ikal serta badannya yg padat.. Aqu juga tak tau mengapa ibu kost menerimaqu untuk nge-kost dirumahnya padahal yg kost di rumahnya adalah perempuan semua.

Mungkin karena ngeliat tampangku seperti orang baik-baik kali ya (hehehe)…Pada awal kita berpacaran , Cecyl termasuk pelit untuk urusan mesra-mesraan. Jangankan untuk berciuman, minta pegang tangannya saja sulitnya minta ampun! Padahal aqu termasuk orang yg hypersex, dan aqu sering kali melaqukan onani untuk melampiaskan hasrat sexku, sampai sekarang. Aqu bisa melaqukan onani sampai tiga kali sehari.

Setiap kali fantasi dan hasrat sexku datang, pasti kulaqukan kebiasaan jelekku itu. Entah dikamar mandi menggunakan sabun, sambil melihat VCD dewasa dan seringnya sambil tiduran telungkup di atas kasur sambil kugesek-gesekkan kemaluanku. Aqu merasakan nikmat setiap klimaks onani.Back to story, sejak aqu dan Cecyl resmi jadian, baru dua minggu kemudian dia mau kukecup pipinya. Itu pun setelah melalui perdebatan yg panjang, akhirnya ia mau juga kukecup pipinya yg mulus itu, dan aqu selalu ingin merasakan dan mengecup lagi sejak ketika itu.

Sampai pada suatu malam, ketika waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh, aqu, Cecyl dan Deasy (anak kost yg lain) masih asyik memelihat TV di ruang tengah. Sedangkan ibu kostku serta 3 anak kost yg lain sudah pergi tidur.

Kita bertiga duduk diatas permadani yg terhampar di ruang tengah. Deasy duduk di depan sedangkan aqu dan Cecyl duduk agak jauh dibelakangnya. Lampu neon yg menyinari ruangan selalu kita matikan kalau sedang memelihat TV.

Biar tak silau kena mata maksudnya. Atau mungkin juga demi menghemat listrik. Yg jelas, cahaya dari TV agak begitu samar dan remang-remang.

Deasy masih asyik memelihat dan Cecyl yg disampingku ketika itu cuma mengenakan kaos ketat dan rok mini matanya masih konsen memelihat filem tersebut. Sesekali ketika pandangan Deasy tertuju pada TV, tanganku iseng-iseng memeluk pinggang Cecyl. Entah Cecyl terlalu memperhatikan filem sampai tangannya tak menepis ketika tanganku memeluk badannya yg padat.

Dia malah memegang rambutku, dan membiarkan kepalaqu bersandar di pundaknya. Terkadang kalau pas iklan, Cecyl pura-pura menepiskan tanganku agar perbuatanku tak dilihat Deasy. Dan ketika filem diputar lagi, kulingkarkan tanganku kembali.

“I love you, honey….” Bisikku di telinganya.Cecyl menoleh ke arahku dan tanpa sepengetauan Deasy, ia mendaratkan kecupannya ke pipiku. Oh my God, baru pertama kali aqu dikecup seorang perempuan, tanpa aqu minta pula. Situasi seperti ini mendadak membuat pikiranku jadi ngeres apalagi ketika Cecyl meremas tanganku yg ketika itu masih melingkar di pinggangnya, dan matanya yg sayu sekilas menoleh ke arah Deasy yg masih nongkrong di depan TV.

Aman, pikirku. Apalagi ditambah ruangan yg cuma mengandalkan dari cahaya Tv, maka sesekali tanganku meremas buah dada Cecyl.Cecyl menggelinjang, sesekali menahan nafas. Lutut kanannya ditekuk, sampai ketika tangan kiriku masuk ke dalem daster bagian bawah yg agak terbuka dari tadi, sama sekali tak diketaui Deasy. Mungkin ia konsen dengan filem, atau mungkin juga ia sudah ngantuk karena kulihat dari tadi sesekali ia mengangguk seperti orang ketiduran.Kecupanku kini sedikit menggelora, menelusuri leher Cecyl yg putih mulus sedangkan tangan kiriku menggesek-gesekkan perlahan kemaluan Cecyl yg masih terbungkus celana dalem. Ia mendesah dan mukanya mendongak ke atas ketika kurasakan celana dalemnya mulai basah dan hangat.

Mungkin ia merasakan kenikmatan, pikirku.Tanganku yg mulai basah oleh cairan kemaluan Cecyl buru-buru kutarik dari dalem roknya, ketika mendadak Deasy bangkit dan melihat ke arah kita berdua. Kita bersikap seolah sedang konsen melihat juga.

“Aqu ngantuk. Tidur duluan ya….. nih remote-nya!” ujar Deasy sambil menyerahkan remote TV pada Cecyl.Deasy kemudian masuk ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalem. Aqu yg tadi agak gugup, bersorak girang ketika Deasy cuma pamitan mau tidur.

Aqu pikir dia setaknya mengetaui perbuatanku dengan Cecyl. Bisa mati aqu. Cecyl yg sejak tadi diem (mungkin karena gugup juga) matanya kini tertuju pada TV. Aqu tau dia juga pura-pura melihat, maka ketika badannya kupeluk dan bibirnya kukecup dia malah membalas kecupanku.

“Kita jangan disini Say, nanti ketauan….” Bisiknya diantara kecupan yg menggelora.Segera kubimbing tangan Cecyl bangkit, setelah mematikan TV dan mengunci kamar Cecyl, kuajak dia ke kamar sebelah yg kosong. Disini tempatnya aman karena setiap yg akan masuk ke kamar ini harus melalui pintu belakang atau depan.Jalan kita berjingkat supaya orang lain yg telah tertidur tak mendengar langkah-langkah kita atau ketika kita membuka dan menutup kunci dan pintu kamar tengah dengan perlahan.Setelah kukunci dari dalem dan kunyalakan lampu kamar kuhampiri Cecyl yg telah duduk di tepi ranjang.

“Aqu cinta kamu, Cecyl…..” ujarku ketika aqu telah duduk disampingnya.Mata Cecyl menatapku lekat.. Sejenak kulumat bibirnya perlahan dan Cecyl pun membalas membuat lidah kita saling beradu.Nafas kita kembali makin memburu menahan rangsangan yg kian menggelora. Desahan bibirnya yg tipis makin mengundang birahi dan hasratku. Kuturunkan kecupanku ke lehernya dan tangannya menarik rambutku. Nafasnya mendesah.

Aqu tau dia sudah terangsang, lalu kulepaskan kaosnya.Buah dadanya yg padat berisi ditutupi BH berwarna merah tua. Betapa putih kulitnya, mulus tak ada cacat. Kemudian bibir kita pun berkecupan kembali sedangkan tanganku sibuk melepaskan tali pengikat BH, dan seketika kemudian kedua buah dadanya yg telah mengeras itu kini tanpa ditutupi kain sehelai pun.Kuusap kedua pentilnya, dan Cecyl pun tersenyum manja.

“Ayo Yan, laqukanlah….” Ujarnya.Tak kusia-siakan kesempatan ini, dan mulai kujilati buah dadanya bergantian. Sedangkan tangan Cecyl membantu tanganku melepaskan kemeja yg masih kukenakan. Kukecup pentilnya sampai dadanya basah mengkilap. Betapa beruntungnya aqu bisa menikmati semua yg ada dibadannya. Tangan kananku yg nakal mulai merambah turun masuk ke dalem roknya, dan kugesek-gesekkan pelan di bibir kemaluannya. Cecyl menggelinjang menahan nikmat, sesekali tangannya juga turut digesek-gesekkan kesekitar kemaluannya sendiri.Bibirnya mendesah menahan kenikmatan.

Matanya terpejam, Sebentar kemudian kemaluannya mulai sedit basah. Dan kita pun mulai melepaskan celana kita masing-masing sampai badan kita nyata-nyata polos. Betapa indahnya badan Cecyl, apalagi ketika kulihat kemaluannya yg terselip diantara kedua selangkangannya yg putih mulus.

“Wah.. punyamu oke Cecyl, Ok’s banget…” ujarku terpanaBegitu mulus memang,ditambah dengan bulu-bulu lebat disekitar bagian sensitifnya.

“Burungmu juga besar dan bertenaga. Aqu suka Yan….” Balasnya sambil tangannya mencubit pelan kemaluanku yg sudah tegak dari tadi.

“Come on Honey….” Pintanya menggoda.Aqu tau Cecyl sudah begitu terangsang maka kemudian kusuruh Cecyl berbaring di atas kasur. Dan aqu baringkan badanku terbalik, kepalaqu berada di kakinya dan sebaliknya(posisi 69). Kukecup ujung kakinya pelan dan kemudian kecupanku menuju hutan lebat yg ada diantara kedua selangkangannya. Kukecup pelan bibir kemaluannya yg sudah basah, kujilat klitorisnya sedangkan mulut Cecyl sibuk mengocok-ngocok kemaluanku.Bibir kemaluannya yg merah itu kulumat habis tak tersisa.

Ehm, betapa nikmatnya punyamu Cecyl, pikirku. Kecupanku terus menikmati klitoris Cecyl, sampai sekitar kemaluannya makin basah oleh cairan yg keluar dari kemaluannya.Kedua jari tanganku aqu coba masukkan lubang kemaluannya dan kurasakan nafas Cecyl mendesah pelan ketika jariku kutekan keluar masuk.

