I Like A Beautiful Life

We Will Never Know, Before We Do So. Remember One Thing, The Work We Do Will Be Worth It.

Sexy Girl in World

When We Are Already One Of The Majors, Does Not Mean We Should Be One Of The Future.

How Much Sexy Girl In World

Never Underestimate Yourself. If You Are Unhappy With Your Life, Fix What's Wrong, And Keep Stepping.

Good Looking

If You Can Not Be Intelligent, Be a Good Person.

Can You Get What You Want

Most Millionaires Get a B or C on Campus. They Build Wealth Not Of IQ Alone, But Creativity and Common Sense.

Minggu, 26 Februari 2017

Merasakan Nikmatnya Seks Dengan Pasangan Kita Tanpa Harus Melakukannya


Pelepasan hasrat seksual adalah salah satu perasaan terbaik yang akan dialami setiap orang pada waktu-waktu tertentu. Kenikmatan mencapai orgasme memang bisa dirasakan melalui proses masturbasi.

Ketika ada pasangan tentunya kebanyakan orang akan memilih untuk melepaskan hasrat bercinta dengan pasangan masing-masing dan tidak akan menyia-nyiakan momen pelepasan hasrat bercinta itu seorang diri.

Namun terkadang pasangan pun menjadi bosan dengan aktivitas bercinta yang sama saja dari waktu ke waktu. Ingin mencoba hal baru agar kehidupan seks bisa kembali membara?

Berikut langkah-langkah erotis yang bisa dilakukan untuk mendapatkan kepuasan seks dengan pasangan tanpa harus melakukannya seperti dilansir dari Everyday Health, Penasaran kan?

-Mandi bersama

Langkah ini memang terdengar sederhana dan tidak menarik. Akan tetapi, hal ini patut dicoba sebelum penilaian dilakukan. Nyalakan air bersuhu hangat ke panas hingga kaca kamar mandi berembun.

Rasakan air mengucur ke seluruh tubuh dan kenyamanan yang tercipta di beberapa bagian. Mulailah memandikan satu sama lain, menyabuni secara perlahan-lahan sambil bercumbu hangat di bawah shower yang airnya mengucur ke seluruh bagian wajah.

Lama-lama keduanya akan terangsang dan apabila dilakukan sepenuh hati sekaligus hasrat, sangat mungkin orgasme tercapai tanpa harus melibatkan aktivitas bercinta yang sesungguhnya.

-Saling pijat-memijat

Langkah erotis kedua adalah untuk saling memijat satu sama lain. Sekujur tubuh keduanya ditumpahkan minyak zaitun kemudian bisa dimulai dengan sang wanita memijat bagian punggung ke bawah pria.

Pijatan di area sekitar alat kelamin keduanya akan merangsang klimaks kecil yang mana jika dilakukan dalam jangka waktu lama bisa memicu orgasme seperti yang dicapai ketika bercinta.

-Tubuh lezat beraneka rasa

Langkah erotis ketiga, letakkan beberapa jenis makanan lezat seperti buah stroberi, cokelat dan lainnya sesuai kesukaan masing-masing pada titik-titik tertentu tubuh.

Cara ini dilakukan secara bergantian. Pertama bisa dimulai dengan sang pria dalam posisi terbaring nyaman, dua buah stroberi diletakkan di bagian dadanya, kemudian sirup cokelat atau madu ditumpahkan mulai dari bagian leher hingga penisnya.

Sang wanita kemudian akan makan stroberi atau apa pun yang ditaruh di atas tubuh sang pria yang sedang terbaring itu dan dilanjutkan dengan sesi menjilat sirup cokelat dan madu hingga wilayah penis.

Ini merupakan trik paling menggoda yang dapat mendorongnya untuk orgasme tanpa harus lakukan seks. Setelah mendapatkan kepuasan, sang pria bisa bergantian melakukan hal yang sama terhadap si wanita.
Share:

Memahami Kemahiran Seks Seseorang Dari Bulan Ulang Tahunnya


Dalam kehidupan seks, tentunya setiap orang mendambakan pasangan yang bisa memberikan kepuasan setara dengan dirinya. Kebanyakan orang akan berupaya melakukannya terlebih dahulu sebelum berlanjut ke fase penilaian terhadap pasangannya.

Namun, jika Anda tidak sabar dan penasaran akan kelihaian pasangan di atas kasur, Anda bisa mencoba memahaminya lewat bulan ulang tahunnya.

Setiap bulan memiliki kelebihan tersendiri yang membuat setiap orang yang lahir di bulan itu berbeda dari yang lain kemahirannya dalam memuaskan pasangan.

Berikut penjelasan mendetilnya seperti dilansir dari Woman’s Day.

Januari:

Orang-orang yang terlahir di bulan pengawal tahun ini diketahui suka bereksperimen saat seks. Kemampuannya untuk berinovasi saat seks, terutama dalam menciptakan posisi bercinta baru yang unik, adalah bukti kemahirannya yang tidak dimiliki orang-orang yang lahir di bulan lainnya.

Februari:

Orang-orang yang lahir di bulan Februari memiliki jiwa petualang. Hal ini juga dapat dilihat dari kemampuannya membuat sesi bercinta menjadi sebuah petualangan yang tidak akan pernah luput dari memori siapa pun yang pernah melakukannya. Ia akan memperpanjang sesi oral seks dengan setiap langkah dilakukan perlahan-lahan dan sepenuh hati seperti ada jalan ceritanya.

Maret:

Orang-orang yang lahir di bulan Maret mampu membuat sesi bercinta seperti perjalanan spiritual yang menyatukan jiwa dua orang. Ia umumnya sangat suka menghabiskan waktu berlama-lama di ranjang bersama pasangan, baik ketika bercinta atau seusainya. Baginya seks adalah sesi penyatuan jiwa dua orang dan harus dilakukan seintim mungkin guna mencapai kepuasan tiada banding.

April:

Orang-orang yang lahir di bulan April sangat menyukai sesi bercinta yang panas, intens, dan bergaya hardcore. Ia memang bukan tipe yang suka berlama-lama melakukannya. Namun satu sesi panas bersamanya tidak akan pernah terlupakan sampai akhir hayat.

Mei:

Orang-orang yang lahir di bulan Mei mengutamakan kenyamanan saat melakukan seks. Baginya, kenyamanan adalah segalanya dan penerapan hal ini ketika melakukan seks akan membuat sesi tersebut nikmat ala kadarnya.

Juni:

Orang-orang lahir di bulan Juni menyukai hal-hal baru yang menggoda. Ia sangat lihai dalam menggoda lewat telpon atau phone sex, kemudian juga suka menciptakan sekaligus melakukan posisi seks baru layaknya orang-orang yang terlahir di bulan Januari.

Juli:

Orang-orang yang lahir di bulan Juli umumnya memprioritaskan kepuasan pasangannya. Ia tidak akan berhenti berupaya membuat pasangannya orgasme dan tidak akan orgasme duluan sebelum pasangannya. Ia menganggap kepuasan emosional pasangan itu adalah segalanya saat seks.

Agustus:

Orang-orang yang lahir di bulan Agustus suka unjuk kelihaiannya dalam bercinta. Ia tidak suka diatur karena menurutnya, dialah yang tahu pasti bagaimana memuaskan pasangan sekaligus dirinya.

September:

Orang-orang yang lahir di bulan September awalnya akan terlihat malu-malu ketika diajak bercinta. Ini dikarenakan orang-orang yang terlahir di bulan September hampir sama dengan yang lahir di bulan Juli, mereka membutuhkan kelekatan emosional antara kedua orang terlebih dahulu sebelum memberikan segalanya di atas ranjang.

Oktober:

Orang-orang yang lahir di bulan Oktober paling jago menggoda pasangannya di atas ranjang. Mereka sangat romantis dan mampu membuat pasangannya klimaks sekaligus orgasme bahkan pada saat sesi oral seks.

November:

Orang-orang yang lahir di bulan November berani melakukan hal-hal aneh saat seks. Ia akan menginginkan pasangan sepenuh hati dan mengharapkan hasrat serupa dari pasangannya.

Desember:

Orang-orang yang lahir di bulan Desember suka menceritakan hal-hal senonoh sebagai godaan sebelum memulai seks dan sangat menyukai aksi role-play.
Share:

Sabtu, 25 Februari 2017

Atasi Masalah Susah Tidur Dengan Menelan Sperma Pasangan Untuk Wanita


Aktivitas bercinta tentunya kurang sempurna tanpa adanya sesi pemanasan atau yang biasa disebut seks oral. Umumnya sesi ini melibatkan aksi-aksi tertentu seperti menghisap penis, menggelitiki vagina dan saling menjilat bagian tubuh sensitif lainnya untuk merangsang kedua pihak detik-detik sebelum seks dimulai.

Hampir semua pria mendambakan aksi menghisap penis dari sang wanita. Namun kenikmatan tidak hanya untuk kalangan pria saja. Wanita juga bisa merasakan dampak positif dari melakukannya, terlebih jika ia menelan air mani atau cairan sperma yang dikeluarkan sang pria.

Penelitian di State University of New York menunjukan fakta bahwa air mani atau sperma mengandung beragam jenis hormon yang bisa membuat wanita yang mengonsumsinya merasa lebih puas hatinya, lebih muda penampilan fisiknya dan lebih penyayang sifatnya.

Ini dibuktikan juga melalui penelitian lainnya di University Albany Campus yang melibatkan setidaknya 300 siswi. Setelah berbulan-bulan diteliti, para siswi yang sering menelan air mani pasangan prianya ketika seks oral atau bercinta kecenderungan mengalami depresi atau penyakit mental lainnya sangat kecil.

Penelitian tersebut juga mengungkap bahwa siswi yang sering bercinta hidupnya lebih bahagia, kesehatannya lebih terjamin, bentuk tubuhnya lebih ideal dan kemampuan kognitifnya jauh lebih baik dibandingkan yang jarang.

Penasaran apa saja zat hormon yang dikandung sperma? Air mani atau sperma mengandung estrone dan oksitosin yang memberikan rasa nikmat tiada duanya, lalu thyrotropin dan serotonin yang bertindak sebagai antidepresan, kemudian kortisol yang membantu perangi stres dan melepaskan adrenalin penumbuh rasa kasih sayang, dan yang terakhir melatonin untuk membantu mengatasi masalah tidur agar lebih mudah mendapatkan waktu beristirahat yang berkualitas.
Share:

