Rabu, 14 Desember 2016

Cerita Awal Mula Tetesnya Air Mata Almira...


Almira pulang kerja dengan berjalan kaki. Waktu itu jalanan cukup sepi, sementara suara guruh sesekali terdengar. Awan terlihat mendung dilangit malam itu.
wanita yang tingginya sekitar 170 cm, dengan body langsing, kakinya juga jenjang mempercepat jalannya.
Pukul 20:00 jalanan diluar rumah Almira, sepi dari mobil yang lewat. Penduduk kota sudah tahu akan ada badai besar malam itu. Kelima berandal yang bertubuh kekar itu mengendap-endap memasuki pekarangan rumah. Mereka mau membalas wanita bertampang melankolis itu yang memergoki mereka mencuri minuman keras tadi, dengan melaporkan kepada satpam setempat. Mereka berencana berpesta memperkosa wanita itu habis-habisan sebagai balasannya.
“Sssstttt…..hati-hati jangan berisik…..ayo sini….” Bisik Danilo sambil memberi aba-aba untuk segera maju bersembunyi dikebun rumah Almira yang penuh semak-semak.
Sementara itu Almira tidak mengetahui kalau dirinya diikuti oleh para berandal sejak sepulang kerja. Wanita itu menyalakan kran air mandi, lalu menuju kekamarnya. Almira menyalakan lagu disco, sambil melepaskan baju kerjanya.
Di kebun para berandal sudah mulai mengendap- endap sambil menyusun rencana untuk masuk ke dalam rumah. Edi dan Dickson mendapat tugas mengawasi jalanan, sedangkan Danilo membuka pintu depan, Jody dan Bernard mencari jalan masuk lewat belakang. Pada saat itu secara tidak sengaja Jody melewati jendela kamar Almira yang sedang membuka baju kerjanya. Roknya berada diatas ranjang, sementara Almira yang tubuhnya cuma terbungkus kemeja kerja dan celana dalam sambil berdisco membuka kancing kemejanya. Jody segera memanggil Bernard untuk melihat pemandangan itu. Mereka menelan ludah melihat Almira yang meliuk-liuk merangsang menari disco. Ukuran dadanya yang sekitar 36B terlihat jelas belahannya ketika wanita itu sudah melepas kemejanya.
“Wow, Jody… lihat itu dadanya….aku ingin segera mencicipi tubuhnya….” Bisik Bernard tanpa melepaskan padangan matanya menatap tubuh Almira yang hanya mengenakan baju dalam.
“He…he….he…sabar, Nard…nanti kita cicipi sama-sama, sampai pagi!” sahut Jody yang makin bernafsu melihat hal itu.
Beberapa saat kemudian Almira beranjak menuju kekamar mandi. Sementara itu Danilo yang berhasil membuka pintu depan segera memberi aba-aba pada teman-temannya untuk masuk. Para berandal itu sudah memperhitungkan segalanya, mereka mengunci pintu dari dalam sehingga nanti mereka bebas bertindak. Kabel telpon sudah mereka putus, wanita itu tinggal sendirian dan lagi badai yang akan datang sangat menguntungkan rencana mereka. Dengan leluasa mereka masuk ke kamar wanita itu. Dickson membuka kulkas, yang lain masuk ke kamar Almira. Edi memeriksa lemari pakaian Almira.
“Heehh….lihat apa yang kutemukan!” sambil menunjukkan barang temuannya. Jody segera menyahut celana dalam itu.
“Hmmmmm….mmmm…” Jody mencium celana dalam.
“Ingat aku yang pertama bercinta dengannya!” sahutnya sambil tersenyum penuh arti. Para berandal itu tak sabar membayangkan apa yang akan mereka nikmati. Lalu mereka mengambil posisi untuk bersembunyi.
Almira selesai mandi menuju keruang tengah. Tubuhnya hanya terbalut oleh baju dalam dan kemeja putih, duduk menikmati acara TV kabel. Waktu itu pukul 20:30, wanita itu sama sekali tidak menaruh curiga bahwa ada orang lain dalam rumahnya. Tiba-tiba dari arah belakang salah seorang berandal maju mendekap tubuhnya. Almira terkejut dan segera berontak melepaskan diri.
“EVER BEEN GANG RAPED BABY? DON’T KNOW WHAT YOU BEEN MESSIN! YOU STILL REMEMBER US DON’T YOU……” ejek Edi.
Almira segera mengenali wajah itu menjadi ketakutan sekali, ia tak menyangka kalau para berandal itu benar-benar melaksanakan ancamannya.
Jody maju menerkamnya tiba-tiba, wanita itu menjerit ketakutan ketika berhasil dipeluk. Ia meronta-ronta dan menendang Jody. Tanpa disadarinya tendangannya mengenai selangkangan Jody membuatnya meringis kesakitan dan melepaskan dekapannya. Almira segera melepaskan diri dan lari menuju pintu depan. Para berandal segera mengejarnya sambil menyorakinya. Dengan sekuat tenaga pintu depan itu berusaha dibuka, tetapi usahanya sia-sia.
“Wooooo……woooooo……ha…ha…ha….ayo sayang, mau lari kemana kamu hah….ayo sini…ha…ha….ha…” Ejek para berandal yang mengejarnya dari belakang.

Almira segera dikepung oleh para berandal. Mereka menyoraki ketidak berdayaannya. Almira didesak terus sampai merapat kedinding, Jody yang tadi meringis kesakitan mulai maju. Pada saat wanita itu hampir putus asa, ia berhasil berkelit dari kepungan berandal itu, lolos dan lari menuju ke dapur, Almira bermaksud lari lewat pintu belakang. Para berandal segera mengejarnya lagi. Nasib sial bagi Almira, begitu tangannya berhasil menyentuh gagang pintu, para berandal berhasil menangkapnya kembali. Rambut pirang Almira yang panjangnya sebahu terjambak, sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Aaaahhhh….aammpun…aaah” pinta Almira, sementara para berandal tersenyum sinis memandangnya.