“Ahh… nikmat Yannn…ahhhh…” erangnya.Kugesek-gesekkan kedua jariku diantara bibir klitorisnya dan Cecyl makin menahan nikmat. Selang 5 menit kemudian kuhentikan gesekkan tanganku, dan kulihat Cecyl sedikit kecewa ketika aqu menghentikan permainan jariku.

“Jangan sedih Say, aqu masih punya permainan yg menarik, okay?”

“Oke. Sekarang aqu yg mengatur permainan ya?” ujarnya.Aqu mengangguk.Jujur saja, aqu lebih suka kalau perempuan yg agresif.Cecyl pun bangkit, dan sedangkan badanku masih terbaring di atas kasur.

“Aqu di atas, kamu dibawah, okay? Tapi kamu jangan nusuk dulu ya Say?”Tanpa menunggu jawabanku badan Cecyl menindih badanku dan tangan kanannnya membimbing kemaluanku yg telah berdiri tegak sejak tadi dan blessss…….ah,Cecyl merasa bahagia ketika seluruh kemaluanku menembus kemaluannya dan terus masuk dan masuk menuju lubang kenikmatan yg paling dalem. Dia mengoyg-goygkan pantatnya dan sesekali gerakannya memutar, bergerak mundur maju membuat kemaluanku yg tertanam bergerak bebas menikmati ruang dalem “gua”-nya.Cecyl mendesah setiap kali pantatnya turun naik, merasakan peraduan dua senjata yg telah terbenam di dalem surga.

Tanganku meremas kedua buah dada Cecyl yg tadi terus menggelayut manja. Rambutnya dibiarkan tergerai diterpa angin dingin yg terselip diantara kehangatan malam yg kita rasakan ketika ini. Kubiarkan Cecyl terus menikmati permainan ini. Ketika dia asyik dengan permainannya kulingkarkan tanganku dipinggangnya dan kuangkat badanku yg terbaring sejak tadi kemudian lidah kita pun beradu kembali.

“Andainya kita terus bersama seperti ini, betapa bahagianya hidupku ini Cecyl ” bisikku pelan

“Aqu juga, dan ku berharap kita selalu bersama selamanya..”Sepuluh menit berlalu, kulihat gesekan pinggang Cecyl mulai lemah. Aqu tau kalau dia mulai kecapekan dan aqu yg mengambil inisiatif serangan. Kutekan naik turun pinggangku, sedangkan Cecyl tetep bertahan diem. Dan suara cep-clep-clep… setiap kali kemaluanku keluar masuk kemaluannya.

“Ahh terusss Yannnnn….terusss…nikmattttt…ahh…ahhhh….” cuma kalimat itu yg keluar dari mulut Cecyl, dan aqu pun makin menggencarkan seranganku.Ingin kulibas habis semua yg ada dalem kemaluannya. Suara ranjang berderit, menambah hot permainan yg sedang kita laqukan. Kutarik badan Cecyl tanpa melepaskan kemaluanku yg sedang berlabuh dalem kemaluannya dan kusuruh dia berdiri agar kita melaqukan gerakan sex sambil berdiri.

“Kamu punya banyak style ya say?” katanya menggoda.

“Iya dong, demi kepuasan kamu juga” jawabku sambil mulai menggesek-gesekan kemaluanku kembali.

“Ahh teruss…terusss……” desah Cecyl ketika kemaluanku berulang kali menerobos kemaluannya.Kupeluk badan Cecyl erat sedangkan jari tangan kirinya membelai lembut bulu-bulu kemaluannya, dan sesekali membantu kemaluanku masuk kembali setiap kali terlepas. Keringat membasahi badan kita. Lehernya yg mulus kukecup pelan, sedangkan nafas kita mulai berdegup kencang.

“Yan, keteteran nih, mau klimaks. Jangan curang dong….”

“Oke, tahan dulu Cecyl” dan kucabut gagang kemaluanku yg telah basah sejak tadi.Kusuruh Cecyl nungging di ranjang, sedangkan tanganku mengarahkan kemaluanku yg telah siap masuk kembali. Dan kumasukkan sedikit demi sedikit sampai kemaluanku ambles semua ke dalem surga yg nikmat.

“Ah…tekan Yan…enaaaakkkkk…terusssss Yannn….” Erangnya manja setiap kali kemaluanku menari-nari di dalem kemaluannya.Tanganku memegang pinggangnya agar gerakanku teratur dan kemaluanku tak terlepas,.

“Ohh…nikmat sekali Yan….teruss….terusss……” desahnya.Betapa nikmatnya ketika-ketika seperti ini…dan terus kuulang sedangkan mulut kita mendesah merasakan kenikmatan yg teramat sangat setiap kali kemaluanku mempermaikan kemaluannya.

“Yan….aqu mo keluar nih…..udah gag tahan….ahhh….ahhhh….” ujar Cecyl mendadak.

“Tahan Cyl, aqu juga hampir sampai….” aqu menekan-nekan kemaluanku kian cepat,sesampai suara ranjang turut berderit cepat.Dan kurasakan otot-otot kemaluanku mengejang keras dan cairan air maniqu berkumpul dalem satu titik.

“Aqu keluar sekarang Cin….” kemaluanku kucabut dari lubang kemaluannya dan Cecylpun seketika membalikkan badan dan menjulurkan lidahnya, mengocok-ngocok gagang kemaluanku yg kemerahan dan ketika kurasakan aqu tak mampu menahan lagi kutaruh kemaluanku diantara kedua belah buah dadanya dan kedua tangan Cecyl pun menggesek-gesekkan buah dadanya yg menjepit gagang kemaluanku dan….croott…crooottt… air maniqu jatuh disekitar dada dan lehernya Sebagian tumpah diatas sprei.

Cecyl menjilati kemaluanku membersihkan sisa-sisa air maniqu yg masih ada.

“Kamu ternyata kuat juga Say, aqu hampir tak berdaya dihadapanmu” kubelai rambut Cecyl yg sudak acak-acakan tak karuan.

“Aqu juga gag nygka kamu sehebat ini Yan….”desahnya manja .Waktu sudah menunjukkan setengah satu malam Dan setelah kita istirahat sekitar lima belas menit, kita memakai pakaian kita kembali dan membereskan tempat tidur yg sudah berantakan. Dan tak lama kemudian kita pun pergi tidur dikamar masing-masing melepaskan rasa lelah setelah kita ‘bermain” tadi.Begitulah kisahku dengan Cecyl, setiap hari kita selalu melaqukannya setiap kali kita ingin dan ada kesempatan.

Kita melaqukannya di kamar sebelah kalau malam hari, kamar kostku, atau bahkan dikamar mandi (sambi mandi bareng diketika rumah kost kosong cuma ada kita berdua).Sampai pada suatu hari Cecyl harus pindah ke luar kota turut kedua orang tuanya yg telah berbaikan lagi. Aqu nyata-nyata kehilangan dia, dan ingin kuterus bersamanya. Pernah beberapa kali kususul ke tempatnya yg baru dan kita melaqukannya berkali-kali di hotel tempat kita menginap.Tagagl 27 November 1998, mendadak kuterima surat dari Cecyl yg mengabarkan bahwa ia akan menikah dengan orang yg dipilihkan orang tuanya dan aqu nyata-nyata kehilangan dia…..Sekarang, setiap kali aqu melaqukan masturbasi, fantasiku selalu melayg mengingat ketika-ketika terindah kita melaqukan hubungan sex pertama kali dikamar sebelah itu. Ingin rasanya aqu ulangi ketika-ketika indah itu…
Share:

Rabu, 29 Maret 2017

Cerita Seorang Gadis Warteg


Siang panas di kota T******g bikin aku berkeringat. Jam kerja belum selesai, kuputuskan saja buat pulang ke kamar kost. Sambil menyeka keringat, kudorong masuk motor inventaris kantor ke teras kamar kost. Perut sudah mulai kosong setelah sedari pagi berkeliling meninjau proyek pemerintah yang sedang dikerjakan oleh para pemborong lokal. Maklum, di kota ini pemborong lokal dikenal sedikit nakal jika tdk diawasi.

Dan tugasku mengawasi agar dana pemerintah digunakan dengan benar serta kualitas pekerjaan para pemborong sesuai dengan standar pemerintah. Setelah ganti baju dengan kaus oblong, aku menuju warteg langganan di seberang jalan. Sambil memesan makanan kuperhatikan seorang pegawai baru yang berbodi lumayan montok dengan payudara yang besar. Kulitnya putih dan betis dan lengannya ditumbuhi bulu halus.

“Ada yang baru Mbak Nor?” aku berbasa basi dengan pemilik warteg.
“iya, keponakan dari Brebes, baru datang tadi malam”.
“Namanya siapa mbak?” tanyaku sambil pandanganku tak lepas dari tubuhnya yang ternyata membuatku sedikit bergairah. “Tanti Mas” jawabnya singkat.

Memang bener – bener Tanti pikirku. Sambil menikmati makan siang, pikiranku melayang memikirkan Tanti. Imajinasiku melayang membayangkan aku sedang bergumul dengannya dikasur.