Jumat, 24 Februari 2017

Berkumpul Dengan Para Ibu-Ibu Horny


Arisan ibu-ibu selalu saja memiliki gosip yang berbagai ragam. Mulai dari gosip berlian, gosip hutan piutang, bahkan gosip seks. Kali ini aku terkejut sekali, ketika seorang teman membisikkan padaku, kalau Ibu Wira itu, suka rumput muda. Justru yang dia sukai adalah laki- laki belasan tahun.
Rasany aku kurang percaya. Ap ia? Bu Wira yang sudah berusia lebih 50 tahunmasih doyan laki-laki belasan tahun?
“Woalaaah…Bu Tuty masya enggak percaya sih?” kata Bu Lina lagi. Aku sudah janda hampir 10 tahun, sejak perkawinan suamiku dengann istri mudanya. Aku tak nuntut apa-apa, keculi Julius putra tunggalku harus bersamaku dan rumah yang kami benagun bersama, menjadi milikku.
Aku sakit hati sekali ebenarnya. Justru perkawinan suamiku, karena katanya aku tidak bisa melahirkan lagi, sejak peranakanku diangkat, ketika aku dinyatakan terkena tumor rahim. Suamiku mengakui, kalau permainan seksku masih sangat Ok. Dalam usia 37 tahun, aku masih keliahatan cantik dan seksi.
“Lihat tuh, Bu Tuty. Matanya asyik melirik anak bu Tuty terus tuh,” kata Bu Salmah tetanggaku itu. Kini aku jadi agak percaya, ketika aku melihat dengan jelas, Bu Wira mengedipkan matanya ke putra tunggalku Julius. Rasanya aku mau marah, kenapa Bu Wira mau mengincar putraku yang masih berusia hampir 15 tahun berkisar 12 hari lagi.
Sepulang dari arisan, aku sengaja mendatangi tetangga yang lain dan secara lembut menceritakan apa yang diceritakan Bu Salmah kepadaku. Tetanggaku itu tertawa cekikikan. Dari ceritanya, suami bu Wira sudah tak sanggup lagi, bahkan suaminya sudah tahu kelakuannya itu.
Bu Wira memang suka burung muda, kata mereka. Bahkan putra tetanggaku titu pernah digarap oleh Bu Wira. Karean malu ribut- ribut, lagi pula anaknya yang sudah berusia 18 tahun dibiarkan saja.
“Laki-laki kan enggak apa-apa bu. Kalau anak perempuan, mungkin perawannya bisa hilang. Kalau anak laki-laki, siapa tahu perjakanya hilang,” kata tetanggaku pula. Bulu kudukku berdiri, mendengarkan celoteh tetanggaku itu. Aku kurang puas denga dua informasi itu. Aku bertandang lagi ke tetanggaku yang lain masih di kompleks perumahan …..(Dirahasiakan) Indah. Tetangku itu juga mengatakan,
kalau itu soal biasa sekarang ini.
Malamnya aku ngobrol-ngobrol dengan putraku Julius. Julius mengatakan, kalau Tante Wira sudah mengodanya. Bahkan sekali pernah menyalaminya dan mempermainkan jari telunjuknya di telapak tangan putraku. Pernah sekali juga, kata putraku, Tante Wira mengelus burung putraku dari balik celananya, waktu putraku bermain ke rumah Tante Wira.
Aku sangat terkejut sekali mendengar pengakuan putraku Julius menceritakan tingkah laku Bu Wira. Tapi tetanggaku mengatakan, itu sudah rahasia umum, dan kini masalah itu sudah biasa. Bahkan tetanggaku mengajakku untuk berburu burung muda bersama-sama.
Malamnya aku tak bisa tidur. AKu sangat takut, kalau putraku akan menjadi korban dari ibu-ibu di kompleks itu. Sudah sampai begitu? Semua sudah menjadi rahasia umum dan tak perlu dipermasalahkan?
Lamat-lamat aku memperhatikan putraku. Trnyata dia memang ganteng seperti ayahnya. Persis fotocopy ayahnya. Walau masih 15 tahun, tubuhnya tinggi dan atletis, sebagai seorang pemain basket. Gila juga pikirku.
Rasa takutku marah-marah kepada Bu Wira, karean aku juga mungkin pernah dia lihat berselingkuh dengan teman sekantorku. Mungkin itu akan jadi senjatanya untuk menyerangku kembali, pikirku. Hingga aku harus menjaga anak laki-lakiku yang tunggal, Julius.
Ketika Julius pergi naik sepeda mootr untuk membeli sesuatu keperluan sekolahnya, aku memasuki kamarnya. Aku melihat majalah- majalah porno luar negeri terletak di atas mejanya. Ketika aku menghidupkan VCD, aku terkejut pula, melihat film porno yang terputar. Dalam hatiku, aku haru semnyelamatkan putraku yang tunggal ini.
Sepulangnya dari toko, aku mengajaknya ngobrol dari hati ke hati.
“Kamu kan sudah dewasa, nak. Mami tidak marah lho, tapi kamu harus jawab sejujurnya. Dari mana kamu dapat majalah-majalah porno dan CDporno itu,” kataku. Julius tertunduk. Lalu menjawab dengan tenang dan malu-malu kalau itu dia peroleh dari teman-temannya di sekolah.
“Mama marah?” dia bertanya. AKu menggelengkan kepalaku, karena sejak awal aku mengatakan, aku tidak akan marah, asal dijawab dengan jujur. AKu harus menjadikan putra tunggalku ini menjadi teman, agar semuanya terbuka.
“Kamu sudah pernah gituan sama perempuan?” tanyaku.
“Maksud mami?”
“Apa kamu sudah pernah bersetubuh dengan perempuan?” tanyaku lagi. Menurutnya secara jujur dia kepingin melakukan itu, tapi dia belum berani. Yang mengejutkan aku, katanya, minggu depan dia diajak kawan- kawannya ke lokalisasi PSK, untuk cari pengalaman kedewasaan.
Aku langsung melarangnya secara lembut sebagai dua orang sahabat. Aku menceritakan bagaimana bahaya penyakit kelamin bahkan HIV-AIDS. Jika sudah terkena itu, maka kiamatlah sudah hidup dan kehidupannya.
“Teman-teman Julius, kok enggak kena HIV, MI? Padahal menurut mereka, merekaitu sudah berkali-kali melakukannya?’ kata putraku pula. Ya ampun….begitu mudahnya sekarang untuk melakukan hal sedemikian, batinku.
“Pokoknya kami tidak boleh pergi. Kalau kamu pergi, Mami akan mati gantung diri,” ancamku.
“Tapi Mi?”
“Tapi apa?”
“Julius akan kepingin juga. Katanya nikmat sekali Mi. Lalu bagaimanadong? Julius kepingin Mi. Katanya kalau belum pernah gituan, berarti belum laki-laki dewasa, Mi?” putraku merengek dan sangat terbuka.
Aku merangkul putraku itu. Kuciumi keningnya dan pipinya denga penuh kasih sayang.
Aku tak ingin anakku hancur karean PSK dan dipermainkan oleh ibu-ibu atau tante girang yang sering kudengar,bahkan oleh Bu Wira yang tua bangka itu.
Tanpa terasa airmataku menetes, saat aku menciumi pipi putraku. Aku memeluknya erat-erat. Aku akan gagal mendidiknya, jika anakku sematawayang ini terbawa arus teman-temannya ke PSK sana.
“Kamu benar-benar merasakannya, sayang?” bisikku. “Iya Mi,” katanya lemah. Aku merasakan desahan nafasnya di telingaku. Yah…malam ini kita akan melakukannya sayang. Asal kamu janji, tidak mengikuti teman-temanmu mencari PSK, kataku tegas.
“Berarti aku sama dengan Tony dong, Mi?”
“Tony? Siapa Tony?” tanyaku ingin tahu, kenapa dia menyamakan dirinya dengan Tony. Menurut cerita Julius putraku, Tony juga dilarang mamanya mengikuti teman-temannya pergi mencari PSK, walau Tony sudah sempat juga pergi tiga kali bersama teman-teman sekelasnya.
Untuk itu, secara diam-diam Tony dan mamanya melakukan persetubuhan. Katanya, Tony memakai kondom, agar mamanya tidak hamil. Aku terkejut juga mendengarnya.
“Kamu tidak perlu memakai kondom, sayang. Mami yakin, kalau mami tidak akan hamil,” kataku meyakinkannya. Seusai makan malam, Julius tak sabaran meminta agar kami melakukannya. AKu melihat keinginan putra begitu mengebu-gebu.
Mungkin dia sudah pengalaman melihat CD Porno dan majalah porno pikirku. AKu secepatnya ke kamar mandi mencuci paginaku dan membuka BH dan CD ku. AKu memakai daster minikuyang tipis. Di kamar mandi aku menyisiri rambutku serapi mungkin danmenyemprotkan parfum ke bagian-bagian tubuhku.
Aku ingin, putraku mendapatkan yang terbaik dariku, agar dia tidak lari ke PSK atau tante girang. Putraku harus selamat. Ini satu-satunya cara, karea nampaknya dia sudah sulit dicegah, pengaruh teman-temannya yang kuat.
Jiwanya sedang labil-labilnya, sebagai seorang yang mengalami puberitas.
Begitu aku keluar dari kamar mandi, putraku sudah menanti di kamar. Dia kelihatan bingung melihat penampilanku malam ini. Tidak seperti biasanya.
“Kamu sudah siap sayang,” kataku. Putraku mengangguk. Kudekati dia. Kubuka satu persatu pakaiannya. Kini dai telanjang bulat. AKua melapaskan dasterku. Aku juga sudah telanjang bulat. Aku melihat putraku melotot mengamati tubuhku yang telanjang.
Mungkin dia belum pernah melihat perempuan telanjang sepertiku di hadapannya. Aku duduk di tempat tidur. Kutarik tangannya agar berdiri di sela-sela kedua kakiku. Aku peluk dia. Aku kecip bibirnya dengan mesara. Pantatnya kusapu-sapu dengan lembut, juga punggungnya.
Dengan cepat terasa burungnya bergerak-gerak di perutku. Kujilati lehernya. Dia mendesah kenikmatan. Liodahku terus bermain di pentil teteknya. Lalu menjalar ke ketiaknya dan sisi perutnya. Aku merasakan tangan anakku mulai memagang kepalaku.
Kuperintahkan dia untuk duduk di pangkal pahaku. Kini dia duduk di pangkal pahaku, dengan kedua kakinya bertumpu ke pinggir tempat tidur. Tiba-tiba aku merebahkan diriku ke tempat tidur. dia sudah berada di atasku.
Kuminta agar dia mengisap puting susuku. Mulutnya mulai beraksi. Sementara burungnya terasa semakin keras pada rambut paginaku. Dengan cepat pula, kurebahkan dirinya. Kini aku yang balik menyerangnya.
Kujilati sekujur tubuhnya. Batang burungnya, telur yang menggantung di pangkal burungnya. Ku kulum burungnya dan kupermainkan lidahku pada burung itu.
“Mami…geli,” putraku mendesah.
“Tapi enakkan, wayang,” tanyaku.
“Enak sekali Mi,” katanya. Aku meneruskan kocokanku pada burungnya. Dia menggelinjang-gelinjang. Kuteruskan kucokanku. Kedua kakinya menjepit kepalaku dan…croot.croot.crooooooot! Spermanya keluar. Kutelan sepermanya dan kujilati batangnya agar spermanya tak tersisa. Aku senagaja memperlihatkannya kepadanya.
Kini dia menjadi lemas. Terlalu cepat dia keluar. Mungkin sebagai pemula, dia tak mampu mengontrol diri. Kuselimuti dirinya. 20 menit kemudian, setelah nafasnya normal, aku memberinya air minum segelas. Lalu aku membimbingnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kusabuni burungnya dan kulap pakai handuk. Kini kami sudah terbaring berdua di tempat tidur.
“Enak sayang?” tanyaku. Dia menagngguk.
“Tapi Mi, kita kan belum begituan. Katanya kalau begituan, burung Julius masuk ke lubang mem*k Mami,” katanya polos. Aku menganguk. Kamu harus segar dulu. Nanti kita ulangi lagi. Nanti kamu boleh memasukkannya ke lubang Mami, kataku.
“Kenapa nanti Mi? Kenapa tidak sekarang?” dia mendesak. Dia sudah begitu menginginkannya pikirku. Langsung kulumat bibirnya. Kujulurkan lidahku ke dala mulutnya. Dia langsung meresponsnya. Kini dia berganti memberikan lidahnya padaku.
Aku mengemutnya dengan lembut. Tanganku terus membelai-belai tubuhnya dan burungnya kuelus- elus. Sebentar saja burung itu bangkit.
“Naiki Mami, sayang,” kataku. Dia naik ke tubuhku. “Masukkan,” pintaku. Dia mencari-cari lubangku. Kuarahkan burungnya dengan tanganku. Setelah burung itu terasa di tengah bibir paginaku, kuminta dia menekannya.
Dia menakan burungnya dan langsung masuk, karean paginaku sudah basah. Aku memang sudah sangat lama merindukan ada burung memasuki paginaku. Setelah terhenti 5 tahun perselingkuhanku dengan seorang duda teman sekantorku (sejak dia pindah) aku tak pernah lagi selingkuh.
Burung yang besarnya cukup itu, terasa sudah mengganjal di liang paginaku. KUkangkangkan kedua kakiku. Aku membiarkan burung itutenggelam di dalamnya. Tak lama kemudian, aku merasakan putraku sudah mulai menarik-cucuk burungnya.
Aku biarkan saja, walaupun sebenarnya aku sudah agak gatal ingin meresponsnya. Lama kelamaan, aku tak tahan juga. Aku pun meresponnya dengan hati-hati, seakan aku hanya melayaninya saja, bukan karean kebutuhanku.
Sambil memompa burungnya, kuarahkan mulutnya untuk mengisap-isap pentil payudaraku. Dia melakukannya. AKu sudah melayang di buatnya. Sudah lama sekali aku tidak merasakan kenikmatan itu, sementara usia yang 37 tahun, masih membutuhkannya. Kujepit kedua kakiku ke tubuh putraku. Aku orgasme dengan cepat. Aku tidak memperlihatkan, kalau aku sudah orgasme. Perlahan-lahan aku tetap meresponsnya, sampai aku normal kembali.
“Jangan digenjot dulu, sayang. Mami Capek. Isap saja tetek mami, sayang,” pitaku. Aku tak ingin dia sudah orgasme, sementara aku masih jauh. Dia menjilati tetekku dan mengisap-isapnya. Atas permintaanku, sekali-sekali dia juga menggigit putingku. Libidoku bangkit.
Aku mulai melayang. Aku mulai menggoyang tubuhnya dari bawah. Dia merespons dengan kemabli menggejotku, menarik dan mencucuk burungnya ke dalam liang paginaku. Aku mendengar, suara begitu becek pada paginaku. Aku sedikit malu, karena selama ini, aku sudah tidak merawat lagi paginaku. Tapi dia semakin semangat mengocokkan burungnya.
“Mami…aku sudah mau keluar nih…” katanya. Saat itu aku juga sudah mau muncrat. Aku percepat goyanganku, agar aku lebih dulu sampai pada puncak kenikmatan itu. Dan…dia memelukku erat sekali.
Bahuku digigitnya dan sebelah tangannya mencengkeram rambutku. Ternyata kami bisa sama-sama sampai. Aku masih mampu mengatur irama permainan ini, pikirku.
Aku keringat dan putraku juga berkeringat. Perlahan dia ku baringkan ke sisiku dan aku menyelimuti tubuh kami dengan selimut tipis, sekaligus melap tubuh kami dari keringat. Setelah 15 menit aku
bangkit dan meneguk segelas air putih.
Segelas kuberikan kepdanya. Julius berjanji untuk merahasiakan ini kepada siapa saja, termasuk kepada teman dekatnya. Walau menurut Julius, temannya sudah berhubungan dengan beberapa wanita di lokalisasi PSK, namun behubungan dengan ibunya jauh lebih nikmat. Aku juga memberi yang terbaik buat putraku, demi keselamatan hidupnya, terhidar dari PSK dan tante giang.
Aku menyangupi, memberinya cara lain bermain seks, seperti yang dia lihat di CD porno dan majalah-majalah, seperti doggystyle dan sebagainya. Malam itu, Julius juga bersumpah, tidak akan pergi
mencari PSK, walau pun teman-temannya menuduhnya laki-laki Kuper dan ketinggalan zaman, karea dia sudah mendapatkannya dariku dengan baik.
Sejak saat itu, kami selalu melakukannya secara teratur, tidakserampangan. Tenatu saja di tempat tidur, di dapur, di sofa dan tempat-tempat lai di rumah kami dengan suasana yang indah. Bahkan kami pernah juga melakukannya di hotel, ketika kami wisata ke bogor. Semua orang memuji kegantengan putraku yang wajahnya imut-imut dan manja itu.
Kini putraku sudah SMA, AKu sudah persis 40 tahun. Orang bilang aku masih tetap cantik, karean aerobik. Sebeanranya, selain aerobik, aku juga melakukan hubungan seks yang sangat terataur.
Share:

Selingkuh Sama Mama


Kejadian ini berawal dari 2 tahunyang lalu diman aku masih duduk di bangku SMA, perkenalkan namaku Dedi aku dan mamaku mempunyai hubungan yang sangat baik dan dekat sekali, kita bagaikan sahabat atau teman sendiri tidak ada jarak antara aku dan mama, papaku seorang bisnismen yang mana di ajrang pulang karena persuhaan di luar negri.
Langsung aja ke cerita suatu hari saat aku pulang habis bimbingan belajar aku merasa ngantuk sekali jam sudah menunjukan setengah sepuluh malam, langsung saja aku pergi kekamar dengan bilang kepada mama “ma aku sudah pulang”kataku.
Namun tak ku dengar balasan… tapi apa peduli ku mungkin dia sedang di toilet kataku… Tak lama kemudian ku dengar suara gaduh disebuah kamar…
Lalu aku menyadari bahwa kamar tersebut adalah kamar mamaku…Namun ini sudah malam aku pun malas.jadi kuputar tubuhku dan bergegas ke kamarku.
Kembali aku terbangun dari tidurku mendengar suara gaduh.Kali ini aku harus melihatnya… ketika ku intip di lubah pintu apa yang ku lihat tidak dapat dipercaya…mamaku sedang bermain dengan alat vibrator”hm…mm….mm…
”Kakinya menyeret nyeret kasur menahan sakitnya”…..mm…mm..”Terus Kupandangi namun apa yg kudengar selanjutnya tidak dapat ku percaya..”…Ded…mm…mm.. Ded terus…ah..”jantungku pun berdebar tidak menyangka apa yg kudengar.
Aku pun pergi ke kamar untuk menyembunyikan diriku dan tidur….
Jam 12 aku terbangun..sayup sayup ku dengar suara”Ded”…setelah mataku terbuka lebar ternyata itu mama”ada apa ma,malem2x begini”kulihat mama memakai daster yang sangat tipis,,,sampai sampai bh dan celana dalamnya dapat terlihat olehku.
Dan akupun masih bisa melihat celana dalamnya yang basah….”Ded … maafkan mama..”seketika itu pula mama mencium bibirku dan memainkan lidahnya”mmm…”kataku…lalu ku hentikan sebentar”ada apa ma?”aku bertanya selagi jantungku berdebar”
Mama kesepian selama ini ayahmu tidak pernah ada di dekat mama,,,mama butuh,,seorang pria yg selalu ada di mama yaitu kamu Ded”aku tidak bisa berfikir apa apa”tapi ma..Dedi kan..”belum selesai aku menjawab mama kembali menciumku”semalam ini saja Ded…”kemudian setelah itu dia memelukku kurasakan hangatnya tubungnya
Buah dadanya mengenai dadaku…”ma Dedi…kan…”aku ingin memastikan ada apa ini”ngga apa 2x Ded sekali ini saja…”kami pun melanjutkannya…dengan alami..kumasukan jari2xku ke daster mama untuk ku buka…”ah….”sahut mama
Lalu kumasukan tangan lainnya ke dalam celana mama yang sudah basah…”ma maaf Dedi juga laki2x biasa Dedi ngga bisa tahan”kataku dengan perasaan bersalah”Ded ngga apa2x mama bisa memakluminya,mama juga membutuhkannya ayo teruskan”kumasukan jari ku ke dalam vagina mama yang hangat,
Inilah tempat ku pernah dilahirkan tidak kusangka begtitu indah dan nikmatnya”ah…ah…”mama tak kuasa menahan gerakan tanganku di alat vitalnya..
Lalu ku cium buah dadanya kemudian ku hisap putingnya”Ded ayo Ded … ah…. isep aja…mama masih pengen kamu menyusu ke mama kaya waktu dulu…ah…”kami pun melakukannya selama mungkin… kira2x setelah 15 menit berlalu gejolak gairah tidak bisa kami tahan…
”Ma Dedi pengen..”kataku”stt… sudah mama sudah tau kok.. ayo Dedi masukin aja..”lalu ketika ku keluarkan alat vitalku mama langsung memerah begitu juga dengan alat vitalnya…lalu ku masukan secara perlahan….”hmmm….m…mmm..”
Mama menahan rasa sakit”ah…Ded mama ngga nyangka ukuran nya… ah…mm… cukup buat… mmm.. mama…ah…”akhirnya aku sampai pada ujungnya,dan kamipun berhenti sejenak..
”Ded selamat datang lagi di tubuh mama”aku rasakan ada tembok diujungnya”ayo Dedi gerak sama2x…perlahan ya Ded…”kata mama menuntunku”iya ma..”
Kami duduku berhadapan mama diatas ku dan aku dibawahnya,buah dadanya tepat berada di depan mataku…,, sedikit ku goyangkan “ah…Dedi…ah…”desah mama”ma…ma..ah…”kata ku kami pun bergerak perlahan dengan perlahan…
Secara perlahan aku meraba ke pantat mamaku..”hmmm..mmm..”mama yang masih menahan sakitnya gerakan ku..
Akhirnya tanganku mencapai pantatmama lalu giliranku yang mengatur tempo dengan tanganku..”ahh…ah…”mama sudah tidak bisa menahan lagi teriakannya..
Lalu ku percepat tempo gerakanya”ahh… Dedi…ah.. mama satik Ded..”kata mama padaku”mama Dedi juga maa..”balasku
“ayo Ded cium lagi mama ah…”lalu mama mencium ku lagi”ah…ah..”teriak mama seraya melepaskan ciumanku..lalu terlihat
Cairan keluar dari kedua mulut kami… membasahi tubuh kami”ah..ah..”teriakan mama sangat keras begitujuga denganku”maa…maa…..”…
Tangan mamapun merangkul ku dan memegang erat tubuhku”Ded suka ngga…ah…dengan mama..”tanya mama”iya mahDedi suka…”balasku lagi
Lalu mama menyuruhku untuk pindah”Ded coba sekarang angkat mama,,,ah…tapi jangan Dedi lepas ya..ah..”tanpa basa basi lagi aku pun mengangkat tubuh mama yang besar dengan
sekuat tenagaku,,
Dan aku pun berdiri dengan menahan mama yang masih tetap menyatu dengan ku”ahh.. sekarang coba Dedi duduk di ruang tamu..mmm..”lalu aku pun berjalan dengan tetap menggedong mamaku yang tetap menempel padaku,,aku melangkah dengan hati2x sedikit demi sedikit…buah dadanya semakin rapat ke arahku.
Dan mama masih tetap menggerakan tubuhnya…”ah..ah..”lalu akupun berhasil mencapai ruang tengah..”di kursi yang mana ma?”diriku sudah tidak kuat lagi menahan berat badan mama
“yang itu Ded yang kecil..jangan di sofa..ah..ah..Dedi duduk di sana ya Ded..ahh..”mama memilih bangku kecil yang hanya muat untuk satu orang dan aku pun duduk disana “ahh…ah…”teriakan mama semakin keras mungkin sudah hampir mencapai orgasmenya”maa..
Dedi udah mau keluar maa..”
“Ded mama juga ah…”lalu kurasakan aliran yang menjalar ke seluruh tubuhku”maaa Dedi mau keluar maa..ah..”sahutku”Ded ayo cpet keluarin Ded.. mama juga udah mau ah..”seketika itu aku berusaha untuk menarik mama keluar
Tak disangka bangku yang kami pakai bergoyang dan mengakibatkan kami hilang keseimbangan”ah… ayo Ded cpet..ah.. Dedi.. Dedi..”kami pun jatuh ke karpet empuk,,, dengan posisi mamaku dibawah dan aku diatasnya”aahh…ah..”kataku”hmmm Dedi Dedi..”akat mamaku
Ketika jatuh penisku menusuk dalam ke bagian tubuh mama… dan kusadari bahwa itu adalah bagian dari rahim mama,,, “ahh…………ahhh….”aku pun mengeluarkan bibit bibit bayi ku di dalam rahim mama yang sangat dalam”ahh… Dedii… apa yang kamu lakukan Dedi ah..”
Seketika itu pula mama mengeluarkan orgasmenya,,, telur2x mama keluar dengan banyaknya tiada henti begitu pula dengan sperma ku…”ahhh….ah….”aku terus mengeluarkan cairan hormonku kedalam mama begitu juga mama”ahh……”
Dan kami pun berhenti berteriakk.. lalu kusadari bahwa penisku berhenti orgasme setelah 1 menit kemudian “hah hah hah”desahan nafasku”hmmm..”dan mama memejamkan mata,, (posisi kami masih menyatu)
“ma maaf Dedi tadi hilang keseimbangan ma…”kataku dengan perasaan bersalah”ngga apa apa Ded..”balas mama yg masih terlihat cape (tapi ma tadi Dedi ngeluarinnya di dalam.. Dedi takut bersalah ma.. Dedi takut..”kataku
“Dedi ngga perlu takut kok..”kata mama”nanti kalo mama hamil apa kata orang,, tadi Dedi ngeluarinnya di rahim mama”kataku kembali”ngga apa2x Ded kalo mama hamil mama seneng…
Sebenernya mama pengen punya anak lagi Ded.. tapi dair siapa papa jarang pulang,, mama cuma bisa berharap ke kamu Ded”aku pun terdiam”jadi Dedi mau bantu mama hamilkan??”tanya mama”iya Dedi coba ma..”
Setelah itu kami pun melakukannya dengan sering sehari sampai 4 kali bahkan lebih… mama tidak memakai baju didalam rumah agar aku dapat melakukannya kapan saja… kadang ketika mama sedang masak aku lakukan,, ketika sedang makan pun tak jarang posisi kami menyatu..
Ketika mDedi kami selalu melakukannya di bathhun “ma ini yang keberapa ya ma?”….”ini yang ke 27 kali Ded ayo terus kasih bibit Dedi lagi ke mama..”….”iya ma…”…..
Bahkan ketika tidur kami tetap dalam keadaan menyatu hingga ke sekokan harinya…dan ke esokan harinya cairan sudah mengering di masing2x alat vital kami…
Beberapa minggu kemudian setelah kami melakukannya selama 1 bulan mengatakan padaku”Ded kamu akan jadi kakak dan ayah Ded…”setelah itu kami pun tersenyum satu sama lain
Beberapa bulan kemudian perut mama semakin membesar dengan bayiku didalamnya.. dan papa belum tahu akan hal ini.. walaupun perut mama yang semakin besar karena kata dokter anaknya adalah kembar.
Tidak menyurutkan niat kami untuk tetap bercinta”ah…ayo Ded…ahh…”mama semakin bergairah dengan 2 bayiku didalam perutnya “maa mama kelihatanya semakin bergairah sejak mama hamil ma?
Ah….”tanyaku”iya Ded mama semakin bergairah..sejak mama mengandung bayi Dedi…ahh..” tidak hanya itu buah dadanya pun ikut membesar karena susunya mulai terisi..”ma boleh Dedi nyusu ma?”
Aku memintanya karena tidak tahan melihat puting yang penuh dengan susu bergoyang kesana kemari…”ahh.. hmm.. iya … Dedi.. ah,.,boleh”aku pun menghisap manisnya susumama,, sambil memegang perut mama yang besar,
Bulu-bulu mamapun mengeluarkan cairan,, seperti diketiaknya lalu kujilati ketiaknya”hmmm… ah…”tahan mama dengan gairah yang amat sangat
“Ded mama mau keluar Ded…”teriak mama”ma Dedi juga ma… Dedi udah ngga tahan…ah…”lalu kami pun mengeluarkan cairan reproduksi kami bersamaan.. meskipun hamil mama tetap selalu bergairah…
Syukurlah beberapa bulan kemudian mama melahirkan bayi sepasang bayi kembar yang sehat…”Ded mama pengen punya anak lagi Ded…”kata mama setelah melihatku menggendong bayi..
Setelah itu papa mengetahui hubungan kami dan memutuskan untuk pergi… setelah itu aku dan mama hidup berdua kami tetap melakukan hubungan intim… mamaku selalu terus menginginkan anak…
Selama bertahun2x kami pun melakukan hal tersebut dan memiliki belasan anak… dan mama selalu bahagia
Share:

Aku Puas Sama Mertua Laki-Lakiku


Namaku Novianti. Usiaku telah menginjak kepala tiga. Sudah menikah setahun lebih dan baru mempunyai seorang bayi laki-laki. Suamiku berusia hanya lebih tua satu tahun dariku. Kehidupan kami dapat dikatakan sangat bahagia. Memang kami berdua kawin dalam umur agak terlambat sudah diatas 30 tahun.
Selewat 40 hari dari melahirkan,