“Sayang…. Kami akan memberimu pengalaman yang tak akan kau lupakan! kau tadi telah merusak acara pesta kami, sekarang kau harus membayarnya dengan tubuhmu yang indah itu……ha…ha..ha…, oya kau juga akan menyesal telah menendang punyaku, akan kujoblos kau sampai mampus! ” Jody maju dari kerumunan temannya.
Almira tak berdaya, rambutnya dijambak sementara tangannya dilipat kebelakang. Dari dapur ia diseret menuju ruang tamu saat itu pukul 20:45. Disana ia dikelilingi oleh kelima berandal sambil didorong-dorong.
“Sayang, kita akan berpesta denganmu!” seru Edi tak sabar sambil mendorong ke arah Bernard.
“Ha…..ha…ha…. kau tak akan bisa lolos kali ini….” Ejek Bernard sambil mendekap tubuh Almira. Mereka berteriak-teriak membuat Almira makin ketakutan.
“Kemarikan dia Nard….HEY BABE, I BET MY COCK WOULD FEEL REAL GOOD WARPED UP IN YOUR PUSSY!” seru Dickson tak sabar, sambil mempraktekkan gaya bercinta penuh nafsu. Almira didorong ke arah Dickson yang segera merangkul nya dari depan. Mulutnya segera mencari dada wanita itu, sementara pinggulnya bergerak maju mundur seakan sedang bercinta dengannya.
“Wooooo…. Wooooou…..FUCK YOU GIRL, FUCK YOU…..” Dickson menggerayangi wanita itu.
“Aaaahhhh…….aaam…punnn….aahhh…..jaa…aa ahhhh!!!” jerit Almira ketakutan.
Tiba-tiba dengan satu sabetan, tangan salah satu berandal merobek kemeja putih Almira, membuat wanita itu terpelanting. Danilo segera mendekap dari belakang. Sekarang tubuh Almira hanya mengenakan BH dan celana dalam saja, membuat mereka makin menjadi-jadi.
“Ah…aahh…aahh!” jerit Almira ketika tangan Danilo yang mendekap tubuhnya dari belakang mulai menggerayangi pahanya yang putih mulus.
“Kita akan memberimu pengalaman yang tak terlupakan, manis…ha…ha…ha…” bisik Danilo.
Para berandal lainnya ikutan beraksi. Tangan Edi meremas remas buah dada Almira. Dickson memburu kemaluan Almira, sementara Bernard dan Jody buka baju dan celana panjang mereka sambil tertawa sinis. Tubuh para berandal itu terlihat begitu kekar dan berotot.
“HEY, iket tangan nya aku yang pertama menyetubuhinya!” Jody memberi aba-aba yang langsung disetujui teman-temannya. Wanita itu meronta-ronta di bopong kelima berandal itu keruang tengah.
“Dickson, Danilo, kau pegangi tangan dan kakinya, terlentangkan dia di meja ini” perintah Jody.
Lonceng berdentang menunjukkan pukul 21:00. Disana Almira diterlentangkan di atas sebuah meja bundar. Masing-masing tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh para berandal. Sinar lampu diatas meja membuat wanita itu silau, Almira hanya bisa melihat tubuh-tubuh kekar mengerubunginya dan tangan-tangan berotot meraba-raba dadanya, wajah sinis dan suara tawa para berandal mengejek ketidak berdayaannya.
Lidah Jody menelusuri lehernya yang jenjang. Almira berontak berusaha melepaskan diri, tetapi apa daya tenaga seorang wanita dibanding dengan lima laki-laki yang kesetanan. Dickson dan Edi memegangi kakinya, sementara tangan kanan dan kiri Almira dipegangi erat-erat oleh Danilo dan Bernard. Jody mencumbunya dengan kasar dan penuh nafsu, tangannya dengan liar meremas-remas buah dada Almira.
“I CAN SEE THE NIPPLES POKING AT HER BRA!” kata Jody yang langsung disambut oleh tawa para berandal.
“HEY, CUT THAT BRA OFF MAN. WHAT’S WRONG WITH YOU?” sahut Danilo sudah tidak sabar lagi.
“Aaaah…..aaah….ooh…jangan…..aahkh!” jerit Almira ketika dengan satu hentakan kasar tangan Jody merobek BH yang dikenakannya. Para berandal makin seru menyorakinya. Mulut Jody segera melumat buah dada Almira yang kenyal, sementara tangan kirinya masih meremas-remas buah dada sebelah kanan Almira.
“Aaaaah….aaoooh…..ooooh…aahh …aaaahh…aaahhhhh….” desah Almira mengeliat-liat. Putingnya dijilati penuh nafsu oleh lidah Jody.
“Ha….ha….ha…. kau sungguh mengiurkan sayang!” tawa Bernard menelan ludah tak sabar ingin segera menikmati gilirannya. Jody sekarang membuka celana dalamnya sendiri, penisnya yang hitam besar 10 inci itu terlihat tegak siap beraksi.
“Kenyal sekali…..ha…ha…ha…”seru Jody sambil menerkam dan mulutnya menciumi buah dada wanita itu dengan buas. Tubuh Almira mengeliat-liat membusur, sementara buah dadanya diremas-remas sampai merah. Lidah Jody menelusuri buah dada Almira, lalu turun ke daerah perut dan menjilati pusarnya. Beberapa saat kemudian sambil tersenyum sinis, mata Jody memelirik kearah paha Almira.
“Oooohhh….jangan…..aaahhhh….” hiba Almira ketakutan tidak berani membayangkan diperkosa oleh kelima berandal kekar dan berotot.
Lalu tangan Jody mulai memelorot celana dalam Almira. Wanita itu berusaha mempertahankannya,
“Ha..ha…ha…percuma kau berontak manis!” ejek Jody ketika Almira berontak sekuat tenaga, tetapi Bernard dan Danilo makin erat memegangi tangan Almira, perlahan- lahan celana dalamnya terlepas, rambut kemaluan Almira terlihat ketika celana dalam berwarna pink itu dari pinggul dilorot turun kepahanya dan akhirnya terlepas.