“Mau minum apa mas?” Pertanyaan Tanti membuyarkan mimpiku.
“Es Tawar aja” jawabku singkat.

Pertemuan dengan Tanti membuat aku semakin bersemangat pulang kerja. Singkatnya, karena kedekatanku dengan Mbak Nor sang pemilik warteg, aku berhasil dekat dengan Tanti. Sampai satu hari aku nekat menembaknya saat warteg sedang sepi di malam selasa.

“Tanti, udah punya pacar blm dikampung?” tanyaku membuka pembicaraan.
“Belum mas, emang kenapa?”.
“Gak, nanya aja. Masa gadis secantik Tanti ga punya pacar? bo’ong aja nih!” candaku
“Suer mas, Tanti blm punya pacar. Dulu pernah pacaran. Tapi skrg dah putus”.
“Lho kok putus? Emngnya knp?” tanyaku
“Cowo aku dulu doyan selingkuh.

Baru pacaran sehari dah pcaran lagi sama cewe lain. Dah gitu dia doyan mabok. Kalo udah mabok rese. Suka remes-remes dada aku. Kan aku malu mas”. Wah dah berani curhat nih, pikirku.

“Trus, klo skrg ada cowo yang mau sama Tanti, Tanti mau ga?” tanyaku.
“Emang ada cowo yang mau sama pelayan warteg kaya aku mas?” tanyanya.
“ada” jawabku singkat
“siapa mas?”
“Aku”.
“Ah, mas becanda. Mas kan Pegawe Negri. Ga mungkin mau sama aku. paling juga sebulan aku udah diputusin. atau aku ga dikawin. Makasih mas. Aku ga mau sakit keduakalinya!” jawabnya sambil berlalu.

Aku pun hanya tertegun. Menikmati kegagalan malam ini.

Tapi aku tdk putus asa. Lewat Mbak Nor, kuutarakan perasaan hatiku kepada keponakannya. Mbak Nor pun setuju membantu akau. Katanya Tanti memang udah pantas menikah dan ia ingin ada keluarganya yang bisa mengangkat derajat keluarga Tanti. Sebab dikampungnya, PNS sangat dihormati dan disegani.

Singkatnya, setelah berjuang selama kurang lebih dua bulan, kudapatkan cinta Tanti pada saat acara panggung hibura 17 Agustus di halaman kecamatan. Sambil menikmati musik dangdut alakadarnya, kucoba lagi menyatakan cintaku pada Tanti.

“Tanti, mas benar benar suka sama kamu. Benar-benar cinta dan tdk ada sedikitpun niat untuk melepaskan Tanti. Mungkin saya lebih baik buta daripada lihat Tanti dengan orang lain” kataku menggombal ria.
“Mas, Tanti dah tau dari Bu Lik Nor. Kalo emang mas bener serius sama Tanti. Tanti mau nerima asal dengan syarat mas.”. Hnnnnaaaaaaah, akhirnya ……..
“Syarat apa Tanti? jangankan satu, seribu syarat akan mas penuhi asal Tanti mau menerima cinta Mas.” gombal maNor. “Cuma satu kok mas. Mas jangan pernah menyakiti hati Tanti”.
“Tanti, aku sudah bilang, gak akan pernah menyakiti kamu. Jadi kamu mau nerima mas?” tanyaku.
“Mas terima ga syarat dari Tanti?” dia malah balik tanya.
“Aku terima semua syarat yang kamu berikan. Jadi kamu mau jadi pacar mas?” aku medesaknya.
“Jangankan pacar mas, aku malah sudah siap jadi istri kamu!” Mendadak suara musik dangsut tak terdengar.

Yang terdengar hanya suara jantungku yang berdegup keras, saking senangnya perjuangan aku tak sia-sia. Kuraih bahu Tanti dan ia tdk menolak. kupeluk dia dari samping dan kukecup rambutnya. dan dia melingkarkan tangannya dipinggangku. Resmilah kami jadi sepasang kekasih.

Sejak aku berpacaran dengan Tanti, aku merasa ada perlakuan lain dari Mbak Nor. Ia mulai sering menyuruh Tanti meninggalkan pekerjaannya jika melihat motorku datang. Dan biasanya Tanti menghampiri aku dan cium tangan seperti layaknya seorang istri kpd suaminya. Seperti sore itu, aku pulang kantor tiba-tiba Mbak Nor menghampiriku.

“Mas Adi, Mbak mau ke Depok. Ada saudara yang hajatan. Mungkin Mbak nginep beberapa hari. tlg titip anak-anak di warung ya, soalnya ga ada orang lakinya. Suami Mbak juga ikut”.
“Oke Mbak” jawabku. “jangankan beberapa hari, setahun juga aku mau!” jawabku sambil tersenyum.
“Ya iyalah, kan ada Tanti! Makasih ya mas” Mbak Tanti sambil berlalu.

Malam itu Warteg tutup lebih awal. Sehingga aku punya banyak waktu ngobrol dengan Tanti.

“Mas, ngobrolnya di sana yuk, ga enak dsini. Rame, brisik lagi!” kata Tanti mengajaka aku ngobrol di teras kostan aku.
“Ya udah, tapi tlg buatkan aku kpoi yah!” pintaku sambil berjalan menuju kostan.

Tak lama Tanti menyusul dengan membawa segelas kopi hitam kesukaanku. Malam ini dia terlihat makin seksi dengan kaos ketat kuNor dan celana legging hitam. Kontras dengan kulinya yang putih dan montok. Mulailah pikiran kotor merasuki otakku. Setelah Tanti duduk di depanku, kami melanjutkan obrolan seputar keadaan keluarga kami masing-masing. Sekitar satu jam Tanti terlihat BT.

“Mas boleh numpang nonton TV ga?”
“masuk aja nonton sana, aku masih mau ngroko sambil ngopi” jawabku.

Tanti pun berlalu kedalam dan menyalakan TV. 14″ tuaku.

Stlah sebatang rokok kuhabiskan, kususul Tanti kedalam dan duduk sebelahnya. Tak kukira Tanti langsung merebahkan kepalanya didadaku. Kesempatan nih, pikirku. Kuusap dan kubelai rambunya yang panjang melewati bahu. Tanti nampak menikmati. Kuberanikan diri mengangkat kepalanya dan kukecup lembut bibirnya. Tanti sedikit kaget. Maklum, setelah cintaku diterima, kita hanya sekedar mengobrol. Ga pernah lebih. Namun, ia membalas ciumanku. Malah badannya dihadapkan ke diriku. kamipun berciuman dengan posisi Tanti duduk dipangkuanku. Kuberanikan diri meraba payudaranya. Tanti sedikit menepis tanganku. Tapi aku tak putus asa. kucoba dan kucoba lagi sampai akhirnya Tanti membiarkan tanganku meraba dan mermas lembut payudaranya.

Ciuman Tanti semakin gencar ketika tanganku kucoba menerobos masuk lewat belakang bajunya. Terasa lembut payudara atasnya yang masih terbungkus kutang berenda. Tiba-tiba Tanti bangkit. Yaaaah, ngambek dia., pikirku. Tapi ga kusangka ternyata Tanti bangun untuk menutup pintu dan kembali ke pangkuanku dan meraih kepalaku. Kami lanjutkan kembali pekerjaan yang tertunda tadi. Semakin berani aku meciumi sekujur wajahnya. Nafas Tanti sedikit tersengal ketika kuciumi daerah belakng telinganya.

Kucoba mengangkat kaosnya. Tak ada perlawanan. Kaos Tanti sudah terlpeas dan didepanku terpampang pemandangan indah. Sepasang payudara montok yang putih bersih walau masih terbalut kutang berenda. Kuciumi dengan uas daerah belahan toketnya, dan Tanti nampak menikmatinya. Sambil kupeluk, kucoba melepaskan kait kutang dipunggung Tanti. Berrhasil!!!. Kutang Tanti terlepas dan kuloloskan dari bwah dan Munri melepaskan ciumannya agar kutangnya cepat terlepas. Langsung kujilati pentil susunya yang kemerahan. sementara tanganku meremas toket sebelahnya.

Tanti bergelinjang menahan kegelian dengan nafas yang tersengal-sengal. Nampaknya ia sudah terangsang. Puting susunya semakin maju dan mengncang. Kulepas Bajuku dan kuajak Tanti merebahkan diri sambil terus menjilati, mengulum dan meremas toket yang sudah lama kuidam-idamkan. Tanti semakin bernafsu dengan meremas-remas pantatkusambil mengerang nikmat. Kucoba meraba selangkangannya dan Tanti agak menolak dengan merapatkan pahanya. Tapi terasa sedikit oleh jariku. Vaginanya mulai basah. Kuusap usap kemaluannya dari luar dan tiba tiba Tanti memelukku dengan erat dan ia membekapkan mulutnya ke dadaku.

“Maassss, aaaaaahhhhhhhhhh….. Tanti pipis…“ . Rupanya ia orgasme akibat rangsanganku di payudaranya.

Tantipun bangun dan meraba selangkangannya.

“Mas gimana ini, Tanti ga tahan pengen pipis tadi, celana Tanti basah”.
“kamu orgasme sayang, bukan pipis”. jwbku menerangkan.
“enak ga?” tanyaku
“enak mas, sampe pipis hehehehe…” katanya sambil tertawa.