suamiku masih takut untuk berhubungan seks. Mungkin dia masih teringat pada waktu aku menjerit-jerit pada saat melahirkan, memang dia juga turut masuk ke ruang persalinan mendampingi saya waktu melahirkan. Di samping itu aku memang juga sibuk benar dengan si kecil, baik siang maupun malam hari. Si kecil sering bangun malam-malam, nangis dan aku harus menyusuinya sampai dia tidur kembali.
Sementara suamiku semakin sibuk saja di kantor, maklum dia bekerja di sebuah kantor Bank Pemerintah di bagian Teknologi, jadi pulangnya sering terlambat. Keadaan ini berlangsung dari hari ke hari, hingga suatu saat terjadi hal baru yang mewarnai kehidupan kami, khususnya kehidupan pribadiku sendiri.
Ketika itu kami mendapat kabar bahwa ayah mertuaku yang berada di Amerika bermaksud datang ke tempat kami. Memang selama ini kedua mertuaku tinggal di Amerika bersama dengan anak perempuan mereka yang menikah dengan orang sana. Dia datang kali ini ke Indonesia sendiri untuk menyelesaikan sesuatu urusan. Ibu mertua nggak bisa ikut karena katanya kakinya sakit.
Ketika sampai waktu kedatangannya, kami menjemput di airport, suamiku langsung mencari-cari ayahnya. Suamiku langsung berteriak gembira ketika menemukan sosok seorang pria yang tengah duduk sendiri di ruang tunggu. Orang itu langsung berdiri dan menghampiri kami. Ia lalu berpelukan dengan suamiku. Saling melepas rindu. Aku memperhatikan mereka.
Ayah mertuaku masih nampak muda diumurnya menjelang akhir 50-an, meski kulihat ada beberapa helai uban di rambutnya. Tubuhnya yang tinggi besar, dengan kulit gelap masih tegap dan berotot. Kelihatannya ia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya berolah raga sejak dulu. Beliau berasal dari belahan Indonesia Timur dan sebelum pensiun ayah mertua adalah seorang perwira angkatan darat.
“Hei nak Novi. Apa khabar…!”, sapa ayah mertua padaku ketika selesai berpelukan dengan suamiku.
“Ayah, apa kabar? Sehat-sehat saja kan? Bagaimana keadaan Ibu di Amerika..?” balasku.
“Oh…Ibu baik-baik saja. Beliau nggak bisa ikut, karena kakinya agak sakit, mungkin keseleo….”
“Ayo kita ke rumah”, kata suamiku kemudian.
Sejak adanya ayah di rumah, ada perubahan yang cukup berarti dalam kehidupan kami. Sekarang suasana di rumah lebih hangat, penuh canda dan gelak tawa. Ayah mertuaku orangnya memang pandai membawa diri, pandai mengambil hati orang. Dengan adanya ayah mertua, suamiku jadi lebih betah di rumah. Ngobrol bersama, jalan-jalan bersama.
Akan tetapi pada hari-hari tertentu, tetap saja pekerjaan kantornya menyita waktunya sampai malam, sehingga dia baru sampai kerumah di atas jam 10 malam. Hal ini biasanya pada hari-hari Senin setiap minggu. Sampai terjadilah peristiwa ini pada hari Senin ketiga sejak kedatangan ayah mertua dari Amerika.
Sore itu aku habis senam seperti biasanya. Memang sejak sebulan setelah melahirkan, aku mulai giat lagi bersenam kembali, karena memang sebelum hamil aku termasuk salah seorang yang amat giat melakukan senam dan itu biasanya kulakukan pada sore hari. Setelah merasa cukup kuat lagi, sekarang aku mulai bersenam lagi, disamping untuk melemaskan tubuh, juga kuharapkan tubuhku bisa cepat kembali ke bentuk semula yang langsing, karena memang postur tubuhku termasuk tinggi kurus akan tetapi padat.
Setelah mandi aku langsung makan dan kemudian meneteki si kecil di kamar. Mungkin karena badan terasa penat dan pegal sehabis senam, aku jadi mengantuk dan setelah si kecil kenyang dan tidur, aku menidurkan si kecil di box tempat tidurnya. Kemudian aku berbaring di tempat tidur. Saking sudah sangat mengantuk, tanpa terasa aku langsung tertidur. Bahkan aku pun lupa mengunci pintu kamar.
Setengah bermimpi, aku merasakan tubuhku begitu nyaman. Rasa penat dan pegal-pegal tadi seperti berangsur hilang… Bahkan aku merasakan tubuhku bereaksi aneh. Rasa nyaman sedikit demi sedikit berubah menjadi sesuatu yang membuatku melayang-layang. Aku seperti dibuai oleh hembusan angin semilir yang menerpa bagian-bagian peka di tubuhku.
Tanpa sadar aku menggeliat merasakan semua ini sambil melenguh perlahan. Dalam tidurku, aku bermimpi suamiku sedang membelai-belai tubuhku dan kerena memang telah cukup lama kami tidak berhubungan badan, sejak kandunganku berumur 8 bulan, yang berarti sudah hampir 3 bulan lamanya, maka terasa suamiku sangat agresif menjelajahi bagian-bagian sensitif dari sudut tubuhku.
Tiba-tiba aku sadar dari tidurku… tapi kayaknya mimpiku masih terus berlanjut. Malah belaian, sentuhan serta remasan suamiku ke tubuhku makin terasa nyata. Kemudian aku mengira ini perbuatan suamiku yang telah kembali dari kantor. Ketika aku membuka mataku, terlihat cahaya terang masih memancar masuk dari lobang angin dikamarku, yang berarti hari masih sore. Lagian ini kan hari Senin, seharusnya dia baru pulang agak malam, jadi siapa ini yang sedang mencumbuku…
Aku segera terbangun dan membuka mataku lebar-lebar. Hampir saja aku menjerit sekuat tenaga begitu melihat orang yang sedang menggeluti tubuhku. Ternyata… dia adalah mertuaku sendiri. Melihat aku terbangun, mertuaku sambil tersenyum, terus saja melanjutkan kegiatannya menciumi betisku. Sementara dasterku sudah terangkat tinggi-tinggi hingga memperlihatkan seluruh pahaku yang putih mulus.
“Yah…!! Stop….jangan…. Yaaahhhh…!!?” jeritku dengan suara tertahan karena takut terdengar oleh Si Inah pembantuku.
“Nov, maafkan Bapak…. Kamu jangan marah seperti itu dong, sayang….!!” Ia malah berkata seperti itu, bukannya malu didamprat olehku.
“Ayah nggak boleh begitu, cepat keluar, saya mohon….!!”, pintaku menghiba, karena kulihat tatapan mata mertuaku demikian liar sambil tangannya tak berhenti menggerayang ke sekujur tubuhku. Aku mencoba menggeliat bangun dan buru-buru menurunkan daster untuk menutupi pahaku dan beringsut-ingsut menjauhinya dan mepet ke ujung ranjang. Akan tetapi mertuaku makin mendesak maju menghampiriku dan duduk persis di sampingku. Tubuhnya mepet kepadaku. Aku semakin ketakutan.
“Nov… Kamu nggak kasihan melihat Bapak seperti ini? Ayolah, Bapak kan sudah lama merindukan untuk bisa menikmati badan Novi yang langsing padat ini….!!!!”, desaknya.
“Jangan berbicara begitu. Ingat Yah… aku kan menantumu…. istri Toni anakmu?”, jawabku mencoba menyadarinya.
“Jangan menyebut-nyebut si Toni saat ini, Bapak tahu Toni belum lagi menggauli nak Novi, sejak nak Novi habis melahirkan… Benar-benar keterlaluan tu anak….!!, lanjutnya.
Rupanya entah dengan cara bagaimana dia bisa memancing hubungan kita suami istri dari Toni. Ooooh…. benar-benar bodoh si Toni, batinku, nggak tahu kelakuan Bapaknya.
Mertuaku sambil terus mendesakku berkata bahwa ia telah berhubungan dengan banyak wanita lain selain ibu mertua dan dia tak pernah mendapatkan wanita yang mempunyai tubuh yang semenarik seperti tubuhku ini. Aku setengah tak percaya mendengar omongannya. Ia hanya mencoba merayuku dengan rayuan murahan dan menganggap aku akan merasa tersanjung.
Aku mencoba menghindar… tapi sudah tidak ada lagi ruang gerak bagiku di sudut tempat tidur. Ketika kutatap wajahnya, aku melihat mimik mukanya yang nampaknya makin hitam karena telah dipenuhi nafsu birahi. Aku mulai berpikir bagaimana caranya untuk menurunkan hasrat birahi mertuaku yang kelihatan sudah menggebu-gebu. Melihat caranya, aku sadar mertuaku akan berbuat apa pun agar maksudnya kesampaian.
Kemudian terlintas dalam pikiranku untuk mengocok kemaluannya saja, sehingga nafsunya bisa tersalurkan tanpa harus memperkosa aku. Akhirnya dengan hati-hati kutawarkan hal itu kepadanya.
“Yahh… biar Novi mengocok Ayah saja ya… karena Novi nggak mau ayah menyetubuhi Novi… Gimana…?”
Mertuaku diam dan tampak berpikir sejenak. Raut mukanya kelihatan sedikit kecewa namun bercampur sedikit lega karena aku masih mau bernegosiasi.
“Baiklah..”, kata mertuaku seakan tidak punya pilihan lain karena aku ngotot tak akan memberikan apa yang dimintanya.
Mungkin inilah kesalahanku. Aku terlalu yakin bahwa jalan keluar ini akan meredam keganasannya. Kupikir biasanya lelaki kalau sudah tersalurkan pasti akan surut nafsunya untuk kemudian tertidur. Aku lalu menarik celana pendeknya.
Ugh! Sialan, ternyata dia sudah tidak memakai celana dalam lagi. Begitu celananya kutarik, batangnya langsung melonjak berdiri seperti ada pernya. Aku sangat kaget dan terkesima melihat batang kemaluan mertuaku itu….
Oooohhhh…… benar-benar panjang dan besar. Jauh lebih besar daripada punya Toni suamiku. Mana hitam lagi, dengan kepalanya yang mengkilap bulat besar sangat tegang berdiri dengan gagah perkasa, padahal usianya sudah tidak muda lagi.
Tanganku bergerak canggung. Bagaimananpun baru kali ini aku memegang kontol orang selain milik suamiku, mana sangat besar lagi sehingga hampir tak bisa muat dalam tanganku. Perlahan-lahan tanganku menggenggam batangnya. Kudengar lenguhan nikmat keluar dari mulutnya seraya menyebut namaku.
“Ooooohhh…..sssshhhh…..Noviii…eee..eeenaaak… betulll..!!!” Aku mendongak melirik kepadanya. Nampak wajah mertuaku meringis menahan remasan lembut tanganku pada batangnya.
Aku mulai bergerak turun naik menyusuri batangnya yang besar panjang dan teramat keras itu. Sekali-sekali ujung telunjukku mengusap moncongnya yang sudah licin oleh cairan yang meleleh dari liangnya. Kudengar mertuaku kembali melenguh merasakan ngilu akibat usapanku. Aku tahu dia sudah sangat bernafsu sekali dan mungkin dalam beberapa kali kocokan ia akan menyemburkan air maninya. Sebentar lagi tentu akan segera selesai sudah, pikirku mulai tenang.
Dua menit, tiga… sampai lima menit berikutnya mertuaku masih bertahan meski kocokanku sudah semakin cepat. Kurasakan tangan mertuaku menggerayangi ke arah dadaku. Aku kembali mengingatkan agar jangan berbuat macam-macam.
“Nggak apa-apa …..biar cepet keluar..”, kata mertuaku memberi alasan.
Aku tidak mengiyakan dan juga tidak menepisnya karena kupikir ada benarnya juga. Biar cepat selesai, kataku dalam hati. Mertuaku tersenyum melihatku tidak melarangnya lagi. Ia dengan lembut dan hati-hati mulai meremas-remas kedua payudara di balik dasterku. Aku memang tidak mengenakan kutang kerena habis menyusui si kecil tadi. Jadi remasan tangan mertua langsung terasa karena kain daster itu sangat tipis.
Sebagai wanita normal, aku merasakan kenikmatan juga atas remasan ini. Apalagi tanganku masih menggenggam batangnya dengan erat, setidaknya aku mulai terpengaruh oleh keadaan ini. Meski dalam hati aku sudah bertekad untuk menahan diri dan melakukan semua ini demi kebaikan diriku juga. Karena tentunya setelah ini selesai dia tidak akan berbuat lebih jauh lagi padaku.
“Novi sayang.., buka ya? Sedikit aja..”, pinta mertuaku kemudian.
“Jangan Yah. Tadi kan sudah janji nggak akan macam-macam..”, ujarku mengingatkan.
“Sedikit aja. Ya?” desaknya lagi seraya menggeser tali daster dari pundakku sehingga bagian atas tubuhku terbuka. Aku jadi gamang dan serba salah. Sementara bagian dada hingga ke pinggang sudah telanjang. Nafas mertuaku semakin memburu kencang melihatku setengah telanjang.
“Oh.., Novii kamu benar-benar cantik sekali….!!!”, pujinya sambil memilin-milin dengan hati-hati puting susuku, yang mulai basah dengan air susu. Aku terperangah. Situasi sudah mulai mengarah pada hal yang tidak kuinginkan.
Aku harus bertindak cepat. Tanpa pikir panjang, langsung kumasukkan batang kemaluan mertuaku ke dalam mulutku dan mengulumnya sebisa mungkin agar ia cepat-cepat selesai dan tidak berlanjut lebih jauh lagi. Aku sudah tidak mempedulikan perbuatan mertuaku pada tubuhku. Aku biarkan tangannya dengan leluasa menggerayang ke sekujur tubuhku, bahkan ketika kurasakan tangannya mulai mengelus-elus bagian kemaluanku pun aku tak berusaha mencegahnya. Aku lebih berkonsentrasi untuk segera menyelesaikan semua ini secepatnya. Jilatan dan kulumanku pada batang kontolnya semakin mengganas sampai-sampai mertuaku terengah-engah merasakan kelihaian permainan mulutku.
Aku tambah bersemangat dan semakin yakin dengan kemampuanku untuk membuatnya segera selesai. Keyakinanku ini ternyata berakibat fatal bagiku. Sudah hampir setengah jam, aku belum melihat tanda-tanda apapun dari mertuaku. Aku jadi penasaran, sekaligus merasa tertantang. Suamiku pun yang sudah terbiasa denganku, bila sudah kukeluarkan kemampuan seperti ini pasti takkan bertahan lama. Tapi kenapa dengan mertuaku ini? Apa ia memakai obat kuat?
Saking penasarannya, aku jadi kurang memperhatikan perbuatan mertuaku padaku. Entah sejak kapan daster tidurku sudah terlepas dari tubuhku. Aku baru sadar ketika mertuaku berusaha menarik celana dalamku dan itu pun terlambat!
Begitu menengok ke bawah, celana itu baru saja terlepas dari ujung kakiku. Aku sudah telanjang bulat! Ya ampun, kenapa kubiarkan semua ini terjadi. Aku menyesal kenapa memulainya. Ternyata kejadiannya tidak seperti yang kurencanakan. Aku terlalu sombong dengan keyakinanku. Kini semuanya sudah terlambat. Berantakan semuanya! Pekikku dalam hati penuh penyesalan. Situasi semakin tak terkendali. Lagi-lagi aku kecolongan.
Mertuaku dengan lihainya dan tanpa kusadari sudah membalikkan tubuhku hingga berlawanan dengan posisi tubuhnya. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku. Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Tak lama kemudian kurasakan sentuhan lembut di seputar selangkanganku. Tubuhku langsung bereaksi dan tanpa sadar aku menjerit lirih.
Suka tidak suka, mau tidak mau, kurasakan kenikmatan cumbuan mertuaku di sekitar itu. Akh luar biasa! Aku menjerit dalam hati sambil menyesali diri. Aku marah pada diriku sendiri, terutama pada tubuhku sendiri yang sudah tidak mau mengikuti perintah pikiran sehatku.
Tubuhku meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidah mertuaku. Kedua pahaku mengempit kepalanya seolah ingin membenamkan wajah itu ke dalam selangkanganku. Kuakui ia memang pandai membuat birahiku memuncak. Kini aku sudah lupa dengan siasat semula. Aku sudah terbawa arus. Aku malah ingin mengimbangi permainannya. Mulutku bermain dengan lincah. Batangnya kukempit dengan buah dadaku yang membusung penuh dan kenyal. Maklum, masih menyusui.
Sementara kontol itu bergerak di antara buah dadaku, mulutku tak pernah lepas mengulumnya. Tanpa kusadari kami saling mencumbu bagian vital masing-masing selama lima belas menit. Aku semakin yakin kalau mertuaku memakai obat kuat. Ia sama sekali belum memperlihatkan tanda-tanda akan keluar, sementara aku sudah mulai merasakan desiran-desiran kuat bergerak cepat ke arah pusat kewanitaanku. Jilatan dan hisapan mulut mertuaku benar-benar membuatku tak berdaya.
Aku semakin tak terkendali. Pinggulku meliuk-liuk liar. Tubuhku mengejang, seluruh aliran darah serasa terhenti dan aku tak kuasa untuk menahan desakan kuat gelombang lahar panas yang mengalir begitu cepat.
“Oooohhhhh…….aaaa….aaaaa……aaauugghhhhhhhhh..!!!!!” aku menjerit lirih begitu aliran itu mendobrak pertahananku. Kurasakan cairan kewanitaanku menyembur tak tertahankan. Tubuhku menggelepar seperti ikan terlempar ke darat merasakan kenikmatan ini. Aku terkulai lemas sementara batang kontol mertuaku masih berada dalam genggamanku dan masih mengacung dengan gagahnya, bahkan terasa makin kencang saja.
Aku mengeluh karena tak punya pilihan lain. Sudah kepalang basah. Aku sudah tidak mempunyai cukup tenaga lagi untuk mempertahankan kehormatanku, aku hanya tergolek lemah tak berdaya saat mertuaku mulai menindih tubuhku. Dengan lembut ia mengusap wajahku dan berkata betapa cantiknya aku sekarang ini.
“Noviii…..kau sungguh cantik. Tubuhmu indah dan langsing tapi padat berisi.., mmpphh..!!!”, katanya sambil menciumi bibirku, mencoba membuka bibirku dengan lidahnya.
Aku seakan terpesona oleh pujiannya. Cumbu rayunya begitu menggairahkanku. Aku diperlakukan bagai sebuah porselen yang mudah pecah. Begitu lembut dan hati-hati. Hatiku entah mengapa semakin melambung tinggi mendengar semua kekagumannya terhadap tubuhku.
Wajahku yang cantik, tubuhku yang indah dan berisi. Payudaraku yang membusung penuh dan menggantung indah di dada. Permukaan agak menggembung, pinggul yang membulat padat berisi menyambung dengan buah pantatku yang `bahenol’. Diwajah mertuaku kulihat memperlihatkan ekspresi kekaguman yang tak terhingga saat matanya menatap nanar ke arah lembah bukit di sekitar selangkanganku yang baru numbuh bulu-bulu hitam pendek, dengan warna kultiku yang putih mulus.
Kurasakan tangannya mengelus paha bagian dalam. Aku mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakiku yang tadinya merapat.
Mertuaku menempatkan diri di antara kedua kakiku yang terbuka lebar. Kurasakan kepala kontolnya yang besar ditempelkan pada bibir kemaluanku. Digesek-gesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Aku merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. Cairan yang masih tersisa di sekitar itu membuat gesekannya semakin lancar karena licin.
Aku terengah-engah merasakannya. Kelihatannya ia sengaja melakukan itu. Apalagi saat moncong kontolnya itu menggesek-gesek kelentitku yang sudah menegang. Mertuaku menatap tajam melihat reaksiku. Aku balas menatap seolah memintanya untuk segera memasuki diriku secepatnya.
Ia tahu persis apa yang kurasakan saat itu. Namun kelihatannya ia ingin melihatku menderita oleh siksaan nafsuku sendiri. Kuakui memang aku sudah tak tahan untuk segera menikmati batang kontolnya dalam memekku. Aku ingin segera membuatnya `KO’. Terus terang aku sangat penasaran dengan keperkasaannya. Kuingin buktikan bahwa aku bisa membuatnya cepat-cepat mencapai puncak kenikmatan.
“Yah..?” panggilku menghiba.
“Apa sayang…”, jawabnya seraya tersenyum melihatku tersiksa.
“Cepetan..yaaahhhhh…….!!!”
“Sabar sayang. Kamu ingin Bapak berbuat apa…….?” tanyanya pura-pura tak mengerti.
Aku tak menjawab. Tentu saja aku malu mengatakannya secara terbuka apa keinginanku saat itu. Namun mertuaku sepertinya ingin mendengarnya langsung dari bibirku. Ia sengaja mengulur-ulur dengan hanya menggesek-gesekan kontolnya. Sementara aku benar-benar sudah tak tahan lagi mengekang birahiku.
“Novii….iiii… iiiingiiinnnn aaa…aaayahhhh….se….se.. seeegeeeraaaa ma… masukin..!!!”, kataku terbata-bata dengan terpaksa.
Aku sebenarnya sangat malu mengatakan ini. Aku yang tadi begitu ngotot tidak akan memberikan tubuhku padanya, kini malah meminta-minta. Perempuan macam apa aku ini!?
“Apanya yang dimasukin…….!!”, tanyanya lagi seperti mengejek.
“Aaaaaaggggkkkkkhhhhh…..ya…yaaaahhhh. Ja…..ja….Jaaangan siksa Noviiii..!!!”
“Bapak tidak bermaksud menyiksa kamu sayang……!!”
“Oooooohhhhhh.., Yaaaahhhh… Noviii ingin dimasukin kontol ayah ke dalam memek Novi…… uugghhhh..!!!”
Aku kali ini sudah tak malu-malu lagi mengatakannya dengan vulgar saking tak tahannya menanggung gelombang birahi yang menggebu-gebu. Aku merasa seperti wanita jalang yang haus seks. Aku hampir tak percaya mendengar ucapan itu keluar dari bibirku sendiri. Tapi apa mau dikata, memang aku sangat menginginkannya segera.
“Baiklah sayang. Tapi pelan-pelan ya”, kata mertuaku dengan penuh kemenangan telah berhasil menaklukan diriku.
“Uugghh..”, aku melenguh merasakan desakan batang kontolnya yang besar itu. Aku menunggu cukup lama gerakan kontol mertuaku memasuki diriku. Serasa tak sampai-sampai. Selain besar, kontol mertuaku sangat panjang juga. Aku sampai menahan nafas saat batangnya terasa mentok di dalam. Rasanya sampai ke ulu hati. Aku baru bernafas lega ketika seluruh batangnya amblas di dalam.
Mertuaku mulai menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan. Satu, dua dan tiga tusukan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam liang memekku membuat kontol mertuaku keluar masuk dengan lancarnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama tusukannya.
Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting bagiku tusukan itu mencapai bagian-bagian peka di dalam relung kewanitaanku. Dia tahu persis apa yang kuinginkan.
Ia bisa mengarahkan batangnya dengan tepat ke sasaran. Aku bagaikan berada di awang-awang merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Batang mertuaku menjejal penuh seluruh isi liangku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan batang itu sangat terasa di seluruh dinding vaginaku.
“Aduuhh.. auuffhh.., nngghh..!!!”, aku merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini.
Kembali aku mengakui keperkasaan dan kelihaian mertuaku di atas ranjang. Ia begitu hebat, jantan dan entah apalagi sebutan yang pantas kuberikan padanya. Toni suamiku tidak ada apa-apanya dibandingkan ayahnya yang bejat ini. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga bercinta dengannya meski kusadari perbuatan ini sangat terlarang dan akan mengakibatkan permasalahan besar nantinya. Tetapi saat itu aku sudah tak perduli dan takkan menyesali kenikmatan yang kualami.
Mertuaku bergerak semakin cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitive. Aku meregang tak kuasa menahan desiran-desiran yang mulai berdatangan seperti gelombang mendobrak pertahananku. Sementara mertuaku dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras terdengar seiring dengan gelombang dahsyat yang semakin mendekati puncaknya.
Melihat reaksiku, mertuaku mempercepat gerakannya. Batang kontolnya yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya seakan tak memperdulikan liangku yang sempit itu akan terkoyak akibatnya. Kulihat tubuh mertuaku sudah basah bermandikan keringat. Aku pun demikian. Tubuhku yang berkeringat nampak mengkilat terkena sinar lampu kamar.
Aku mencoba meraih tubuh mertuaku untuk mendekapnya. Dan disaat-saat kritis, aku berhasil memeluknya dengan erat. Kurengkuh seluruh tubuhnya sehingga menindih tubuhku dengan erat. Kurasakan tonjolan otot-ototnya yang masih keras dan pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara kedua tanganku menggapai buah pantatnya dan menarik kuat-kuat.
Kurasakan semburan demi semburan memancar kencang dari dalam diriku. Aku meregang seperti ayam yang baru dipotong. Tubuhku mengejang-ngejang di atas puncak kenikmatan yang kualami untuk kedua kalinya saat itu.
“Yaaaah.., ooooohhhhhhh.., Yaaaahhhhh..eeee…eeennnaaaakkkkkkkk…!!!”
Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya.
“Sayang nikmatilah semua ini. Bapak ingin kamu dapat merasakan kepuasan yang sesungguhnya belum pernah kamu alami….”, bisik ayah dengan mesranya.
“Bapak sayang padamu, Bapak cinta padamu…. Bapak ingin melampiaskan kerinduan yang menyesak selama ini..”, lanjutnya tak henti-henti membisikan untaian kata-kata indah yang terdengar begitu romantis.
Aku mendengarnya dengan perasaan tak menentu. Kenapa ini datangnya dari lelaki yang bukan semestinya kusayangi. Mengapa kenikmatan ini kualami bersama mertuaku sendiri, bukan dari anaknya yang menjadi suamiku…????. Tanpa terasa air mata menitik jatuh ke pipi. Mertuaku terkejut melihat ini. Ia nampak begitu khawatir melihatku menangis.
“Novi sayang, kenapa menangis?” bisiknya buru-buru.
“Maafkan Bapak kalau telah membuatmu menderita..”, lanjutnya seraya memeluk dan mengelus-elus rambutku dengan penuh kasih sayang. Aku semakin sedih merasakan ini. Tetapi ini bukan hanya salahnya. Aku pun berandil besar dalam kesalahan ini. Aku tidak bisa menyalahkannya saja. Aku harus jujur dan adil menyikapinya.
“Bapak tidak salah. Novi yang salah..”, kataku kemudian.
“Tidak sayang. Bapak yang salah…”, katanya besikeras.
“Kita, Yah. Kita sama-sama salah”, kataku sekaligus memintanya untuk tidak memperdebatkan masalah ini lagi.
“Terima kasih sayang”, kata mertuaku seraya menciumi wajah dan bibirku.
Kurasakan ciumannya di bibirku berhasil membangkitkan kembali gairahku. Aku masih penasaran dengannya. Sampai saat ini mertuaku belum juga mencapai puncaknya. Aku seperti mempunyai utang yang belum terbayar. Kali ini aku bertekad keras untuk membuatnya mengalami kenikmatan seperti apa yang telah ia berikan kepadaku.
Aku tak sadar kenapa diriku jadi begitu antusias untuk melakukannya dengan sepenuh hati. Biarlah terjadi seperti ini, toh mertuaku tidak akan selamanya berada di sini. Ia harus pulang ke Amerika. Aku berjanji pada diriku sendiri, ini merupakan yang terakhir kalinya.
Timbulnya pikiran ini membuatku semakin bergairah. Apalagi sejak tadi mertuaku terus-terusan menggerakan kontolnya di dalam memekku. Tiba-tiba saja aku jadi beringas. Kudorong tubuh mertuaku hingga terlentang. Aku langsung menindihnya dan menicumi wajah, bibir dan sekujur tubuhnya.
Kembali kuselomoti batang kontolnya yang tegak bagai tiang pancang beton itu. Lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut. Tanganku mengocok-ngocok batangnya.
Kulirik kewajah mertuaku kelihatannya menyukai perubahanku ini. Belum sempat ia akan mengucapkan sesuatu, aku langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuh mertuaku. Selangkanganku berada persis di atas batangnya.
“Akh sayang!” pekik mertuaku tertahan ketika batangnya kubimbing memasuki liang memekku. Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan habis seluruh batangnya. Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak seperti kuda binal yang sedang birahi.
Aku tak ubahnya seperti pelacur yang sedang memberikan kepuasan kepada hidung belang. Tetapi aku tak perduli. Aku terus berpacu. Pinggulku bergerak turun naik, sambil sekali-sekali meliuk seperti ular. Gerakan pinggulku persis seperti penyanyi dangdut dengan gaya ngebor, ngecor, patah-patah, bergetar dan entah gaya apalagi. Pokoknya malam itu aku mengeluarkan semua jurus yang kumiliki dan khusus kupersembahkan kepada ayah mertuaku sendiri!
“Ooohh… oohhhh… oooouugghh.. Noviiiii.., luar biasa…..!!!” jerit mertuaku merasakan hebatnya permainanku.
Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan mertuaku mencengkeram kedua buah dadaku, diremas dan dipilin-pilin, sehingga air susuku keluar jatuh membasahi dadanya.
Ia lalu bangkit setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke atas dadaku. Menjilat-jilat seluruh permukaan dadaku yang berlumuran air susuku dan akhirnya menciumi putting susuku. Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas menyedot air susuku sebanyak-banyaknya.
Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan dinginnya udara meski kamarku menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk pinggulku. Mertuaku menggoyangkan pantatnya. Kurasakan tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permain kami semakin meningkat dahsyat.
Sprei ranjangku sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Kurasakan mertuaku mulai memperlihatkan tanda-tanda.
Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Mungkin goyangan pinggulku akan membuat iri para penyanyi dangdut saat ini. Tak selang beberapa detik kemudian, aku pun merasakan desakan yang sama. Aku tak ingin terkalahkan kali ini. Kuingin ia pun merasakannya. Tekadku semakin kuat. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku sudah tak perduli suaraku akan terdengar kemana-mana. Kali ini aku harus menang! Upayaku ternyata tidak percuma.
Kurasakan tubuh mertuaku mulai mengejang-ngejang. Ia mengerang panjang. Menggeram seperti harimau terluka. Aku pun merintih persis kuda betina binal yang sedang birahi.
“Eerrgghh.. ooooo….ooooooo…..oooooouugghhhhhh..!!!!” mertuaku berteriak panjang.
Tubuhnya menghentak-hentak liar. Tubuhku terbawa goncangannya. Aku memeluknya erat-erat agar jangan sampai terpental oleh goncangannya. Mendadak aku merasakan semburan dahsyat menyirami seluruh relung vaginaku. Semprotannya begitu kuat dan banyak membanjiri liangku. Akupun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku. Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan berbarengan dengan ayah mertuaku.
Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat. Saking dahsyatnya, tubuh kami terjatuh dari ranjang. Untunglah ranjang itu tidak terlalu tinggi dan permukaan lantainya tertutup permadani tebal yang empuk sehingga kami tidak sampai terkilir atau terluka.
“Oooooogggghhhhhhh.. yaahh..,nik….nikkkk nikmaatthh…. yaaahhhh..!!!!” jeritku tak tertahankan.
Tulang-tulangku serasa lolos dari persendiannya. Tubuhku lunglai, lemas tak bertenaga terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 2 jam!
Gila! Jeritku dalam hati. Belum pernah rasanya aku bercinta sampai sedemikian lamanya. Aku hanya bisa memeluknya menikmati sisa-sisa kepuasan. Perasaanku tiba-tiba terusik.
Sepertinya aku mendengar sesuatu dari luar pintu kamar, kayaknya si Inah…. Karena mendengar suara ribut-ribut dari kamar, rupanya ia datang untuk mengintip…. tapi aku sudah terlalu lelah untuk memperhatikannya dan akhirnya tertidur dalam pelukan mertuaku, melupakan semua konsekuensi dari peristiwa di sore ini di kemudian hari…..
Share:

Kuperawani Teman Anakku


Setiap kali Airin putriku pulang mengajak teman temannya, aku selalu menelan liur melihat kecantikan dan kenekadan mereka dalam berpakaian maupun bersikap, mereka begitu bebas dan tak sungkan sungkan, padahal usia mereka rata rata barulah 17 tahun, tetapi gayanya sudah seperti orang yang dewasa.

Bagiku hal ini tak menyusahkan malahan menggembirakan karena dapat membuat mataku yang seperti keranjang ini terpuaskan oleh pertunjukan yang dihidangkan oleh anak anak muda ini. Yang penting mereka tak memakai obat bius, bagiku segalanya OK.

Airin sendiri sudah sering aku tanyai tentang cara dia bersikap tetapi selalu dia jawab
"bahwa dia dan teman temannya punya prinsip dan ini tak boleh dicampuri orang lain".

Aku dan isteriku hanya tertawa setiap kali mendengar kata katanya ini, karena kami selalu teringat ketika ia masih bayi yang begitu lucu dan montok.
Sekarang dia sudah dewasa wajahnya cantik sekali dan badannya montok seperti mamanya,
Aku yakin kalau salah satu cowok yang sering datang itu pasti pacarnya, tetapi aku tak berani menduga apakah anakku sudah pernah berhubungan seks apa belum.

Padahal jika meramal orang lain aku pandai sekali,
Salah seorang teman anakku yang sering datang dan main kerumah adalah seorang aktris sinetron yang terkenal, Diah sering membintangi sinetron yang berthemakan hantu.

Aku tertarik dengan anak ini karena meskipun umurnya sepantaran dengan anakku, tetapi badannya aduhai sekali disamping wajahnya cantik sekali dengan rambut terurai panjang.

Setiap kali dia main kerumah aku selalu memperhatikannya apalagi jika dia berenang, dengan pakaian renangnya yang sangat minim itu aku selalu dapat melihat kemontokan susunya disamping juga dari samping celana renangnya selalu kelihatan bulu jembutnya yang hitam itu.