“Cihuuuiiii……Ha…ha…ha….PARTY TIMES… ha…ha…ha….” Teriaknya sambil memutar-putar celana dalam itu, lalu dicium dalam-dalam menikmati aromanya dan dilemparkan kelantai. Mata Jody jelalatan memandangi Almira yang telanjang bulat terlentang diatas meja. Almira lemas karena ketakutan, ia tak berani membayangkan para berandal itu akan ‘menelan tubuhnya ramai-ramai’. Para berandal makin ramai menyorakinya, mata mereka jelalatan memandang setiap lekuk tubuh Almira. Danilo yang tadi memegangi tangan Almira digantikan oleh Bernard.
“Oooooh…..aaaahh….am…pun…..aaaah…jang… an…aaahh..” hiba tangis Almira.
“Diam!….THERE’S GOING TO BE A BIG PARTY IN YOUR PUSSY TONIGHT…..Ha…ha…ha…kita lihat siapa yang paling hebat bercinta denganmu!” ejek Danilo mendekati Almira sambil mengeluarkan pisau lipat.
Almira semakin ketakutan ketika Danilo memainkan pisau itu diantara buah dadanya sambil tersenyum sinis memandang tubuhnya. Pisau itu bergerak kearah puting susunya dan diputar-putar mengelilingi belahan buah dada Almira yang naik-turun karena napasnya tak beraturan. Hal itu membuat para berandal benar-benar terangsang. Pisau itu terasa dingin di buah dada Almira, lalu pisau itu bergerak kearah perut wanita itu dan turun ke daerah bawah pusar wanita itu. Edi menyeringai penuh arti ketika mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Danilo dengan pisau lipatnya.
“Ayo Dan…, cukur sampai habis…..ha…ha…ha…ha…” seru Edi kegirangan.
“Aaaahh…..ohhhh…jangan….aaah….” teriak Almira sambil berontak, tetapi para berandal itu makin mempererat pegangannya, sementara pisau lipat itu dengan buas mulai beraksi mencukur rambut kemaluannya.

“Ha…ha….ha… kesempatan yang langka ini tak akan kami lewat begitu saja. Ayo manis berteriaklah semaumu, tak akan ada yang mendengarmu saat ini.” Ejek Jody sambil menerkam buah dada Almira, diremasnya kuat-kuat membuat wanita itu mengerang kesakitan sementara Danilo mencukur rambut kemaluannya tanpa foam pelicin sehingga Almira merasa perih.
Bernard, Dickson dan Edi yang memegangi kaki dan kedua tangan Almira tertawa melihat wanita itu meronta-ronta.
“Aaaaaagggg….aaaaoooohh….ooooohhh…oohh.. .” desah Almira buah dadanya diremas-remas oleh Jody. Suara desahan itu membuat para berandal itu makin terangsang.
Dengan buas pisau Danilo beraksi, dalam beberapa menit saja rambut kemaluan Almira telah tercukur habis. Daerah kulit bawah perut Almira yang tadinya ada rambut kemaluannya terlihat memerah. Danilo tersenyum puas, Jody segera maju sambil mementang kaki wanita itu lebar-lebar, sekarang ia berada diantara pahanya , memandang kemaluan Almira yang terlihat jelas karena rambut disekitar daerah itu habis tercukur.
“Ha…ha…ha…buah dadamu sungguh lezat, NOW I’LL EAT YOUR PUSSY!” kata Jody sambil menjilatkan lidahnya sementara matanya melirik kearah kemaluan Almira.
“Oooooh….lepas…kan….jang…an ..oooOOAAHH!” tangis Almira terhenti ketika Jody mulai menjilatinya. Lidah itu seakan menjulur panjang menjelajahi lorong vagina Almira. Tubuh wanita itu mengelinjang-gelinjang, sementara lidah Jody bergerak seperti cacing menggali lobang.
“Oooooohhhhh…aaaauuuuoooo…oooouuu…aaaah. ..” Desis Almira sementara kepalanya hanya bisa menggeleng ke kiri dan kanan. Tubuh Almira bergetar, tangannya mengepal erat-erat, Danilo menciumi leher dan daerah sekitar ketiak, sambil tangannya mencubit puting susu wanita itu. Dickson melepaskan kaki wanita itu, dan ikutan mencumbu perut Almira. Lidah Dickson menjilati pusar wanita itu.
“Uuuuuuhhhh….oooouuh…ooohhh…” suara desah Almira makin keras, ketika lidah Jody masuk makin dalam divaginanya.
“Ha…ha…ha….percuma kau berontak sayang, mau tak mau kau akan menikmati pesta ini!” ejek salah satu berandal.
Buah dada Almira memerah dan mengembang karena remasan tangan Danilo.
Jody makin bersemangat, ketika vagina Almira mulai berlendir. Lidah itu menjelajah makin dalam bersamaan dengan pekik desah Almira. Danilo masih mengulum buah dada wanita itu. Putingnya disedot kuat-kuat, membuat wanita itu mengeliat menahan rasa nikmat dan sakit yang bercampur menjadi satu. Tanpa disengaja dari puting buah dada Almira keluar cairan putih seperti susu. Danilo lebih bersemangat lagi menyedoti cairan itu, sementara tangannya meremas-remas buah dada Almira agar keluar lebih banyak.
“Uuuuggghhhh……uuuuuhhhh….uuuhhhh….aaauuuhh hhh….” desis Almira dengan napas tersedak-sedak.
“Ha…ha…ha….ternyata tubuhmu menghianatimukan? Diam-diam kau menikmatinya……BITCH!!!!” ejek Danilo sambil menyedoti buah dada Almira, kanan-kiri.