Akupun bangun dan mengunci pintu.

“Emang pipisnya banyak sayang?” tanyaku.
“Boleh liat ga celananya?” tanyaku bersiasat.

Padahal aku pengen liat vaginanya yang terlihat munjung dari balik celana leggingnya.

“Ga mau ah, malu. Masa Tanti buka celana disini!”.
“Gapapa sayang, kan kamu calon istriku. Nanti klo kita menikah juga kita saling telanjang!” kataku menggombal.

Tantipun bangun dan melorotkan celana legginga. ASTAGA!!! dari balik CDnya menyembul daging kemaluan yang menurutku hampir sama dengan ukuran toketnya (saking munjungnya tuh vagina!) Tak kuat menahan konak langsung aku berlutut dan menciumi vaginanya dari luar.

“Mas, mau ngapain… Ih…. ngapain sih… oooh… shhhhh … ahhhh..” prote Tanti tak kudengar sambil sesekali kucoba menelusupkan jari kesela-sela CDnya.
“Mmmmmaaaaassssssssshhhhhhh…… geli mas….. aaaahh. sshhhhhhh….” Tanti terus mendorong kepalaku agar menjauh dari vaginanya.

Tapi aku tak peduli, aku terus mendesakkan kepalaku dan menjilati sekitar selangkangannya dan tanganku mencoba melorotkan CD Tanti yang masih dlm posisi berdiri. Dengan sekali sentak, CD itu berhasil turun dan alamak…….. bongkahan daging yang ditumbuhi jembut yang jarang jarang. Merah merekah, membuat gairahku semakin tinggi. Kuturunkan terus CDnya hingga benar-benar berada dibetisnya. Sementara lidahku mencoba menerobos ke sela sela belahan vaginanya.

“Mmmmmmmmmaaaaaaaaaassssssss, oooooohhhhhhhhhh……….. aaaaaahhhhhhh…….. sssssshhhhhhh…. aduh ……” Hanya itu yang keluar dari mulutnya sambil terus mendorong kepalaku.

Sementara itu, entah kapan aku melepasnya, aku hanya tinggal memakai sempak. Kuajak Tanti berbaring dan ia menurut. Kulepas CDnya yang masih nyangkut di kakinya sambil merenggangkan kedua belah kakinya. Saat kakinya merenggang nampaklah isi dari vagina Tanti yang merah, kelentitnya yang meruncing kujilati dengan rakus sambil sesekali memasukan lidahku ke rongga vaginanya. Tiba-tiba, rambutku dijambaknya dan Tanti kembali orgasme.

“Mmmmmaaaaaaaasssssssss, aaaaaaaaaauwwwwhhhhhhhhh, nnnnnnnnnggggggghhhhhhhhhhhh. aaaaaaaaahhhhhhhhh!!!!!!!” itulah yang keluar dari mulutnya sambil melepas cairan kenikmatannya.

KUjilati lelehan cairan vagina yang membasahi sekitar bibir dan kumisku. Tak kulepaskan pula cairan yang meleleh sekitar vaginanya. Tubuhnya melemas setelah dua kali kubuat orgasme. sambil kupandangi tubuh yang mulus yang tergolek lemas, kulepas celana dalamku. Penisku langsung mnerobos setelah sedari tadi kukurung didalam CD. Langsung kuarahkan kepala penisku kehadapan vaginanya. Ku oles-oles di permukaan vaginanya yang basah. Kembali Tanti menggelinjang dan berdesah. Tak sabar kucoba masukkan penisku ke liang vaginanya. Tanti sedikit menolak dengan kembali merapatkan pahanya.

“Gapapa sayang, aku dah ga kuat lagi sayang…” pintaku memelas….
“Ga mau mas, Tanti takut hamil. Nanti Bu Lik Nor marah sama aku!”
“Tanti sayang, aku kan sudah bilang kita akan menikah, ga usah takut. Bu Lik Nor sudah merestui hubungan kita. Ayo sayang, jangan siksa aku ….!?” kataku sambil terus berusaha membuka pahanya yang masih merapat.

Nafsu birahi yang semakin memuncak membuat aku berbuat sedikit kasar dengan memaksanya mebuka pahanya yang tertekuk. Akhirnya Tanti menyerah. Ia membuka pahanya dan tak buang waktu lagi langsung kusodokkan penisku kedlam vaginanya dengan perlan.

“Awwwh… pelan-pelan mas, sakit… aaahhh… ssshhhh…”.
“Tenang sayang, sakitnya cuma sebentar, nanti juga enak!” rayuku sambil terus berusaha memasukkan penisku.

Kogerkan pantaku maju mundur dengan irama santai agar Tanti menikmati sensasi kepala penisku yang mencoba menembus vaginanya. Dan akhirnya, blesssssss… crootttt…. penisku masuk sebagian dan dilelehi cairan darah perawannya diiringi dengan lenguh kesakitan Tanti dan tangannya mencengkeram erat lenganku. Kulihat ia mengigit bibir agar tdk berteriak. Kudekatkan wajahku dan kulumat bibirnya.

Agar Tanti terangsang kembali, kuremas pelan payudaranya dan sesekali kuplintir halus putingya. Alhasil, putingnya kembali mngeras tanda ia mulai terangsang lagi. Kurubah posisi tubuhku sedikit berjongkok sambil kupegangi kedua belah pahanya. Kulakukan lagi gerakan maju mundur. Kulihat Tanti menangis, kuseka air matanya dengan jariku sambil terus kupompa vaginanya. Tak lama, kudengar Tanti mulai melenguh nikmat,

“aaaahhhh, sssshhhhhhhhh, oooooooowwwwwwwwwwwwhhhhh…….. nnnnnnnnnnnnngggggggghhhhhhhhhh….. aaaaaahhhhh…..!” terus kopompa vaginanya dengan sodokan penisku.

Tak terasa hampir seluruh penisku sudah masuk keliang mememknya. kuturunkan pahanya agar menindih pahaku. Kuletakkan tangan diatas lantai dan terus memompa vagina Tanti yang sempit dan licin. Sekitar 10 menit kupompa vaginanya, terasa aku akan ejakulasi. kupercepat gerakanku agar cepat kunikmati sensasi orgasmeku. dan tak lama,

“Aaaaaaaaaaaaaassssssshhhhhhhh………… uuuughhhhhh…… crrroooot……. crooot. crooooottttt…. kulepas lendir kenikmatan di dalam vagina Tanti dan akupun terkulai lemas.

Setelah mengatur napas, kucabut pelan penisku dan kucari pakaian kotorku untuk mengelap lelehan spermaku dan cairan vagina Tanti yang telah tercampur dengan darah perawannya. Kulap vagina Tanti dengan lembut sambil sesekali kucium aroma vaginanya. Terlihat Tanti matanya basah, kurebahkan badanku disebelahnya dan kuciumi pipinya.

“Sayang kenapa nangis? Kamu nyesel melakukan ini dengan mas” tanyaku.
“Tanti ga nyesel mas, Tanti nagis karena nahan sakit tadi. Tanti seneng kok mas. Tanti seneng bisa bikin mas bahagia, Tanti juga pengen mas bikin Tanti sebahagia mas. Jangan pernah ninggalin Tanti mas!”. Tak kujawab malah kuraih kepalanya dan kulumat lembut bibirnya.

Kuangkat tubuhnya agar menindih tubuhku. Tanti memelukku. dan kami bergumul saling memagut bibir. Akibatnya, penisku kembali bangun. Kupinta Tanti menjilati penisku tapi ia menolak terus. Akhirnya kupinta ia berjongkok diatas mukaku. Kujilati lagi vaginanya yang montok. Sesekali kugigitb lembut kelentitnya yang meruncing. dan kami melanjutkan kembali pertempuran. Kupinta Tanti nungging, mula-mula ia bingung.

“Mas jangan dimasukin ke pantat. Bau ih…. !!”….
“Nggak sayang, kamu diem aja, aku mau masukin ke vagina kamu dr belakang. Rasanya lebih enak sayang…” Kusodk pelan vaginanya yang sudah mulai kuyup lagi. 5 menit kulakukan gaya shaggy.

Kusuruh Tanti merapatkan pahanya sambil berpegangan ke tembok. Terus kusodk dia dengan irama agak cepat. Akhirnya,

“Massssss… Tanti mau kluar nih …… aaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhsssssss…… sssssssssshhhhhhh… aaaaaaaaaahhhhhhhhhhh…!” . “tahan sayang, kita keluar barengan aja.” Pintaku.

dan tiba tiba Tanti berdiri dan terjatuh sambil mergeng melepas orgasmenya…. ooooooooooooooooooooooooooooohhhhhhhhhhhhhh….mas Tanti lemes banget. Sementara aku mulai merasakan tanda-tanda orgasme pula. kudekatkan payudaranya ke penisku dan kujepit penisku dengan payudaranya. Koyang-goyang payudaranya hingga penisku terasa seperti dikocok dan … aaaaaaaahhhhhhhh………. akhirnya kulklepaskan kembali lahar kenikmatanku di toket Tanti.