Tetapi seperti juga teman anakku yang lain, mereka cuek saja meskipun aku ada didekat mereka. Akulah yang kebingungan untuk menyembunyikan kontolku yang ngaceng melihat tubuh mereka yang merangsang itu, setiap kali aku selalu memakai handuk ditepi kolam renang.

Diah sangat manja kepadaku seringkali dia kurangkul seolah olah dia anakku tetapi sebenarnya aku ingin sekedar merasakan kekenyalan susunya serta kelembutan pantatnya yang montok itu.
Aku sudah berangan angan untuk menikmati nonok Diah , sayangnya kesempatan itu selalu tak pernah ada, padahal makin hari aku makin tak tahan memandang Diah yang bagiku terasa makin seksi dan berani didepanku itu.

Pernah dia suatu hari secara terang terangan membuka baju renangnya didepanku sementara Airin menggosokkan krim penahan panas dipunggungnya.
Semua ini sangat merangsangku untuk sekali kali mencicipinya, jikalau selama ini aku berprinsip tak akan mencicipi perawan, tetapi untuk Diah aku kecualikan, krn aku benar2 tak tahan lagi.

Kesempatan itu akhirnya tiba secara tak diduga duga...
Yaitu ketika kami sekeluarga berlibur di Puncak,Siang itu aku bermaksud turun ke Jakarta karena tadi aku mendapat telepon dari Lily sekretarisku bahwa ada seorang ibu yang ingin berjumpa denganku untuk menyelesaikan persoalannya.

Saat aku memutar Mercedesku, kudengar teriakan Airin yang memanggilku, aku berhenti dan menunggu Airin serta Diah yang berlari lari kearahku.
Ternyata Diah juga harus pulang ke Jakarta karena sore nanti dia ada shooting sedangkan Airin tak bisa turun karena ada janji dengan temannya untuk bertemu di villa. Aku langsung OK dan kamipun segera meluncur ke Jakarta berdua saja.

Diah benar benar santai, dia hanya memakai short , kaus serta jacket.
Tak henti hentinya mulutnya bercerita kesana kemari yang selalu kujawab apa adanya.
Dan ketika Diah membuka jacketnya, dan melemparnya kejok belakang, aku menoleh kearahnya untuk melihat pakaian yang dikenakannya.

Ternyata Diah memakai kaus tanpa lengan serta tak memakai beha, karena kulihat susunya yang besar itu menggelayut dari balik kausnya itu dan yang paling membuat aku mata gelap adalah ketika ia menyilangkan kedua lengannya kebalik kepalanya sehingga ketiaknya yang dihiasi bulu bulu halus itu tampak jelas dihadapanku.

Lalu tanpa sungkan aku berkata pada Diah

" Diah, kamu kok tak pakai beha ?

Diah tertawa sambil berkata " Kan pakai jacket Oom, kalau dimobil sih biar saja, kan cuman Oom yang ngliat, lagian enak Oom nggak risih !"

Aku juga tertawa sambil berkata "Oom juga nggak pakai celana dalam, karena rasanya risih kalau pakai !

Diah tertawa ngakak, "masak sih Oom, apa Oom nggak kuatir kalau terjepit ritsliting ?"

Aku jawab " ya mesti hati hati dong !

Saat itu ketika Diah melihat kearah pahaku dia tertawa geli sambil berkata

" Idih burungnya Oom berdiri tuh, kok celananya jadi mencuat begitu !"

Aku tertawa sambil berkata, Oom jadi terangsang ngliat susumu yang montok itu, jadinya ya berdiri !

Sambil berkata tanganku mengusap susunya dengan tangan kiriku. Diah tertawa geli sambil berkata

" kalau Oom senggol senggol nanti malahan jadi nggak karuan lho Oom !

Aku tersenyum sambil berkata lagi, "Coba kamu pegang punya Oom, pasti kamu belum pernah rasakan seperti yang satu ini !"

Dengan terkikik Diah langsung memegang batang kontolku dari luar celanaku, dia langsung berteriak

"Idih gede banget Oom ! Ketika kubuka celana panjangku, Diah lagi lagi terpekik melihat kontolku yang seperti anak kucing itu.

Entah karena sudah akrab dengan aku atau bagaimana, yang jelas dia dengan spontan memegang kontolku dan meremasnya. Akupun dengan berani merogoh susunya dari balik kausnya, ternyata susu Diah sangat kenyal.

Ketika kusingkap kausnya keatas sehingga susunya terjuntai keluar, aku menelan ludah susunya benar indah. Pentilnya merah muda dan buah dadanya sungguh montok dan bundar sangat bagus sekali.

Dan saat kutawarkan pada Diah untuk berhenti disatu motel yang tampak didepan, Diah mengangguk sambil tersenyum katanya

"Oom jangan bilang Airin ya, Diah malu .

Aku hanya mengangguk dan segera kubelokkan mobilku memasuki motel.

Begitu pintu garasi motel ditutup, tanpa turun dari mobil aku langsung menciumi wajah Diah yang ayu itu dan mencari bibirnya.
Diah sendiri balas merangkul aku dan mandah saja ketika kuhisap bibirnya dalam dalam. Kubuka kausnya dan kuajak dia turun dari mobil.
Kami berdua keluar dari mobil dalam keadaan yang lucu, karena aku berjalan dengan celana terbuka sehingga kontolku terjulur keluar sedangkan Diah berjalan tanpa baju alias telanjang dada.

Begitu sampai dikamar, aku tak sabar lagi mencopot short yang dipakai Diah, serta juga celana dalamnya, tubuh Diah benar benar bagus, tak salah dia menjadi bintang sinetron. Badannya sangat mulus dan bersih seolah tanpa setitik nodapun menempel dikulitnya yang putih itu, hanya dipangkal pahanya tumbuh semak hitam yang tipis menutupi bukit nonoknya yang cembung itu.

Aku mencium bibirnya serta mengulum bibir yang berlipstick merah itu, Diah balas memelukku sambil menggigit bibirku pelan pelan, bibirku turun terus menciumi seluruh lekuk tubuh Diah mulai dari lehernya yang jenjang terus kebawah kepuncak bukit susunya , mengulum pentil susunya yang sudah mengeras seperti kerikil itu.

Diah merintih rintih merasakan rasa geli dan nikmat yang kubuat itu. Setiap kali aku mengulum pentilnya, Diah menekan kepalaku kedadanya sehingga wajahku terbenam dikelembutan susu Diah, aku terus menjelajahi tubuh Diah, kujilati pelan pelan bagian bawah susunya sampai kepusarnya yang bundar itu, persis seperti anak kucing yang mandi kering.

Diah mendesis desis, kali ini aku benar dituntut kesabarannya untuk menghadapi anak seusia Diah ini, meskipun Diah sudah banyak bergaul dengan temannya yang mungkin juga jagoan merayu, tetapi aku tidak boleh kalah, justru aku harus menunjukkan bahwa aku lebih telaten dari anak muda yang biasanya main serbu dan lari itu.

Ketika jilatanku sampai kebukit nonoknya yang berjembut tipis, akupun mulai menjilati jembutnya dengan lidahku sehingga jembut Diah menjadi basah kuyup, pelan pelan jilatanku mulai menyusuri lereng bukit cembung itu menuju lipatan paha Diah yang menuju liang surga.

Kulihat liang nonok Diah masih tertutup rapat, hanya tampak itilnya yang menonjol keluar seperti kacang serta lendir yang membasahi celah surga itu.
Ketika lidahku menyentuh itil Diah, Diah terlonjak kegelian, kutahan kakinya dan pelan pelan kukuakkan pahanya sehingga kepalaku tepat berada diantara pangkal pahanya.
Lidahku kujulurkan menyelusupi liang nonok Diah sambil sekali kali kujilat itilnya yang makin membengkak itu.
Kucium bau harum yang khas keluar dari nonok Diah, bau yang selalu kucium bila menghadapi perempuan yang sedang bernafsu, kubersihkan semua lendir yang keluar dari nonok Diah dengan menjilatinya.

Saat itulah Diah mengejang sambil merintih serak, tangannya mencengkeram sprei tempat tidurnya dan kakinya menjepit kepalaku yang ada diselangkangannya itu.
Rupanya Diah sudah mencapai kepuasannya meskipun hanya dengan aku jilati saja.

Kubiarkan Diah merasakan semuanya itu, sementara aku tak berhenti menjilati itilnya yang menjadi pusat rasa geli itu.
Begitu kurasakan Diah melepaskan jepitan pahanya dikepalaku, aku menghentikan jilatanku dan menindih tubuhnya sambil memeluknya.
Diah membalas pelukanku sambil menciumi bibirku, kontolku yang sudah ngaceng berat itu mulai kuarahkan keliang nonoknya yang sudah licin dengan lendir itu, mudah sekali untuk menyelipkan kontolku diantara liang nonok Diah.

Saat itulah Diah tiba tiba berkata :

"Oom pelan pelan ya, Diah belum pernah berbuat seperti ini lho !"

Aku benar benar kaget mendengar pengakuan Diah ini, berarti Diah masih perawan.
Memang aku sering menduga kalau kelihatannya Diah masih perawan, karena seringkali ketika kupeluk dan kuremas terasa kekenyalan seorang perawan, tetapi setelah apa yang kulakukan padanya dan begitu pasrahnya dia padaku, kukira ia sudah pernah melakukannya sehingga tak canggung lagi. Ternyata dugaanku itu salah semua, Diah masih perawan......

Dengan lembut aku mencium bibirnya dan berbisik :

"jangan kuatir, Oom akan pelan pelan kok!"

Diah memejamkan matanya ketika aku mulai mendorong kontolku memasuki liangnya yang masih asli itu.
Sebenarnya jika sudah licin seperti ini, dengan mudah kontolku akan menembus nonok Diah, tetapi karena masih terhalang dengan selaput perawannya, maka aku harus ekstra hati hati agar Diah tak merasa kesakitan.

Sambil meremas buah dadanya, kontolku terus kudorong pelahan pelahan memasuki liang Diah, memang meskipun licin, terasa dinding liang Diah menggigit kontolku.
Tetapi setiap kali aku mendorong masuk selalu Diah mendorong badanku sambil merintih,

ku terus mendorong sambil berkata :

"tahan sedikit Diah, sebentar juga hilang, nanti yang terasa cuman enaknya saja "

Diah seakan akan tak mendengar bisikanku itu, bahkan ketika kontolku menyentuh selaput gadisnya, dia langsung menjengit sambil berteriak lirih.

Dan aku menahan gerakanku sementara tanganku makin aktif meremas susunya serta menciumi wajahnya yang awut awutan itu.
Begitu kurasakan Diah agak terlena oleh rasa nikmat yang kutimbulkan, aku langsung menekan kontolku lebih keras dan....breet...sleeeppp....blus........ kontolku berhasil menembus selaput keperawanan Diah.

Diah memekik, kubekap mulutnya dengan tanganku, karena aku kuatir kalau didengar kamar sebelahku. Setelah kulihat Diah sudah mulai tenang, kulepaskan bekapan tanganku dan kuciumi bibirnya,

Diah memelukku erat erat, katanya "aduh.. sakit Oom, jangan keras keras ya Oom.... !"

Aku tak menyahut, justru pelan pelan aku mulai menggerakkan batang kontolku menyusuri liang sempit Diah yang baru saja kuperawani ini. Diah berkali kali menggigit bibir menahan perih yang dirasakannya, tetapi lama kelamaan Diah kembali mulai memeluk aku sambil mendesis desis kegelian.

Kuremas buah dadanya yang kenyal itu dan kucucup pentilnya yang masih membatu itu. Gerakanku yang tadinya lambat mulai kupercepat makin cepat sampai tiba tiba aku mengejang karena air maniku ambrol memenuhi liang nonok Diah.
Diah juga ikut ikutan mengejang, karena dia juga mencapai puncak kenikmatan yang kedua kalinya, Aku berbaring lemas diatas tubuh Diah, kurasakan semua kenikmatan yang kudapat dari liang nonok Diah yang hebat itu.

Diah sendiri terus memeluk aku sambil memejamkan matanya, bahkan ketika aku ingin mencopot kontolku dari liangnya, Diah melarangnya.
Aku menurut saja, kami berbaring berpelukkan sementara kontolku masih terbenam diliang nonok Diah sampai tertidur.

Sekitar satu jam kami berpelukan seperti itu, ketika aku terbangun Diah juga membuka matanya, ia tersenyum memandangku, dipeluknya aku sambil berbisik :

"Oom jangan tinggalkan Diah ya, Diah sayang sama Oom !"

Aku diam saja tetapi aku membalasnya dengan mencium bibirnya yang merekah itu.

Ketika akhirnya aku berhasil mencabut kontolku dari liang nonok Diah, langsung saja air mani yang memenuhi liang nonok Diah membanjir keluar membasahi sprei bercampur dengan darah perawan Diah. Kuajak Diah kekamar mandi untuk membersihkan diri, Diah menurut saja, dengan tertatih tatih ia kutuntun kekamar mandi.

Kami sama sama masuk kedalam bak mandi dan berendam dalam air hangat.
Air yang hangat, Diah yang cantik dan telanjang bulat membuatkon kontolku jadi ngaceng lagi. Kutarik tangan Diah dan kuarahkan kekontolku agar dipegang, ketika Diah merasakan kontolku yang sudah ngaceng lagi itu, dia tertawa geli dan meremas remasnya.

Lalu kutarik Diah agar duduk diatas pangkuanku dan kuarahkan kontolku keliang nonoknya. Begitu kurasakan nonoknya sudah menjepit kontolku, kutekan tubuhnya sehingga kontolku masuk kedalam liang itu sekali lagi.

Diah kadang kadang menjengit menahan rasa perih yang mungkin masih timbul, tetapi begitu kontolku habis terbenam dalam liangnya dan kusuruh dia untuk menaik turunkan pantatnya, ternyata Diah dengan lancar dapat melakukannya, dengan memelukku sambil menempelkan buah dadanya kedadaku Diah bergerak naik turun merasakan nikmatnya kontolku.

Entah karena nafsuku yang menggebu atau memang nonok Diah yang luar biasa, kali ini aku cepat mencapai klimaks, Diah hanya tertawa ketika dirasakannya kontolku lemas dan melejit keluar dari nonoknya itu.

Kami berpakaian kembali dan meninggalkan motel meneruskan perjalanan menuju Jakarta. Dalam perjalanan Diah tak lagi banyak cerita, dia hanya menyandarkan badannya kebadanku sambil memejamkan matanya.
Kupeluk dia sambil tetap menyetir, saat itulah hand phone ku berbunyi, rupanya Airin putriku yang menilpon, dia ingin berbicara dengan Diah katanya. Ketika kuserahkan tilpon pada Diah, kuperhatikan Diah berkali kali tertawa sambil berceloteh.

Ketika telpon sudah ditutup, kutanyakan apa yang dikatakan Airin, Diah menjawab kalau Airin curiga karena suara Diah yg serak tidak seperti biasanya itu, dia menduga ada sesuatu yg terjadi.
Aku hanya tertawa saja, begitu juga dengan Diah. ..........