Lonceng berbunyi menunjukkan pukul 21:30. Rupanya para berandal itu senang bermain-main dengan tubuhnya dan berniat melakukan WARMING-UP sebelum memperkosanya. Almira hanya bisa mengeliat-liat dikerubuti para berandal yang kekar. Lidah Jody dengan lahapnya menjilati vagina Almira. Tidak puas hanya lidah, sekarang jari tangan Jody ikutan beraksi. Jari tengah dan telunjuk Jody masuk di lobang kemaluan wanita itu, diputar-putar seolah-olah mengaduk-aduk vagina Almira, sementara lidahnya ikut menjilati bibir kemaluan Almira.
“Aaaauuuuhhhhh……uuuuuhhh…..aaahhhh” desah wanita itu makin keras, membuat para berandal itu tertawa mengejek ketidak berdayaannya. Jari tangan Jody menusuk masuk dan bermain-main dengan klitorisnya, membuat Almira mengelinjang-gelinjang. Mata Almira terpejam, kepalanya menggeleng ke kiri kanan, Dickson menciumi pusarnya, tangan Danilo meremas-remas buah dadanya. Setelah puas bermain-main, Jody mementang kedua kaki Almira.
“Jody mau pakai kondom?” tanya Bernard. Jody menolak usul Bernard.
“NO WAY….Ha…ha…ha….I WANT TO FEEL SKIN TO SKIN…ok sekarang saatnya manis… NOW LETS SEE JUST HOW TIGHT YOUR CUNT IS!” Jody mengangkat pinggul Almira tinggi-tinggi. Penisnya sekarang digesek-gesekkan disekitar bibir kemaluan Almira berusaha menyibak belahannya. Mata wanita itu terbelalak kaget ketika merasakan kepala penis Jody yang besar dan hangat. Batang penis itu berdenyut-denyut dibibir kemaluannya.
“Ohhh…ohhhh sekarang saatnya!” pikiran Almira melayang jauh ketika Jody mulai beraksi menindih tubuhnya.
“Ayo Jody cumbu dia sampai mampus……Cihuuui!!!” para berandal itu memberi semangat.
Jody merasakan rasa hangat yang mengalir pada kepala batang kemaluannya yang sudah menancap tepat pada pintu gua kenikmatan milik wanita itu. Jody menekan perlahan, seperempat dari bagian kepala kemaluannya mulai terbenam ….Almira menahan napas …. ditekan lebih dalam lagi …. separuh dari bagian kepala kemaluannya melesak masuk …. dengan lebih bertenaga Jody mendesak batang kemaluannya untuk masuk lebih dalam lagi.
“Ayo Jody! sedikit lagi! Masukin saja semua! Biar dia rasain Jody!” Danilo menyoraki Jody sambil meremas-remas buah dada Almira.
“AAAgggh!!!!” Pekik Almira merasakan sesuatu yang menyakitkan dipangkal pahanya ketika seluruh kepala kemaluan Jody sudah terbenam kedalam liang hangat miliknya, dengan satu hentakan yang kuat, penis Jody menyeruak masuk ke dalam vagina Almira membuatnya memekik kesakitan.
Sementara badai diluar mulai turun dengan deras dimulailah pesta perkosaan itu. Almira terlentang diatas meja bundar diruang tengah, tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh Bernard dan Edi, buah dadanya dijilati, disedoti oleh Dickson dan Danilo, sementara penis Jody mengoyak-koyak vaginanya dengan ganas.
“Aaagh…..aaahh….ooooh….ooohh…” suara rintih Almira seiring dengan gerakan ayunan pinggul Jody yang kuat. Senti demi senti batang kemaluan Jody menelusur masuk menerobos keketatan liang kemaluan Almira yang sudah basah berlendir itu. Setiap ayunan Jody membuat tubuhnya mengelepar kesakitan karena penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam. Suara desahan Almira membuat para berandal itu makin bernafsu menikmati tubuhnya.
“Ayo Jody…..genjot terus sampai mampus….. ha…ha…ha…” seru salah satu berandal.
Jody merasakan begitu ketatnya ujung kemaluannya terjepit di dalam vagina Almira, selang beberapa saat penis itu terhenti menerobos keluar masuk.
“CAN’T SEEM TO GET MY COCK DEEP ENOUGH INTO YOU BABY!” Jody mengatur posisi pinggulnya,
“YOU SO DAMN TIGHT!.” kemudian dengan satu hentakan yang kuat membuat batang penis itu hilang tertelan kemaluan Almira.
“AAAaaaaggggkkk!!” suara lolong histeris Almira ketika dengan satu hentakan kuat tanpa masalah penis itu beraksi lagi di liang vagina Almira yang berlendir, rupanya selaput perawan Almira robek.
“Uuuugggghhhh…. SO YOU’RE STILL A VIRGIN? Ha…ha…ha….manis, kau tak akan melupakan pengalaman ini!” ejek Jody,
Penis itu dengan mudah menerjang keluar masuk dengan cepat, sementara tubuhnya menghentak hentak barbar diatas Almira yang mendesah-desah tak berdaya. Kemaluan Almira terasa akan robek oleh desakan penis Jody yang menyeruak masuk keluar dalam-dalam seperti membor kilang minyak. Jody melengkuh-lengkuh nikmat, pinggulnya berayun-ayun memompa, penis itu keluar masuk.
Kaki Almira terangkat tinggi diatas meja terayun-ayun seirama gerakan pinggul Jody menghujamkan keluar masuk batang penisnya yang dengan barbar beraksi divaginanya.
Almira berharap ia dapat pingsan saat itu juga supaya tidak merasakan sakit yang tak terlukiskan itu. Para berandal itu menyanyikan lagu “ROW YOUR BOAT”.
“Aaaahhh…aaaahh….ammm….pun….aahh… aaahh…aaahh….sakit..ahhhhh..aaaahhh….”jerit Almira. Pinggul Jody bergerak seperti pompa. Penis itu keluar masuk seiring desahan Almira.