Sampai jam 12 malam kami bersetubuh. dan ketika hendak berpakaian kuajak Tanti ke kamr mandi dan kulap tubuhnya dengan handuk kecil yang sudah aku basahi. Ketika mengelap pyudaranya kembali aku terangsang dan menjilatinya lagi. sambil berjongkok kulap seluruh tubuh mulusnya dengan handuk basah. dan saat mengelap vaginanya kubenamkan kepalaku divaginanya seakan aku tak mau lepas dari barang yang sudah memberikan 3 kali kenikmatan padaku. Kuberikan CD dan celana Leggingnya,

“Ga usah pake cd mas, basah ntar lengket. simpen aja disini. besok Tanti cuci. Takut ketauan klo dibawa kewarung”. “Kirain buat kenang-kenangan aku sayang”, jawabku sambil mengecup bibirnya.
“Udah dapet isinya, bungkusnya juga masih mau!” katanya sambil memakai celana legging. kamipun berpakian kembali dan kulepas Tanti pulang dengan pelukan erat dan kecupan halus dibibirnya.
“Kapan-kapan kita lakukan lagi ya sayang!?” pintaku.
“Asal ada waktu dan kesempatan, kapan mas mau aku kasih. Asal jangan mas kasihkan mainan baruku ke perempuan lain ya mas.” jawab Tanti.
Share:

Dukun Cabul


”Din, setelah 2 orang ibu-anak itu, aku mau istirahat.” ujar Mbah Sukmo dari dalam kamar prakteknya setelah memberikan susuk pada seorang pasien. Samsudin bergegas keluar menghampiri dua pasien berikutnya dan mempersilahkan masuk ke ruang praktek Mbah Sukmo. Mbah Sukmo adalah seorang dukun kondang di daerah Jatim.

Keahliannya sangat tersohor, dari pelet sampai santet. Dari pengelaris sampai jabatan, dia tiada bandingannya. Ruang prakteknya yang dipenuhi oleh benda-benda pusaka, dan segenap wewangian kemenyan serta sesaji bagi iblis sesembahannya menambah keangkeran dukun berusia 60 tahun dengan jambang lebat memenuhi wajahnya. Pasien berikutnya adalah Nyonya Restuwati dan diantar oleh puterinya Lisa.

Nyonya Restuwati adalah wanita berusia 45 tahun yang sangat anggun. Dia sengaja datang ke Jawa Timur selain untuk menghadiri resepsi karibnya kemarin, juga mengunjungi Sang Dukun yang sakti mandraguna ini. Sengaja dia minta antar puterinya, karena kesibukan suaminya sebagai pengusaha yang mengharuskan melakukan perjalanan bisnis ke Eropa.

Jilbab kuning yang membungkus kepalanya menambah kanggunan wanita berparas cantik ini. Di sampingnya adalah puteri sulungnya Lisa yang tercatat sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Menurun dari ibunya, Lisa yang masih 18 tahun ini juga memiliki kecantikan yang tidak kalah dengan Sang Ibu. Gadis ini tampil santai dengan kaos merek Zara yang ketat lengkap dengan jeans hitam yang lekat dengan pahanya yang ramping.

“Silahkan duduk Nyonya Restuwati dan Dik Lisa….” ujar Mbah Sukmo mempersilahkan kedua pasien terakhirnya ini untuk duduk di karpet tepat di depan meja praktiknya.

Mata sang dukun yang tadinya lelah sontak kembali berbinar. Amboi, cantik benar 2 makhluk ini. Mulus, berdada montok, dan ah….ternyata tidak cuma mata sang dukun yang berbinar, penis Mbah Sukmo pun ikut memberikan sinyal soal santapan malam yang indah dari dua wanita cantik ini. Belum sempat dua pasiennya menyembunyikan kekagetan dengan kemampuan Sang Dukun menebak nama-nama mereka.

Mbah Sukmo kembali berujar,

“Nyonya Restuwati tidak usah kuatir. Nyonya pasti bisa jadi anggota dewan tahun ini….Bukankah begitu yang nyonya inginkan?”
“Be..benar…Mbah Dukun. Gimana Mbah bisa tahu maksud saya?” tanya Nyonya Restuwati makin kaget sekaligus makin percaya pada kesaktian sang dukun.

Nyonya Restuwati memang salah satu caleg dari parpol pada pemilu tahun ini. Dan di saat peraturan bukan lagi pada nomor urut, melainkan suara terbanyak, membuat sang nyonya menjadi ketar-ketir.

“Hahahaha…iblis, setan dan jin mengetahui semua maksud di hati.” ujar Mbah Sukmo bangga.
“Tapi, ini tidak gampang, Nyonya….” ujarnya lagi.
“Maksud Mbah Dukun? Bagaimana caranya? Apa saja akan saya lakukan untuk itu Mbah.” ujar Nyonya Restuwati tidak sabar.

“Aura kharisma Nyonya tertutupi oleh tabir gelap sehingga tidak keluar. Harus ada banyak pengorbanan, dan sesembahan agar itu semua keluar. Tapi itu ada ritualnya, bisa diakali, Nyonya tidak perlu kuatir.” Kali ini Mbah Sukmo mulai ngawur.

Semua kalimatnya sengaja dirancang untuk mendapatkan keuntungan dari dua wanita cantik ini. “Kamu dan puterimu harus total mengikuti ritual yang akan saya siapkan. Sanggup?” “Sanggup,Mbah” “Dik Lisa sanggup membantu Mama?” tanya dukun yang sedang horny ini pada puterinya.

“Sanggup,Mbah.” Sahut Lisa demi sang mama tercintanya.

Mulailah Mbah Sukmo komat-kamit sambil melempar kemenyan pada pembakarannya. Matanya tiba-tiba melotot. Dan suaranya menjadi parau.

“Kalian berdua ikut aku ke ruang sebelah….Sebelumnya Nyonya minum air dalam kendi ini. Air suci dari negeri jin Timur Tengah.” Mbah Sukmo menyodorkan kendi yang memang disiapkan khusus, dengan rerempahan yang mengandung unsur perangsang yang sangat kuat.

Niat kotornya sudah mulai dijalankan. Di sebelah ruang praktik utama terdapat gentong besar berisi bunga-bunga aneka macam. Dan sebuah dipan kayu, serta meja kecil di dekatnya. Lebih mirip kamar mandi. Mbah Sukmo menyuruh Nyonya Restuwati masuk mendekati gentong. Dan memberi perintah agar Lisa melihat dari depan pintu ruangan.

“Kita mulai dengan pembersihan seluruh tabir itu, Nyonya. Rapal terus mantra ini dalam hati sambil aku mengguyur badan Nyonya….Mojopahit agung, Ratu sesembahan jagad. Hong Silawe,Hong Silawe. ” lanjut Sukmo.

Tangannya mengambil gayung di gentong dan mengguyur pada tubuh Nyonya Restuwati. Air kembang pun dalam sekejap membasahi jilbab dan gamis hitam Nyonya Restuwati. Semakin memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh Nyonya ini yang masih ramping dan terjaga.

“Edan..ngaceng kontolku rek.” batin Mbah Sukmo.

Tangannya yang satu bergerak menggosok tubuh yang sudah basah itu. Dari ujung kepalan Nyonya Restuwati yang masih terbalut jilbab kuning, dahi, hidung, bibir, leher, dan merambat ke dua gundukan di dada Nyonya Restuwati. Sempat Nyonya Restuwati terkaget dengan sentuhan tangan kasar sang dukun, tapi buru-buru dia konsentrasi lagi dengan rapalannya.

“Bagus terus konsentrasi Nyonya. Jangan sampai gagal, karena akan percuma ritual kita…Sekarang lepas baju Nyonya biar reramuan kembang ini meresap dalam kulit Nyonya.” Perintah Mbah Sukmo yang langsung dituruti oleh Nyonya yang sudah ngebet jadi anggota dewan ini.

Nyonya Restuwati benar-benar telanjang bulat sekarang. Tubuh putih mulus dengan kulit yang masih kencang. Melihat mangsanya dalam kendali, Mbah Sukmo semakin berani. Badannya dirapatkan, agar penisnya menempel di belahan pantat Sang Nyonya yang montok. Jemarinya semakin nakal memainkan puting Nyonya Restuwati. Terus turun ke sela-sela paha Nyonya Restuwati, memainkan vagina Sang Nyonya. Setelah 5 menit, tampak tubuh Nyonya Restuwati bergetar, tanda-tanda bahwa ramuan perangsang sudah mulai bekerja.

Mbah Sukmo menuntun Nyonya Restuwati ke dipan kayu yang ada di ruangan itu dengan semua letupan birahi yang semakin tidak tertahankan. Perhitungannya, tak lama lagi, Sang Nyonya akan tidak mampu berdiri karena melayang di antara alam sadar dan bawah sadarnya. Setelah membaringkan mangsanya, Mbah Sukmo meneruskan rangsangannya.

Bibir tebalnya terus mencium seluruh tubuh Sang Nyonya. Wewangian kembang membuat nafsunya semakin tidak tertahankan lagi. Bibir dan lidahnya menyerbu bibir vagina Sang Nyonya. Edan, orang kaya emang beda. Jembutnya aja ditata. Wanginya juga beda, batin Mbah Sukmo sesaat setelah melihat vagina Nyonya Restuwati. Nyonya anggun ini mulai terangsang hebat.