Sebelum berpisah aku ajak dulu Diah makan siang sekaligus kuberikan cek tunai senilai 30 juta agar supaya bisa dipakainya belanja.
Aku benar benar suka dengan Diah, karenanya aku tak sayang membuang uang sebanyak itu. Diah berterimakasih menerima cek itu, dia bilang setiap saat aku butuh, dia akan mengatur jadwalnya agar bisa bersamaku lagi.
Aku hanya tersenyum, dan kupesankan agar kalau dia main sama pacarnya jangan lupa cerita padaku, karena aku senang mendengar cerita semacam itu. Diah hanya mengangguk, sambil menyeringai.

Dan aku yakin bahwa setelah kuperawani, Diah pasti akan selalu kepengen menikmati persetubuhan dan pasti dia akan mulai mau diajak main oleh pria pria yang selama ini menguber uber dia. Aku merasa beruntung karena cewek secakep Diah ternyata aku yang berhasil memerawaninya
Share:

Kamis, 23 Februari 2017

Dibalik Kerudung Dia Nafsuku Bergejolak


Nasib itu ada di tangan Tuhan. Seringkali aku memikirkan kalimat ini. Rasanya ada benarnya juga. Tapi apakah ini nasib yg digariskan Tuhan aku tidak tau mungkin lebih tepat ini adalah godaan dari setan. Seperti pagi ini ketika di dalam bus menuju ke kantor aku duduk di sebelah cewek cantik dengan jilbab dengan tinggi 150 cm, umur sekitar 27 tahun, bertubuh sekal dan berkulit putih (keliatan dari kulit wajah dan telapak tangannya). Mula-mula aku tidak perduli karena hobiku untuk tidur di bis sangat kuat namun hobi itu lenyap seketika ketika cewek berjilbab di sebelahku menarik tas dipangkuannya untuk mengambil hp-nya yg berdering. Sepasang paha montok tercetak jelas dari rok biru tua panjang nan ketat yang dipakainya. Pemandangan itu cukup menarik sehingga menggugah seleraku menjadi bangkit. Aku lantas mencari akal bagaimana memancing percakapan dan mencari informasi. Sepertinya sudah alamnya ketika kita kepepet seringkali ada ide yg keluar. Saat itu setelah dia selesai menelefon tiba-tiba mulutku sudah meluncur ucapan ,”Wachhh… hobinya sama juga yach !”. Sejenak dia memandangku bingung, mungkin berpikir orang ini sok akrab banget sich.”Hobi apaan ?” tanyanya. “Itu nitip absen”, sahutku dan dia tertawa kecil. “Tau aja kamu. Dasar tukang nguping”, sahutnya.Akhirnya obrolan bergulir. Selama percakapan aku tidak menanyakan nama, pekerjaan maupun teleponnya, tapi lebih banyak cerita lucu. Sampai akhirnya dia ngomong “kamu lucu juga yach.., nggak kaya cowok yang laen.””Maksud kamu ?” tanyaku lagi.”Biasanya mereka baru ngobrol sebentar udah nanya nama terus minta nomor telepon.” Setelah itu kami saling berkenalan. Perempuan muda berjilbab bernama Siti Fathiya, biasa dipanggil Tia. Obrolan terus berlanjut sampe dia turun di Thamrin dan aku terus ke kota. Dua hari kemudian aku bertemu dia lagi. Cewek manis berjilbab itu menghampiriku dan duduk disebelahku sambil bercerita bahwa teman-temannya penasaran karena dia hari itu punya banyak cerita konyol. Pagi itu kami menjadi lebih akrab. Sambil bercanda tiba- tiba dia berkata :”Kamu pasti suka maen cewek yach, soalnya kamu jago ngobrol banget. Pasti banyak cewek di bis ini yang kamu pacarin.”Sumpah mati aku kaget sekali denger omongan dia. Kayanya maksud aku buat kencan ama dia udah ketauan. Akhirnya karena udah nanggung aku ceritain aja ke dia kalo aku sudah beristri dan punya anak. Ech rupanya dia biasa aja, justru aku yang jadi kaget karena ternyata dia sudah nggak perawan lagi karena pernah MBA waktu lulus sekolah dulu. Sekarang dia sudah bercerai. Wuichhh, nggak nyangka banget kalo doi ternyata janda muda. Selanjutnya sudah bisa ditebak. Obrolan sudah lebih ringan arahnya. Akupun mulai memancing obrolan ke arah yang menjurus sex. Keakraban dan keterbukaan ke arah sex sudah di depan mata. Sampai suatu sore setelah dua bulan perkenalan, kami janjian pulang bareng. Hari itu dia mengenakan jilbab merah muda sewarna dengan hem dan rok panjangnya. Posisi duduk kami sudah akrab dan menempel. Bahkan Tia tidak sungkan lagi mencubit aku setiap dia menahan tawa atau tidak tahan aku goda. Beberapa kali ketika dia mencubit aku tahan tangannya dan dia tampaknya tidak keberatan ketika akhirnya tangan kirinya aku tumpangkan di pahaku dan aku elus-elus lengannya yang tertutup hem lengan panjangnya sambil terus ngobrol. Akhirnya dia sadar dan berbisik, “Wachh, kok betah banget ngelus tanganku, entar lengan bajuku jadi kusut lho. “Habis gemes ngeliat muka manis kamu, apalagi bibir tipis kamu,” sahutku sambil nyengir. “Dasar gila kamu,” katanya sambil menyubit pahaku.Serrrrrr…, pahaku berdesir dan si junior langsung bergerak memanjang. Aku lihat bangku sekelilingku sudah kosong sementara suasana gelap malam membuat suasana di dalam bis agak remang-remang. Aku angkat tangan kirinya dan aku kecup lembut punggung jarinya. Janda muda berjilbab itu hanya tersenyum dan mempererat genggaman tangannya. Akhhhhh… sudah ada lampu hijau pikirku. Akhirnya aku teruskan ciuman pada punggung jarinya menjadi gigitan kecil dan hisapan lembut dan kuat pada ujung jarinya. Tampaknya dia menikmati sensasi hisapan di jarinya. Wajahnya yang dihiasi jilbab itu tampak sendu terlihat cantik sekali. Dan akhirnya dia menyender ke samping pundakku. Ketika bis memasuki jalan tol, aktivitas kami meningkat. Tangan kananku sudah mengusap payudaranya yang putih berukuran 36 B dari luar kemeja merah mudanya. Terasa padat dan kenyal. Lalu perlahan jemariku membuka kancing kemejanya satu persatu dan menyusup kedalam BH miliknya. Putingnya semakin lama semakin mengeras dan terasa bertambah panjang beberapa mili. Sementara itu tangannya juga tidak tinggal diam mulai mengelus-ngelus penisku dari luar. Setelah beberapa menit kemudian tiba-tiba sikapnya berubah menjadi liar dan agresif. Dia tarik ritsletingku dan terus merogoh dan meremas penisku yang sudah tegang. Tanganku yang di dada ditarik dan diarah kan ke selangkangannya. Aku tidak dapat berbuat banyak karena posisinya tidak menguntungkan sehingga hanya bisa mengelus paha dari luar rok panjangnya saja. Aktifitas kami terhenti kala hampir tiba di tujuan. Dan dengan nafas yang masih tersengal-sengal menahan birahi kami merapikan pakaian masing-masing. Turun dari bis aku bilang mau anter dia sampai dekat rumahnya. Aku tau kita bakal melewati pinggir jalan tol. Daerah itu sepi dan aku sudah merencanakan untuk menyalurkan hasratku di daerah itu. Tampaknya janda muda berjilbab itu juga memiliki hasrat yang sama. Ketika berjalan, tangan kirikuku merangkul sambil mengelus payudaranya dari luar hem merah muda lengan panjang yang dikenakannya. Dan ketika kita melewati jalan yang sepi tersebut secepat kilat tangan kananku meraih kepalanya yang dibalut jilbab merah muda model modis dan langsung mencium dan melumat bibir tipisnya itu. Dengan cepat pula cewek berjilbab itu menyambut bibirku, menghisap dan menyedotnya. Tangannya langsung beraksi menurunkan ritsleting celanaku dan aku sendiri langsung mengangkat rok panjang model ketat miliknya. Rrrretttttt… aku tarik kasar cdnya…, jariku langsung menyelusup masuk ke vaginanya terasa hangat dan licin. Rupanya dia sangat terangsang sejak di bis tadi. Di tengah deru nafasnya Tia berdesah : “Ayo mas… masukin aja… aku kepengen banget nech. Hhhhhh…””Sebentar sayang”, sahutku, “Kita cari tempat yang aman.”Aku tarik dia melewati pagar pengaman tol dan ditengah rimbun pohon aku senderkan dia dan setelah menarik rok panjang model ketatnya itu sampai sepinggang Lalu buru-buru kuloloskan celana dalamnya kemudian kuangkat kaki kanannya. Sengaja celana dalamnya kusangkutkan di pergelangan kakai kanan yang kuangkat itu biar celana dalamnya tidak kotor menyentuh tanah. Dengan bernafsu aku buka celanaku dan megarahkan penisku ke vaginanya tapi cukup sulit juga. Akhirnya dia menuntun penisku memasuki vaginanya. ? Emmhhh…!?, kepala janda muda berjilbab merah muda itu mendongak sembari melenguh tatkala ujung penisku mulai penetrasi kedalam vaginanya. Luar biasa, itulah sensasi yang aku rasakan ketika penisku mulai menyeruak memasuki vaginanya yang sudah dibasahi cairan nafsu. Ditengah deru mobil yang melintasi jalan tol aku memompa pantatku dengan gerakan pelan dan menghentak pada saat mencapai pangkal penisku. Tia menyambut dengan menggigit pundakku setiap aku menghentak penisku masuk kedalam vaginanya. “Ooochhhh… auchhhh… Masssss… oochhh…”, desahnya. Birahi dan ketegangan bercampur aduk dalam hatiku ketika terdengar suara orang melintasi jalan dibalik pagar. Namun lokasi kami cukup aman karena gelapnya malam dan terlindung pohon yang cukup lebat. Bahkan mungkin orang yang berjalan itu tidak akan berpikir ada sepasang manusia yang cukup gila untuk ber cinta di pinggir jalan tol tersebut. “Gantian mas… aku cape”, katanya. Aku lantas duduk menyandar dan perempuan muda berjilbab merah muda itu memegang rok panjang yang kusingkap tadi agar tidak jatuh kebawah. Kemudian Tia mulai berjongkok mengarahkan vaginanya. Ketika penisku kembali menyeruak diantara daging lembut vaginanya yang sudah licin, sensasi itu kembali menerpa diriku. Sambil memegang bahuku, dia mulai menekan pantatnya dan menggerakan pinggulnya dengan cara menggesek perlahan, maju mundur sambil sesekali memutar. Kenikmatan itu kembali mendera dan semakin tinggi intensitasnya ketika aku membantu dengan menekan keatas pinggulku sambil menarik pantatnya. Desahan suaranya makin keras setiap kali kemaluan kami bergesekan, “uchhhhh… ssshhh… uchhhhh…”. Mataku sendiri terpejam menikmati rasa yang tercipta dari pergesekan bulu kemaluan kami sambil terus menggerakkan pinggul mengimbangi gerakannya.”Terus sayang… ayo terus”, desahku. Keringat sudah membasahi punggungnya dan gerakan kami sudah mulai melambat namun tekanan semakin ditingkatkan untuk mengimbangi rasa nikmat yang menjalar disekujur tubuh kami dan terus bergerak ke arah pinggul kami, berkumpul dan berpusar di ujung kemaluan kami. Berdenyut dan ujung penisku mulai siap meledak, sementara perempuan berjilbab ini mulai mengerang sambil menjepitkan vaginanya lebih keras lagi. “Hegghhhhhh… hhhegghhhh… heghhh… terus mas… sodok… sodok terussss… mas… yachhh… disitu… terus… terussss… ooocchhhhhhh”, dengan desahan panjang sambil mendongakkan kepalanya yang terbungkus jilbab, Tia menekan dan menjepit keras penisku sementara vaginanya terus berdenyut-denyut. ? Mass…mmhh…oouuccchh…?, pekiknya tertahan sembari menundukkan kepalanya yang berjilbab itu tatkala mencapai puncaknya. Aku hanya bisa terdiam sambil memeluk tubuhnya menunggu dia selesai orgasme. Ketika jepitannya mulai mengendur aku langsung bereaksi meneruskan rasa yang tertunda itu, tanpa basa basi rasa nikmat itu mulai menerjang kembali, berkumpul dan meledak menyemburkan cairan kenikmatanku ke dalam vaginanya. Aku sodokan penisku sambil menekan pinggulnya sementara kakiku mengejang menikmati aliran rasa yang menerjang keluar dari tubuhku itu. Setelah beristirahat beberapa menit kami saling memandang… akhirnya tersenyum dan tertawa.”Kamu memang bener-bener gila, tapi jujur aku sangat menyukai bercinta dengan cara seperti ini. Aku belum pernah senikmat ini bercinta.” akunya. “He.. he.. he.. sama donk”, kataku sambil mengecup bibir sang janda muda berjilbab yang tipis itu sementara kemaluanku mulai mengendur di dalam vaginanya. Setelah itu kami merapikan pakaian masing dan berjanji untuk mengarungi kenikmatan seks ini untuk hari-hari mendatang.
Share:

Melihat Kedua Temanku ML Dengan Pacarnya Membuat Aku Nafsu


Aku adalah gadis berusia 19 tahun. kawan-kawan mengatakan aku cantik, tinggi 170, kulit putih dengan rambut lurus sebahu. Aku termasuk populer diantara kawan-kawan, pokoknya gaul abis. Namun demikian aku masih mampu menjaga kesucianku sampai..
Suatu saat aku dan enam orang kawan Susi (19), Andra (20), Kelvin (22), Vito (22), Toni (23) dan Andri (20). menghabiskan liburan dengan menginap di villa keluarga Andri di Puncak. Susi walaupun tidak terlalu tinggi (160) memiliki tubuh padat dengan kulit putih, sangat sexy apalagi dengan ukuran payudara 36b-nya, Susi telah berpacaran cukup lama dengan Kelvin.

Diantara kami bertiga Andra yang paling cantik, tubuhnya sangat proporsi tidak heran kalau sang pacar, Vito, sangat tergila-gila dengannya. Sementara aku, Andri dan Toni masih ’jomblo’. Andri yang berdarah India sebenarnya suka sama aku, dia lumayan ganteng hanya saja bulu-bulu dadanya yang lebat terkadang membuat aku ngeri, karenanya aku hanya menganggap dia tidak lebih dari sekedar teman.

Acara ke Puncak kami mulai dengan ’hang-out’ disalah satu kafe terkenal di kota kami. Larut malam baru tiba di Puncak dan langsung menyerbu kamar tidur, kami semua tidur dikamar lantai atas. Udara dingin membuatku terbangun dan menyadari hanya Susi yang ada sementara Andra entah kemana. Rasa haus membuatku beranjak menuju dapur untuk mengambil minum.