“Ayo Jody coblos terus, coblos…coblos…woooo… wooooo BABY….” teriak Danilo sambil menciumi dada wanita itu.
“Delapan puluh delapan……delapan puluh sembilan….sembilan puluh…Ayo…” dengan semangat Edi menghitungi setiap hujaman penis Jody.
“Aaaaahhh….wahhhhaaa….aaaah….uuuuh… uuugh….” pekik Almira, sementara Jody berayun-ayun diatas tubuhnya. Wanita itu hanya bisa terisak-isak. Suara petir menyambar di sela-sela badai.
“YEAAAHHH. HOW’S IT FEEL, BABE, HOW’S IT FEEL WITH A REAL MAN’S BIG COCK IN YOUR BELLY? OOOOOOOOOOOOO YOU FEEL SO GOOD, SO HOT.” ejek Jody sambil memaksa Almira yang mendesah untuk melihat penisnya mengenjot keluar masuk lorong vaginanya.
Almira bisa merasakan setiap inci dari otot dibatang penis Jody bergerak menelusuri lorong kemaluannya.
“Uuuh…uuuh….uuaah…” lengkuh Jody, sudah sekitar setengah jam dia berayun-ayun diatas wanita itu, keringat membasahi tubuh keduanya, tetapi gerakan pinggulnya tetap ganas, penisnya menyodok-sodok dikemaluan Almira, tangannya menggerayangi pahanya dengan liar.
Sementara itu Danilo membuka celana panjang dan celana dalamnya sendiri, penisnya panjang, (tetapi tidak sebesar Jody sekitar 8.7 inci) sudah tegak menegang. Dickson masih asyik menyedoti puting buah dada Almira. Sesekali wanita itu berusaha memberontak, tetapi Edi dan Bernard mempererat pegangannya. Jody melengkuh-lengkuh nikmat di atas tubuh Almira yang mengeliat-liat menahan berat tubuh Jody yang menindihnya.
“Seratus enam puluh enam…… seratus enam puluh tujuh…..seratus enam puluh delapan…..ayo Jody taklukan dia….ha…ha…ha…” Edi menyemangati yang langsung diikuti oleh para berandal yang lain.
“Seratus tujuh puluh tiga….seratus tujuh puluh empat…seratus tujuh puluh lima….” Para berandal yang lain ikutan menyemangati Jody.
Tubuh dan buah dada Almira berguncang-guncang seirama dengan hentakan genjotan Jody yang makin liar. Vaginanya terasa terbakar oleh gesekan penis Jody yang buas.
“Aaaaaaahhhh…..aaaaaa….aaaaaahh…..aahhhh…. ..ooooohhh” Almira melolong menahan sakit.
“Ayo…….ayo….seratus delapan puluh delapan…..seratus delapan puluh sembilan….seratus sembilan puluh….ha…ha…ha…” Edi memberi semangat.
“Uuuuaah….uuuuuh….uuughh…tubuhmu nikmat sekali!” Jody mengejek Almira yang mengigit bibirnya menahan sakit. Pinggulnya maju mundur diantara selangkangan wanita itu. Dickson dengan gemas mengigit puting buah dada Almira, sementara tangannya yang satu meremas- remas buah dada sebelah kanan.
“Aaaaahh……uuuughhh…..uuughh…uuukkkh….ooo uuuughh…” rintih Almira, sementara gerakan Jody mulai pelan, tapi mantap.
“Seratus sembilan puluh enam…..seratus sembilan puluh tujuh….” Semua berandal menyemangati Jody. Batang penisnya keluar masuk dengan barbar.
“”I’M COMING, BABY!” lengkuh Jody.
“OH GOD! NO, PLEASE ! NOOOOO!! NOO! DON’T COME INSIDE ME!!! NOOO, PLEASE!!!!…..AAAKKKHHHH!” kepala Almira terjengkang keatas, sementara terdengar suara lolong kesakitan ketika batang penis itu menghujam dalam-dalam divaginanya.
Dengan satu hentakan kuat Jody mencapai klimax, penisnya menyemburkan sperma dalam lorong kemaluan Almira.
“Uuuuuugggh…..ha…ha…ha….bagaimana?” ejek Jody sambil mencabut penisnya dengan perkasa.
“kau akan digilir sampai pagi!!…..ha…ha…ha…NEXT!!!” seru salah satu berandal.
Sementara itu kilat diluar menyambar-yambar, waktu itu pukul 22:25. Almira hanya bisa terisak-isak, Danilo maju sambil menyeringai. Tanpa perlawanan yang berarti, Danilo sudah berada di antara selangkangan wanita itu.
“Ha…ha…ha…IS MY TIME TO RIDE, BABY I’M GONNA TAKE MY TIME AND FUCK YOU NICE AND SLOW. LET’S SEE HOW LONG I CAN KEEP MY DICK HARD IN THIS WONDERFULLY TIGHT CUNT OF YOURS. SEE HOW LONG I CAN KEEP YOU MOANS…..!” ejek Danilo, sementara batang penisnya dengan mudah masuk ke vagina Almira. Danilo memulai gerakannya, pinggulnya bergerak memutar, memastikan penisnya masuk penuh, beritaseks.com lalu bergerak maju mundur perlahan tapi dalam. Pinggulnya berayun-ayun pelan dan mantap, diantara kedua paha Almira yang terbuka lebar, sambil meremas-remas buah dadanya. Kadang jari-jari tangan Danilo melintir-lintir puting susu wanita itu, tubuh Almira hanya bisa mengeliat-liat, sementara dari bibirnya yang terbuka terdengar suara erangan dan desah.
Penis itu beraksi di vaginanya, pinggulnya diangkat ke antara pinggang Danilo yang maju mundur. Dickson meninggalkan kerumunan menuju kulkas diruang makan. Jody duduk disofa, sambil melihat teman- temannya beraksi diatas tubuh Almira. Bernard masih dengan erat memegangi tangan kanan dan kiri Almira, juga Edi yang memegangi kedua kaki Almira. Suara desah erangan wanita itu bagai musik merdu ditelinga mereka. Tubuh Almira basah kuyup karena keringat, sementara Danilo melengkuh-lengkuh nikmat.