Tubuhnya menggeliat-geliat setiap sapuan lidah Sukmo memutar-mutar klitorisnya. Pantatnya naik turun seakan ingin lidah Mbah Sukmo tertancap lebih dalam.

“Eeeemmm….”Desah Nyonya Restuwati penuh kenikmatan.
“Ini saatnya.” Pikir Mbah Sukmo membuka pakaian dan celananya dengan buru-buru lalu naik ke atas dipan, mengambil posisi di sela paha Restuwati.
“Apa yang Mbah lakukan pada Mama?”Tiba-tiba semua perhatian Mbah Sukmo terbelah oleh pertanyaan Lisa.

Iya, ada anaknya yang nonton dari tadi. Beda ama ibunya, Lisa tentu saja masih sangat sadar.

“Tenang cah ayu. Mamamu harus melakukan ritual tertinggi kharisma asmaradana. Aku harus menyatu lewat persenggamaan untuk membongkar tabir jahat pada Mamamu. Mamamu harus ditolong. Kamu mau pengorbanan Mamamu tidak sia-sia bukan,Nduk?”

“Iya,Mbah.” “Sekarang diam di situ. Dan bantu perjuangan Mbah dan Mama dengan rapalan tadi….” perintah Mbah Sukmo sambil mengembalikan konsentrasinya pada penisnya yang sudah berdiri tegak.

Urat-urat penisnya semakin membesar, pertanda sudah sangat siap untuk melakukan penetrasi. Kepala penis Mbah Sukmo yang mirip jamur raksasa berwarna hitam itu kini sudah berada di bibir vagina Nyonya Restuwati.

Bibir vagina yang sudah basah karena cairan itu merekah saat kepala penis Sang Dukun mulai membelah masuk. Mbah Sukmo mengatur napasnya. Perjuangannya untuk menembus vagina Nyonya satu ini ternyata cukup sulit. Diameter penisnya terlalu besar untuk vagina Nyonya Restuwati. Baru kepala penisnya yang mampu masuk.

“Aaaaah…seret juga milikmu,Restuwati sayang. penis suamimu payah rupanya. Tahan sedikit ya. Mbah akan beri kenikmatan hebat…” bisik Sukmo pada telinga Restuwati.

Di lingkarkannya tangan gempal Sang Dukun pada pantat montok Nyonya Restuwati. Dadanya bersandar pada dua payudara Restuwati. Dan dengan hentakan keras, dibantu tekanan tangannya, penis Sukmo melesak masuk.

“Eeeeemmmphmm,…mm..mm.”Desah Restuwati sambil merem melek. Pengaruh ramuan perangsang plus hentakan tadi rupanya membuat sensasi luar biasa bagi Restuwati.

Sukmo pun merasa nikmat luar biasa. Dibanding milik istri mudanya pun, milik Restuwati masih lebih legit. Mungkin karena orang kota pandai merawat diri, pikir Sukmo sambil menikmati pijatan vagina Restuwati.

“Plok…plok…plok…plak…plak…plak..” suara perut Mbah Sukmo bertemu kulit putih Restuwati.

Sesekali Mbah Sukmo menelan ludahnya sendiri melihat batang besarnya yang hitam pekat keluar masuk vagina Restuwati yang putih mulus. Kontras, menimbulkan sensasi yang luar biasa. “Ooooh…Mbah.” Restuwati mengeluh panjang.

Tubuhnya mengejang hebat. Orgasme melanda wanita molek ini rupanya, batin Sukmo. Terasa cairan hangat mengalir deras membasahi batang penis Sukmo. Sukmo mengejamkan matanya menikmati sensasi hebat ini. Ia sengaja membiarkan Restuwati menggelinjang dalam orgasmenya.

“Sekarang saatnya,sayang. Jurus entotan mautku. 6 isteriku sendiri tidak ada yang bisa tahan…”Bisik Mbah Sukmo sambil tersenyum setelah melihat orgasme Restuwati sudah reda.

Sukmo mulai mempercepat genjotannya. Naik turun tanpa lelah. Pantat Restuwati pun mengikuti irama genjotan Mbah Sukmo. Sesekali sengaja dia tarik penisnya hingga hanya menyisakan kepalanya.

Membuat pantat Nyonya Restuwati terangkat seakan tidak rela barang besar itu keluar dari vaginanya. Mbah Sukmo menarik tubuh Restuwati hingga mengubah posisi menjadi duduk. Sambil memeluk pinggul Restuwati, Sukmo meneruskan sodokannya.

Restuwati pun mengimbangi dengan meliuk-liukkan pinggulnya. Gerakan pantat Restuwati membuat penis dukun tua itu seperti diremas-remas. Karena hasratnya yang sudah memuncak. Nyonya Restuwati mendorong Sukmo rebah. Dan kini Nyonya anggun itu mengambil kendali dengan liarnya. Rambut panjangnya terurai berkibar-kibar. Peluhnya membuat kulit putihnya seakan mengkilap.

“Hong Silawe,…uuuggh…mmm..mmmph…Hong Silawe…aaaaahhh…” Dalam gerakan liarnya pun Restuwati tidak lupa membaca manteranya.

Mbah Sukmo tersenyum dan menikmati itu sebagai pemandangan yang begitu erotis. Dua tangannya meraih dua payudara Restuwati yang terayun turun naik. Meremasnya dengan gemas. Sesekali tubuhnya terangkat untuk memberi kesempatan bibirnya mengulum dua puting yang menggoda itu. Nyonya Restuwati mengerang dengan hebatnya. Sebuah percumbuan yang hebat ini mungkin baru kali ini dia alami seumur hidupnya.

“Ooooohh….ooohh…uuuggh.Hong….aaaaah…Silawe..Ratu…j agaaaad…aaaah” Restuwati semakin meracau tak karuan.

Tubuhnya mulai tak kuasa kembali menahan kenikmatan dahsyat ini. Restuwati terus meliuk di atas tubuh tua Sang Dukun. Pantatnya mengayun dengan irama yang semakin kacau. Dan, kedua tangannya memegang rambut panjangnya.

“Bagus, sayang…terus rapal.rapal…aaah…rapal..kita sampai bareng, Restuwatiku….hhhhmmpphh..”Mbah Sukmo pun merasakan penisnya mulai berkedut.

Sambil mencengkram keras pinggul Nyonya Restuwati. Mbah Sukmo membantu mempercepat kocokan dari bawah. Tubuh Mbah Sukmo mulai menegang. Dan sambil bangkit mendekap Nyonya Restuwati, Mbah Sukmo mengeluh keras,

“Aaaaaaaaagghhh…ghh…Restuwati…” “aaaaagggh….mmmmph…mmmp…aaaaah.”Nyonya Restuwati pun menyambut pelukan Sang Dukun.

Tubuhnya bergetar untuk kedua kalinya. Rupanya inilah kali kedua Restuwati mendapat orgasme hebat di dipan kayu ini. Badan seksi Nyonya yang anggun ini pun ambruk didekapan Sukmo yang masih merem melek menikmati sisa orgasmenya dari caleg cantik ini.

Dua-tiga menit ia memeluk Restuwati, membiarkan penisnya menikmati hangatnya liang peranakan Restuwati. Setelah menidurkan Nyonya Restuwati yang kelelahan di dipan, Sang Dukun melepaskan penisnya dari vagina Nyonya Restuwati.
Share:

3 Jam 55 Menit...


“Ngesex” buatku sdh menjd kebiasaan, bisa dibilang kalau gak “Ngesex” aku jd sakit, mungkin karena libido yg terlalu banyak didalam tubuh atau mungkin memang aliran syahwatku yg begitu besar sehingga membuat nafsuku tak pernah merasa ada kepuasan walau seringkali beronani sehari 3x masih belum cukup buat menghilangkan dahaga sang pinoy ini.
walau kulitku dibilang berwarna sawo matang tp kata temen dan kebanyakan orang tua berkata aku itu manis dgn postur tubuh yg atletis aku sering diejek sebagai gigolo oleh beberapa sahabatku, entah ngiri atau emang kenyataan kale ya kebanyakan orang yg baru kenal dgnku khususnya laki-laki bisa cepat akrab, dari akrabnya dgnku hingga berbicara soal kejantanan sdh seperti makanan shari-hari bagiku apalagi jika saling mengunggulkan besar dan panjangnya pinoy kita masing-masing maka sluruh wajah teman dan shabatku bisa langsung down melihat kekokohan, keangkuhan dan kesombongan pinoyku, meskipun hanya memiliki pinoy dgn panjang 19cm saat ereksi namun besarnya otot batang pinoyku sungguh membuat temen dan sahabatku berkata
“KAULAH GIGOLO SEJATI”, hehe … bener-bener big pinoy … hikhik.
sbenarnya profesiku hanyalah seorang pemandu wisata amatir, apabila dapat job mengantarkan tour wisata kebeberapa kota aku selalu jd team pembicara didalam perjalan dgn bus pariwisata. sdh 2 tahun aku bekerja sebagai pemandu lepas namun dgn gaji sekali tarik bisa dibilang cukuplah untuk buat genjotin pinoy semalaman… zizizi.
oiya … aku ingin perkenalkan seorang tante bernama Fitri adalah saudari ayahku sekandung seibu lain pejantan, tante Fitri sekarang telah berumur 39thun lebih muda 23th dari umur ayahku, maklum kakek emang memiliki istri 3 tp estafet silih berganti .. hehe, dia janda ditinggal pergi suaminya 4 tahun lalu tanpa meninggalkan harta ataupun biaya untuk kehidupan keluarga tante Fitri, dan tante Fitri sendiri memiliki seorang putri bernama ayu dari perpisahan dgn suaminya yg sama-sama berstatus janda karena baru menikah 1tahun tanpa dikaruniai seorang putra dan meninggal akibat kecelakaan. ayu jg masih adikku karena umur dia terpaut 5poin eh maaf maksudnya 5tahun lebih muda dariku.
terahir kali kudapati kabar tante Fitri serta ayu meninggalkan jejak dari rumah kakek yg ditempati untuk menghilangkan kepedihan hati tnte dan ayu, entah kemana smua keluarga kami tak seorangpun yg tau dimana tempat persembunyian tante dan ayu berada.
akhirnya kisah petualangan sipinoyku pun dimulai, kepada para pembaca semproters yg setia dimohon untuk memposisikan pinoynya dgn baik agar disaat menegang tdk terasa pegal-pegal, linu-linu dan sakit takut menyebabkan ereksi pinoy tersebut kurang maximalis.
“tit … tit … tit” bunyi hp ku menggangu tidurku diminggu pagi yy mengabarkan seberkas pesan singkat masuk untuk segera dibaca. kuraba meja dekat tempat tidurku lalu kubuka kecil kelopak mata sambil membaca pesan singkat yg tak lain dari managerku untuk segera mempersiapkan diri guna mengantar 109 siswa SD yg akan berlibur ke beberapa daerah diseluruh jawa.
akupun segera bergegas mempersiapkan perlengkapan untuk perjalanan tour yg dijadwalkan berangkat pada pukul 13.00 wib, aku segera merapat ketempat berkumpulnya para siswa dihalaman SD tersebut karena telah diintruksikan untuk rapat dulu sebelum keberangkatan. hasil rapat membagikan tugas menempatkan aku sebagai pemandu utama dalam perjalanan yg memakan waktu 6hari 5malam dgn rute tujuan utama jakarta-bandung-yogya-surabaya.
hari kedua tiba dijakarta aku masih sibuk mengurus hotel serta catering untuk pelayanan tour, seharian, sendiri dan benar-benar pusing kepalaku karena dari jakarta ini aku booking semua hotel restoran bahkan harus siap semua sampai saat tiba di yogyakarta dua hari setelah dari jakarta dan bandung.
setiba diyogyakarta ini aku sdh merasakan betapa lelahnya perjalan kami sebagai seorang pemandu tour amatir yg acap kali berurusan dgn keuangan, takut salah perhitungan sehingga membuat perusahan rugi yg berakibat fatal bagiku sendiri dan karirku.
kulihat jam didalam kamar hotel didaerah yogyakarta sdh menunjukkan pukul 19.25 rasa capek kepala ini benar-benar masih melekat, untuk menghilangkan rasa penat ditubuh aku sesekali membaca beberapa koran yg disediakan oleh hotel, namun rasanya kepenatan tubuh benar-benar membuat aku tak bisa tidur.
“ah … mungkin disini ada yg bisa menemaniku malam ini” pikirku seraya mencari sebuah nama dihapeku, kebetulan aku mempunyai seorang sahabat yg berprofesi sebagai penyalur tenaga massage plus, yah sekedar untuk memanjakan diriku menghilangkan rasa penat ditubuh karena tugas menyelesaikan tanggung jawab selama dalam perjalanan.
tak lama kemudian waktu telah terlewat 35 menit setelah saling bertukar sms akhirnya temanku memberikan berita bagus bahwa ada seorang wanita yg masih baru bekerja kepadanya dan masih kurang berpengalaman mungkin bisa dapakai olehku, akhirnya tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan untuk segera meminta kepada sahabatku agar wanita itu secepatnya didatangkan kehotel tempatku bermalam, sahabatkupun langsung mengantarkan wanita itu kehotel.
dgn hanya mengirim sms shabat memberitahukanku bahwa wanita itu telah berjalan menuju hotelku, namun sahabatku tdk bisa ikut untuk bertemu aku karena masih harus keluar kota malam itu jg. akupun bergegas kekamar mandi agar tubuhku terasa bersih waktu dipijat, skalian sambil menunggu wanita itu datang. 30 menit kemudian ….
“tok … tok … tok” suara pintu kamar hotel diketuk.
“siapa?” aku jawab dari dalam kamar mandi,
“sy mas, yg bersama mas toko” jawab wanita itu, mas toko sendiri adlah nama sahabatku dn bkan nama sbenarnya mlainkan nama beken dia disini.
“silahkan masuk mbak, gak dikunci” jawabku dari dalam kmar mandi yg gak jauh dari pintu masuk hanya berjarak 5 meter,
“iya, mas terima kasih”
“mbak tolong pintunya dikunci ya?”
“iya mas”
“terus mbak persiapkan dirilah sambil santai, sy masih buang hajat sebentar”
“iya mas gak papa, jg terburu-buru sy jg meski sampe pagi gak masalah mas” sambungnya.l
wah bener-bener polos nieh wanita pikirku didalam kamar mandi, mulai belajar jajan dari dulu enggak ada yg ngomong gitu kepadaku, malah banyak yg ngomel untuk segera cepat2 dgn dalih karena masih banyak pelanggan.
“mbak, tolong matikan lampu utama ya? pakai lampu kecil yg disebelah tempat tidur saja” pintaku, karena kupikir wanita ini bisa jd kehutan untukku sendiri disaat keluar kamar mandi.
“kenapa mas? malu ya kepada sy?” wanita ini menjawabku,
“enggak kok, cuma pengen suasana redup aja mbak”
2 menit kemudian aku keluar dari kamar mandi, kulihat hanya dgn cahaya lampu kamar remang2 wanita itu berada dipinggir kanan tempat tidur membelakangi pintu keluar kamar mandi, terpampang didepanku rambut panjang sebahu dgn tubuh putih mulus dari belakang menanggalkan pakaiannya yg hanya memakai bh dan cd, spontan aku yg sekedar membalut bagian bawahku dgn handuk putih ngerasa terangsang, membuat sang pinoy gelagapan berkedut.
tanpa basa basi aku langsung telungkup dibelakangnya, dgn kepalaku menghadap kiri
“mbak aku sdh siap, merasakan pijitan mbak”
“maaf sebelumnya mas, apa mas sdh tau tarifnya? tanya wanita itu
“haha … mbak mas toko udah tw sy mbak, sy langganan setianya” jawabku, maklum wanita ini kan masih baru dgnku, jd dia menygka aku baru pertama kali order massage ke mas toko,
“wah, maaf mas, sy bener-bener gak tau, karena sy masih baru mas”
“gak apa-apa mbak, mas toko pun sdh bilang tadi kok”
serentak tangan wanita ini menyentuh lembut betisku yg berbulu, memulai terapi pemijatan tubuhku, namun slama kurang lebih 30 menit kami berbicara aku sengaja tdk melihat wajahnya meskipun sesekali dia ingin melihat wajahku namun dgn sigap aku menunduk menutup muka kebantalan. tangan itu menggerayanngi tubuhku, hingga tubuh wanita ini menaiki pantat memijat dan mengurut punggungku, hayalanku pun semakin jauh, rangsangan dan kehangatan tubuh wanita ini mulai menyeruak masuk kepori-pori kulit pantat dan tubuhku, sengaja aku telanjang bulat karena memang setelah pijat refleksi, aku yg akan memijat wanita mulus ini. haha … aku bergumam tertawa dalam hati, karena emang rasa penat tubuhku mulai berangsur hilang dan berganti nafsu yg sdh memuncak karena selama kurang lebih 40 menit wanita ini meraba seluruh tubuh bagian belakangku dgn jurus jurus pijatannya …
“mas … sdh selesai, sekarang badan mas berbalik, sy mau pijit bagian dada mas”