Sewaktu melewati kamar belakang dilantai bawah, telingaku menangkap suara orang yang sedang bercakap-cakap. Kuintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, ternyata Vito dan Andra. Niat menegur mereka aku urungkan, karena kulihat mereka sedang berciuman, awalnya kecupan-kecupan lembut yang kemudian berubah menjadi lumatan-lumatan. Keingintahuan akan kelanjutan adegan itu menahan langkahku menuju dapur.

Adegan ciuman itu bertambah ’panas’ mereka saling memagut dan berguling-gulingan, lidah Vito menjalar bagai bagai ular ketelinga dan leher sementara tangannya menyusup kedalam t-shirt meremas-remas payudara yang menyebabkan Andra mendesah-desah, suaranya desahannya terdengar sangat sensual.

Disibakkannya t-shirt Andra dan lidahnya menjalar dan meliuk-liuk di putingnya, menghisap dan meremas-remas payudara Andra. Setelah itu tangannya mulai merayap kebawah, mengelus-elus bagian sensitif yang tertutup g-string. Vito berusaha membuka penutup terakhir itu, tapi sepertinya Andra keberatan. Lamat-lamat kudengan pembicaraan mereka.

“Jangan To” tolak Andra.
“Kenapa sayang” tanya Vito.
“Aku belum pernah.. gituan”
“Makanya dicoba sayang” bujuk Vito.
“Takut To” Andra beralasan.

“Ngga apa-apa kok” lanjut Vito membujuk
“Tapi To”
“Gini deh”, potong Vito, “Aku cium aja, kalau kamu ngga suka kita berhenti”
“Janji ya To” sahut Andra ingin meyakinkan.
“Janji” Vito meyakinkan Andra.

Vito tidak membuang-buang waktu, ia membuka t-shirt dan celana pendeknya dan kembali menikmati bukit kenikmatan Andra yang indah itu, perlahan mulutnya merayap makin kebawah.. kebawah.. dan kebawah. Ia mengecup-ngecup gundukan diantara paha sekaligus menarik turun g-string Andra. Dengan hati-hati Vito membuka kedua paha Andra dan mulai mengecup kewanitaannya disertai jilatan-jilatan. Tubuh Andra bergetar merasakan lidah Vito.

“Agghh.. To.. oohh.. enakk.. Too”

Mendengar desahan Andra, Vito semakin menjadi-jadi, ia bahkan menghisap-hisap kewanitaan Andra dan meremas-remas payudaranya dengan liar. Hentakan-hentakan birahi sepertinya telah menguasai Andra, tubuhnya menggelinjang keras disertai desahan dan erangan yang tidak berkeputusan, tangannya mengusap-usap dan menarik-narik rambut Vito, seakan tidak ingin melepaskan kenikmatan yang ia rasakan.

Andra semakin membuka lebar kedua kakinya agar memudahkan mulut Vito melahap kewanitaannya. Kepalanya mengeleng kekiri-kekanan, tangannya menggapai-gapai, semua yang diraih dicengramnya kuat-kuat. Andra sudah tenggelam dan setiap detik belalu semakin dalam ia menuju ke dasar lautan birahi.

Vito tahu persis apa yang harus dilakukan selanjutnya, ia membuka CDnya dan merangkak naik keatas tubuh Andra. Mereka bergumul dalam ketelanjangan yang berbalut birahi. Sesekali Vito di atas sesekali dibawah disertai gerakan erotis pinggulnya, Andra tidak tinggal diam ia melakukan juga yang sama.

Kemaluan mereka saling beradu, menggesek, dan menekan-nekan. Melihat itu semua membuat degup jantung berdetak kencang dan bagian-bagian sensitif di tubuhku mengeras.. Aku mulai terjangkit virus birahi mereka.

Vito kemudian mengangkat tubuhnya yang ditopang satu tangan, sementara tangan lain memegang kejantannya. Vito mengarahkan kejantanannya keselah-selah paha Anggie. “Jangan To, katanya cuma cium aja” sergah Andra.

“Rileks An” bujuk Vito, sambil mengosok-gosok ujung penisnya di kewanitaan Andra.
“Tapi.. To.. oohh.. aahh” protes Andra tenggelam dalam desahannya sendiri.
“Nikmatin aja An”
“Ehh.. akkhh.. mpphh” Andra semakin mendesah
“Gitu An.. rileks.. nanti lebih enak lagi”
“He eh To.. eesshh”
“Enak An..?”
“Ehh.. enaakk To”

Aku benar-benar ternganga dibuatnya. Seumur hidup belum pernah aku melihat milik pria yang sebenarnya, apalagi adegan ’live’ seperti itu.

Tidak ada lagi protes apalagi penolakan hanya desahan kenikmatan Andra yang terdengar.
“Aku masukin ya An” pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.
Vito langsung menekan pinggulnya, ujung kejantanannya tenggelam dalam kewanitaan Andra.
“Aakhh.. To.. eengghh” erang Andra cukup keras, membuat bulu-bulu ditubuhku meremang mendengarnya.

Vito lebih merunduk lagi dengan sikut menahan badan, perlahan pinggulnya bergerak turun naik serta mulutnya dengan rakus melumat payudara Andra.

“Teruss.. Too.. enak banget.. ohh.. isep yang kerass sayangg” Andra meracau.
“Aku suka sekali payudara kamu An.. mmhh”
“Aku juga suka kamu isep To.. ahh” Andra menyorongkan dadanya membuat Vito bertambah mudah melumatnya.

Bukan hanya Andra yang terayun-ayun gelombang birahi, aku yang melihat semua itu turut hanyut dibuatnya. Tanpa sadar aku mulai meremas-remas payudara dan memainkan putingku sendiri, membuat mataku terpejam-pejam merasakan nikmatnya.

Vito tahu Andra sudah pada situasi ’point of no return’, ia merebahkan badannya menindih Andra dan memeluknya seraya melumat mulut, leher dan telinga Andra dan.. kulihat Vito menekan pinggulnya, dapat kubayangkan bagaimana kejantanannya melesak masuk ke dalam rongga kenikmatan Andra.

“Auuwww.. To.. sakiitt” jerit Andra.
“Stop.. stop To”
“Rileks An.. supaya enak nanti” bujuk Vito, sambil terus menekan lebih dalam lagi.
“Sakit To.. pleasee.. jangan diterusin”

Terlambat.. seluruh kejantanan Vito telah terbenam di dalam rongga kenikmatan Andra. Beberapa saat Vito tidak bergerak, ia mengecup-ngecup leher, pundak dan akhirnya payudara Andra kembali jadi bulan-bulanan lidah dan mulutnya.

Perlakuan Vito membuat birahi Andra terusik kembali, ia mulai melenguh dan mendesah-desah, lama kelamaan semakin menjadi-jadi. Bagian belakang tubuh Vito yang mulai dari punggung, pinggang sampai buah pantatnya tak luput dari remasan-remasan tangan Andra.

Vito memahami sekali keadaan Andra, pinggulnya mulai digerakan memutar perlahan sekali tapi mulutnya bertambah ganas melahap gundukan daging Andra yang dihiasi puting kecil kemerah-merahan.

“Uhh.. ohh.. To” desah kenikmatan Andra, kakinya dibuka lebih melebar lagi.
Vito tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dipercepat ritme gerakan pinggulnya.

“Agghh.. ohh.. terus Too” Andra meracau merasakan kejantanan Vito yang berputar-putar di kewanitaannya, kepalanya tengadah dengan mata terpejam, pinggulnya turut bergoyang. Merasakan gerakannya mendapat respon Vito tidak ragu lagi untuk menarik-memasukan batang kemaluannya.

“Aaauugghh.. sshh.. Too.. ohh.. Too” Andra tak kuasa lagi menahan luapan kenikmatan yang keluar begitu saya dari mulutnya.

Pinggul Vito yang turun naik dan kaki Andra yang terbuka lebar membuat darahku berdesir, menimbulkan denyut-denyut di bagian sensitifku, kumasukan tangan kiri kebalik celana pendek dan CD. Tubuhku bergetar begitu jari-jemariku meraba-raba kewanitaanku.

“Ssshh.. sshh” desisku tertahan manakala jari tengahku menyentuh bibir kemaluanku yang sudah basah, sesaat ’life show’ Vito dan Andra terlupakan. Kesadaranku kembali begitu mendengar pekikan Andra.

“Adduuhh.. Too.. nikmat sekalii” Andra terbuai dalam birahinya yang menggebu-gebu.
“Nikmati An.. nikmati sepuas-puasnya”
“Ssshh.. ahh.. ohh.. ennaak Too”
“Punya kamu enaakk sekalii An.. uugghh”
“Ohh.. Too.. aku sayang kamu.. sshh” desah Andra seraya memeluk, pujian Vito rupanya membuat Andra lebih agresif, pantatnya bergoyang mengikuti irama hentakan-hentakan turun-naik pantat Vito.

“Enaak An.. terus goyang.. uhh.. eenngghh” merasakan goyangan Andra Vito semakin mempercepat hujaman-hujaman kejantanannya.
“Ahh.. aahh.. Too.. teruss.. sayaang” pekik Andra.
Semakin liar keduanya bergumul, keringat kenikmatan membanjir menyelimuti tubuh mereka.

“Too.. tekan sayangg.. uuhh.. aku mau ke.. kelu.. aarrghh” erang Andra.
Vito menekan pantatnya dalam-dalam dan tubuh keduanya pun mengejang. Gema erangan kenikmatan mereka memenuhi seantero kamar dan kemudian keduanya.. terkulai lemas.

Dikamar aku gelisah mengingat-ingat kejadian yang baru saja kulihat, bayang-bayang Vito menyetubuhi Andra begitu menguasai pikiranku. Tak kuasa aku menahan tanganku untuk kembali mengusap-usap seluruh bagian sensitif di tubuhku namun keberadaan Susi sangat mengganggu, menjelang ayam berkokok barulah mataku terpejam. Dalam mimpi adegan itu muncul kembali hanya saja bukan Andra yang sedang disetubuhi Vito tetapi diriku.

Jam 10.00 pagi harinya kami jalan-jalan menghirup udara puncak, sekalian membeli makanan dan cemilan sementara Susi dan Kelvin menunggu villa. Belum lagi 15 menit meninggalkan villa perutku tiba-tiba mulas, aku mencoba untuk bertahan, tidak berhasil, bergegas aku kembali ke villa.

Selesai dari kamar mandi aku mencari Susi dan Kelvin, rupanya mereka sedang di ruang TV dalam keadaan.. bugil. Lagi-lagi aku mendapat suguhan ’live show’ yang spektakuler. Tubuh Susi setengah melonjor di sofa dengan kaki menapak kelantai, Kelvin berlutut dilantai dengan badan berada diantara kedua kaki Susi, Mulutnya mengulum-ngulum kewanitaan Susi, tak lama kemudian Kelvin meletakan kedua tungkai kaki Susi dibahunya dan kembali menyantap ’segitiga venus’ yang semakin terpampang dimukanya. Tak ayal lagi Susi berkelojotan diperlakukan seperti itu.

“Ssshh.. sshh.. aahh” desis Susi.
“Oohh.. Kel.. nikmat sekalii.. sayang”
“Gigit.. Kel.. pleasee.. gigitt”
“Auuwww.. pelan sayang gigitnyaa”

Melengkapi kenikmatan yang sedang melanda dirinya satu tangan Susi mencengkram kepala Kelvin, tangan lainnya meremas-remas payudara 36b-nya sendiri serta memilin putingnya.

Beberapa saat kemudian mereka berganti posisi, Susi yang berlutut di lantai, mulutnya mengulum kejantanan Kelvin, kepalanya turun naik, tangannya mengocok-ngocok batang kenikmatan itu, sekali-kali dijilatnya bagai menikmati es krim. Setiap gerakan kepala Susi sepertinya memberikan sensasi yang luar biasa bagi Kelvin.

“Aaahh.. aauugghh.. teruss sayangg” desah Kelvin.
“Ohh.. sayangg.. enakk sekalii”
Suara desahan dan erangan membuat Susi tambah bernafsu melumat kejantanan Kelvin.
“Ohh.. Susii.. ngga tahann.. masukin sayangg” pinta Kelvin.

Susi menyudahi lumatannya dan beranjak keatas, berlutut disofa dengan pinggul Kelvin berada diantara pahanya, tangannya menggapai batang kenikmatan Kelvin, diarahkan kemulut kewanitaannya dan dibenamkan. “Aaagghh” keduanya melenguh panjang merasakan kenikmatan gesekan pada bagian sensitif mereka masing-masing.

Dengan kedua tangan berpangku pada pahanya Susi mulai menggerakan pinggulnya mundur maju, karuan saja Kelvin mengeliat-geliat merasakan batangnya diurut-urut oleh kewanitaan Susi. Sebaliknya, milik Kelvin yang menegang keras dirasakan oleh Susi mengoyak-ngoyak dinding dan lorong kenikmatannya. Suara desahan, desisan dan lenguhan saling bersaut manakala kedua insan itu sedang dirasuk kenikmatan duniawi.

Tontonan itu membuat aku tidak dapat menahan keinginanku untuk meraba-raba2 sekujur tubuhku, rasa gatal begitu merasuk kedalam kemaluanku. Kutinggalkan ’live show’ bergegas menuju kamar, kulampiaskan birahiku dengan mengesek-gesekan bantal di kewanitaanku. Merasa tidak puas kusingkap rok miniku, kuselipkan tanganku kedalam CD-ku membelai-belai bulu-bulu tipis di permukaan kewanitaanku dan.. akhirnya menyentuh klitorisku.

“Aaahh.. sshh.. eehh” desahku merasakan nikmatnya elusan-elusanku sendiri, jariku merayap tak terkendali ke bibir kemaluanku, membuka belahannya dan bermain-main ditempat yang mulai basah dengan cairan pelancar, manakala kenikmatan semakin membalut diriku tiba-tiba pintu terbuka.. Susi! masih dengan pakaian kusut menerobos masuk, untung aku masih memeluk bantal, sehingga kegiatan tanganku tidak terlihat olehnya.

“Ehh Ver.. kok ada disini, bukannya tadi ikut yang lain?” sapa Susi terkejut.
“Iya Si.. balik lagi.. perut mules”
“Aku suruh Kelvin beli obat ya”
“Ngga usah Si.. udah baikan kok”
“Yakin Ver?”

“Iya ngga apa-apa kok” jawabku meyakinkan Susi yang kemudian kembali ke ruang tengah setelah mengambil yang dibutuhkannya. Sirna sudah birahiku karena rasa kaget.
Share:
WELLCOME TO OSEX39.BLOGSPOT.CO.ID

NEW AHLICASINO 2017


Entri Populer

Blog Archive

About Me

Total Tayangan Laman

BEST POKER


HOT POKER