“Ooooooooohhhhhh…….uuuuuuhhhhh…..uuuhhhh…. .uuhhh…..ha…ha…ha….” suara Danilo, penisnya yang panjang tanpa ampun terus mengenjot kemaluan Almira. Buah dadanya dijadikan bual-bualan oleh Danilo. Giginya mengigiti putingnya dengan gemas, membuat Almira menjerit kesakitan. Terlihat bercak-bercak merah bekas cupangan disekitar leher dan dada ditubuh Almira.
“Aaaahhh…..aaaaoooohhh….ooooohhhhhh…ooooohhh h…..” desah Almira merasakan penis Danilo menusuk keluar masuk divaginanya. Sudah sekitar lima belas menit Danilo beraksi, tubuh Almira berguncang- guncang seirama ayunan pinggul Danilo.
Pukul 23.10. Kilat dan guntur bersahutan diluar, membuat jalanan bertambah sepi.
“Hah…hah….hah……uuuggghhh…”lengkuh Danilo, sekarang ayunannya tidak perlahan seperti pertama, tetapi berirama cepat dan dalam. Vagina Almira terasa perih terbakar oleh gesekan penis Danilo.
“Ha….ha…ha….. tunggu punyaku manis, YOU WILL LOVE IT!” seru Edi sambil mengolesi penisnya sendiri dengan selei sehingga kepala penis itu terlihat gilap dan lebih besar dari yang sebelumnya.
“Uuuuuggghhhh…….uuuuuggghh…… uuuugggghhhh……”desah Almira pendek seirama keluar masuk penis Danilo di kemaluannya. Edi meremas-remas penisnya sendiri, sambil memandangi setiap lekuk tubuh Almira.
“Ha…ha…ha….Ed, kau sudah tak sabar ya?……” tanya Bernard sambil matanya terkagum melihat penis Edi yang makin besar, sehingga kepala penis itu seperti jamur.
“Oooooohhhhhh….uuugggghhh…..oooohh…… oooohh……..HERE I CAMEEE……!!!!” jerit klimax Danilo, penisnya menghujam dalam-dalam sambil menyemprotkan cairan putih.
“Aaaaaaakkkkkhhhhhhh……oooohhh……” pekik Almira diantara lengkuhan nikmat Danilo.
Danilo mencium kening Almira yang terlentang terengah-engah diatas meja.
“FUCK YOU BABE!…..ha…ha..ha….” ejek Danilo sambil mencabut penisnya.
Posisinya segera digantikan oleh Edi. Kepala penis yang besar itu digesek-gesekkan di antara paha Almira. Edi memandangi tubuh Almira yang sintal dan mulus basah oleh keringat.
“LET’S GO TO HEAVEN, manis…ha…ha…ha….” Bersamaan dengan kata itu Edi menciumi buah dada Almira, sementara tangannya mengesek-gesekkan penisnya di bibir kemaluan wanita itu.
Teriakan Almira tertelan badai yang ganas, pukul 23.45. Almira, meronta-ronta tubuhnya membusur digumuli Edi yang penuh nafsu, sementara para berandal yang lain tertawa terbahak-bahak. Tangan Almira yang dipegangi oleh Bernard,membuatnya tak bisa melawan, sehingga dengan leluasa Edi menciumi tubuhnya. Dari leher, lidah Edi terus menelusur turun ke buah dadanya, disedotnya kuat-kuat buah dada wanita itu, membuatnya mengerang kesakitan, lidahnya menjilati dengan lahap cairan yang keluar dari puting susu Almira. Tiba-tiba dengan hentakan yang kuat penis Edi menerobos masuk kemaluan wanita itu.
“Aaaaakkkkkkkhhhhh…….”Almira berteriak kesakitan. Penis itu terus berusaha masuk penuh, Almira bisa merasakan kepala penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam di vaginanya.
“Uuuuugggghhhhh…..sempit sekali….uuuuaahh…
hhhaaaa….”seru Edi sambil terus mendorong masuk penisnya.
“Ayo…..Ed,……ha….ha…ha….masukkan semuanya….biar mampus dia!” teriak Jody menyemangati Edi.
Sekarang kepala penis itu sudah masuk, Edi diam sebentar merasakan otot vagina Almira yang berusaha menyesuaikan diri dengan penisnya. Dinding vagina Almira serasa meremas-remas penisnya, membuatnya lebih tegang.
“Ha….ha…ha….kulumat kau, manis!” bisik Edi sambil mulai menggenjotkan penisnya dengan barbar. Jody menciumi leher Almira, Dickson meremas-remas buah dadanya, Danilo meratakan olesan selai, sedangkan tangan Edi mementang pahanya agar lebih leluasa penisnya bisa maju mundur diliang kemaluan Almira.
“Aaaahhhh……aaahhhhhh…..aaaggghhhh… aaahhhhh…” lolongan desah Almira digarap ramai-ramai. Suara desah dan erangan Almira terdengar bagai musik merdu ditelinga para berandal. Tanpa menghiraukan Almira yang sudah kelelahan, mereka terus berpesta menikmati tubuh wanita itu. Bagai menyantap hidangan lezat, mereka melahap dan menjilati tubuh Almira yang basah, mengkilat karena olesan selai dan keringat. Penis Edi menerobos keluar masuk dengan cepat, sementara disetiap hentakan tubuhnya terdengar erangan Almira menghiba kesakitan. Dickson yang meremas-remas buah dadanya sekarang mulai menjilatinya penuh nafsu, sedangkan putingnya disedoti agar keluar cairan seperti susu, Jody terus menciumi leher Almira yang jenjang.