“iya mbak” jawabku sambil memutar tubuh melentangkan dadaku, dgn pinoy yg sdh menegang aku berbalik
“astaga” serempak suara kami mengeluarkan kata – kata itu.
“tante Fitri?”
“rian?”
“benar ini tante?”
“kamu … ka … kamu rian?”
lama kami terdiam berdua selama satu menit kami tertegun, terhentak hati ini rasanya gak karuan bercampur pikiran yg kacau, tak terbayang kemana, apa, dan bagaimana selanjutnya harus bergerak, tubuh ini rasanya bingung, namun si pinoy masih saja berkedut, entah apa yg terjd dipikiranku dan tanteku membuat pinoyku benar-benar tegak berdiri perlahan. tangan tante Fitri yg semula menyentuh tubuhku, ternyata kedua tangan itu telah menutupi wajahnya dgn isakan tangis yg menderu, “ya Tuhan … apa yg harus kulakukan”
kemudian aku membangunkan tubuh ini mendekati tangan tante yg menutupi wajhnya, pelan kubuka kedua tangan itu, tanpa kusadari pinoyku masih menggeliat keras dihadapan tanteku, aku tak berpikir harus menyetubuhi tante malam itu, namun apalah daya semua ini telah terjd. tanpa saling berbicara sedikitpun aku merasa iba, dan tante masih terus menangis, entah apa yg dipikirnya lalu diluar kesadaran aku memeluk kepala tante mendekapkan didadaku, lalu kubisikkan ditelinganya lirih …
“jangan menangis lagi, lanjutkan tugas tante, dan aku berjanji tdk akan berbicara kepada siapapun, karena ini adalah rahasia kita berdua”
“aku gak mau melayanimu rian, aku adalah tantemu yg kotor, tak pantas aku berada didepanmu”
“tante … kita sama-sama kotor, gak mungkin kan aku memakai wanita panggilan, jika aku ini adalah orang suci?”
“tp …. ”
“tp apa tante”
“aku saudara ayahmu, adik ayahmu, mana mungkin aku melakukan pekerjaanku dgn seorang yg kuanggap anakku?”
tangisannya panjang sesaat setelah dia mengatakan kalimat terahir, aku tak mampu berbicara, namun hati ini merasa iba tanpa kusadari kedua tanganku mengadahkan wajah cantik tanteku, dan kukatakan …
“aku terjerumus nafsu melihat tubuh tante”
sejurus aku langsung menarik kepala tante mendkatkan bibirku dgn bibirnya
“jang … jangan, mmmph mleph…” bibir tante berpagutan seraya melontarkan kata itu, namun aku sdh melampaui batas dan tak kuasa menahan nafsuku lalu serentak aku memasukkan lidah kedalam mulut tante…
tangan kiriku yg menahan kepala tante dari belakang untuk menahan ciumanku, lalu tangan kananku serasa ganas menggeraygi dada tante, tak kuasa pinoyku benar-benar tegang dan keras, kupikir dalam hati tante menolak aku meminta berhubungan intim, namun disaat pikiran itu muncul ternyata pinoyku merasakan kehangatan sebuah tangan yg menggengamnya dbagian batang bawah.
“oooh …. ” aku mndesah ditelinga tante tanpa berhenti tanganku menjalar membuka bh tante, selama permainan ini tante tak berucap sedikitpun, malah tante menundukkan badan menjilat dan menghisap pinoyku.
kubuka bh tante dan meremas buah dada tante yg menggelantung dipaha kananku, kuremas lembut buah dada itu ..
“hmmmm ….” tante mendesah tanpa berhenti mengumul pinoyku, ujung pinoyku dijilatinya sesekali lubang pinoyku dimasukin dgn lidah tante Fitri, akupun tak tinggal diam menikmati getaran yg berujung dari kepala pinoyku maka dgn pelan pelan akupun menarik kaki tante keujung kepala, membuka selangkangan seiring menurunkan cd yg tante kenakan.
“an …. uuuuugh” sambil merasakan kepala pinoyku digigitnya aku mendengar desahan tante disela-sela sepongannya kekepala pinoyku.
dijilati dikocok batang pinoyku olehnya
“ough …. tante …” kujilat meqiu tante, kubuka lebar meqiu itu dan kumassukkan lidahku kelubang meqiu tante, kupilin itil tante dg ujung jari kiriku yg berwarna hitam kecoklatan, ujung jari kanankupun memutar bagai ulat dianus tanteku, sesekali kuhela nafas melalui hidungku, aroma oksigen pun berganti dgn aroma meqiu bercampur aroma lubang anusnya, nikmaaaat … kurasakan lendir meqiu tante yabg membasahi bibirku
hidungku yg dkat dgn lubang anus tante seakan tak kuasa menahan bau aromanya, kumasukkan sesekali jari tengah kananku kelubang meqiu tante…
“aaaaagh ….. mmmmhhhh”
tante mendesah … diangkat dan didekatkan kuat meqiu tante ke mulutku tanpa melepas genggaman tangan kirinya dibatang pinoyku
“oooough …. nikmat tante”
“benar benar nikmat bibir tante” tak kuasa kukeluarkan kalimat itu sambil membangunkan badan tante, lalu kurebahkan badan tante tegak keujung kasur, kutarik bantal yg berada diatas kepala tante lalu kutaruh kepala tante diatasnya… kucium lembut bibir tante sambil memain mainkan lidah tante
“ough … eg ..geg”
“roby … tante gak tahan” kalimat itu keluar dari mulut tante setelah kepalaku dekatkan kepayudara tante
“kan kubuat malam tante skrg jd lebih indah tante”
“ooough …. rob”
“nikmat sekali batang pinoymu rob ….”
“aaaaagh …. tekan syng …. tekaaaan”
“nikmat robyyyyy ….”
“ah .. uh … ah ….”
tante pun memejamkan kelopak mata dgn erat sekali, kedua tangannya menekan pantatku keras, sambil mengangkat pinggannya seakan mengejar ujung batang pinoyku
“tante keluarkan tante ….”
pancingku sambil menekan keras keluar masuk batang pinoyku …
“aaaaaah ….. rooooby ……”
“tante … tante keluar …… aaaaaagh”
“tekan syng … tekan syng … tekaaaaaan”
tante menjerit sambil menahan pantatku agar tdk menarik keluar batang pinoyku, kakinya yg kuat melilit dibagian belakang pahaku menahan nikmatnya cairan yg keluar dari meqiu tante
“sekarang bagian kamu syng keluarkan didalam meqiu tante rob”
“baiklah tante …”
“aku akan puasin tante malam ini”
pelan kutarik keluar batang pinoyku yg menancap dalam kelubang meqiu tante, kugenjot pelan keluar masuk pinoyku dilubang itu, meqiu tante yg sempit menekan urat urat batang pinoyku
waktu makin berlalu genjotanku seakan belum menurunkan stamina apalagi tubuhku malah terasa menambah kegigihan untuk terus bersenggama dgn tanteku … lama sekali waktu terasa kami lewati hingga seluruh batang pinoyku terasa panas dan akhirnya ketika tante menggoyang goyangkan pantatnya kekanan dan kekiri batang pinoy ini rasanya gatal seperti ada sesuatu yg akan dimuntahkan
yah benar spermaku terasa pelan pelan turun dari kedua teatisku dan serasa mengalir melewati batang pinoyku yg teramat tegang, dan akhirnya …
“hah tante … tante … tante …. aaaaaaghhhhh”
“tanteeeee ………”
desahku mngejar nikmatnya cairan sperma yg keluar didalam meqiu tante, 10 kali kedutan 10 kali pula pinoyku membesar sketika didalam meqiu tante, kutekan sedalam dalamnya pinoyku dilubang meqiu tante …
“oooough … roby …oooooh … rooooobyyyyyyy”
jeritan tante yg kedua kalinya bersamaan dgn orgasmeku …. serentak membuat tubuhku lemas …. terasa aliran darah dari kepalaku turun hingga ujung kakiku…keeingan membanjiri kami berdua malam itu …
“ya ampun tante …”
“meqiu tante terasa spt meqiu wanita yg berumur 23 tahuun tante” kubisikkan dkat telinga tante sebelah kiri dan tubuhku yg bermandikan keringan serta dada tante yg sdh licin membuat kami tersenyum bersama menikmati persetubuhan ini …
“yah … robypun sama”
“roby adalah lelaki yg perkasa”
“membuat tante lemas seketika”
“tante benar benar puas syng”
jawab tanteku sambil mengusap keringan diwajahku dgn tangan kanannya …
kamipun berpelukan, kulirik jam telah menunjukkan pukul 01.38 …
“ternyata ada yg aneh malam ini bersama tante” pikirku dalam hati sambil melihat kedua mata tante yg terpejam….
malam itu aku hanya mengingat orgasme sekali namun lama waktu permainan kami melebihi dari biasanya … yaitu 3 jam 55 menit.
benar benar ada yg aneh pengalamanku bersenggama dgn tenteku Fitri malam ini … benar benar puas ….
lalu …. kami berpisah setelah tante terbangun dri tidurnya selama 1 jam … tak lupa pun aku minta nmor hp tante agar suatu saat nanti kita masih bisa bermain main lagi …
“oh …. sungguh persetubuhan yg mmbawa nikmat, menyetubuhi seorang wanita yg tak lain adalah tanteku sendiri” kutersenyum didalam perjalanan keesokan harinya dg sebuah bus pariwisata bersama para rombongan tour.
kami melanjutkan perjalanan kesurabaya, hari terakhir kami disurabaya membuat hatiku bertambah bahagia … karena yg rerlihat dimata hanyalah uang persenan serta gaji dan bonus dari managerku.
aku tak menygka disurbya aku ditakdirkan kembali untuk bisa bersetubuh dgn saudaraku bernama ayu putri tunggal dari tante Fitri. hingga cerita ini aku buat selama 1 minggu untuk menyelesaikan kisahku …. namun atas saran dan kesetiannya para semproters sy mengucapkan terima kasih …
Share:
WELLCOME TO OSEX39.BLOGSPOT.CO.ID

TOP AHLICASINO 2017


Entri Populer

Blog Archive

About Me

Total Tayangan Laman

BEST POKER


HOT POKER