“Uuugggh…….uuuuggghhh……..aauughh….. uuugghhh….uuuuggghhh….” rintih Almira, sudah sekitar lima belas menit Edi berpacu dengan birahi, peluh membasahi tubuhnya. Edi melengkuh-lengkuh penuh nafsu, menikmati setiap inci hujaman penisnya dilorong kemaluan Almira.
“Haaah…..haaah….uuuggh…..bagaimana manis, asik bukan…..kau akan digilir sampai pagi…ha…ha… ha….Haah….haaah….” seru Edi sementara pinggulnya bergerak seperti memompa diantara kedua paha Almira. Buah dada wanita itu memerah diremas-remas dengan kasar oleh para berandal. Tubuh Almira berguncang-guncang dengan ganas seirama ayunan Edi.
“He…he…he…..buah dadamu lezat sekali, ya…..kau akan membayarnya dengan tubuhmu sayang!” ejek Dickson sambil menjilatkan lidahnya keudara sementara tangannya meremas-remas buah dada wanita itu dengan nafsu. Almira hanya bisa terisak-isak sambil menahan sakit disekujur tubuhnya yang basah kuyup karena keringat dan selai. Penis Edi makin ganas menggenjot wanita itu.
“Aaaauuh…..aaagggh……uuuuugggghhhh… uuuughhhhh….” pikik desah Almira. Vaginanya terasa panas dan perih oleh gesekan penis Edi yang barbar.
Badai masih ganas, didekat lantai meja makan, terlihat BH dan celana dalam Almira berserakan sementara diatas meja Almira diperkosa dengan ganas oleh lima berandal yang kekar, beritaseks.com tubuhnya dipentang dan dijilati penuh nafsu. Buah dadanya dicengkram dan diremas-remas, lehernya diciumi, puting dan pusarnya dijilati, sementara Edi melengkuh-lengkuh nikmat, wanita itu hanya bisa merintih dan mendesah karena penis besar dan hitam beraksi menghentak-hentak barbar keluar masuk diantara selangkangannya. Waktu menunjukkan 24:16 Edi sudah hampir mencapai klimax, irama ayunan pinggulnya makin cepat tanpa perduli Almira yang terengah-engah kelelahan, Dickson menggigit puting buah dadanya, membuat Almira mengerang kesakitan.
“aakkkh….aaahh…ooooohhhh…” rintih Almira diantara lengkuh nikmat Edi.
“Huuuh…uuuhhh…..uuuuhhh…..uhhhh…. HUUAAAHHHH…..” jerit Edi mencapai klimax, dengan satu hujaman yang kuat, penisnya masuk hilang tertelan dilorong vagina Almira.
“Aaaaakkkkhhhh….” jerit Almira tertahan, tubuh wanita itu mengeliat kejang, lalu lunglai, pingsan kelelahan, sementara penis itu menyemburkan banyak sprema dalam vaginanya. Peluh menetes dari tubuh Edi yang masih menindih wanita itu.
“Ha…ha…ha….tubuhmu sungguh menggairahkan sekali…” Raut wajahnya terlihat puas, beberapa saat kemudian Edi mencabut penisnya, sambil mencium leher Almira yang masih pingsan. Dickson siap-siap maju mengambil posisi.
“Biarkan dia istirahat dulu, nggak enak kalau nggak ada perlawanan” Cegah Jody.
“Kita beri dia obat perangsang saja!” usul Bernard sambil tersenyum penuh nafsu.
“Jangan, kita simpan itu untuk yang terakhir” Jody duduk disofa.
Beberapa menit kemudian, sekitar pukul 24:40, Almira yang baru saja siuman dibopong ramai-ramai menuju kamarnya, disana wanita itu dilempar ke ranjang dan langsung diterkam oleh para berandal yang sekarang semuanya sudah telanjang bulat. Wanita itu berusaha berontak melarikan diri, tetapi dengan cekatan para berandal itu menerentangkan tubuh Almira. Wanita itu berteriak ketakutan ketika para berandal dengan buas menggumuli tubuhnya.
“Aaaahhhh…..aampun…..aaaahhhh….”hiba Almira, sementara Edi dengan kasar mulai meremas-remas buah dada kanannya. Jody berusaha mencium bibirnya yang merah merekah. Danilo menjilati dan menyedoti puting sebelah kiri.
“Aaaaduuuhh…aaaaawww…aaaahhh…..ja…. ja….ngan…”teriakan Almira tak digubris. Dickson maju mengambil posisi diantara kedua kakinya, tersenyum sinis sambil membungkuk menciumi leher wanita itu. Almira mengeliat-liat tak berdaya. Lidah Dickson menelusur turun dari lehernya menuju perutnya Almira.
“Aaaaaahhh…..le…paskan…..aaaahhh” jerit Almira ditengah kerubutan berandal. Dickson mulai menjilati daerah pusar Almira.
“Manis…tadi kulihat kau suka disco! bagaimana kalau sambil diputarkan lagu…hmmm?… disco…rock…atau metal?….OK metal saja!” Bernard mengejek Almira. Beberapa saat kemudian terdengar lagu metal, membuat para berandal itu lebih bersemangat menikmati setiap lekuk tubuh Almira.
“Ha…ha…ha…manis, kami masih belum puas!” ejek Dickson. Bernard membaca surat yang ditemukannya dimeja rias pinggir ranjang.
“Hmmmm…..SO YOUR NAME’S Almira McCatry…. INTERESTING….” gumam Bernard sambil melihat Almira yang mendesah-desah tak berdaya dijilati dan diciumi teman-temannya. Beberapa saat kemudian Bernard naik keatas ranjang, berbaring disamping wanita itu.
“Nah Almira sayang, ARE YOU READY TO LOSE YOUR VIRGINITY IN ANOTHER HOLE? kau benar-benar beruntung manis! kau pasti puas!” kata Bernard sambil menjilat muka wanita itu yang menangis ketakutan. Bernard merangkul tubuhnya dari samping dan digulingkan menghadapkan keatas terlentang sehingga posisinya sekarang dibawah Almira.
“Hai….sayang pestanya dilanjutkan. Manis kau pikir tadi sudah yang paling sakit, tunggu yang ini kau akan rasain sakit yang sebenernya!” kata Danilo sambil menerkam gemas buah dadanya.
“Dan sekarang kau dapat kehormatan manis BECAUSE I’LL TAKE YOUR ASS VIRGINITY!!” mata Almira terbelalak ketakutan.
“Oooohhh….jang…aan…PLEASE!!!!” hiba Almira disela isak tangisnya.
“Almiray kau akan merasakan sesuatu yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya sayang!” ejek Bernard.
Wanita itu berusaha berontak sekuat tenaga, tapi kerubutan dan remasan dibuah dadanya membuatnya tak bisa berkutik. Almira didudukkan tepat diatas tubuh Bernard, berandal itu mengarahkan penisnya yang tegak di lobang anus wanita itu dan segera dihujamkan dalam anus Almira tanpa pelumas sehingga membuatnya menjerit kesakitan.
“AAAAKKKKKKKHHHHHH!!!!” lolong Almira, sementara penis Bernard (10 inci) masuk penuh dalam anusnya, sekarang wanita itu dipaksa tidur terlentang. Dickson diatas menindihnya sementara Almira meronta-ronta kesakitan, anusnya terasa sakit oleh batang penis Bernard yang berada dibawahnya. Dickson yang sudah puas menjilati perut Almira, sekarang mementang kedua paha Almira, mengarahkan penisnya (8 inci) ke lorong vagina wanita itu. Apa daya tenaga seorang wanita yang dikeroyok lima lelaki kekar, dengan mudah masing-masing tangan Almira diikat dengan tali BH dijeruji pilar ranjangnya agar tidak bisa berontak.
Dickson segera memasukkan penisnya ke vagina Almira yang masih meronta-ronta, sambil tertawa terbahak-bahak.
“Ha….ha…ha…. sayang sekarang kau rasakan ini!” sambil berkata seperti itu, Dickson dan Bernard mulai menggoyangkan pinggul mereka. Penis Bernard bergerak naik-turun dianus sedangkan penis Dickson menyodok keluar masuk seirama nada metal yang makin bersemangat. Teriakan wanita itu tertelan oleh bunyi halilintar yang keras. Usaha Almira untuk berontak membuat ikatan ditangannya makin erat dan menyakitkan. Tubuh Almira meronta-ronta kesakitan, tanpa disadarinya gerakannya itu makin membuat Dickson dan Bernard yang memperkosanya makin terangsang. Tubuhnya mulai menggelinjang kesana kemari, pinggulnya bergerak-gerak ke kanan, kiri, memutar, sementara Bernard yang dibawah mempertahankan kecepatan ritme keluar masuk batang penisnya dianus Almira. Suara kecipak akibat gesekan kemaluan mereka berdua semakin terdengar. Sodokan batang penis Bernard dianus Almira membuat tubuh wanita itu meliuk-liuk tak beraturan dan semakin lama semakin bergerak naik seolah menantang kejantanan Dickson.
“Ha…ha…ha….Almiray kau suka ya? Nih akan kumasukkan lebih dalam lagi! HAAAHHHH!!!!” teriak Dickson sambil bertumpu pada remasan tangannya dibuah dada wanita itu ia menyodokkan penisnya lebih dalam ke vagina Almira.
“Oooooohhhh……aaahhh….aaahhhh…aahh…
ampun…amp..aaaaahhh…aaahh!!!!” erang Almira kesakitan. Sementara kedua penis berandal itu mengkoyak-koyak vagina dan anusnya, begitu penuh nafsu, ganas dan liar. Melihat pemandangan itu dan terbakar oleh api birahi, para berandal lainnya sambil tertawa terbahak-bahak melihat ketidak berdayaan Almira, mereka meremas-remas penis mereka sendiri.
“Ohhh….ha…ha…ha….bagaimana sayang, bagaimana rasanya….puas nggak? tenang pestanya masih lama….tunggu giliran kita…ha…ha…ha..” seru para berandal lainnya.
Beberapa menit saja penis mereka sudah tegak tegang siap beraksi kembali. Ranjang berderit-derit seirama musik metal dan gerakan mereka yang barbar, Almira ditindih ditengah-tengah mereka yang menghentak-hentak berpacu dalam birahi. Gerakan Bernard bagaikan dongkrak memaksa tubuh Almira mengelinjang keatas mengundang penis Dickson masuk ke lorong vaginanya, sedangkan gerakan Dickson yang seperti memompa dari atas menekan kebawah sehingga penis Bernard masuk penuh, begitu seterusnya, membuat wanita itu terengah-engah menahan rasa sakit di anus dan vaginanya sekaligus. Bernard menciumi leher, tengkuk, telinganya penuh nafsu.
“Uuuggh…uuggh…uuuughhh….” rintih Almira seirama ayunan kedua penis itu. Wanita itu bisa merasakan seakan-akan kedua penis itu saling bertemu dan bergesekan didalam perutnya, hanya berbeda lorong saja.
Dickson dan Bernard melengkuh-lengkuh nikmat. Buah dadanya diremas-remas dengan kasar sekali oleh Dickson. Almira merasakan kesakitan, tapi remasan dibuah dadanya membuatnya tetap tersadar. Para berandal yang lainnya bersorak-sorak menyemangati keduanya melahap tubuh Almira , Penis-penis mereka digesek-gesekkan di tubuh wanita itu. Waktu menunjukkan Pukul 01:20 sementara pesta perkosaan itu makin brutal terbawa nafsu birahi para berandal. Badai diluar makin ganas dan guntur sesekali menggelegar menelan teriakan Almira. Jody menemukan lipstik dimeja rias dan dioleskan dengan paksa dibibir Almira.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

WELLCOME TO OSEX39.BLOGSPOT.CO.ID

NEW AHLICASINO 2017


Entri Populer

Blog Archive

About Me

Total Tayangan Laman

HOT VIDEO